
"Tidak Put! Sampai kapan pun, aku tidak akan mau berpisah dengan kamu. Aku sangat mencintai kamu Put!" tegas Exsel.
"Terserah kamu Mas," sahut Putri. Lalu ia berajak dari kasur, melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
Keputusan Putri untuk berpisah dengan suaminya itu bener-bener sudah menjadi keputusan yang tidak bisa lagi di ganggu gugat. Kesabaran Putri benar-benar sudah habis.
Exsel hanya bisa menatap nanar punggung istrinya, yang kini sudah hilang di balik pintu kamarnya itu. Rasanya Exsel tak percaya dengan kenyataan saat ini. Putri meminta berpisah darinya, mengakhiri semuanya.
Haruskah Exsel mengabulkan permintaan istri tercintanya? Di sisi lain ia sangat mencintai Putri, sekali pun Exsel tidak pernah membayangkan, bagaimana ia menjali hari-hari tanpa Putri.
Tapi jika ia terus memaksa Putri untuk tetap bersamanya. Apa Exsel bisa membuatnya bahagia? Saat ini Exsel benar-benar sangat kacau. Namun Exsel tidak bisa menyalahkan Putri, mungkin jika dirinya di posisi Putri--pun, ia akan melakukan hal yang sama.
"Pengecut kamu Exsel, bener-bener laki-laki tak berguna, mengatakan yang sebenarnya saja kamu tidak bisa!" maki Exsel pada dirinya sendiri.
Hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri, karna kondisinya yang tidak sempurna itu, semua keadaan menjadi kacau seperti ini.
"Kenapa? Kenapa hidup ini tidak adil padaku, kenapa aku tidak mati saja dulu, kenapa aku harus tetap hidup dalam keadaan sulit seperti ini," pekik Exsel.
Exsel menumpahkan keluh kesahnya. Mata Exsel terlihat sudah memerah, menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya. Salahkan jika laki-laki menangis?
Kenyataan ini benar-benar menyakitkan untuknya.
***
Pagi harinya...
Putri baru saja terbangun, waktu sudah menunjukan jam 8 pagi. Semalam Putri tidur di kamar tamu. Entah jam berapa semalam Putri memejamkan matanya. Yang pasti semalam Putri menangis sejadi-jadinya.
Dengan kepala yang terasa berat, kelopak mata yang bengkak, Putri berajak dari kasur. Ia melihat jam ding-ding yang tertempel di kamar tersebut.
__ADS_1
"Jam 8," lirih Putri.
Dengan langkah yang menggontai Putri berjalan keluar dari kamar tersebut, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Exsel.
Keadaan rumah terlihat sudah sepi, seperti Exsel sudah berangkat ke kantor.
"Seperti Mas Exsel sudah berangkat, syukurlah, aku belum siap untuk bertemu dia," ucap Putri seraya melangkahkan menaiki anak tangga.
Putri kini sudah berada di depan pintu kamar, lalu ia membuka pintu kamar tersebut. Putri langsung membulatkan matanya, ia juga sangat terkejut melihat Exsel yang masih berbaring di atas kasur. Ingin rasanya Putri kembali keluar dari kamar tersebut, namun itu tidak mungkin, Putri ingin membersikan tubuhnya, serta berganti pakaian.
"Apa Mas Exsel masih tidur?" gumam Putri. Ia melihat tidak ada pergerakan sama sekali dari suaminya itu.
Dengan langkah yang pelan Putri berjalan menuju lemari, ia mengambil baju ganti, setelah itu ia langsung menuju kamar mandi.
Dengan cepat Putri melakukan ritual mandinya itu, karna ia takut Exsel terbangun, untuk saat ini Putri tidak ingin berbicara ataupun melihat wajah suaminya itu.
Hingga 15 menit kemudian, Putri selesai. Ia sudah mengganti pakaiannya. Putri mengenai napasnya, mencoba menetralkan perasaannya. Setelah merasa dirinya cukup baik, Putri pun membuka pintu kamar mandi.
"Kenapa Mas Exsel belum bangun? Tidak seperti biasanya, padahal ini hari bukan hari libur, apa dia gak akan berangkat ke kantor?" gumam Putri, seraya menatap Exsel, yang masih berbaring di kasur dengan posisi membelakangi Putri.
Terbesit perasaan Putri ingin membangunkan suaminya itu, namun Putri urungkan.
"Tidak Put, kamu jangan seperti ini. Biarkan saja, terserah dia. Mulai detik ini jangan memperdulikan dia lagi, kamu harus memberi jarak terhadapnya, agar kamu bisa melupakannya dengan mudah, setalah nanti kamu berpisah dengannya." Putri bermonolog dengan dirinya sendiri.
Setelah itu, Putri kembali melanjutkan langkahnya, ia segara bergegas keluar dari kamar tersebut. Tanpa memperdulikan Exsel.
Ya, Putri sudah bertekad akan memberi jarak dengan Exsel, bahkan kalau bisa untuk sementara ia akan menghindar dari suaminya itu. Semuanya demi kebaikannya, demi kebaikan Exsel juga.
Putri berjalan menuju meja makan, sarapan terlihat sudah tertata rapi di atas meja makan, ia mengisi perutnya terlebih dahulu. Namun baru beberapa suap ia memakan sarapannya, rasa kenyang sudah terasa, mungkin bukan kenyang, tepatnya rasa nafsu makannya hilang. Putri merasa ada yang hilang, biasanya ia akan sarapan berdua dengan Exsel sambil bercanda tawa. Dan kali ini, hanya seorang diri dengan keheningan yang mendominasi.
__ADS_1
Apa keputusanya untuk berpisah dengan Exsel itu benar? Ini baru pertama kalinya sarapan tanpa Exsel, hatinya sudah sangat terasa hampa! Lalu bagiamana nanti kalau perpisahan itu sudah terjadi? Apa mampu Putri melewati hari-hari sendiri?
Membayangkannya saja, kini sudah membuat air matanya mengalir deras, membasahi wajah cantiknya.
"Tidak, aku harus bisa, ini bukan akhir. Tapi awal, aku pasti bisa melewatinya." Putri mencoba menepis perasaan yang bersarang di hatinya kini. Sebenarnya ia sangat butuh Exsel, hanya Exsel yang bisa memahaminya. Tapi, ego menggelapkan segala. Ia tetap kukuh, bagaimana pun caranya, Exsel harus menceraikannya.
Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi dalam rumah tangganya itu, 2 tahun ia menanti kehangatan dari sang suami, namun sampai detik ini, dirinya masih suci. 2 tahun Putri bersabar, namun Exsel tak kunjung memberi alasan yang masuk akal.
Bahkan semalam Exsel bilang akan menjelaskan semuanya, tapi mana? Hanya omong belaka, omong kosong.
Putri mengakhiri sarapan paginya itu, ia kembali menuju kamar tamu, mungkin kamar itu akan dijadikan kamar Putri sementara, sebelum Exsel memenuhi permintaannya, setelah Exsel nanti menceraikannya, Putri akan pergi dari rumah tersebut.
Dia tidak akan meminta harta gono-gini pada suaminya itu, karna rasanya ia tidak pantas mendapatkannya, sudah cukup Putri melukai hati suaminya itu, Putri tau meminta agar Exsel menceraikannya itu tidak akan mudah.
Putri tau Exsel sangat mencintainya. Putri pun sama, namun keadaan tak mungkin terus membuatnya bersama.
Putri memeliki cinta Exsel, tapi tidak dengan raga Exsel. Biarlah Exsel menganggapnya egois. Biarlah Exsel menganggapnya jahat. Biarlah nantinya Exsel akan membencinya.
Tidak ada pilihan lain, selain mengakhiri kisah cintanya itu. Bahagia Putri mungkin bukan bersama Exsel, begitu juga sebaliknya, kebahagian Exsel tidak ada pada Putri.
Biarlah waktu yang menjawab semuanya.
Ikuti jalan takdir yang akan mengiring mereka.
Putri melirik jam ding-ding, waktu sudah menunjukan jam 1 siang. Tapi belum ada tanda-tanda Exsel bangun, bahkan tadi Putri sempat bertanya pada Bibi. Bibi mengatakan bahwa Exsel belum keluar sama sekali.
Gundah, gelisah, khawatir, perasaan Putri kini bercampur aduk. Tanpa berpikir lama lagi, Putri memutuskan untuk ke kamarnya.
"Mas Exsel..." teriak Putri.
__ADS_1
Bersambung