He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Ungkapan hati)


__ADS_3

Sheren Point of View


Aku sedari tadi memiliki perasaan yang tidak enak mengenai Vian. Aku merasakan bahwa ada yang tidak beres didalam sana, didalam kamar Vian. Aku juga penasaran penyakit apa yang di idap oleh Vian.


"Ada apa sebenarnya ya tuhan ?" Gumam ku dalam hati. 


Aku sangat merasa bersalah, aku tau pasti penyakit itu muncul karena ulahku. Aku bodoh, aku istri yang tidak becus, tidak becus sampai-sampai mencelakai suami sendiri. 


"Nyonya… nyonya…." 


Sheren pun menoleh kesumber suara, dan yang memanggil adalah dokter pribadi Vian.


"Iya dokter ? Ada apa ya ? Kenapa seperti panik begitu ?" Tanyaku dengan nada yang tak kalah khawatir nya.


"Tuan Vian sudah siuman, dan sudah kuberi obat juga. Nyonya bisa melihatnya sekarang. Tapi entah kenapa ketika saya memberikan obat yang sudah biasa saya berikan kepada tuan Vian, tiba-tiba saja tuan Vian seperti orang yang sedang mimpi buruk. Dan mungkin dia memerlukan nyonya. Tuan juga…" 


Belum sempat dokter itu melanjutksn pembicaraannya, aku segera berlari menuju kekamar Vian.


"Vian! Kamu kenapa lagi ?? Hiks..hiks…" 


Bohong jika aku tidak menangis! Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri! Vian di infus! Apakah separah itu ? Kata ayah kalau sakit sampai di infus berarti sakit itu parah!


"Kamu keluar sebentar! Hiks..hiks.. aku ingin berdua saja bersama Vian.." ucapku kepada dokter pribadi Vian.


Aku melihat dokter pribadi Vian sudah keluar dari kamar itu, aku sesegera mungkin berlari mendekati Vian. Mengusap lembut pipi Vian, dan mengusap keringat dingin yang ada di dagi Vian. Jangan tanya apakah aku jijik dengan nya ? Apakah aku tidak jijik mengusap keringatnya ? Siapapun kalian yang bertanya seperti itu kalian tidak berperasaan! 


Vian suami ku, suami tersayang ku! Bahkan apa pun yang dia lakuka  aku tidam jijik. Aku berani menampung muntahannya kalau keaadaan Vian separah itu. Jangan jijik dengan ucapanku. Aku serius.


"Vian kamu kenapa bisa begini sih ? Kamu sakit apa ? Kamu denger aku kan ? Kalau kamu denger please bangun, aku khawatir kamu begini.." 

__ADS_1


Tangis ku semakin menjadi jadi, karena sedari tadi aku tidak melihat sedikit pun pergerakan dari tubuh Vian. Seperti orang yang sudah.. maaf.. seperti sudah tidak bernyawa tapi masih bernafas. 


"*S*heren! Apa yang kau pikirkan!"


Tangis ku lagi lagi semakin pecah, karena aku merasakan tubuh Vian yang semakin lama, semakin memucat dan dingin. Aku berinisiatif untuk mengelap tubuhnya dengan air suam panas. 


Aku berlari menuju kedapur, untuk mengambil air suam panas dan beberapa hal yang diperlukan. Aku mengambil itu dengan sangat cepat, tidak bertele-tele. Untung saja aku selalu menyediakan air panas didapur. Jadi jika sedang diperlukan tidak repot lagi. 


Aku kembali ke kamar Vian, dan aku mendapati pemandangan dimana disana ada dokter pribadinya.


"Kenapa dok ?" Tanya ku kepada dokter itu.


Aku tidak tahu nama dokter pribadinya Vian, makanya aku nanyanya dengan panggilan formal begitu.


"Tuan Vian sepertinya demam, aku baru saja memberikan suntikan penenang agar tuan Vian baik-baik saja. Nyonya jangan khawatir, saya akan melalukan yang terbaik untuk tuan Vian. Permi…" 


"Dok! Tolong jelaskan kepada aku. Sebenarnya suami ku ada penyakit apa ? Penyakit apa yang di idap nya selama ini ?" Aku bertanya seperti ini tiba-tiba saja rasanya ingin menangis lagi. Entah apa yang sedih, tapi aku sangat merasakan sakit, pilu, didalam hatiku. 


"Maaf nyonya, jika nyonya ingin mengetahui apa yang sedang di idap tuan Vian. Nyonya bisa bertanya sendiri kepadanya. Ini adalah amanah yang harus saya jaga dari tuan Vian. Jadi saya mohon maaf.." ucap dokter itu sambil menundukkan kepala seperti orang yang sangat bersalah. 


"Jangan begitu canggung dokter. Jangan merasa bersalah, baiklah. Aku akan bertanya sendiri kepada Vian. Terimakasih sudah ingin merawat tuan Vian yang sombong ini ya." Ucapku lagi sambil memberikan senyuman. 


Dokter itu pun mengangguk dan segera pergi dari luar kamar. Karna dia tau, apa yang ingin kulakukan. 


Aku duduk kembali di pinggiran ranjang king size Vian. Luar biasa emang ranjangnya, seperti bisa ditiduri  sepuluh orang. Hahaha orang kaya bebas ya mau ngapain aja.


Aku dekatkan diriku kearah nya. Kepala Vian aku biarkan bersender dipahaku. Jadi sekarang Vian tepat berada dibadanku, dan pahaku menjadi sebuah bantal dikepalanya. 


"Kau demam ya Vian ? Aku minta maaf ya…" 

__ADS_1


Aku meletakkan kain yang sudah ku rendam dengan air suam itu kedahinya. Agar dingin yang ada ditubuhnya berkurang. 


"Kamu ini tampan banget loh. Aku kadang suka mikir, manusia apa bukan sih haha. Ganteng banget soalnya.." aku terus berbicara seorang diri, karna aku yakin Vian mendengarkan ku. 


Setelah selesai mengompres dahi dan leher Vian. Aku meletakkan lagi posisi Vian seperti awalnya. Karna aku ingin mengompres bagian perut Vian.


Jujur saja, aku malu. Aku malu melihat tubuh Vian, hahaha maklum selama sudah menikah kami belum pernah melakukan kewajiban sebagai suami istri. Pasti kalian paham bukan ? 


"Maaf banget kalau aku lancang, tapi aku harus mengompres bagian sini. Karna aku yakin, selain bersih buat mu. Ini juga bisa mengurangi dingin ditubuhmu.." aku terus mengelap secara lembut dan aku akui Vian sangat pria idaman. Why not ? Perutnya sispek sangat sehat dilihat hahaha. 


Selanjutnya aku mengompres bagian kedua lengan sampai ketangan Vian. 


"Ohya Vian, aku gak tau penyakit apa yang sedang kamu alamin. Tapi aku mohon, jangan ngulangin gini lagi ya. Aku itu sayang sama kamu, walaupun kamu nya enggak hehe. Aku khawatir sama kamu, walaupun keliatannya kamu enggak peduli.." 


"Mmm masalah Iren, sebenarnya aku gak larangin kamu kok. Kalau memang kamu pengen hidup bersama dia, aku its okey. Tapi tolong lepasin aku hehe. Aku ngomong apa sih, maafin aku ya Vian. Aku belum becus jadi istri kamu…" 


Percaya atau tidak, aku ini beneran perempuan cengeng. Aku menangis lagi, hahaha lemah banget aku.


Setelah selesai kompres, aku pun ingin beranjak dari ranjang Vian untuk mengembalikan barang-barang tadi kedapur. Sebelum itu aku sudah memastikan, dingin ditubuh Vian berangsur hilang. 


"Aku berharap, kamu ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau kamu tidak mau aku tidak memaksa. Mungkin aku memang tidak diberi kesempatan untuk mengetahui kehidupanmu lebih dalam." Ucapku sendiri sambil melepaskan genggaman antara aku dan Vian. 


*DEG*


Setelah aku ingin melepaskan tanganku, aku merasakan seperti ada pergerakan di tangan Vian. Ouuhh apakah aku hanya berhalusinasi ? 


Aku pun ingin beranjak lagi, dan.. benar! Vian sudah sadar! Vian mengenggam ku! 


"Jangan pergi…"

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2