He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Menyesal 2)


__ADS_3

"Ja...jaa..jangan me-menangis.."


"Ada apa ini!! Ya tuhan. Ada apa ini?!!!"


.


.


.


"O...o..obat" lenguh Vian kepada Sheren


"Obat ?! Obat apa Vian ? Astagaa sebenarnya kenapa ini ?!" Ujar Sheren kebingungan.


Vian sudah dipindahkan Sheren keranjang yang biasa ditempat tidurkan oleh Vian. Darah yang sangat banyak itu, juga sudah dibersihkan oleh Vian.


Jangan tanya bagaimana mana kondisi Sheren. Sama tragisnya seperti kondisi Vian. Sheren tertekan karna yang menimpa Vian sangat mendadak, tanpa persiapan. Terlebih dia bingung apa yang terjadi dengan suaminya ini.


'Obat apa yang sebenarnya yang kau cari Vian ?' Gumam Sheren dalam hati.


Sekitar sepuluh menit lamanya mencari obat yang dipinta Vian. Seluruh kamar Vian sudah di cari, sudut laci, lemari, dll. Semua sudah dicari, tapi nihil.


"Vian maaf, aku gak tau dimana obat itu..." lirih Sheren sambil mengelus jidat Vian yang banyak sekali keringat dingin.


Vian pada saat itu masih lemah sekali, hanya bisa mengangguk lemah. Sebenarnya Vian ingin minta tolong sesuatu lagi, tapi melihat istrinya yang sangat terlihat khawatir Vian mengurungkan niat nya.


"Vian kamu kenapaa ? Hiks jangan gini dong." Tanpa disadari Sheren tiba-tiba menangis.


Ingin rasanya Vian mengusap air mata yang terjatuh begitu saja, lagi lagi Vian membuat air mata Sheren jatuh secara sia-sia.


Vian melihat Sheren yang lama lama semakin menjadi tangis nya, sangat sakit hati. Sebab belum bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya.


"Hiks.. hiks... hiks... Vian kamu jangan gini, aku bingung. Kamu sebenarnya kenapa... hiks.."


Vian menguatkan dirinya untuk membuat posisi duduk. Walaupun dia tak sanggup, tapi sekarang adalah waktu nya Sheren harus mendapatkan sebuah pelukan hangat.


[HUG]


Pelukan yang diberikan Vian sangat terasa lemah sekali. Tapi masih menyimpan rasa hangat. Sheren yang menyadari dirinya dipeluk oleh Vian. Tersontak kaget.


"A-apa yang kamu lakukan ? Tolong berbaring saja. Aku gak kuat lihat kamu yang seperti tadi." Ucap Sheren mengelus pucuk kepala Vian pelan, sambil membalas pelukan Vian.


Vian hanya diam.


Bagaimana tidak, kondisi Vian makin parah. Badannya seperti demam, panas panas dingin. Wajah pucat.


Sheren melirik jam dinding yang ada di kamar Vian. Tak sadar pukul sudah mendekati 04.00 WIB , sudah pagi. Tapi kondisi Vian belum juga stabil.


Sheren sudah melakukan banyak hal, dari mengkompresnya dengan air hangat. Memberikan pijatan ringan. Tapi itu nihil, masih saja sama.


Sheren ingin menelpon dokter pribadi Vian, tapi Vian menolaknya. Sheren bertanya, "kenapa tidak mau menelpon ?"


Vian lagi lagi hanya diam.


.


.


.


Hari sudah pukul 06.30 WIB


Sheren sekarang tengah memakan sarapan paginya. Syukurlah Vian sudah tertidur dari satu jam yang lalu. Sheren membuat teh jahe hangat untuknya. Sheren sekarang sudah sedikit tenang.

__ADS_1


Tapi masih ada didalam pikirannya dihantui dengan apa yang sedang terjadi ?


'Ada apa dengan Vian ?'


'Kenapa dengan Vian ?'


'Obat apa yang dimaksud Vian ?'


Pertanyaan itu terus berputar dikepala Sheren.


Walaupun Vian sekarang lagi tidur, wajah pucat dan panas ditubuhnya belum menurun juga.


Sheren mengaduk secangkir cappuccino hangat didepan jendela yang memaparkan pemandangan indah dikota ini.


Begitu banyak orang berlalu lalang untuk pergi ke tujuan mereka. Ada yang bekerja, ada yang sekolah, bahkan mungkin ada yang pergi menuju ketempat terbahagia, dll.


"Tujuan hidupku apa ?" Gumam Sheren sambil terus mengaduk secangkir cappuccino agar rasanya tetap pas di tenggorokan Sheren.


Jujur saja, setelah menikah. Tujuan Sheren yang ingin dicapai sudah pupus semua. Karna menurut Sheren, ketika sudah menikah. Harus fokus mengurusi suami.


Tapi...


Setelah menikah, tujuan yang diangankan ketika menikah juga telah pupus. Sebab perlakuan suaminya diluar ekspetasi.


Memang benar, perjodohan tak seindah yang dipikirkan. Apalagi seperti drama-drama serial sekarang.


Sheren memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, sebab ia ingin menjaga suaminya.


"Apakah aku harus menelpon dokter pribadinya secara diam-diam ?"


"Baiklah, aku lakukan itu!"


Sheren pun merogohi saku celana diatas lututnya itu. Mencari nama kontak dokter pribadi itu. Sheren memang tidak pernah menyimpan nomor itu, tapi entab sejak kapan semua kontak nomor-nomor penting semua ada di ponsel Sheren.


"Iya, ini siapa ?"


"Ini saya istri Vian, Sheren Alka."


"Oh maaf nyonya.. ada apa ya nyonya ?"


"Bisa datang ke apartement ? Tuan Vian lagi tidak begitu sehat. Tapi diam-diam saja ya."


*tuutt tuutt*


.


.


.


[Diruang tamu]


"Apa maksud nyonya ? Tuan Vian tidak mau mengabari kondisinya kepadaku ?"


Sheren mengangguk ketika mendengar pertanyaan dari dokter pribadi Vian.


Terlihat wajah merah padam dari dokter itu, seperti menggeram kepada Vian. Dokter pribadi itu mengepal tangannya kuat kuat.


"Biarkan aku masuk kekamar tuan Vian. Jika tidak nanti ada hal yang tidak diinginkan terjadi," ujar dokter itu berdiri ingin menuju kekamar Vian.


"Se-sebentar... aku ingin bertanya, ada apa dengan Vian ? Apakah Vian mengidap suatu penyakit ?" Tanya Sheren menatap mata dokter itu dengan sungguh.


"Maaf nyonya, saya tidak bisa memberikan anda info tentang ini. Jika anda penasaran, anda bisa bertanya sendiri kepada tuan muda."

__ADS_1


"Baiklah.."


Dokter pun langsung pergi menuju kamar Vian, jangan kaget kalau dia mengetahui semua isi diapartemen ini. Karna sebelum Vian menikah, dokter ini sudah menjadi dokter pribadi Vian. Jadi sudah wajar, jika dokter sudah hafal dimana saja ruangan Vian dan lainnya.


.


.


.


*klekk*


Masih terlihat Vian tidur, tapi bukan tidur dengan tenang. Melainkan menggeleng gelengkan kepalanya, seperti orang lagi mimpi buruk.


"Nyonya bisa keluar dulu ? Saya ingin berdua saja dikamar ini dengan tuan Vian."


Sheren pun keluar, ada rasa penasaran Sheren. Kenapa dia harus keluar ? Bukankah dia istrinya Vian ? Tapi rasa penasaran itu tidak dihiraukan. Karna untuk sekarang yang penting Vian sembuh dulu.


[Dimeja makan]


Kaki gemetar, mengkhawatirkan seorang laki-laki yang dia sayangi namun masih gengsi untuk mengakui nya. Ia adalah Sheren.


Bingung dengan pikirannya yang kalut.


*drtttt drrtttt* (Bunyi ponsel Sheren)


Sheren melihat ponselnya, dan yang menelpon adalah Devanno.


"Ah, Devanno..."


"Angkat tidak ya ???"


"Ck gimana nih...."


"Oke angkat aja deh, kan aku gak musuhan sama dia."


"Ha-hallo?"


"Hey Sheren! Kamu kemana ?! Kenapa gak datang kekantor ?! Ya tuhan, kamu jangan bikin aku khawatir dong."


Mendengar kan itu, Sheren menjauhkan ponselnya dari telinga. Sebab suara yang berasal dari telpon sangat nyaring. Membuat telinga Sheren sakit ketika mendengarkan itu.


"Hahaha, a-aku ada urusan penting dirumah."


"Urusan penting?"


"Ouh, Vian juga gak dateng. Kalian berbulan madu ya ? Oke deh, maafin aku ganggu kalian ya."


"Btw, kamu jaga kesehatan. Aku gak mau kamu sakit. Kalau misalnya kamu perlu bantuan aku, bilang aja. Aku selalu ada buat kamu. Dan jangan ragu buat jawab permintaan aku waktu itu. Kapan pun itu kamu jawabnya, itu masih berlaku sampai aku masih hidup hehe. I love you Sheren Alka..."


*tuttt tuuutt*


Sheren hanya diam mematung ketika mendengarkan penuturan kata Devanno di telponan barusan.


"Devanno, kamu ke-kenapa???" Gumam pelan Sheren.


"Nyonya! Nyonya! Nyonya Sheren!!!" Teriak dokter itu kepada Sheren.


"Kenapa dok? Kenapa ?!"


"Tuan Vian...nyonya.."


"Kenapa suami ku?!"

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2