
"*Apa yang kau lakukan kepada SHEREN KU!!!!!!!!"
*deg**
.
.
'Sheren ku ? Aku tidak salah dengar kan?'
Aku melihat kearah nya, wajahnya merah padam. Tersimpan rasa marah yang sebentar lagi akan meledak.
"Hey Vian, tenang tenang... aku baik baik aja kok" Ucapku berusaha menenangkan dia.
Tiba-tiba Vian menarik lengan tanganku dan
"Arkhh! VIAN! SAKIT!"
Vian gila. Dia memukul tangan kanan ku yang terkena air teh panas tadi. Aku menatapnya sinis.
"Berarti kamu gak baik-baik aja! Cepat kerumah sakit!"
Vian sepertinya khawatir banget nih, wajahnya merah padam. Melihat itu, aku sedikit mengukir senyuman tipis. Entah apa yang sedang aku rasakan, yang terpenting adalah hatiku bahagia ketika melihat Vian panik begini.
Dia membopong ku keluar restoran, tanpa menghirau sepasang mata yang sangat banyak direstoran ini. Termasuk orang-orang berjas yang ada diruang rapat.
.
.
Aku sekarang sudah berada di mobil Vian. Sepertinya ini adalah pertama kalinya aku menaiki mobil suami sendiri hahaha.
Aku melihat kearah Vian, Vian berkeringat. Sekhawatir itu kah ? Tumben sekali. Ada apa dengannya ? Aku sedikit melirik kearah tangan kanan ku yang terkena air teh panas tadi.
Merah, merah sekali. Dan jujur saja tangan kanan ku mati rasa. Perih, dan tidak bisa digerakkan. Aku sengaja tidak meringis, takut Vian lebih khawatir nantinya.
Mobil yang dibawa Vian cukup laju, selama perjalanan tidak ada diantara kami membuka obrolan. Hanya diam. Aku juga tidak begitu berani membuka topik dengannya karna wajah Vian begitu menyeramkan. Menyeramkan bukan seperti hantu ya, tapi dingin sekali. Takut haha.
Aku terus melirik nya dari tempat duduk ku, ohya aku duduk disamping nya. Tadi mau duduk di belakang, dia tidak izinkan. Kata Vian gini tadi "kamu bukan penumpang, dan aku juga bukan sopirmu" hahaha lucu banget kan ?
Berharap hal lucu dan hangat seperti ini selalu terjadi. Bukan hanya hari ini, tapi untuk seterusnya. Semoga tuhan memberikan kesempatan buat ku merasakan kebahagian layaknya orang lain.
Aku lagi lagi tetap menatapnya lekat lekat, dia tampan. Tampan sekali, apalagi kalau lagi senyum. Aduh hahaha.
__ADS_1
"Ada apa ?"
Seketika lamunan ku menatapnya buyar sudah, karna Vian tiba-tiba bersuara.
"Hmm tidak Vian" Jawabku sedikit gugup
Vian pun turun dari mobil, aku yang dari tadi melamun menatap Vian pun tak sadar kalau kami telah sampai di rumah sakit. Jangan tanya lagi rumah sakit dimana. Ya rumah sakit dia sendiri lah.
Mungkin menghemat biaya, hahaha. Kan kalau dirumah sakit sendiri gak ada biaya. Ck ck ck cerdas sekali suami ku ini.
*ceklekk*
suara pintu mobil
Vian membuka pintu mobil untuk ku, aku cuman melihatnya dari dalam mobil. Kaget atas perlakuannya. Hangat sekali :)
"Gak mau keluar ? Harus kupanggil dokternya kesini ? Diperiksanya dimobil aja ?" Tanyanya dengan wajah yang tanpa ekspresi.
"Eh...enggak kok. Iya iya aku keluar nih"
Aku pun mau keluar, tapi aku melihat ada juluran tangan dari luar mobil. Dan itu tangan Vian. Kaget. Tidak menunggu waktu lama. Segera ku tangkap tangannya. Ini adalah kesempatan, aku takut hal ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.
Tangan kanan ku mati rasa, jadi aku memegangnya menggunakan tangan kiri. Entah kenapa aku sangat terobsesi melihat wajah Vian. Hari ini, dia tampan sekali.
"Iya vian, kamu hari ini tampan banget"
Sengaja aku balas, mau lihat reaksinya gimana. Setelah aku bilang itu, dia tiba-tiba berhenti dari langkahnya yang otomatis membuat ku ikut terhenti juga.
"Kenapa?" Tanyaku
Aku merasakan tangan kiriku makin digenggam olehnya, dan kami melanjutkan langkah. Vian lucu, telinganya merah. Apakah itu terjadi gara-gara aku bilang dia tampan ?
"Vian telingamu kenapa merah haha?"
Vian tidak menjawab, vian hanya diam dan menatap lurus kedepan. Sudah memasuki area Rumah sakit. Kami menuju lantai VVIP, ya terkhusus. Biasalah holang kaya.
"Selamat sore Tuan Vian" Sambut Dokter dengan hormat.
Gila sih Vian, orang sampai hormat nunduk gitu dong. Wah Vian adalah orang yang sangat berpengaruh.
"Sekretaris saya terkena air panas, tolong diobati segera. Saya harap dia bisa sembuh dalam waktu dekat. Kalau perlu dirawat saja" Ucap Vian begitu cerewet tapi tetap saja memasang wajah dinginnya.
'Ini kenapa Vian gemesin sih ?'
__ADS_1
Dokter itu hanya melongo melihat tindakan dan kata-kata yang dilontarkan oleh Vian. Mungkin Vian tidak pernah berbicara begitu panjang, ya jadinya dokter terkejut ? Entahlah.
"Kau tak mendengar ku ?"
Lamunan ku buyar.
Aku melihat Vian, dia sedang berbicara dengan siapa. Eh dia berbicara dengan dokter. Dokter pun segera ambil tindakan, dokter ini kenapa kelihatan gugup sekali ?
Dokter yang sedang menangani ku ini umurnya sudah separuh baya. Mungkin sekitar 40an tahun atau 50an ? Tapi semangat menjadi dokter sangat terpancar dari wajahnya.
"Pak... santai aja ya hehe" ucapku sambil menepuk pelan pundak dokter itu. Dokter itu tersontak kaget, dia hanya sedikit tersenyum dan fokus mengobati tanganku.
'Ssstttt'
Aku meringis dalam hati, aku tidak mau mengeluarkan ringisan ini. Takutnya Vian marah pada pak dokter. Vian lagi fokusnya menatap dokter itu mengobatiku, yang membuat dokter itu sangat gugup.
Aku mengigit bibirku, perih sekali ya tuhan. Aku tidak tahan sakit, ini perih sekali. Aku merasakan bahwa aku mengeluarkan keringat dingin di keningku.
"Kalau sakit, jangan ditahan. Lihat, sampai berkeringat begini"
Vian segera mengelap keringat ku menggunakan tangannya. Aku secara refleks melihatnya, yang otomatis aku mendongak. Sebab aku diobati posisiku duduk.
Dia tersenyum kepadaku, melihat nya seperti ini. Ada yang ingin jatuh dari mataku. Aku terharu, aku tidak menyangka kenapa dia bisa sehangat ini.
Sebuah tangan yang berurat tegas, berkulit putih pucat menyentuh pipi ku. Entah apa yang dia cari dari pipiku, yang pastinya pipi ku saat ini. Aku bisa pastika sudah basah.
"Jangan menangis"
Dan itu adalah kata nihil yang diucapkan Vian kepadaku. Air mata kian menderas makin jadi. Aku sudah tak begitu memperdulikan dokter yang sedang memperhatikan kami.
Tangis ku pecah.
"Kenapa menangis hum? Sudah lah. Jangan seperti ini. Aku merasa bersalah"
Aku menggeleng kuat, aku tidak menerima kata-kata yang baru Vian lontarkan. Dia tidak bersalah! Air mata kini kian makin deras.
Dan seorang pria berstatus suamiku ini, memberikan sandaran yang baik. Dia mendekapku didalam pelukannya.
"Maafkan aku sheren. Maafkan aku"
-
"Maafkan kesalahanku dimasa lalu, tolong percayalah. Dimasa depan, aku akan selalu membuat mu bahagia. Dan memberi tahu kepada seluruh semesta, bahwa kau milikku" — Vian Johnbert
__ADS_1
[TBC]