
Kenapa kau membuat diriku bingung Vian ?
Itu lah pertanyaan yang sedang berputar diotak ku dari tadi, sesudah aku menjalankan masa-masa tersiksa karna diriku disuntik.
Kalian mau tau ? Ketika si Vian berbicara lembut kepada ku. Aku baru sadar Vian juga ada sisi lembutnya. Dia mengelus pucuk kepala ku dengan lembut. Dan itu membuat diriku bertambah menangis. Dan disitu dia menenangkan ku. Vian berbicara seperti ini
"Udah.. tahan sedikit sheren. Cup cup cup cup. Kesayangan Vian jangan gitu dong."
Kalau kalian diposisi ku, apakah baik-baik saja ?
Posisi Vian itu adalah suami kalian yang tidak pernah sama sekali mengajak diri kalian berbicara. Dan sekali berbicara dia mengatakan sesuatu hal yang membuat diri ini meleleh mendengarkan nya.
Apakah kalian tau, bagaimana perasaan ku ketika mendengar apa yang diucapkan Vian tadi ? Muka ku merah padam.
Tapi itu hanya sebentar, diriku mulai berpikir ada yang aneh dengan Vian. Vian tidak biasanya begitu. Dokter pun selesai menyuntik diriku, dan ketika Dokter itu pulang.
Apa yang terjadi setelahnya ? Hah.. kalian salah duga kalau si Vian berubah begitu saja.
Ketika dokter tersebut sudah benar-benar pergi dari apartement kami.
Vian langsung pergi menyusuri diriku yang ada dikamar. Dan kalian tau ?
Dia...
Tiba-tiba melempari ku sekantong obat yang diberikan dokter tadi. Dia melemparkan obat itu tepat didepan ku yang tengah duduk sambil melunjurkan kaki diranjang tersebut.
"Kamu. Jangan berharap lebih. Tadi itu hanya lah akting belaka. Dan minum obat itu. Jangan nyusahin. Aku sibuk, banyak kerjaan. Jangan sampai sakit, kalau mama aku dan ibu kamu tau, aku juga yang repot jelasinnya." Ujar Vian dengan nada sedikit ngegas.
Aku hanya diam. Dan tersenyum miris mendengarkan apa yang dibilang barusan dari mulut Vian sendiri.
Sambil bergumam "hmm hanya akting" dengan suara yaa mungkin hanya bisa didengar oleh diri sendiri. Dan aku mengadahkan kepala ku, menatap lembut Vian.
"Kenapa tersenyum ? Jawab aku." Ujarnya.
__ADS_1
Huftt Vian.. apa yang mau aku jawab :)
"Iya Vian. Bawel banget ya kamu. Hihihi" jawab ku berusaha mencairkan suasana. Dan dia pun menampangkan muka yang lebih dingin sampai-sampai membuat diriku bergidik ngeri.
*Bummmm*
Itu bunyi dentuman keras pintu yang dibanting Vian. Aku pun meletakkan obat itu disamping ranjang yang terdapat sebuah meja disana. Dan aku membenarkan posisi ku menjadi posisi tidur senyaman nyaman mungkin.
Aku memandang langit-langit rumah, dan tak sadar air mata ku menetes.
"Huftt.. aku kenapa sih ? Jangan sedih sheren. Kamu harus semangat meluluhkan hati suami mu! Ingat sheren! Kamu menikah hanya sekali. Pertahankan itu."
Gerutu ku sendiri. Untuk menyemangatkan diri sendiri. Aku dengar-dengar sih ya, dan aku juga mendapatkan info dari sosial media.
Bahwa Vian Suamiku yang Notabene nya seorang CEO, di rumorkan bahwa tidak memiliki pasangan alias jomblo akut...
WHAT ??? JADI AKU INI APA ?
Hahh…
Dari pada diriku gabut tidak jelas, lebih baik aku memasak untuk Diriku yang sudah lapar dan sekalian untuk Vian nanti.
Aku lupa, sekarang sudah pukul berapa ya ?
Aku melihat lihat, dimana jam ? Dan setelah itu. Aku baru sadar. Rupanya hari sudah mau sore. Jam 14.00 sudah sore itu. Dan aku belum memasak, Vian makan apa ?
Aku pun meregangkan otot-otot badanku. Dan sedikit melirik bekas suntikan yang disuntik dokter tadi. Sedikit membayangkan bagaimana sakitnya ketika jarum itu menancap masuk kekulit ku. Hihhh mengerikan sekali.
Mulai sekarang aku harus menjaga kesehatan! Aku pun mau beranjak dari tempat tidur dan aku mau keluar dari kamar tersebut. Ohiya, aku dan Vian pisah kamar ya. Kami tidak satu kamar hehe.
Tapi ketika aku memegang gagang pintu. Kepala ku tiba-tiba benar-benar pusing. Sampai-sampai aku menjadikan dinding sebagai penopang jalan ku.
Aku pun keluar kamar, dan mendapati ruang rumah yang sepi, suram, dan kosong. Apakah begitu hambar hidupku ini ? Hmm nikmati ajalah hey.
__ADS_1
Aku sampai didapur dan mulai membuka kulkas dengan seluruh tenaga ku. Aku bisa dibilang masih lemah, tapi dasar aku yang keras kepala. Jadi aku tetap ingin memasak untuk suamiku Vian yang tercinta.
Walaupun yang cinta aku doang sih. Dianya enggak. Tapi tidak apa-apa. Aku yakin cinta Vian ke aku bakalan ada, walaupun datang nya bakalan lambat banget. Gpp, aku tunggu hehe ❤
*Braakk*
Aku syok mendengarkan suara itu, dan aku yang lagi memotong sayuran. Berhenti sejenak dan mencari tahu sumber suara itu dari mana.
Seperti bunyi hentakan meja.
Aku liat didaerah ruang tv, ada suamiku Vian. Aku kira suamiku sudah kekantor, eh tau taunya masih disini
"Aku sepertinya memerlukan sekretaris baru. Tolong cari sekretaris yang sesuai dengan kriteria ku. Aku terlalu rumit dan susah untuk mengurus ini semua. Aku stress" - Vian
"………"
"CEPAT LAKUKAN SAJA ! JANGAN BANYAK TANYA !" - Vian
Aku tidak sengaja mendengarkannya. Vian lagi berbicara kepada seseorang ditelpon. Mungkin saja itu orang kantor ? Aku sedikit mendengar samar-samar bahwa itu suara cowok. Huft masih aman. Hehe.
Dan...
Aku pun cepat-cepat mau pergi dari ruang tv tersebut. Sebelum ketahuan si Vian bahwa aku menguping dirinya. Seperti nya si Vian benar-benar sibuk. Sampai aku melihat dan menguping nya saja dia tidak sadar.
Tapi sejenak aku berhenti melangkah, dan berpikir.. ada yang janggal sama yang aku dengar tadi.
Sekretaris ?
Sekretaris ?
Sekretaris ?!
Ha!! Tepat sekali. Aku membutuhkan posisi itu. Daripada diriku menganggur di rumah ? Dan aku rasa lebih enak memiliki gaji sendiri. Enak untuk kebutuhan sendiri tanpa memikirkan itu uang orang atau tidak.
__ADS_1
"Hmm, Vian. Bagaimana kalau aku saja yang jadi sekretaris kamu ?"
[TBC]