He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Aku siapa mu?)


__ADS_3

BACK (Point of View) SHEREN


"Sheren, sebentar lagi Vian datang kesini. Mohon ditunggu" Ucap Devanno kepadaku.


Cih. Aku Jijik. Aku yakin dengan firasatku, Vian gak bakalan datang kesini. Untuk apa dia kesini ? Toh aku kan gak begitu penting baginya.


"Datang ? Devan kamu ngaco ya ? Dia gak bakalan dateng. Jangan berharap dia dateng buat ketemu aku disini. Palingan dia datang kesini seperti jadwal biasa dia datang kekantornya" Jelasku kepada Devanno.


Aku dan Devanno sengaja menggunakan bahasa yang santai, karna supaya suasana kami ngobrol tidak begitu canggung. Aku yang menyuruhnya berbicara santai kepadaku, awalnya dia memanggilku Ny.Sheren itu sangat membuatku risih sekali.


Tapi dia memohon kepadaku untuk hal pekerjaan dia tidak berani informal, dia tetap harus mentaati derajat nya. Padahal itu tidak masalah buat ku, dia bilang sih aku dan dia harus bersikap profesional saat bekerja. Harus tau mana yang atasan mana yang bawahan.


Devanno kau sangat setia, aku salut padamu.


Aku bertepuk tangan didalam hati.


Sungguh Devanno adalah orang yang tidak salah direkrut oleh suamiku, dia sangat setia. Aku kagum dengan kesetiaannya.


"Jangan bilang begitu Sheren, dia adalah suamimu. Dia selalu bilang kepadaku kalau dia mengkhawatirkan mu kalau kamu ada apa2"


Lamunan ku buyar dikarena kan sambungan obrolan kami tentang Vian. Ck Vian lagi Vian lagi.


"Yayayaya terserah kamu " Jawabku sambil melambaikan tangan seolah olah seperti mengibas ngibas diudara.


"Dari pada nunggu nya lama dan pikiranmu negatif terus ke Vian. Lebih baik aku traktir kamu minum kopi gimana ? Kamu deh yang milih tempat minumnya dimana..." Jelas Devanno.


Wah ide bagus juga nih si devan, Hue peka banget hahahaha. Aku pagi2 udah gerah + hot. Minum americano dingin bisa legain diri aku yang super panas ini haha.


"Seriusan nih ? Aku kalau udah ketempat barista kafe kopi gini, beli nya gak nanggung2 loh. Aku biasanya beli dua kopi hehe. Soalnya Aku penikmat kopi" Jawab ku ke Devanno


"Ohya ? Tepat sekali nih! Iya Sheren istrinya Vian Johnbert, aku serius...mana cepet kasih tau lokasi barista yang mau kamu kunjungi." Sambung Vian lagi


Aku sedikit tertawa dengan perawakan yang dia bilang tadi, 'istri Vian Johnbert' andaikan saja aku bisa mendengar kan sendiri bahwa Vian mengakui bahwa aku adalah istrinya didepan publik.


Aku pernah mendengar satu kata ini, dan aku yakin situasi yang aku alami pas sama si Vian juga. Kata-katanya seperti ini


"Jaman sekarang, kalau pacarnya cantik pasti diekspos sana sini. Bilang keseluruhan sosial media kalau dia adalah pacarmu. Tapi coba punya pacar yang biasa biasa saja, pasti bilang 'jangan kasih tau siapa-siapa, kita pacarannya diam2'. Apakah pasangan yang seperti ciri ke dua itu dia malu ? Atau dia memang gak mau status itu terungkap didepan publik?"


Itulah kata2 yang selalu ku ingat. Dan sepertinya aku ada diciri ke dua. Aku tau, diriku ini tidak seperti wanita2 diluar sana yang cantik tidak manusiawi. Yang bisa melelehkan mata pria walaupun wanita itu tidak bicara. Tapi sudah bisa meluluhkan hati pria dengan tatapan saja.


Ada satu hal yang sangat aku banggakan dari diriku, aku memang tidak cantik. Tapi aku manis dan juga imut. Aku adalah limited edition. Didunia ini gak ada yang seperti aku. Aku bakalan berusaha lebih kerasa supaya Vian bisa menerimaku bahwa aku ini adalah istrinya tanpa sembunyi2 lagi.


"Eh malah ngelamun. Jadi gak kebarista yang kamu mau ?" Tanya Devan yang membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"Hehe jadi dong! Ayuk" - aku


"Kemana ? Pake mobil aku aja ya.." Ucap Devan


"Kebarista sanaaa. Aku gak tau nama barista nya apa. Tapi itu pagi udah buka, dan aku suka disana. Nomor dua lampu lalu lintas dari perusahaan ini. Ayuk lah ikutin aku aja. Jalan aja dulu nanti aku jelasin lokasinya" jelas ku


Aku dan Devanno langsung pergi ketempat barista.


Dengan sedikit komat kamit aku menjelaskan lokasi barista dan Devanno yang terlohat sangat fokus mendengar penjelasanku.


.


.


.


+-10 menit macet melanda kami. Kami begitu sudah sedikit lama berada didalam mobil ini karna kemacetan.


"Devan, disini gak biasanya macet ada apa ya ??" Tanyaku ke Devanno


"Didepan aku liat kayaknya ramai tuh. Bentar aku liat dulu ya" Ucap Devann sambil bergegas keluar dari mobil.


Aku pun yang terjengah jengah melihat situasi depan yang jaraknya sekitar 10 meter dari mobil kami, dengan rasa penasaran yang melanda aku pun menyusul Devanno yang pergi melihat situasi.


"Tolong panggillkan ambulann!!! Cepat!!! Ini pacar saya!!! Cepatt!!! Kenapa kalian diam saja??!!!!"


Lebih kurang seperti itu kata2 yang aku dengar dari pria itu. Hatiku pilu mendengar isakan tangis pria itu, tapi aku tidak bisa melihat jelas pria itu karna ditutupi oleh desakan orang2 yang melihat situasi itu.


"Sheren, aku mau kedepan sana ya. Mana tau aku bisa bantu mereka. Kalau bisa bantu aku mau bawa mereka kerumah sakit pake mobil ku. Gpp kan ?" Tanya Devann ke aku.


"Gpp dong! Itu sikap mulia. Yuk aku juga mau kesana"


Kami berdua berbarengan sedikit mencari celah untuk bisa sampai kelokasi depan sana, tapi makin aku mendekati orang didepan. Perasaan ku makin tidak enak. Ada apa ini ?


"IREN! banguunnn sayang.. bangunnnn!!"


Sebentar...


Aku berhenti sejenak dari perjalanan setengah kerumunan orang banyak tersebut. Dan aku merasa suara itu sangat Familiar.


Devanno yang duluan sampai melihat ku dari jarak yang sedikit jauh. Diwajah Devanno menunjukkan rasa cemas, dan menyuruhku untuk berbalik arah agar tidak melihat situasi tersebut.


Tapi aku mau memastikan sesuatu. Aku mau memastikan bahwa yang aku pikirkan tidak sesuai yang ada didepan ku sekarang.

__ADS_1


Aku ditahan oleh Devanno


"Jangan tahan aku Devan. Aku ingin memastikan sesuatu. Lepaskan aku." Jawab ku dingin.


Air mataku sudah sedikit mengalir, aku tidak bisa membayangkan kalau didepan ku ini seperti yang ada dipikiranku.


Dan sekarang aku sudah ada didepan mereka.


Dugaan ku tidak salah, itu Suamiku. Vian Johnbert. Pikiranku kacau kenapa masalah bertubi tubi menimpa diriku.


Ini masalah dan drama apa lagi ini ? Tadi aku mendengar kata 'pacar' dan 'sayangku' aku yakin pendengaran ku masih baik2 aja.


Aku merasa ada sepasang tangan yang memegang pundak ku, dan seperti mengisyarat kan 'Sheren kau harus kuat'


Dan aku tau itu adalah Devanno. Aku melihat situasi ini, enggan rasanya menahan air mata. Lelah dengan segalanya. Ya tuhan..


Devanno menghampiri Vian dan perempuan itu, kalau tidak salah dengar tadi suamiku meneriaki namanya begitu kencang. IREN.


Ya IREN.


Nama yang memiliki akhiran REN sama seperti namaku SheREN. Hahaha dunia dunia. Kau begitu kejam.


"Vian! Kau sadar apa yang kau buat ? Kau bilang Iren pacar mu ? Sayang ku ? Hey! Coba kau toleh kebelakang ada siapa disana?!" - Devanno


Aku melihat raut wajah Devanno merah padam. Aku tidak bisa Bergerak sama sekali. Rasa kaku. Mungkin efek dari kaget setengah mati.


"DEVAN!! tolong bantu aku!! Selamatkan Iren..!! Aku gak mau kehilangan dia!!" - Vian


"Kau gila ??! Aku tidak mau! Tunggu saja sana ambulan!" Tegas Devanno menjawab.


"Devanno.. bawa saja. Nanti kalau perempuan itu mati, dia juga bisa mati. Bawa dia kemobil sekarang." Jawabku dengan wajah datar dan pandangan lurus.


Walaupun seperti itu, aku tau Vian tiba2 menoleh ke sumber suara. Ya kearah ku, dan mengucapkan "terimakasih" sebelum dia sadar bahwa aku adalah istrinya.


Devanno segera membawa Iren ke mobilnya dan aku masih saja mendengar kata2 "Terimakasih" dari mulut Vian. Sebegitu antusias kah Vian? Sebegitu khawatirnya dia ?


Aku berhenti dari setengah perjalanan ku. Dan membalikkan arah tepat didepan arah Vian.


"Aku siapamu Vian ?" - aku


"SHE....SHEE...SHEREN???!!!!!"


"Aku berusaha mempertahankan hubungan ini, dan melawan rasa ego sendiri. Tapi kau malah sebaliknya darling" - Sheren Alka

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2