He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Tidak mengerti)


__ADS_3

Mendengar itu, aku dan Vian sontak menoleh. Dari mana dan siapa yang datang memberikan tepukan tangan (?)


Dan. Ya. Pasti kalian juga tau.


Dia adalah IREN. Iya Iren. Pacar si Vian. Hahaha.


Iren kan gak tau kalau Vian udah nikah. Yang tau cuman Devanno doang.


"Heh sekretaris baru! Kenapa gak pulang kekantor ?! Kan aku sudah bilang, berkas yang dikasih harus diantar sore ini juga! Sekarang udah jam berapa ?! Udah hampir malam!"


Bodoh bodoh bodoh.


Kenapa aku sampai lupa itu, toh walaupun Vian adalah CEO. Dan aku adalah istri CEO. Dimata Iren aku hanya sekretaris biasa yang tak tau diuntung. Ck aku kesal.


"Kenapa membentak Sheren ?"


Aku menoleh ke Vian, Vian bertanya dengan wajah yang datar menatap diriku. Bertanya ke Iren tanpa menatap dirinya.


"Aku membentak nya ? Apakah aku salah ? Dia hanyalah sekretaris biasa," ujar Iren sambil mendekati Vian.


Vian hanya diam, menatap Iren yang sedang mendekatinya. Dilihat dari mata ku sendiri, seperti tidak ada sebuah penghindaran dari Vian.


'Aah lagi lagi, aku dimainkan kah ? Haha.. Sheren.. lain kali jangan mudah baper dulu ya kasihan hati kamu' ucapku bergumam didalam hati.


"Sayaaaanngg.. kau kenapa hum ? Apakah kau lelah ? Kalau kau lelah, ayo aku memberikan stamina kembali." Ucap Sheren sambil melirikku dan memegang bahu Vian.


Dan yang wownya adalah, Vian tidak menolak. Haha, iya aku tau. Aku hanya dijadikan sebuah mainan seperti boneka. Ya ya ya.


Aku berniat ingin beranjak dari suasana ini. Ingin cepat-cepat kembali ke kantor. Ingin membuang waktuku untuk melakukan berkas saja. Mulai sekarang aku tak kan berharap banyak. Tidak akan lagi.


Aku melangkahi kakiku, menuju kepintu keluar ruangan sudut kasir inu. Tapi...


"Eh Sheren mau kemana ?" Tanya Iren kepadaku.


"Mau kekantor." Jawab ku singkat.


"Berkas-berkasmu udah ada di meja kasir sana. Aku mau, besok udah ada dimeja ku. Dan terserah kamu, mau kerjakan dimana. Yang penting berkasnya siap." Jelas Iren panjang lebar.


Aku hanya mengangguk, dan


"Hey para karyawan Tuan muda Vian. Aku mau mengumummin sesuatu nih. Mulai sekarang panggil aku nyonya ya. Soalnya aku ini kekasih Tuan Vian kalian."


*DEG*


Aku terdiam mendengar pernyataan itu. Aku menolehkan pandangan ku ke Vian. Apa yang Vian lakukan?! Dia hanya diam. Kenapa diam seperti patung begitu ?!

__ADS_1


'Hahaha jangan berharap lebih Sheren. Kau memang bernasib buruk, selalu dicampakkan didepan orang ramai.'


Otakku bicara sendiri. Yang membuat hati ku semakin sakit saja rasanya. Aku pun cepat cepat keluar dari ruangan.


Tapi aku berhenti melangkah, karna mendengar ada cewek yang bertanya kepada Iren begini


"Jadi perempuan yang sok akrab ke Vian itu siapa ?"


"Dia itu ******"


Iren...


Iren menjawabnya seperti itu. Tak sadar air mataku keluar lagi dan lagi. Hahaha kebahagian emang tak pernah menginjak dikehidupanku. Entahlah, aku lelah.


Sudah. Aku malas.


Aku mengambil berkas yang tergeletak di meja kasir. Dan segera pergi keapartemen. Jangan khawatir aku pulang menggunakan taksi. Aku tak tau dimana tujuan ku sekarang.


Ya tidak apa aku di apartemen. Setidaknya apartemen lah yang menjadi saksi bisu kalau diriku ini sangat kesakitan dan lemah. Tak apa aku kuat.


.


.


'Sheren. Kamu sumber kebahagiaan ku'


Otak ku terus saja berpikir tentang kata-kata Devanno! Aku sudah memiliki suami! Aku tidak boleh berpaling! Jangan macam macam kau sheren...!!!


Aku sekarang sudah ada di kamar. Ya sudah ada dikamar apartemen. Tapi belum ada tanda-tanda Vian pulang kerumah. Padahal sadar tidak sadar, pukul sudah menunjukkan 23.15 WIB. Sudah sangat malam.


Aku melirik jam yang tergantung didinding. Dan melirik berkas yang sudah kukerjakan. Tubuhku lelah, tengkuk ku rasanya pegal sekali. Sangat pegal. Mau istirahat.


Tapi pekerjaan masih menumpuk.


*Drttttt* *drtttt* (Chat masuk)


"Hey Sheren hehe"


Ini siapa ya ?


"Siapa ya ?"


"Ini aku Devanno"


Oalah. Devanno.

__ADS_1


Tu-tunggu! Kok dia bisa tau nomor ku ?!


"Aku tau nomormu ya wajar lah. Kan aku CEO juga di perusahaan Vian. Eh btw apa kabar ?"


Kok dia tau apa yang sedang aku pikirkan.


"Baik."


Jawab ku singkat dan padat. Aku tidak mau menimbulkan masalah. Aku lelah.


"Besok sibuk gak ?"


"Besok aku sibuk. Banyak pekerjaan, udah ya. Aku mau tidur. Gd night"


Aku menghampiri ranjang tidurku dan melempar ringan ponsel ku itu.


'Ahh... kenapa hari ini melelahkan sekali. Hai hati, kenapa kamu hari ini tampak lelah ya ? Ada apa hum? Bukan kah kamu sudah biasa ? Maafkan aku hati, bertahanlah sedikit lagi. Semoga kebahagiaan menanti kita dimasa depan sana. Semangat!!!'


Gumam ku sendiri sambil menyemangati diri sendiri.


*klekk* (Bunyi pintu terbuka)


Terdengar dari kamar ku, bahwa pintu terbuka. Dan aku yakin itu Vian. Aku tidak mau menghampirinya, hatiku masih sakit.


Tangan ku juga masih perih. Sial sekali aku hari ini.


.


.


Berselang agak sepuluh menit kemudian. Tenggorokan ku haus, aku pun keluar dari kamar dan ingin menghampiri dapur.


Aku menuangkan air putih kegelas. Dan tiba-tiba saja, aku merasakan ada pergelangan yang menyentuh pinggang ku. Tidak, bukan menyentuh. Tapi memelukku.


Aku diam, tak bergerak. Gelas masih ada ditanganku. Aku tahu dia adalah Vian. Aku sudah malas menanggapi nya.


"Awas Vian. Lepaskan tangan mu. Aku mau minum. Jangan menganggu." Ucap ku dengan nada yaa bisa dibilang cukup datar.


"Sheren, bagaimana jika orang yang sangat berarti bagiku dijelekkan orang lain ? Aku sedih aku kesal. Kesal sekali," ujar nya kepadaku.


"Siapa yang kau kesal ? Iren? Kalau Iren jangan tanyakan kepa....."


Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Vian pun langsung memutuskan pembicaraan ku.


"Bukan IREN! TAPI KAMU!"

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2