He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
V (Dugaan)


__ADS_3

Vian (Point of View)


Dari peristiwa ini, sepertinya ada yang tidak beres. Aku juga bingung, kenapa aku merasa ada hal yang tidak beres.


Hanya saja aku merasakan firasat yang sedikit buruk.


Aku sudah mendapatkan alamat dari kedua itu. Dan itu bukan sebuah restoran dan aku juga bersyukur itu bukan sebuah Club malam.


Tempat mereka tongkrongi adalah cafe barista yang tidak begitu jauh jaraknya antara Kantor ku dan RS ku. Semoga aku masih sempat bertemu dengan mereka berdua.


Tenang...


Aku tidak akan gegabah lagi. Aku tau mereka melakukan itu semua pasti ada alasannya. Aku tau Sheren wanita yang baik2.


Aku segera sampai di cafe tersebut. Dan bergegas masuk ke cafe, mencari cari mereka berdua yang seperti foto tersebut. Sepertinya mereka sudah pergi.


Aku berinisiatif bertanya kekasir cafe tersebut.


"Hallo mbak, numpang tanya. Mbak ada lihat mereka berdua ?" Tanyaku sambil menyodorkan Hp ke mbak tersebut.


"Oh ini. Tadi dia udah pergi. Barusan aja. Ohiya, anda dapat titipan surat dari seseorang. Dia bilang kalau ada yang mencari mereka berdua, berarti aku harus kasih surat ini untuk anda" jelas mbak tersebut sambil menyodorkan surat kepadaku.


Aku bingung..


Maksud mbak ini apa ? Aku menerima surat itu dengan wajah yang sangat sangat bingung.


'Wah, apa ini ?'


Aku kembali ke parkiran Mobil. Dan membaca surat itu.


"Hahaha kau mencari mereka bukan ? Kau mau tau ? Mereka ada hubungan spesial loh. Haha. Kau kalah Vian. Kau kalah Vian Johnbert."


Sial! Maksud surat ini apa ?! Kenapa dia bisa tau namaku ?! Surat ini menggunakan tulisan tangan. Tapi aku sama sekali tidak familiar sama tulisan tangannya.


Benar dugaanku. Ada yang tidak beress!


Aku bergegas masuk kemobil dan menuju keapartement dengan terburu buru.


.


.


.


Sampai di area apartement. Aku merasakan seperti ada yang mengikutiku sejak tadi. Aku menoleh kekiri kekanan dan nihil.


Ketika aku menoleh kebelakang. Aku menemukan sosok mobil yang mencurigakan.

__ADS_1


Sial sial sial. Lagi lagi sial. Aku ingin membaca plat mobilnya. Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas. Semua blur, arghh kepalaku pusing.


Aku menatap mobil itu lekat2 dan entah kenapa tiba2 mobil itu berjalan kearahku. Dan melewatkanku begitu saja.


Kalau tidak salah lihat, yang menyopir mobil itu seorang perempuan (?)


ahh gak tau ah, kepalaku pusing. Aku sebenarnya tidak begitu boleh memaksa melihat dalam pencahayaan yang kurang, itu membuat kepalaku sakit.


Aku bergegas menuju keapartement. Dan apartement masih gelap. Sepertinya Sheren belum pulang ya ?


Aku membuka seluruh lampu di apartement dan aku merasa, seperti sudah lama sekali tidak pulang kesini. Wah hari ini aku sangat lelah.


Aku melihat sekarang sudah pukul 23.30 sudah cukup malam.


*hooeekk* *hoeekk*


Itu suara dari dapur! Itu sheren ?!


Yash! Itu sheren! Syukurlah aku tidak perlu mencarinya lagi. Heuh..


"Sheren.. kau kenapaa ? Syukurlah kamu disini. Aku tadi mencari kamu kemana mana loh."


Sheren hanya diam. Dia terus muntah. Tapi tidak ada sesuatu yang dia muntahkan.


Aku terus memicitkan tengkuk lehernya. Ada apa lagi ini. Seketika aku memikirkan isi surat yang di cafe tadi


Apakah ada sangkut pautnya dengan ini ?


"Hey sheren. Itu anak siapa ?"


'Maaf aku melontarkan kata2 ini'


"Hah ? Anak?" Tanyanya


"Iya anak siapa itu ?" Aku berusaha menahan amarah yang sudah keubun ubun.


Aku harus berpikir positif. Huft ayo Vian kau bisa.


Aku memejamkan mataku sejenak, membersihkan segala pikiran kotor diotakku. Aku bisa, Vian kau bisa. Jangan marah, tahan amarahmu.


"Maksud mu apa ?" Tanya nya dengan terengah engah


*hooeeekk*


'Arghh, dia bertanya lagi!'


"A..apa maksud mu Vian??" Tanya lagi.

__ADS_1


"Sudah sudah, ayo kekamar. Ada yang tidak beres denganmu" kataku berusaha tenang. Padahal aslinya, heuh sabar.


"Kamu istirahat dulu. Aku mau panggilkan dokter pribadiku" Jelasku kedia


"Eh,.. jangan.. apaan sih. Aku cuman mual biasa kok" tukas nya kepadaku


"Kalau kamu menolak, berarti ada yang disembunyikan dariku"


Dia diam.


Aku bergegas keluar kamar dan menelpon dokter pribadiku.


"Hallo, segera datang ke apartement ku. Istriku dalam keadaan tidak sehat. Cepat!"


Didalam pikiranku sekarang, hanya lah kekhawatiran. Apa yang harus kulakukan, JIKA dugaanku benar ?


Ah tidak tidak. Sheren adalah wanita yang baik baik.


"Vian, boleh aku bertanya ?" Tanya Sheren tiba2 keluar dari kamar tersebut.


"apa ?" sengaja singkat, nahan emosi itu susah ya.


"kenapa kamu tadi bertanya seperti itu ? anak ? hey Vian, aku belum pernah melakukan hal2 yang seperti itu. kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sih Vian ?" Tanyanya


ck ini yang paling aku tidak suka, lihat lah. Dia bertanya seperti itu. Tapi dia juga yang nangis, lihat lah. air matanya sudah berlinang di matanya. heuuh...


"ck sudahlah. kenapa kamu menangis ?"


aku menghampiri Sheren dan memeluknya, berusaha semoga pelukan ini adalah pelukan hangat. pelukan yang tak menimbulkan luka.


"hiks..hiikks... Vi..Viann.. kamu kenapa suka sekali membuat diriku bingung ? hikks.. hikss.." Dia bilang seperti itu.


hah ? maksudnya ?


"hmmm ? maksudmu ?" Tanyaku sambil sedikit melepaskan pelukan dan melihatnya yang menangis tersedu sedu.


"cupcupcup sudah. jangan menangis. sebentar lagi dokter datang." ucapku sambil menghapuskan air matanya menggunakan jemari2 ku.


'woahh, istriku ini manis juga ya'


*Tingggtoongg*


"Nah, dia sudah datang" Bunyi bel tersebut membuyarkan lamunan diantara kami berdua. dan itu adalah bunyi bel dari dokter pribadiku.


"dok bagaimana ? ada yang salah dengan istriku ?


[TBC]

__ADS_1


__ADS_2