He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Masa lalu)


__ADS_3

Tidak salahkan aku bertanya ? Kenapa tiba2 wajah Devanno berubah seperti itu. Terlihat sangat dingin dan seperti mau menerkam orang.


"Ka..kamu kenapa devan ?" Tanyaku sedikit gugup


Aku sedikit menundukan kepala karna sedikit takut dengan suasana disini. Yang tadi merasa sedikit indah dan romansa berubah menjadi hawa dingin dan sedikit mencekam.


Aku melirik gugup melihat kearan Devan. Plis ini devanno kenapa ? Tiba2 wajahnya berubah drastis. Seperti Vian yang berwajah seperti awal awalnya.


"Maaf, kalau ingin bertanya masalah Iren dan Vian aku bisa menjawabnya dengan singkat saja. Aku tidak mau bertele tele. Karna aku tidak begitu suka membahas masalah ini"


Itu adalah kata2 yang dilontarkan oleh Devanno kepadaku. Tunggu dulu.. aku semakin penasaran, ada apa sebenarnya.


"O..oke"


"Jadi begini, hubungan Iren dan Vian apa ya ?" Tanya ku langsung tanpa basa basi sedikit pun. Dan entah kenapa hawanya sedikit canggung, habisnya wajah Devanno ketekuk gitu sih. Pahit banget ih liat wajahnya sekarang.


'Hihh merinding' gumamku sendiri sambil mengelus lenganku berkali kali.


"Iren dan Vian lebih dulu bersahabatan. Aku sahabat Vian dari SMA. sedangkan Iren kalau tidak salah, mereka sudah berteman sejak kecil. Dan Vian pernah bercerita bahwa Iren itu cinta pertamanya. Aku mengira itu adalah cinta monyet yang ditimbulkan oleh hati nya sendiri. Asalkan kau tau, Vian dulu adalah orang yang sangat hangat. Memang tidak begitu banyak teman, tapi dia masih terlihat seperti manusia normal. Berteman dan bersapa ria dengan teman2nya." Jelas Devanno dengan sedikit raut wajah sedikit sedih.


Dia berhenti sejenak, aku tidak tau kenapa tiba2 wajahnya yang dingin berubah menjadi raut yang sedih.


"Terus, bagaimana hubungan mereka ? Apakah mereka menjali hubungan dengan baik ?" Aku tak tau apakah pertanyaan ku salah apa tidak.


Karna melihat situasi, masalah ini sedikit sensitif.

__ADS_1


"Nah itu dia yang membuat diriku sangat marah dan muak ketika melihat Iren. Ada satu hari itu Vian ingin mengungkapkan perasaannya kepada Iren. Tapi tiba2 mendengar kabar bahwa Iren pergi kejerman pindah dari SMA yang kami berdua tempati. Kabar itu sangat mendadak. Seingat ku dia pindah ketika kami baru saja beranjak kelas 11 SMA. Aku menghubungi Iren berulang kali, aku tidak begitu dekat sama dia tapi aku pernah sesekali mengobrol ringan dengannya. Tapi usaha yang aku lakukan nihil. Dia tidak memberikan kabar. Dia menghilang begitu saja." Jelas panjang lebar Devanno


Aku sedikit mendengus kesal dengan Iren. Tega sekali meninggal Vian begitu saja. Okelah kalau Iren gak tau perasaan Vian. Tapi setidaknya Izin atau Pamitan sama Vian sebagai sahabat masa kecilnya. Dan dia tidak menghubungi Vian lagi. Menghilang secara tiba2. Pasti Vian sangat terpuruk.


"Aku tidak tau jelas sih, tapi Vian setelah kejadian itu. Dia berhenti sekolah. Dan langsung belajar kebidang pembisnisan. Dia yang mengambil sedikit demisedikit perusahaan ayahnya. Dan hingga sekarang perusahaan ayahnya sangat dikenal banyak orang dengan nama perusahaan 'JOHN NEW' dan perlu kamu tau, semenjak kejadian itu dia sangat tidak ingin membuka hati keperempuan lagi dan dia tidak begitu percaya kepada orang lain" Sambung penjelasan Devanno yang super panjang


Aku hanya mengangguk mengerti. Oh pantas saja dia memperlakukan ku sedikit tidak pantas. Memasang wajahnya yang dingin seperti es batu. Tapi aku ingin jujur, semenjak kejadian dia bilang ingin mencintaiku. Aku merasa sedikit perubahan sikap darinya.


Sedikit mudah bicara seperti manusia normal. Tapi aku juga Bingung, cinta pertamanya sudah kembali. Apakah dia juga kembali dari masa lalunya ? Dan menceraikan ku ? Oh mungkin saja itu bisa terjadi. Toh aku merasakan kata2 yang dia lontarkan waktu itu hanya sebuah candaan belaka.


Ya hanya ingin menghiburkan saat sakit mungkin? Entahlah aku juga tidak mengerti.


"Baiklah Devan, terimakasih banyak atas penjelasanmu. Aku sangat tenang sekarang bahwa suami ku melakukan ini semua ada alasan."


Devanno tidak menjawab.


Hari ini seharusnya hari pertama aku bekerja, tapi gara2 ada hal yang tidak diinginkan, malah aku tidak jadi bekerja. Dan aku juga tidak melihat tanda2 bahwa Vian mengejarku atau mengirim ku pesan, seperti bertanya keberadaanku dimana gitu.


Tapi setelah aku melihat sekeliling, ada satu hal yang terbesit di pikiranku.


Sepertinya aku tidak bisa berharap banyak, cinta pertamanya telah kembali. Dan itu bisa saja membuat hati Vian tumbuh rasa lagi kan. Sedangkan aku adalah orang asing yang memaksakan masuk kehidupan Vian. Dengan status Istrinya.


Hari juga sudah semakin gelap. Aku ingin izin ke Vian untuk pulang terlebih dahulu. Mungkin sekarang dia sedang menjaga sangat intens dengan Iren.


Wah aku iri sekali haha.

__ADS_1


Tapi tidak apa2, aku sudah berstatus Istri yang tingkatannya lebih tinggi dari Iren. Aku hanya perlu berusaha lagi untuk meluluhkan hati Vian. Karna dikamusku aku hanya ingin menikah sekali dan membuat keluarga yang sangat harmonis.


Tapi takdir berkata lain, kehidupan pernikahanku sangat rumit. Haha mungkin ada skenario baik yang belum tuhan tunjukan kepadaku.


Aku mengitari pandangan sekeliling dan rupanya jarakku dengan Devanno cukup jauh. Tapi ada yang aneh.


Devanno tetap diam ditempat dan sedikit resah. Dia kenapa ?


Aku menghampirinya dengan langkah sedikit laju. 'Ada yang tidak beres dengan anak ini' Gumam ku dalam hati


Aku sudag berada tepat di tempat duduk tadi yang berhadapan dengannya "kamu kenapa ?" Tanya ku


Dia hanya melirik ku sedikit dan menjawab "ti..Tidak apa-apa. Aku baik2 saja" dengan nada sedikit gagap.


Aku tau dia bohong, aku melihat lebih seksama. Dan benar bukan! Ada ruam2 merah di wajahnya dan dilengannya!


"Ka..kau kenapa Devan?! Kenapa ruam2 begini ?!!"


Aku ingin menghampiri nya dengan jarak lebih dekat. Tapi betapa sialnya.


Aku tersandung karna syalku tersangku di kursi yang aku duduki dan berakhir aku ditangkap oleh Devanno. Aku tau Devanno refleks melakukannya.


Jadi posisiku sekarang Devanno dibawah dan aku diatas. Bisa bayangkan ? Betapa dekatnya jarak kami.


(*Tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan mereka...)

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2