
VIAN POV (Point of View)
Aku tau, aku jahat. Entah kenapa aku kesal sekali, aku pulang rumah tau-taunya Sheren tidak ada di apartemen. Jujur, Aku tidak berniat sidikitpun bilang bahwa Sheren ke mall pergi dengan laki-laki lain.
Aku terlalu terbawa emosi. Aku tau, Sheren menangis ketika aku bilang dia pergi dengan laki2 lain. Aku sangat tau itu. Sheren adalah wanita yang lemah. Diluar tampak kuat & tegar. Tapi percayalah, hatinya begitu lemah dan lembut.
Aku kesekian kalinya menyakiti dan menggores luka dihati Sheren dengan mulut sampah ku sendiri.
Aku berniat untuk meminta maaf di telfon tadi, tapi tak sempat. Sheren buru2 mematikan sambungan telfonku. Aku tau dia sangat takut kegelapan.
Semua wanita takut sih sama kegelapan, tapi aku merasakan kalau si sheren ini orangnya memang semua ditakutin. Dan aku yakin, sekarang pasti dia menunggu dihalte bus seperti orang bodoh.
Sekarang sudah menuju pukul 21.00 WIB sudah malan sekali. Jarang ada TAKSI apalagi BUS yang lewat di pukul segitu. Heuh Sheren kau berhasil membuat diriku khawatir denganmu.
Aku pun on the way ke halte bus tempat mall yang dia pergi tadi. Tenang, aku tidak salah halte kok, Ponsel Sheren sudah terpasang GPS di Ponsel ku. Aku memang keliatan tidak peduli, tapi soal keamanan istri sendiri itu sudah pasti aman.
(+-20 menit kemudian)
'SHIT! dimana Sheren ?'
Itulah ungkapan pertama kali ketika aku sampai di bus halte tersebut. Dihalte tidak ada siapa2. Hatiku mulai tidak enak. Pikiranku kacau. Kacau sekali. Takut sheren kenapa2.
"Hallo! R2! Tolong selidiki GPS Sheren istriku sekarang! Entah kenapa GPS di ponselku tidak terbaca! Cepat lakukan! Kalau ada apa2 dengan istriku kalian yang kena! Cepat!"
Tegas ku lantang sambil mengenggam ponsel ku dengan kesal. Aku takut Sheren kenapa-kenapa.
R2 bodyguard pribadi ku yang sangat aku percayai, tidak semua orang tau bagaimana wajahnya. Karna pekerjaannya dengan ku sangat rahasia. Aku telah menganggapnya sebagai keluarga. Sebab disaat aku sulit, contohnya seperti ini. Dia selalu mendapatkan jalan keluar dari masalah yang aku hadapi.
Aku pun menancapkan GAS. Dan berusaha mencari Sheren semampuku. Tak sampai lima menit. R2 ku memberikan SMS lokasi Sheren berada. Betapa kagetnya aku. Itu adalah tempat yang sangat pelosok! Tidak mungkin mengendarai mobil dengan cepat menuju kesana.
__ADS_1
Aku pun memerintah R2 dan anak buah ku menuju kelokasi Sheren menggunakan helikopter. Aku akan berusaha kesana secepat mungkin.
Aku fokus menyetir, dan tak lupa dimulutku berdoa berkomat kamit untum keselamatan Sheren. Aku belum sempat menjadi suami yang baik buat Sheren.
'SHEREN! KAU HARUS BERTAHAN!'
.
R2 memberikan info bahwa tempat Sheren tersebut banyak yang menjaga. Untuk menyelamatkan Sheren sesuai dengan rencana, sekitar 30 meter dari lokasi aku harus turun dari mobil dan harus berjalan kaki ke lokasi dimana Sheren di bekap.
Selebihnya R2 yang mengurus, tenang. Aku memang masih MUDA, tapi jangan remehkan bela diriku dan tembakan ku. Aku sudah dilatih keras untuk bela diri dan menggunakan peluru pistol dengan baik. Jarang meleset kesasaran. Setiap dimobilku, pasti aku selipkan satu pistol untuk jaga2.
Aku sudah sampai dilokasi, aku sekarang sudah berada didalam ruangan yang sangat gelap dan bau busuk sampah. Aku hampir ingin muntah. Aku mengendap ngendap, dan YASH! aku berhasil menemukan Sheren. Tapi tunggu...
Aku menemukan Sheren bukan dari dekat, jarakku dengan Sheren sekitar +- 10 meter. Kenapa disekitar Sheren banyak darah ? Apa yang mereka lakukan!!! Aku bersembunyi tak jauh dari mereka.
Dan..Pipi Sheren! Ada apa dengan pipi sheren?!
*DHORRR DHOOORRR*
Headshoot. Aku mengenakkannya di lengan dan di bagian pinggang ******** yang mencekik Sheren. Aku menghampiri Sheren.
"She...shereenn!!!!!"
Hatiku sakit sekali, Sheren menatapku dengan tatapan lemah tak berdaya.
"Akhirnya kau datang Vi...Vi..VIAN"
Ucapan Sheren terbata bata. Aku memeluknya "sudah, kamu aman sekarang. Ayo kita pulang."
__ADS_1
Aku baru saja mau mengendong Sheren. Tapi
*Bukkk*
Satu pukulan kayu tepat dipunggung ku. Siapa pelakunya ? Hahahaha ada berapa banyak ******** disini?
"Mau apa lagi kau ?" Tanyaku sambil meremehkan ******** itu.
"Apakah kau Vian ? Haha ini pria yang dipujapuja gadis ini. Cuih jelek sekali seleranya hahaha" kata ******** itu sambil meludahi ku
"Aku tidak mau berkelahi dengan orang kotor sepertimu, tidak elite, miskin. Aku tidak mau tangan ku kotor karna mu. R2 !!! SELESAIKAN!"
Kesanku sombong ? Ah, biarlah ini lah aku. R2 dan anak buah ku sangat bisa dihandalkan. Aku pun bergegas mengendong Sheren ala bridal style. Aku keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke helikopter.
Maaf bukkannya sombong, aku tak sempat ke mobil lagi. Mobilku terlalu jauh, sedangkan Sheren lagi gawat darurat.
"Tolong tangani istriku sekarang! Kasus kalian mengetahui aku sudah mempunyai istri. Aku harap kalian tutup mulut! Berani kalian membicarakan diluarmedia atau lainnya. Nyawa kalian akan kubawa keneraka." Ucap ku ke semua orang yang ada di helikopter dan mereka mengangguk.
"Tn.Vian punggung anda lama kelamaan mengeluarkan darah, dan sepertinya di leher anda ada lebam yang cukup serius. Itu harus ditangani dengan cepat Tn.Vian" ucap salah satu perawat laki2 yang ada di helikopter tersebut.
"JANGAN PEDULIKAN AKU DULU! bawa Istriku ke RS secepatnya! Tangani dia! Dia baik2 saja, Aku baru bisa tenang. Masalah luka ku dapat aku tahan!"
Aku tak tau, kenapa dengan diriku baru2 ini. Kita menikah, belum menginjak 1 tahun tapi kenapa sudah terjadi hal2 yang membuat dirimu takut sheren ?
Aku bingung, tindakan ku ini. Aku tidak suka ketika kau terbaring lemah dihadapanku. Tapi aku sangat kesal ketika kau berhadapan dengan ku dengan senyum polosmu itu.
Apa yang harus kulakukan ?
[TBC]
__ADS_1