
Vian (Point of View)
Huft... iya aku tau, aku yang salah. Masih pagi² sudah membentak istri sendiri diruangan sendiri. Suami macam apa sih aku ini ? Gak guna banget!
Aku juga bingung, kenapa aku harus cuek dengan nya ? Bukan hanya cuek tapi dingin. Lagi pula, kenapa juga sih dia main masuk keruangan aku ? Nanti kalau ada karyawan yang lihat kan bisa salah paham.
Karna ruangan ku ini, hanya bisa dimasuki orang tertentu. Ya contohnya Devanno. Hanya sesama CEO atau hal² yang benar² penting, baru bisa masuk ke ruanganku. Sekretaris aja harus ijin dari telfon dulu kalau mau masuk keruanganku. Namanya aja ruangan kantor yang punya perusahaan.
Dan tak lupa, aku ini sangat benci sama orang yang tidak ada sopan santunnya.
Setelah aku membentak nya tadi, aku melihat sekujur tubuhnya bergetar. Apakah dia takut ? Dia menangis ? Argh jangan sampai dia begitu. Dia pelan² keluar dari ruanganku dan cepat² menghampiri tempat yang sudah disediakan untuknya.
Aku pun segera kembali ketujuanku, yaitu mengambil berkas untuk dijadikan project dan dibawakan ke luar negeri nanti siang. Hari ini aku ada jadwal keluar negeri untuk memperlancarkan sebuah project yang ingin kubangun. Dan aku bisa dibilang cukup sibuk.
.
.
.
Sebelum aku berangkat, entah dari mana pikiran ku terbesit ke Sheren. Aku tadi sempat melihat tempat duduk Sheren begitu banyak sekali berkas menumpuk. Aku yakin dan percaya, Sheren adalah tipe harus menyelesaikan hari itu juga tidak mau tau apapun resikonya.
Apakah nanti dia makan ? Aku tidak suka dia sakit, apalagi sampai² tangan berinfus. Rasanya hatiku juga ikut sakit kalau dia sampai sakit. Aku harus menelfon seseorang untuk memastikan. Telfon siapa ya ?
'Ah.. telfon Devanno saja.'
"Hallo Devanno, kau ada dikantor kan ?"
"Hey bro, iya. Kenapa nih ?"
"Nanti tolong ajak Sheren makan, makan siang. Bukan makan malam."
"Kenapa gak kamu ajak sendiri ?"
"Kau bodoh ya ? Aku kan CEO. Aku sibuk! Kerjakan apa yang aku perintah! Mau kupotong gajimu hah?!"
"Hoooo tenang bro, iyaa aku ajak nanti. Makan siang kan ? Makan malam gimana ? Biar sekalian double haha"
"Kalau kau berani. Coba saja, aku bunuh kau. Makan malam, biarkan dia bersamaku. Makan siang denganmu. Karna aku mau keluar negeri sekarang. Aku tutup telfonnya"
*tuuuuu tuuut*
'Biar sekalian Doubel'
Kenapa kata² itu sangat menganggu pikiran ku ? Firasatku juga tidak begitu enak. Aku harus menelfon K2 untuk mengawasi gerak gerik Devanno.
"Hallo K2, tolong awasi Devanno dari siang ini sampai malam kedepan."
__ADS_1
*tuut*
Aku mematikan telfon, aku harus tenang sekarang. Agar ketika menghadap orang² perusahaan diluar sana akan baik² saja.
Sheren, tunggu aku sebentar lagi. Aku akan menjadikan mu wanita terberuntung didunia karna telah memilikiku.
.
.
.
Pukul sudah menunjukkan 18.45 sudah bisa dibilang cukup malam. aku juga sudah pulang dari mengurus project diluar negeri tadi, aku pulang pukul 17.00 jangan khawatir, Vian bukan lelaki lemah. Ketika sampai saja dibandara aku langsung menuju keperusahaan.
Ah aku tidak sabar ingin mengajaknya makan malam. Aku masuk ke perusahaanku. Dan tiba² saja aku berhenti di tengah² jalan tepat ditengah lampu besar mewah megah di perusahaan ku ini.
Aku mengadahkan kepalaku mengelilingi mata melihat betapa besar dan megahnya perusahaan ku ini.
'Vian Johnbert, tidak sangka perjalananmu sudah sejauh ini. Vian Johnbert terimakasih sudah berjuang hingga sekarang, dan menciptakan sesuatu yang tak dibuat orang'
Entah kenapa aku berseru sendiri, dan tak sadar air mataku terjatuh dari pelupuknya. Aku terharu, aku bisa menjadi orang yang selalu dipuji² padahal diriku ini sangat kesepian dan banyak sekali kendala sana sini tanpa orang ketahui.
*ctasss*
Aku mengusap air mataku, menyadari apa yang terjadi sekarang. Tiba² lampu diperusahaan mati.
'Ada apa ini ?'
Tapi firasat ku bilang Sheren malam ini lembur. Aku terus berlari, takut ada hal yang tak diinginkan terjadi.
Tepat tinggal 1 lantai lagi. Aku berhenti dan aku membuangkan rasa lelahku.
'Ahhhrghh'
Ck kakiku.
'Ahh ini sangat sakit.'
Aku memelankan langkahku, dan akhirnya sampai dilantai yang mau dituju. Aku terdiam, mendapati seluruh lorong gelap. Sheren apakah berani ? Bukankah dia takut gelap ?
Aku mempercepat langkah ku walaupun kakiku sakit. Dan ketika aku sudah sampai, aku tidak mendapati Sheren ada disana. Kemana dia ?
Huft.. sungguh melelahkan. Aku secara otomatis terduduk dilantai dimana aku berdiri sekarang, dan meluruskan kedua kakiku agar mengurangi sakit.
'Aku hebat juga ya, dari lantai bawah. Kelantai utama menggunakan tangga darurat'
Aku sedikit memicitkan kakiku yang keseleo tadi. Lumayan sakit, tapi aku bisa menahannya.
__ADS_1
Aku menelfon K2 untuk memastikan keadaan Sheren.
"Hallo K2 bagaimana dengan Sheren ? Apakah dia pulang ?"
"....."
"Apa ?! Dia lagi dicafe bersama Devanno ?! Bukankah tadi aku menyuruh dia menemani makan siang ? Kenapa malam juga ?"
Aku segera mematikan sambungan dari K2. Aku kesal, aku marah. Ada yang aneh. Ada apa dengan Devanno akhir² ini ? Aku harus berikan perintah kepada K2 untuk mengawasi Devanno 24jam untuk beberapa hari.
Aku bangkit dari duduk ku itu, dan pergi kedapur khusus lantai ini. Ya namanya aja perusahaan ku, suka² dong ya di daerah ruanganku ada dapur apa tidak.
Hahaha bercanda. Sebenarnya ini dapur khusus OB yang melayani Devanno. Karna Devanno tidak meminum sembarangan, dia mudah terkena alergi. Tapi didapur ini juga ada beberapa makanan yang bisa mengenyangkan perut sih.
Aku pun pergi kedapur tersebut, dan mendapati beberapa bahan yang bisa dimasak.
Tapi sebelum aku masak, aku sudah menyuruh K2 tadi untuk melihat kesalahan apa yang sedang terjadi, sehingga lampu² utama di Perusahaanku ini mati.
Tidak sampai beberapa menit aku lapor ke K2. Akhirnya lampu sudah mmenyala. Aku pun bisa memasak dengan tenang.
.
.
.
Sebenarnya apa sih yang sedang kulakukan ? Kenapa masak untuk Sheren ? Kenapa hatiku terasa panas ketika mendengarkan Sheren makan bersama Devanno ? Apakah Devanno menyimpan perasaan dengannya ?
'Devannnoo! Dia istriku!'
Dia makan gak ya sama masakan ku ini ?
Aku hanya memasak mie sederhana ini, apa dia mau makan ? semoga dia suka deh ya! Aku harus mengirim pesan untuknya, agar mereka tidak jadi makan bersama.
Kamu dimana ? Baru saja ditinggal, sudah hilang kemana mana. Cepat kembali, aku sudah membawamu makanan. Tidak dimakan, awas saja kamu.
Terdengar dingin gak sih ? send aja deh.
aku pun duduk ditempat yang diduduki Sheren bekerja. Dan sedikit memicitkan pergelangan kaki, yang makin lama makin terasa nyerinya.
Tak sadar sudah lumayan lama aku menunggu dirinya. Pukul sudah menunjukkan 21.00 Sudah satu jam lebih aku menunggu disini. Dia tak kunjung datang juga.
'Sheren, kau datang kan ?'
***
__ADS_1
"Entah itu peduli atau rasa cinta yang mulai tumbuh, yang perlu diketahui adalah setiap yang sudah menjadi milikku tetap milikku. Aku akan menjaganya sampai akhir hayatku" - Vian Johnbert
[TBC]