
Jujur, aku tak dapat menghentikan apa yang mau Vian lakukan kepada pekerja cewek itu. Aku tau, maksud Vian seperti ini bukanlah untuk ku semata. Tapi ya, dia lakukan agar performa restorannya tidak buruk.
Pelan pelan Vian melepaskan cengkaman tanganku dari lengannya.
"Enggak papa Sheren. Ini adalah hal wajar yang dilakukan boss jika ada karyawannya keterlaluan." Ucapnya sambil tersenyum tipis kearahku.
Aku membalas senyuman itu, dan melihat apa yang sedang terjadi. Aku melihat Vian berjalan begitu tampan dan terlihat arogan sekali.
Pantas saja banyak kaum hawa yang menginginkan nya karna postur tubuh yang begitu sempurna. Membuat siapapun yang memilikinya pasti sangat merasa dilindungi.
'Apakah aku juga begitu ?'
.
.
.
*Braakkk!*
Lamunan ku buyar dikarenakan bunyi yang sangat keras itu. Aku mengedarkan pandangan mencari dari mana sumber suara keras tersebut.
Tapi hasilnya nihil, didepan mataku tak ada lagi karyawan yang menunduk ketakutan pada saat melihat Vian tadi.
"Kemana Vian ?"
Aku melangkahkan kaki menuju kekasir, dan aku mendapati suara gebrakan pintu yang sedang dipukul keras dari sudut ruang kasir sana.
Aku pun memberanikan diri untuk mendekati nya.
Ada sedikit celah dari pintu itu, aku pun mengintip. Apa yang sebenarnya terjadi.
'VIAN?! Kenapa wajahnya begitu merah padam ?!'
Aku cepat-cepat membuka pintu itu, dan mendekati Vian. Semua mata karyawan tertuju kepada ku. Ada yang tatapan sendu seperti ingin meminta maaf kepadaku. Ada juga tatapan sinis seakan akan ingin menelanku.
Aku tidak mengubris mereka. Yang aku mau sekarang adalah, membuat Vian tenang.
Aku memegang belakang pundak Vian, yang posisinya pada saat itu ada didepan ku tapi membelakangiku.
"Vi-viann," lirihku kepada Vian.
Sungguh, untuk sekarang aku sangat ketakutan. Aku takut, Vian yang tadinya hangat bisa saja tiba-tiba menjadi singa ganas yang ingin menangkap mangsanya.
__ADS_1
Aku melihat pergerakan tubuh Vian yang seketika menjadi kaku.
Aku melihat dari punggung nya, Vian seperti sedang mengatur nafas.
"Su-sudah lah... aku baik baik saja"
Vian menoleh kearah ku, tatapannya begitu sinis namun masih tetap sendu. Bukan.. lebih tepatnya berusaha menatapku dengan suasana hati yang baik baik saja.
Padahal aslinya dia sedang menahan amarahnya.
"Ma-marah lah. Uapkan kesal, marah mu kepadaku. A-aku tidak apa-apa."
Iya. Aku serius. Aku tidak apa-apa jika Vian memang mau meluapkan amarahnya kepada ku.
Its oke. Aku sudah terbiasa.
"Sheren. Kenapa kau bicara gugup kepadaku?! Aku melakukan ini demi dirimu! Kau tau! Aku sangat kesal dan sangat... arghh!!!!"
*Braakkkk*
Aku memejamkan sebelah mataku, karna takut akan hentakan meja yang ada di sampingnya. Tadi pintu, sekarang meja. Nanti apa lagi ?
Aku melirik tangan Vian. Tangan Vian merah.
Vian masih saja ingin membahas itu.
"Vian.. sudah lah. Lihat tangan mu merah. Ayo pulang. Aku obati."
Aku meraih tangan Vian, dan mengelus lembut tangan bagian merahnya.
Tak lupa menatap Vian dengan mata memohon untuk berhenti. Vian menatapku, menatap dengan mata yang sulit diartikan.
Antara marah, namun ada cela kesedihan. Ada rasa ingin diperhatikan. Ada yang kosong, dan dia ingin mengisi kekosongan itu.
'Suamiku, kau terlalu mudah untuk ku baca'
"Kamu cuman sekretaris, tapi kenapa berani sekali memegang tangan Tuan Vian ? Ohh simpanan ya ?"
Aku sontak kaget mendengarkan penuturan kata wanita itu. Ya wanita yang menumpahkan air teh ketangan ku hari ini.
Aku melihat wajah Vian yang makin meluap panasnya. Seperti ingin membunuh orang.
"Kau mau mati ?"
__ADS_1
SEKETIKA saja, hawa diruangan ini yang tadinya panas seketika membeku. Ada terasa seperti hawa lebih mengerikan dari pada tadi.
Bagaimana tidak, Vian mengeluarkan kata-kata itu wajahnya berubah drastis. Sangat dingin, datar, dan seperti sangat siap membunuh wanita yang berbicara tadi dalam sekejap mata saja.
Aku menarik pelan lengan Vian, berarti untuk menahan nya agar tidak terbawa emosi.
Vian tiba-tiba merogoh jas, dan mengambil ponselnya. Firasatku sangat tidak enak.
"Hallo K2, kau tau kan siapa wanita ****** yang menumpahkan tehnya kepada berlian ku ?"
'Berlian ? Maksudnya aku ?'
*Vian mengeraskan suaranya (mengloadspeaker)*
''Tau tuan muda"
"Oh oke, baik la. Kinerja mu sangat bagus. Tolong selidiki keluarganya, seluk beluknya."
"TUAN! TUAN MAU APA ?!"
Aku menoleh kearah wanita itu, air matanya sudah jatuh. Dia menangis. Aku sangat tidak tega melihatnya.
"Vi-vian sudah lah. Lihat lah dia, beri dia kesempatan kerja lagi oke?"
Vian hanya melirik kearah ku sambil menyunggingkan senyuman kecil, namun masih terlihat sinis.
"Heh wanita, kau seharusnya tau derajat mu tingkatnya seperti apa. Kau hanya karyawan. Berani sekali sok ikut campur dalam urusan pribadi ku. Mau dia simpanan, istri, kekasih atau apalah. Itu bukan urusanmu. Ingat! Jika kau berani sekali lagi. Aku tak segan-segan memusnahkan keluarga bahkan langsung ketujuh keturunan mu! Kau paham ?!"
Aku hanya tercengang melihat Vian, ini adalah hal pertama kali aku melihatnya begitu banyak sekali bicara.
.
.
.
*Prokk prokk prokk*
Tiga kali bunyi tepukan tangan.
"Wah... spesial sekali nona Sheren... aku terharu padamu Vian, kau begitu posesif. Hahaha"
[TBC]
__ADS_1