
VIAN POV (Point of View)
Kalian tau tidak ? Aku rasanya seperti mau mati, ketika aku menemukan Sheren tergeletak lemah dilantai apartemen. Aku sangat merasa, bahwa aku adalah Suami yang tak pantas. Suami yang jahat. Aku tak tau, apa yang terjadi sebenarnya.
Jujur saja, aku sangat-sangat tidak menyetujui perjodohan kami. Karna aku sangat MUAK dengan wanita. Aku tidak mau kembali kemasa kelam ku, seperti dulu. Apakah kalian tau, aku dilakukan layaknya sampah dengan wanita lamaku. Ketika aku masih SMA.
Aku merasa dicampakkan. Begitu keji & jijiknya kah aku ? Huft sudah. Aku tidak mau mengenang nya lagi.
*drrrrtttt drtttt*
Ada Yang nelpon, siapa ya ? Hahh… aku sangat lelah sekarang. Aku begadang selama dua hari ini. Dan ini adalah panggilan dari kantor.
"Hm iya hallo ?"
"Tn.Vian mohon maaf menganggu, ini ada rapat mendadak dari SAHAM INFORTEQ. Mohon kedatangan Tn.vian karna tuan yang menjadi ketua rapat ini"
Liat sendiri kan ? Aku ini orang nya sangat sibuk. Susah banget membagikan waktu buat istri. Aku tidak ada sekretaris pribadi, karna semua sekretaris pribadi ku berniat menggoda ku semuanya! Dasar wanita murahan.
Tapi setelah ku pikir kembali, aku terlihat sangat stress sekarang! Otakku pikiran nya bercabang cabang. Berkas ini, berkas itu lagi.
Seperti nya aku harus cari sekretaris baru lagi, dan kali ini tenang. Aku tidak mau cewek. Tapi cowok.
"Aku sepertinya memerlukan sekretaris baru. Tolong cari sekretaris yang sesuai dengan kriteria aku. Aku terlalu rumit dan susah untuk mengurus ini semua. Aku stress"
__ADS_1
"Hmm maaf Tn.Vian untuk sekarang kita tidak bisa membuka lowongan itu lagi. Karna kalau reputasi perusahaan mu menurun gimana ? Nan----"
"CEPAT LAKUKAN SAJA ! JANGAN BANYAK TANYA !" Ucapku emosi kepada orang kantor.
Emang dia pikir, dia siapa ?! Aku CEO. Dan jangan lupa, aku PEMILIK Perusahaan VTECNOLOGY Garis bawahi bahwa aku ini PEMILIK. Bisa saja dia aku pecat waktu ini juga! Suka sekali bertele-tele.
Aku pun mengakhiri panggilan ku dengan manager kantor tadi. Dan mulai membereskan berkas yang sangat berserakan di meja ruang keluarga ini. Jujur saja, diotak ku ini banyak sekali pikirannya.
Mikirin kantor, mikirin Sheren. Tapi ya itu, aku bingung. Kenapa aku sangat khawatir dengan Sheren? Bukankah selama ini aku tidak pernah sama sekali melayaninya selayak istri ku ? Ada apa ini sebenarnya.
Arghhh. Aku pun mengacak kasar rambutku.
"Hmm, Vian. Bagaimana kalau aku saja yang jadi sekretaris kamu ?"
Apa yang dia katakan ?
"Apa kamu gila ? Oh gara-gara disuntik, otak mu gak sehat ya ?" Itu pertanyaan yang terlintas diotak ku dan ingin sekali menyampaikannya ke Sheren.
"Enggak vian, aku serius." Ujar Sheren.
Sheren kenapa sih ? Gak cukup ya, aku kasih kemewahan ? Selang beberapa menit kami sedikit berdebat. Dan akhirnya aku menyetujui apa yang dimau Sheren tadi.
Setelah perdebatan itu berlangsung selesai. Sheren pun kedapur, aku tidak tau kenapa dia ingin kedapur. Apakah masak? Emangnya dia udah sembuh? Argh aku tak peduli. Aku lelah. Aku ingin tidur sebentar Saja.
__ADS_1
(15 menit kemudian)
Aku pun mengerjapkan mataku, dan pertama sekali aku menangkap mata indah itu. Iya benar, itu adalah mata Sheren. Aku tak tau apa yang salah dengan ku. Tapi dimata itu penuh kekhawatiran. Apa yang terjadi sebenarnya ?
Aku pun cepat-cepat bangun, dari pangkuan sheren. Eh tunggu? Kenapa aku dipangkuan sheren? Ada apa dengan ku? Kok seluruh badanku sepertinya berkeringat parah? Arghh. Kepala ku sedikit pusing.
"A..a…aku kenapa ? Ukhh pusing" ucapku
"Pusing ? Tiduran aja dulu. Jangan pergi kerja, lebih baik libur hari ini. Lagi pula kamu kan pemilik perusahaannya." Jelas Sheren.
"Ya aku tau, tanpa kamu bilang. Emang maunya aku gitu." Jawabku.
Disana, aku melihat raut wajah Sheren yang sedikit kesal. Dan aku tersenyum tipis. Aku tak tau kenapa, semakin ku perhatikan. Aku baru tau, Sheren juga ada sisi manisnya.
Aku melihat sheren menepuk pelan pahanya, kenapa? Apakah itu karenaku?
"Sheren, Terima kasih banyak. Maaf kalau tadi aku nyusahin kamu." Aku tak tau apa yang aku katakan.
Cuman aku yakin dan percaya, bahwa aku baru saja menyusahkan dirinya. Dan disana aku melihat dia mengenggam tanganku dan bilang
"Tak apa, aku ini istrimu. Kamu bukan nyusahin aku, tapi memang kewajiban aku menjaga kamu Vian." Ucap Sheren sambil tersenyum manis dengan diriku.
Tapi entah kenapa, senyum nya dengan ku. Tidak membuat ku luluh. Yang ada terlihat menjijikkan, seperti palsu. Maaf sheren, aku tak tau apakah senyummu itu tulus kepada ku. Atau tidak.
__ADS_1
[TBC]