He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Kaget)


__ADS_3

VIAN ?!


Aku menoleh kiri kanan, orang-orang sangat memperhatikannya! Jangan-jangan...


Jangan bilang restoran ini punya dia ?!


Aku hanya diam dari tempat ku berdiri. Hanya diam memperhatikan layaknya mereka-mereka yang menantikan si boss besar, Vian.


Vian melangkah begitu arogan, berwibawa, dan sangat tampan. Oh my god, aku menikahi laki-laki yang sangat di idamkan seluruh wanita. Bagaimana ini ? Ketampanan Vian sangat tidak manusiawi disini, huhuhu.


Tapi aku masih ragu, apakah benar boss besar itu adalah Vian ?


"Mbak, ini yang mbak bilang ketua rapat nya?" Tanyaku dengan rasa penasaran yang sangat sangat wah rasanya.


"Iya kak! Dia bukan ketua aja, dia pemilik restoran ini. Ya tuhan, kenapa ada manusia seganteng dia sih"


"Eh eh dia masih single kan ya ?" Sambung mbak restoran ini bertanya kepada teman temannya.


Dan teman-temannya semua mengangguk yang berarti mengiyakan kata mbak barusan.


Wajah Vian hanya menatap lurus, dingin, dingin sekali. Tapi mengingat hari dimana aku dan dia ada didapur kantor, membuat ku merasa bangga. Bahwa yang memiliki laki-laki ini adalah aku. Hahaha.


'Eh milik ku ? Mimpi apa aku dia milikku. Aku menikahinya karna terpaksa. Bukan karna ada ikatan cinta. Jangan mimpi Sheren! Sadarlah kau!'


Seisi restoran sepi sunyi, hanya ada bunyi hentakan tapak dari sepatu Vian. Wah Vian disini orang yang sangat berpengaruh. Orang yang memakai jas, semua malah menunduk melihat Vian. Apakah mereka yang dari luar negeri ini adalah bawahan Vian ?


'Vian kok kamu kaya banget ya?'


Vian sudah duduk ditempat yang sudah disediakan. Dan seisi kembali dengan normal. Ohya, tempat Vian ini terkhusus. Orang-orang memang bisa melihat mereka rapat. Tapi mereka rapat masih memakai ruang, ruang tersebut menggunakan kaca transparan.


Kenapa sih, gak di restoran. Gak dikantor, apa-apa pasti dinding kaca. Alias transparan. Vian suka banget ya, yang transparan gitu ?


Aku dengar desas desus, katanya kalau kita masuk keruangan itu. Seberisik apapun direstoran ini. Diruangan rapat Vian tidak akan mendengar apapun, layaknya ruangan sepi yang hanya membahas tentang perusahaan saham-saham dan sebagainya.


Setelah semuanya kembali normal, aku pun kembali ke tempat Anna. Haha keliatannya Anna bete menunggu diriku. Wajahnya masan banget, ketekuk gitu hahaha.


"Annna ku, kenapa sih mukanya ketekuk gitu" ucapku sambil menahan tawa.


"Kenapa si lama banget ? Aku sampe udah habis makannya. Huh kesal aku" Jelasnya makin cemberut.


"Hahahhaa udah udah, jangan cemberut gitu ah. Jelek tau hahahaha" gila sih puas banget ketawa ini anak.


"Anna lucu banget sih, gemes"


Dia tiba-tiba diam. Dan menutup mukanya "apasih ren. Jangan muji aku, nanti aku terbang"

__ADS_1


Aku puas banget menggoda Anna yang lucu ini, serius Anna lucu banget. Gemes, mudah kebawa emosi hahaha.


Setelah lebih kurang 20 menit kami tertawa bersama dan sedikit menceritakan hal gila. Sampai tidak sadar bahwa hari juga semakin sore, aku harus kembali ketempat kerja. Soalnya jam 05 an sore nanti aku mau antar berkas ke Iren. Nanti dia marah lagi huft...


Aku sama Anna menuju kepintu keluar restoran. Tapi mataku menangkap perhatian yang sangat wajib aku lihat. Vian keluar dari ruangan rapat tersebut, tapi ketika aku melihat ruangan nya. Didalam masih ada para orang berjas duduk disana.


Oh...mungkin rapat kecilan kali ya ? Gak tau deh gak ngerti hahaha. Vian keluar dari ruangan itu, dan aku melihat dia sedang memilih menu Coffee didaftar menu. Mbak-mbak disana sangat memperhatikan Vian dengan sangat mendetail. Mungkin ini suasana langka.


"Sheren! Sheren! Mata ku masih waras kan ya ?!"


Aku melihat Anna "yaaa, masih tuh. Kenapa sih nna?"


"I...itu.. itu Tuan Vian coy! Gila ngapain dia kerestoran favorit aku! Omg, apakah ini yang dinamakan jodoh ? Wah"


Refleks tangan ku mencubit pinggang nya.


"Awww sakit Sheren !"


Aku tidak menggubris apa yang Anna bbilang Aku terus menatap Vian dari kejauhan. Ah, Vian tidak sadar dengan keberadaanku disini.


Aku lihat mbak mbak kasir itu kok centil banget sama Vian ? Wah gak bisa dibiarin nih.


"Sheren, aku duluan aja lah ya. Kamu nyusul sana ke Tuan Vian, kan kamu sekretaris nya mana tau ada tugas atau jadwal yang mau diurus"


Langkah ku makin cepat dan aku berhadapan dengan Vian, aku menunduk kan kepala tanda memberikan salam


"Tuan Vian, ini saya sekretaris baru anda. Apakah ada yang bisa saya bantu disini Tuan ?" Ucapku dengan penuh sopan.


Aku melihat wajah Vian yang tadinya dingin menjadi sedikit lebih ceria. Apakah gara-gara kehadiran ku dia bisa ceria seperti ini ?


Arghh Sheren kau mulai lagi. Jangan berharap Sheren, fokus dirimu kerja!


Vian tersenyum hangat kepadaku, dan aku membalasnya. "Sejak kapan kamu disinii ? Sudah makan ? Kalau belum, ayo temani saya makan" Tawar Vian yang membuat hawa diriku merinding.


Bukannya apa apa ya, para pekerja restoran ini menatapku seperti mengintimidasi diriku. Terlebih lagi mbak kasir, dia menatapku sinis.


"Tu..tuan Vian ini pesanan anda sudah jadi hehe"


Aku mengernyitkan sebelah alisku, merasa jijik dengan tingkah mbak kasir ini. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja dia membenarkan rambutnya seperti sedang menggoda Vian.


'Dasar gak tau apa Vian udah punya istri!'


Vian mengajak ku duduk bareng direstoran tersebut, mungkin ada yang ingin dia bincangkan.


Entah kenapa melihat Vian begitu hangat menatap ku, sangat berbeda cara menatapnya dengan orang lain. Aku baru merasakan bahwa diriku emang dari tadi belum makan.

__ADS_1


"Mau pesan apa ? Aku tahu, kamu belum makan dari tadi" Tanyanya sambil membuka buku menu yang ada dimeja restoran.


"Mmm aku pesan kentang goreng sama teh hangat aja deh" jawabku


"Hanya kentang goreng ? Bisa kenyang ? Pantes aja makin lama tu badan makin seperti batang lidi. Haha"


Vian.. kamu ketawa ? Aku juga ikutan sedikit ketawa karna tingkah Vian yang bisa sehangat ini. Dia pergi kekasir dan memesan apa yang harus di pesan.


Aku melihat dia memesan makanan dengan wajah yang dingin lagi. Haha lucu sekali sih, ah punggungnya sangat idaman. Lebar dan gagah.


Aku mengeluarkan kamera hp ku, dan mengambil beberapa foto nya dari belakang. Untuk kenangan, mana tau suasana ini tidak akan bisa terjadi untuk ke dua kalinya.


Dia kembali dari pesanannya, dan dia duduk terus melihatku. Risih sih.


"Vian, kenapa sih lihat aku terus ? Jelek ya? Tau aku Vian. Huft" Ucapku sambil menatapnya sinis.


"Siapa bilang kamu jelek ? Manis kok" Jawabnya sambil menyeduh coffee yang dia pesan sebelum duduk disini.


Aku yakin seratus persen wajahku pasti udah kek tomat. Merah banget ini. Malu aku dipuji sama suami sendiri.


"Pesanan datang...."


Aku melirik kesumber suara, tapi kok mbak kasir yang antar ? Bukannya dia hanya khusus kasir aja ya? Kenapa ikut anterin makanan?


"Ini kentang gorengnya"


Aku mengambil dan meletakkan diposisi tengah meja.


"Ini teh hangat nya.."


*prannkkk*


Panas.. panass... tangan ku panas!


"Ah.. arghhh... panasss"


Panas sekali, teh hangat nya jatuh ketanganku. Ya tuhan panas sekali. Aku mengeluarkan air mata karna pedihnya tangan ku ini.


Aku melihat Vian, wajahnya seketika panik.


"Apa yang kau lakukan kepada SHEREN KU!!!!!!!!"


*deg*


[TBC]

__ADS_1


__ADS_2