He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Saksi)


__ADS_3

Aku bangun dari tempat yang kurang nyaman ini. Aku tak sadar ketika sampai diapartemen, aku langsung tidur di sofa.


Apa ?! Disofa ?! Pantas saja tubuhku sakit2.


Aku bangkit dari sofa dan pergi membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, aku melihat jam dinding.


Sudah pukul 19.00


Wah lumayan lama ya aku tidur. Aku melihat sekeliling apartemen. Tetap hanya diriku seorang. Vian belum pulang dari kantor. Heuh aku malas sudah, aku muak. Biarkan dia pergi kewanita mana saja aku sudah tidak peduli.


Toh hatinya bukan untukku. Sudahlah aku tidak mau memikirkan hal yang merumit hati dan pikiran ku.


Aku menuju ke kamar untuk mengambil salep obat pipiku ini. Yang benar saja, goresan luka itu hampir saja tidak terlihat. Apakah seampuh ini ? Wah hebat sekali.


Setelah melakukan aktifitas tersebut, aku pergi kedapur dan mendapatkan rantang yang aku bawa tadi sudah ada dapur. Siapa yang membawakan ini ? Apakah Vian sudah pulang ?!


Aku menghampiri rantang tersebut yang ada dimeja makan. Dan betapa terkejutnya aku, rantang tersebut masih berat! Serius si Vian tidak memakannya ?!


Aku membuka rantang tersebut dan benar...


Itu masih utuh seperti semula.


Hatiku hancur, aku sudah lelah membuat kan ini tapi tidak dimakan.


Salah.. aku tidak lelah membuat makanan untuk suamiku sendiri. Hanya saja ketika tau makanan yang aku masak tidak disentuhnya sedikit pun.


Itu terasa menyakitkan, dan sedih sekali.

__ADS_1


Aku terduduk merenung nasibku yang malang ini.


Aku menangis.


Menangis lagi.


Jika Apartemen ini hidup, Apartemen ini akan selalu menjadi saksi bahwa aku yang tinggal dengannya selalu menangis tersedu sedu seorang diri.


Kenapa nasib ku seperti ini ? Ya tuhan, kenapa kau membuat takdir untukku begitu buruk ? Kadang kala kau buat takdir ku dengan Vian seolah olah sangat membuatku bersyukur kepadamu. Dan lihat sekarang kau seolah olah mencampakkan rasa syukurku kepadamu.


Aku semakin mengencangkan isak tangisku. Entah kenapa, siapapun aku butuh sandaran. Aku butuh! Aku butuh sekali. Aku rindu dimana ketika aku menangis ada sepasang tangan yang merangkul ku untuk tetap kuat. Siapa dia ? Ya! Mereka kedua orang tua ku.


Ingin sekali aku bilang kemereka bahwa aku tak sanggup mempunyai kehidupan seperti ini. Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak sanggup.


Tapi aku memikirkan bagaimana nasib kedua orang tua ku ? Mereka pasti sedih karna mereka merasa aku dijodohkan dengan orang yang salah.


Aku selalu mendambakan kisah cinta semenarik drama2 yang ada.


Tapi cerita seperti itu tidak berpihak kepadaku. Aku berusaha berhenti menangis dan beranjak dari kursi dapur itu dan membawa rantang ke tempat cuci piring.


Makanan yang aku buat juga sudah basi, dan aku membuangnya ditong sampah. Disaat aku membuang nya ditong sampah, aku terduduk lagi. Aku menangis lagi, aku sakit hati. Sakit sekali. Rasanya seperti di iris2.


Aku masih bisa memaafkan dia persoalan yang ada di kantor tadi, setidaknya dia tetao memakan makanan ku. Tapi ? Ini apa ? Makanan ku sampai basi begini.


Sudah lah..


Aku bangkit dari dekapan menyedihkan ku itu, dan mulai membersihkan rantang2 tadi ketempat sedia kala. Tatapan ku sekarang kosong.

__ADS_1


Entah~


Aku pun tidak tau, kepala ku pusing memikirkan ini. Untuk menenangkan pikiran ku, aku pergi ke balkon apartemen. Aku melihat betapa indahnya kota yang kutempati ini, tapi kenapa aku tidak diizinkan oleh tuhan merasakan kebahagian yang kekal ?


.


.


.


Aku berdiri dibalkon hampir 30menit. Aku melihat jam ditangan, dan sudah menginjak waktu 20.15 sudah malam. Waktunya aku ingin tidur. Tapi aku urungkan itu, aku lebih mau membiarkan diriku disini.


Rasa dingin yang berselimut di badan ku itu tidak ada bandingnya dengan rasa sakit yang sangat berbekas dihatiku ini.


Aku melihat lihat langit dan tersenyum melihat bintang2 yang berkelip kelip ria.


Tiba2 aku merasakan ada sepasang kain yang menyelimuti tubuhku. Aku menoleh kebelakang karna ingin tau siapa yang memakai kan ku sepasang kain ini.


Dan.. itu adalah Vian.


Suamiku.


"Sheren, hari sudah malam sayang... Jangan dibalkon itu bisa membuat mu masuk angin" - Vian


"Aku tau" Balas ku sambil meninggalkan Vian di balkon dan melepaskan kain tersebut dihadapannya.


'Vian, jika perhatianmu hanya sementara maka jauh-jauhlah dariku. Perasaan ku padamu tidak pernah sementara, perasaanku padamu selalu menetap selamanya. Tapi kenapa kau malah sebaliknya ?'

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2