
BACK (Point of View) SHEREN
Aku sangat bingung, ketika situasi ku ini mengkhawatirkan dua pria sekaligus. Dan yang paling sulit dipilih adalah, yang mana prioritas ku ? Yang pasti prioritasku ya suamiku lah.
Tapi mau gak mau, aku harus bawa si Devanno ke Rumah sakit.
.
.
.
[-+ 15 menit berlalu]
aku menunggu dikoridor depan UGD Rumah sakit. Bingung, selanjutnya apa yang harus dilakukan. Aku harus pulang kekantor, karna Vian udah menyuruhku pulang kesana. Sekalian makan makanan yang dibawa sendiri oleh Vian. Tapi siapa yang jagain Devanno ketika dia sadar nanti ?
Aku ngelirik jam tangan yang ada dipunggung tangan ini.
'Gawat. Udah larut malem banget ini. Udah pukul 21.30 malam. Apakah Vian menunggu ku ? Atau dia pulang ?'
Gumamku sendiri seperti orang gila. Tapi dipikir lagi, mana mungkin pria dingin cuek kasar seperti itu menunggu ku ? Toh selama ini dia mana peduli, aku makan atau tidak.
Aku menatap lurus kedepan, memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan sekarang. Hati tak tenang, seperti ada sesuatu yang tak beres disana. Ya ditempat Vian berada. Diperusahaan tercinta.
"Arghhh aku bingung!!!" Aku hampir saja teriak dikoridor yang sepi ini. Tapi aku merasakan ada seseorang yang memegangi pundakku.
"Hay..."
Aku menoleh, dan yash!! Ini hari keberuntungan ku!
"Anna! Kamu anna kan?! Syukurlah!" Ucapku dengan girang dihadapannya.
"Hehe.. iya nih. Ada apa sih sheren ? Kok kayak bingung gitu. Aku sampai kaget denger ada suara orang teriak. Tau-taunya kamu" Tungkasnya sambil memberikan senyuman sumringah yang manis itu.
"Hehe maaf Anna. Anna boleh minta tolong ? Tapi btw kamu kenapa disini ? Kamu sakit ?" Tanyaku
"Ahh aku ? Aku disini baru saja menjenguk tanteku yang tadi siang melahirkan. Tapi ini mau pulang sih. Kenapa ? Mau pulang bareng ?" - Anna
Aduh, dia mau pulang ya. Gak enak kalau aku minta tolong sama dia. Toh dia mau pulang.
"Hey.. kenapa ngelamun" tanyanya sambil mengibas kan tangannya tepat di hadapan wajahku.
Aku hanya senyum, memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya.
"Tadi mau minta tolong ya ? Tolong apa itu ?" Tanya dia.
Huhu syukurlah dia peka.
"Hm gini Anna. Anna tau kan CEO tangan kanan Tn.Vian ? Yang namanya Devanno itu" - ucapku
"Iya tau, kenapa ?"
Yash! Dia tau.
"Nah, dia baru saja masuk ke UGD. dan belum sadarkan diri. Tapi aku ada urusan lain mau kekantor lagi. Tn.Devanno gak ada yang jaga." Jelaskan sambil menundukkan kepala.
"Ya ampun sheren! Oke, aku paham maksudmu. Ya udah kamu pergi pulang sana ke kantor. Biar aku yang jaga, sekalian curi hati pak Devanno. Hehehe"
Eh.. curi ? Wah jangan² anna suka Devanno ya ? Hihi. Aku sedikit ketawa mendengar pernyataan yang diberikan barusan oleh Anna.
__ADS_1
Aku pun mengucapkan terimakasih dengannya dan berakhir dengan pelukan ringan. Aku juga bergegas kembali kekantor.
Aku sudah sampai dikantor. Dan syukurlah lampu di kantor ini tetap normal, kembali terlihat perusahaan yang megah dan mewah. Dimana perusahaan ini sangat diimpikan semua orang untuk bekerja disini.
'Suamiku, kau sangat jenius dan mengagumkan hehe'
Aku bergegas, naik kelift. Menuju lantai dimana tempat ku bekerja.
Aku pun sudah sampai, dan mulai melangkahi kakiku menelusuri jalan untuk sampai ketempat sekretaris utama.
Aku celingak celinguk mencari apakah ada orang atau tidak. Tapi terlihat sepi. Kan benar dugaan ku, Vian tidak akan menunggu ku selama ini.
Aku juga pergi ketempat kerja ku tadi, dan aku tidak mendapati makanan yang sudah disediakan seperti Vian katakan dipesan tadi.
'Ck. Vian menipuku'
Sambil meluapkan rasa kesalku, aku duduk dikursi kerjaku. Dan meregangkan setiap otot tanganku. Dan memejamkan mataku. Berusaha untuk rileks lagi.
*Praaaaangg*
Aku terkejut! Apa tadi ? Seperti ada benda jatuh. Aku perlahan lahan mengikuti suara itu. Bukan mengikuti hanya saja sepertinya arah suara itu tidak jauh disamping ujung ruangan Vian.
Aku perlahan lahan menelusuri. Jangan bilang, dilantai ini ada dapur ? Karna seperti nya ada bau goreng telor.
Aku menggeser pintu yang tak tembus pandang dari luar. Memang dapur, sesuai dengan dugaanku. Dapur minimalis yang sederhana tapi serba ada. Perusahaan mewah dan megah mah bebas ya. Mau ada kolam renang di lantai teratas juga oke oke aja sih.
Aku mengelilingi mataku dan aku mendapati seorang pria.
Dan itu adalah Vian.
Aku melihatnya dari pintu, aku melangkah pelan. Dan diam. Memperhatikan apa yang sedang dilakukan pria dingin tampan itu.
Aku melihat dia sedang memungut sesuatu. Seperti pecahan piring ? Aku tidak peduli, biarkan dia memungutnya sendiri. Aku hanya ingin melihat nya dari kejauhan aku berdiri saja. Tak ada sedikitpun niat ku ingin membantunya.
Aku tersenyum kecil
'Manis sekali kamu Vian'
Aku melihat dia kearah cuci piring, dengan jalan seperti orang pincang dan menahan sakit. Aku melirik kakinya, apakah kakinya sakit ?
Tak perlu waktu lama, aku pun mulai mendekatinya. Sepertinya pria dingin tampan ini tidak menyadari keberadaanku sejak awal. Karna fokus memasak.
Apakah dia memasak untuk ku ? Jika dia masak untukku. Aku sangat terharu. Aku akan berani memeluknya, bukan hanya itu. Aku juga akan berani menciumnya!
"Viann ?? Ada apa dengan kakimu ?" Aku bertanya. Seketika tubuhnya terdiam. Mungkin dia kaget.
Dia hanya melirikku sebentar, dan melanjutkan mencuci beberapa sendok dan gelas. Oh dia barusan membuat kopi untuk dirinya ya...
Dia tidak menggubriskan pertanyaanku tadi. Setelah menyelesaikan mencuci tadi, dia pun segera berpindah tempat ke masakan yang dia buat.
"Vian?! Kakimu kenapa ? Kok pincang begitu!" Aku bertanya dengan nada sedikit tinggi. Aku bukan marah. Tapi aku sangat khawatir. Ya tuhan ada apa dengannya. Raut wajahku berubah.
"Awas, biar aku yang melanjutkan masakmu itu!" Aku pun segera menarik lengannya menjauh dari masakan itu.
Aku yang melanjutkan masakan dia.
'Wah dia masak untuk siapa sebanyak ini ? Oh apakah untuk Iren ?'
Aku tersenyum pahit, bibirku bergetar. Rasa sakit yang timbul. Meregutkan hatiku lagi.
__ADS_1
Setelah masakannya matang, aku melihat Vian sedari tadi hanya melihatku. Aku merasa sedikit tidak nyaman.
"Ke..kenapa kamu melihat ku terus ? Aku sedikit tidak nyaman" Ucapku sambil mencari cari tempat bekal didapur ini. Mana tau ada kan.
"Maaf"
Hah ? Siapa yang minta maaf. Dia ? Aku menoleh secepat kilat kearahnya. Terasa seperti mimpi. Dia melihatku dengan tatapan sendu dan tatapan hangat. Huh aku hampir ingin meleleh.
"Ah! Jangan minta maaf Vianku! Hehe. Tenanglah, Kan aku cuman nanya. Eh btw, ini aku masukin ketempat bekal ya ? Ini aku jumpa tempat bekal kecil nih" Ucapku sok ketawa dan gembira.
Dia tiba² menghampiri ku dengan gaya berjalan pincang. Aku otomatis berhenti dari kegiatanku. Dan menatap dia dengan penuh kehangatan sama seperti dia menatapku juga.
"Kau mau apa ?" - Vian
Weh dingin.
"I..i..ini untuk Iren kan ? Makanya aku tempatin ke tempat bekal" Jawabku gelagapan.
"Jangan. Tuangkan kemangkuk. Letakin dimeja makan kecil sana" Ucapnya sambil melontarkan sedikit senyuman.
Aku hanya mengangguk, apa sih maksudnya ? Aku tidak paham. Ada apa dengannya malam ini ? Tadi pagi dingin. Malamnya sehangat mentari. Apasih kamu Vian.
Walaupun senyumannya hanya sedikit. Tapi sudah membuatku ambyarr.
Aku pun meletakkan makanan itu. Dan duduk dikursi yang disediakan pas jumlah nya dua. Kami duduk saling berhadapan. Aku melihat Vian mengambil masakan mie sederhana ini, kedalam mangkuk yang lebih kecil. Dan dia mulai memakannya.
Aku hanya diam, dan memperhatikan dia makan dengan lahap.
Dia melirikku. Dan menyodorkan makanan dimangkuk besar itu kepadaku. Aku memberikan isyarat 'kenapa?'
"Makan. Satu mangkuk itu untukmu semua" ucapnya sambil menyambungkan suapan mie nya lagi.
Aku terdiam. Dia memasak untukku ?
"Kamu masak untuk ku ?" Tanyaku
"Hm" Walaupun jawabannya singkat padat, Tapi sudah berhasil membuat hati ini berbunga bunga. Ada rasa bahagia yang tersimpan!
Sesuai janjiku tadi.
Aku bangkit dari dudukku, dan mendekati Vian. Vian sontak kaget dan memberikan mimik wajah yang seperti bertanya tanya.
"Kamu, berdiri bentar deh." Ucapku sambil senyum² kek orang gila
"Apa sih shere...."
*pukkkk*
Aku memeluknya! Aku memeluknya! Seketika belum begitu sempurna dia berdiri, aku langsung memeluknya! Aku terharu. Aku sangat terharu. Apakah selama dua jam lebih dia menunggu ku ?! Dan memasaknya untuk ku ?!
Aku melepaskan pelukanku. Dan mendongak melihat wajahnya yang dingin tapi tampan itu dengan seksama.
Dia juga melihatku, tatapannya tak lagi dingin. Melainkan hangat seperti mentari pagi. Siapapun yang melihat matanya ssekarang seperti bisa merasakan bahwa orang yang memilikinya adalah orang terberuntung didunia!
*cupp*
Satu kecupan mendarat dibibirnya.
***
__ADS_1
"Bahagia karna cinta hanya sesederhana ini. Tapi ini belum cukup untuk meluluhkan hati manusia dingin yang menjadi pujaan hatiku" - Sheren Alka
[TBC]