He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Balkon)


__ADS_3

Sekarang Kami semua sudah ada di rumah sakit milik suamiku sendiri. Sebentar, aku tidak begitu sanggup mengucapkan bahwa DIA adalah Suamiku. Aku merasa dia tidak pantas menjadi suamiku. Ohtuhan aku harus bagaimana ?


Tapi aku sedang tidak bersama mereka, aku berada di koridor luar halaman Rumah Sakit. Aku melihat betapa mewahnya Rumah Sakit ini, aku sedang berada di sebuah taman kecil yang banyak sekali anak2 kecil yang imut. Aku melihat mereka sambil tersenyum kecil.


Aku duduk disebuah kursi panjang yang diatas nya dilindungi oleh sebuah pohon rindang, yang ketika aku duduk disini sedikit bisa meredakan hati dan pikiranku yang kacau.


Aku memejamkan mata dan menghirupkan udara disekitar dengan perlahan lahan. Heuh rasanya sangat melegakan.


Ketika aku membukakan mata, aku melihat satu sosok yang membuat otakku bernostalgia ke suasana kecelakaan tadi.


(Sheren Flasback)


"*Aku siapamu Vian ?" - Sheren


"SHE....SHEE...SHEREN???!!!!!"


Hening... hanya ada suara2 kerumunan orang banyak yang ada disekitar.


"Kenapa ? Kau kaget ?" Itu adalah kalimat yang Sheren lontarkan kepada suaminya


"Ke..ke..kenapa kamu bisa disini ?" Tanya Vian ke Sheren.


Wajah Vian saat itu sangat gugup dan sedikit ada kekhawatiran.


"Kenapa ? Tidak boleh ya ? Tapi sayangnya tuhan membolehkan ku menyaksikan ini. Oh, yang kecelakaan pacarmu ya? Cantik sekali. Hahaha" Ucap Sheren sambil sedikit membuat suara ketawa yang dibuat2


"To..tolong jangan salah paham sheren. Aku bisa jelaskan semua ini" - Vian


"Jelaskan apa ? Ini sudah jelas kok"


"Vian, aku mohon sama kamu. Kalau kamu tidak mau atau tidak tahan berdampingan hidup dengan ku. Tolong lepaskan aku. Dari pada kamu melakukan hal2 yang tidak pantas" jelas Sheren


"Tolong Sheren.. jangan berpikiran seperti itu. Aku bisa jelaskan" Ucap Vian dengan nada yang sedikit tersedu sedu. Benar dia menangis.


"Hapuskan air mata palsumu itu Vian. Aku sudah muak. Cepat masuk kemobil dan setelah itu bersihkan dirimu, dirimu sudah tidak terlihat seperti CEO lagi. Haha" - Sheren*


(Sheren Flashback The end)


ya, didepan ku sosok nya adalah Vian. Entah kenapa ketika aku melihatnya, kepala ku sedikit pusing. Mungkin efek pikiranku yang sangat berat hari ini.


Dia duduk disebelah ku, dan aku hanya diam tak membuka pembicaraan apapun. Aku menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan dia. Tatapan dan raut wajahku saat ini adalah serius, sedikit dingin.


"She..sheren.. kau cantik hari ini hehe"


Itu adalah ucapan kata pembuka dari obrolan kami. Dan aku tetap tidak menanggapi itu. Aku merasa itu adalah sebuah olok-olokan yang dia lontarkan agar hatiku bisa luluh. Maaf Vian itu tidak mempan lagi.

__ADS_1


Suasana seketika hening lagi. Hanya ada suara anak2 kecil bermain ditaman ini dan suara damai angin yang gemulai ditelinga.


"Kau pintar sekali memilih tempat untuk bersantai..."


"Vian, kenapa kau lakukan itu ?"


Iya, aku langsung berceletuk alias langsung memotong pembicaraannya. Aku langsung menanyakan dengan nada dingin tanpa menoleh wajahku kearahnya.


Disaat ini aku melihat Vian yang sedikit resah namun sudah tau dan siap bahwa aku akan melontarkan pertanyaan ini kepadanya.


"Maafkan aku Sheren" Ucapnya dengan nada yang sangat rendah


"Aku tak butuh maaf mu" Ucapku dingin dan beranjak dari tempat duduk ku itu.


"Kamu mau kemana ?" Tanya Vian


"Bukan urusanmu, pergi sana uruskan pacarmu itu" Jawabku


Siapa yang tidak cemburu ? Diperlakukan seperti itu. Aku tidak peduli mau Iren sahabatnya atau rekan kerja, aku tidak peduli. Seharusnya kalau udah menikah harus tau batasan.


Dan Vian dengan tidak bersalah bilang ke orang ramai bahwa IREN itu pacarnya ? Hahaha.


Jadi aku dia anggap siapa ?


Aku meninggalkan taman itu dengan berjalan sedikit kencang. Aku mau ke balkon atas Rumah Sakit aja deh.


Ketika aku ditengah perjalanan aku bertemu dengan Devanno yang sedikit kebingungan arah (?)


"Devan, kamu kenapa ? Kok seperti orang kebingungan ?" Tanya ku kepada Devan


"Astagaaaaaaaa Sheren! Aku nyariin kamu. Aku kira kamu pulang tadi, jadi aku bingung harus gimana. Soalnya di ruangan Iren gak ada yang nyagain. Vian udah gak tau kemana" Ucap Devan kepadaku


"Banyak banget ya yang khawatir sama Iren" Ucapku sambil melanjutkan jalan mau ke lift.


"Eh bukan gitu Sheren Alka. Adduhhh... eh kamu mau kemana ? Ikut dong" Ucap Vian lagi sambil berlari mengejar pintu masuk lift yang hampir saja tertutup.


"Pergi sana jagain Iren. Aku mau kebalkon atas. Kenapa kamu ikut2 ?" Tukas ku dengan nada judes


"Idiiihhh siapa juga yang ngikutin kamu. Denger ya, aku juga bosen ngurusin rasah rusuh seharian. Mumet rasanya otak ku ini. Jadi aku mau nyari udara segar dibalkon" Elak Devan


Pinter banget ni anak nyari alasan. Bodoamat lah setidaknya aku dibalkon gak sendirian.


Ohya sekalian aku mau nanyain seputar Vian dan Iren. Ya sedikit curhat lah ke Devan.


"Ke..kenapa kamu melihatku seperti itu ?" Tanya Vian dengan wajah merinding nya

__ADS_1


Hahaha aku ketawa melihat kelakuan Devan.


"Enggak kok, aku lihat kamu lumayan ganteng dan idaman hahaha. Bisa deh bandingin sebelas duabelas sama Vian. Tapi gantengan Vian yo. Kamu gak ada apa2nya dibandingin dia" Jelasku sambil tertawa terbahak bahak dilift


"Ck apasih.. terserah kamu deh Ny.Sheren" -Devanno


Aku meredakan tawa ku, dan mulai menunggu Lift segera sampai dibalkon.


Jadi Rumah sakit suamiku ini punya 12 lantai. Sudah termasuk balkon. Kalau kalian ingat, aku kan ada tuh waktu aku diculik. Vian dan aku turun dari helikopter nah lewat tu balkon.


Aku lihat sih balkonnya lumayan mewah dan bisa melegakan pikiran. Untuk saat ini aku belum mau ketemu sama Vian. Aku mau meredakan kemarahanku dan sedikit ingin tahu tentang Vian dan Iren. Apa hubungan mereka berdua.


Gila sih ya, aku punya suami yang super kaya. Tapi sayangnya suamiku gak ada rasa cinta sama sekali keaku. Hahaha. Miris aja gitu. Kenapa sih harus aku yang kena takdir dijodohkan sama kedua orang tua ?


Kalian jangan pernah berpikir dijodohkan oleh kedua orang tua kalian itu enak ya. Gak enak sama sekali, tapi gak tau juga sih kan takdir masing2 ya. Gak ada yang sama. Semua sudah diatur oleh tuhan yang maha kuasa.


Aku dan Devan sampai dibalkon. Aku terkejut, karna aku baru tau bahwa diatas balkon begini seperti bukan balkon pada umumnya. Aku benar2 kagum.


Kalian melihatnya memang simple. Tapi ini mengagumkan... aku akan memperlihatkan kepada kalian!



(Pict 1 Tempat duduk yang sangat indah dan romansa. Biasanya digunakan oleh Dokter2 besar yang ketemuan sama Vian)



(Pict 2 terlihat beda kan ? karna memang ada 2 sisi hiasan yang sengaja di bedakan. katanya tempat yang si pict 2 ini, khusus karyawan yang ingin bersantai disiang hari.)


itu info yang aku kasih tau baru rumor oke. aku nanya ke Devan. gak tau bener apa enggak.


"Dev... dulu aku yakin 10000% balkon nya tidak secantik ini. Kok bisa secantik ini sih ??!" Tanyaku tergopoh gopoh sambil sedikit menyenggol lengan Devanno.


"Oohh emang iya Sheren.. waktu kejadian kamu itu, balkon lagi direnovasi. Dan renovasinya udah selesai. Balkon ini juga baru diresmikan Vian 1 hari yang lalu sih" Jelas Vian


"Oh baru ya, pantes aja masih keliatan bersih banget tempatnya. Beneran deh suamiku kaya banget." Ucapku sambil menahan tawa


"Ada2 aja kamu Sheren sheren.." jawab Devanno sambil menggelengkan kepala.


Aku mengajak Devanno duduk disalah satu meja disana.


"Dev aku mau nanya sama kamu..." ucapku pelan2


"Nanya masalah Iren sama Vian ?"


[TBC]

__ADS_1


__ADS_2