
"Jangan pergi…."
Aku terduduk kembali, menatap nanar tangan ku dan tangan Vian yang digenggam begitu kuat seperti tidak ingin sama sekali aku tinggali.
"Jangan halu Sheren!"
Aku berusaha sadar sesadar nya. Mana mungkin Vian tidak ingin melepaskan ku pergi. Selama ini hanya aku yang terlalu berpikir berlebihan, hanya aku yang terlalu terbawa perasaan.
"Vian apakah kamu sudah bangun ? Syukurlah…"
Ucapku sambil membenarkan selimutnya dengan posisi tangan ku masih digenggam Vian.
"Vian lepaskan dulu ya, aku mau antar sesuatu kedapur.."
"Jangan per..gi.." lirihnya
"Aku gak pergi kok, aku cuman kedapur sebentar. Terus kesini lagi." Balasku dengan memberikan senyuman hangat di sepasang mata yang sangat aku cintai ini.
"Jangan pergi dari aku..jangan dari hidup aku.."
Aku mendengar kan itu, berusaha mencerna lagi…
"Ah.. Vian bercanda aja itu…"
"Aku serius…."
Aku mendengarkan itu, secara spontan mataku terbelalak. Bagaimana dia bisa tau ?!
"Mmm vi-vian… kamu baru siuman loh. Istirahat dulu ya, aku mau kedapur. Sebentar ajaaa… oke ?" Jelasku kepadanya. Aku berusaha untuk tidak terbawa perasaan dan suasana. Aku takut jika aku mudah termakan kata-kata nya lagi, aku sakit hati untuk kesekian kalinya.
Vian melihat ku, dan aku melihat dia. Mataku seolah olah terkunci oleh tatapan sendunya itu. Ingin beralih, tapi terkunci. Mataku seakan tidak diberikan melihat yang lain. Aku menatapnya, dan dia juga menatapku dengan mata yang sendu dan senyuman yang dia lontarkan sangat hangat.
Melihatnya begitu, aku sangat tidak tega. Secara tiba-tiba saja, ada yang jatuh dari pelupuk mata Vian. Apakah Vian menangis ?
"Vi-vian kamu kenapa ??" Tanyaku sedikit panik, dan mengusap lembut air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya. Seperti ada hal yang dia sesali dan air mata ini terlihat sangat menyiksanya. Aku begitu melihat dia begitu, entah kenapa lagi lagu hatiku merasakan sakit yang alasannya juga tak begitu jelas. Kenapa aku bersedih dan merasakan sakit ketika dia menangis seperti ini.
__ADS_1
Aku melihatnya berusaha bangun, untuk mengubah keposisi duduk.
"Jangan duduk dulu, kamu harus istirahat." Tahanku kepadanya.
"Ban...tu aku.."
Mendengarkan itu, mau tak mau aku pun membantunya mengubah keposisi duduk. Dia diam, dengan air mata yang terus mengalir sambil menatapku.
"Kamu kenapa ? Kenapa menangis ?"
Aku sangat bingung, kenapa tiba-tiba Vian menangis ?
"Mendekatlah.." ucapnya.
Ya posisi kami sangat bisa dibilang jaraknya jauh. Aku tidak ingin dekat dengannya. Takut dia risih. Aku tetap diam ditempat sambil menunduk takut.
"Kenapa hanya diam ? Mendekatlah…"
"Aku takut kamu risih.." jawabku seadanya.
"Cepatlah, aku lelah berulang kali mengucapkan hal yang sama.."
Aku pun mendekatinya, posisi kami sekarang terbilang cukup dekat. Aku tepat berada di depannya. Dia hanya menatapku dengan tatapan sendu.
"Sebenarnya ada apa Vian ??"
*BRUKK*
Aku terdiam.. sangat terdiam.. bagaimana tidak, secara tiba-tiba Vian memelukku. Dan.. dia menangis di pundak ku.
Aku hanya diam, aku tidak membalas pelukannya. Aku hanya diam. Lagi lagi aku merasakan hati ku bagaikan tertusuk jurami berkali kali. Entah apa yang kurasakan, dengan alasan tak jelas. Yang terpenting hatiku terasa sangat sakit ketika dia memelukku.
"Ma..maafkan aku… hiks.."
Aku hanya diam, aku terdiam dengan banyak hal. Aku baru kali ini melihat pria tampan sombong sepertinya pintar menangis layaknya anak kecil kehilangan permen tangkai. Dan dia meminta maaf. Meminta maaf untuk apa ?
__ADS_1
"Maaf kan aku Sheren.. bagaimana caranya supaya kau percaya bahwa aku mencintaimu, menyayangimu. Bukan kamu yang membutuhkan ku. Tapi aku yang sangat memerlukanmu. Tolong. Tolong aku Sheren. Bagaimana cara membuktikannya ?"
"A..aku tak tau.." jawabku
Mendengarkan jawaban dariku, tangis Vian semakin pecah. Seakan akan dia tidak memiliki kesempatan lagi. Suasana sekarang juga sangat sedih, aku hanya bisa diam. Aku terlalu sakit hati untuk menangis perkara hati lagi. Entah kenapa disaat Vian mengungkapkan dia mencintaiku. Sepertinya itu tidak berpengaruh sama sekali.
"Kenapa ? KENAPA tak tau ? Apakah kamu sudah memiliki hati yang lain ?" Tanyanya sambil melepaskan pelukannya dari ku.
Aku memandangnya, aku tersenyum. Aku melihatnya begitu imut, bagaimana seorang pria yang berparas arogan tampan ini bisa menangis sesegukan begini…
"Kamu imut Vian.." ucapku.
Dia diam, sambil mengusapkan air matanya. Aku tau dia masih dengan keadaan lemah.
"Sudah, jangan menangis. Kamu masih lemah."
"Dan.. sebenarnya aku menyayangimu, sangat. Sangat mencintaimu. Tapi entah kenapa kalau kamu ungkap kan lagi perasaan mu kepadaku, tiba-tiba hati ini terasa hambar dengan kata-kata itu. Seperti tidak berpengaruh sama sekali. Aku ingin bukti tindakan kalau kamu seperti yang dibilangin tadi, bukan hanya sepatah kata yang mungkin tak berarti dan tak bermakna.." sambungku dengan mengalihkan pandangan mataku dari matanya.
"Tapi apakah dihatimu sudah ada yang lain ?" Tanyanya kepadaku.
"Kenapa kamu bodoh ? Mana mungkin Vian!" Jawab ku dengan nada kesal. Sepertinya selama ini dia tidak tau, kalau dihati ini hanya ada dirinya.
"Baguslah, kalau begitu. Aku masih memiliki kesempatan," ujarnya sambil mengelus pucuk kepalaku.
"Aah senangnya.." sambungnya lagi sambil merebahkan tubuhnya diranjang king size tersebut.
"Jangan senang dulu Vian." Ucapku sambil ingin beranjak pergi dari ranjang itu.
"Mau kemana ?" Tanyanya.
"Ke dapur." Jawabku singkat.
"Gak mau main diranjang dulu ? Hehe" godanya kepadaku.
"Berisik!"
__ADS_1
[TBC]
Lanjut ?