
Ini terdengar gila bukan ? Istri menjadi sekretaris suaminya sendiri dikantor kerja nya.
"Apa kamu gila ? Oh gara-gara disuntik, otak mu ga sehat ya?" - Vian
Ga sehat dia bilang ? Astaga.
"Enggak Vian, aku serius." Ucapku dengan nada lembut. Aku benar-benar ingin merasakan bagaimana sih kehidupan Vian dikantor selama ini sebagai CEO. Sesibuk apa dia. Aku penasaran banget.
"Jadi sekretaris itu tidak mudah Sheren. Kamu emang bisa ? Tolong ya sheren kali ini kalau kamu mau kerja, jangan nyusahin saya ketika kerja. Awas saja kalau kamu nyusahin saya." Ujar Vian sedikit nada mengancam
Lah kenapa tiba-tiba seformal itu ? Pake saya kamu.
"Eh tapi bentar, kita kan udah nikah. Gimana dong? Gak bisa! Nanti kamu sebarin kalau aku udah nikah sama kamu" tegas Vian.
Heuh aku kesal dengan Vian, bentar Saya bentar lagi Aku. Terserah kamu aja untung kamu itu suamiku.
"Huft, Vian. Emangnya selain keluarga kita yang tau ada lagi gak? Enggak kan ?" Ucapku tak kalah serius dengannya.
Aku melihat wajahnya yang berpikir sangat keras.
"Huftt... Ya sudah. Besok datang saja ke kantor. Dan ingat kamu kerja seruangan dengan saya, tapi kita tidak akan pergi sama-sama. Saya tidak peduli bagaimana kamu kesana nanti." -Vian
"Iya Vian iyaa."
Aku pun berjalan menuju ke dapur untuk memasak. Perut ku lapar sekali.
Eh... Tapi sebentar…
Kalau dipikir-pikir, tumben si Vian lancar banget ngomong sama aku? Lah biasanya dingin banget? Ya udah deh ya, syukur kalau dia udah mau pelan pelan berubah.
Kira-kiranya susah gak ya jadi sekretaris Vian ? Ohiya setelah masak, aku mau ke mall buat beli baju kantoran. Aku kan gak ada baju formal kayak gitu.
__ADS_1
Sekitar 30 menitan aku menyibukkan diri di dapur. Dan ta-daaaaa akhirnya selesai juga masaknya!
Aku panggil Vian dulu ah..
"Vian, aku udah selesai masak. Ayo makan." Ucapku sambil menuju ke ruang keluarga.
"Ehh? kemana Vian?" gumam ku sendiri, aku celingak celinguk mencari Vian. Gak mungkin Vian langsung pergi gitu aja ke kantor.
Tapi sepertinya dia pergi deh. Yaudah aku makan sendiri aja.
Aku pun melangkahi kaki menuju ke dapur, tapi... Tiba-tiba ada suara "jaa…jangaann tinggal kan aku!! Aku mohon . Jangan !!!"
Eh itu suara VIAN! Ada apa dengan vian ??
Aku menghampiri Vian, dan memukul pelan pipinya "hey... Heyy... Bangun Vian. Kamu kenapa ? Mimpi buruk ya ?"
Tapi itu nihil, dia tidak juga bangun. Dia tetap menggeleng kepalanya kekiri kekanan seperti orang memberontak. Aku pun panik. Dan mengambil posisi duduk disofa dengan memangku kepala si Vian.
"Vian. Hey! Bangun. Kamu mimpi apa sampai berkeringat begini ??!" Tanya ku panik sambil mengusap keringat dingin yang terus bercucuran di dahi kepala Vian.
"To…loongg aku…" lirih Vian
Tolong ? Tolong apa! Ini aku harus gimana ??!
"Naahhh ada minyak angin!" aku pun mendapati minyak angin yang ada dibawah laci meja sofa ruang keluarga. Dan mengoleskan sedikit demi sedikit di dahinya.
Aku yakin, Vian mimpi buruk. Dan dia gak bangun-bangun bisa jadi selama ini dia begadang dan kurang istirahat.
__ADS_1
Kalau aku udah jadi sekretaris mu, tidak akan kubiarkan kamu berkerja berat-berat. Mari kita berbagi pekerjaan. Andai saja kau mengerti betapa aku khawatirnya denganmu.
Aku terus mengoleskan minyak angin dipelipis dahinya. Dan syukurlah Vian agak tenang. Aku pun tersenyum tipis, dan menikmati pemandangan yang indah ini. Aku baru sadar, suamiku setampan ini.
Dengan wajah yang diluar keliatan dingin, tapi sangat hangat ketika tidur. Wajahnya seperti membawa ketenangan. Huhuhu lucu sekali dia. Kapan aku hidup dengannya layak keluarga normal? Saling mencintai satu sama lain. Tak sadar air mataku menetes begitu saja.
"Ukhhh"
Mendengarkan iitu cepat aku mengusap airmataku. Vian sedikit tersadar. Aku membantu Vian bangun dari pangkuan ku.
Wahhhh kepala vian berat juga ya. Paha ku sampai tidak terasa. Seperti kebas ? Kesemutan gitu. Tapi gppdeh demi suami tercinta hehe.
"A..a…aku kenapa ? Ukhh pusing" tanya Vian
"Pusing ? Tiduran aja dulu. Jangan pergi kerja, lebih baik libur hari ini. Lagi pula kamu kan pemilik perusahaannya." Ucapku menjelaskan ke Vian.
"Ya aku tau, tanpa kamu bilang. Emang maunya aku gitu." Ketus Vian.
Ketus banget balasan Vian. Aku pun lebih memilih untuk diam. Dan aku mau meranjakkan diri dari sofa itu.
Dan alhasil, paha ku pegal hehe. Sedikit pegal. Tapi tidak. Bukan sedikit. Ini sangat pegal. Aduh Vian kepala mu batu ya isinya ?
Aku pun berdiri sambil memijit sedikit pahaku, karna sangat pegal. Dan ingin menuju kedapur. Menyiapkan makanan untuk vian.
Tapi siapa sangka.. si Vian memegang tangan ku yang membuat ku otomatis berhenti dan melihatnya
"mm iya kenapa Vian ?" Tanyaku sedikit bingung.
"Sheren, Terima kasih banyak. Maaf kalau tadi aku nyusahin kamu" sambil memancarkan senyum nya ke diriku.
[TBC]
__ADS_1