
Vian (Point of View)
"Apa yang kau lakukan Vian!!!!!"
"Jadilah milikku malam ini, dan seterusnya Sheren."
.
.
*Cuppp*
Aku terus mencium nya, aku sudah sedikit bergairah. Aku menekan tombol pintu kamar Sheren, dan otomatis pintunya menggeser.
Aku menuntun Sheren keranjang.
*pukkk pukkk*
Sheren menepuk kuat dada ku.
"Kenapa sayang?"
"Apa yang kau lakukan !! Aku sampai tidak bisa bernafas! Kamu kenapa ! Tolong aku lelah sekali hari ini. Keluar dari kamar ku!"
*DEG*
Sheren kenapa ? Kenapa dia marah ? Dan ada apa dengan ucapannya ? Kenapa hatiku rasanya sakit sekali ketika tau kalau Sheren menolak ajakan ku.
"K-kamu tidak mau dengan ku ?" Tanya ku sambil memasang wajah yang sangat bingung.
"Aku tidak mau melakukannya jika tidak ada ikatan cinta diantara kita berdua." Jawab Sheren sambil membenarkan bajunya yang sedikit kusut karna ulahku.
"Tapi kan, aku sekarang sudah ingin mencoba dan belajar untuk mencintaimu. Apakah kamu tidak mempercayai ku ?" Tanya ku lagi.
Aku sangat bingung dengan tingkah Sheren. Apakah dia marah karna situasi direstoran tadi ?
"Jujur saja, aku tidak percaya," jawabnya
"Kenapa bisa seperti itu Sheren?? Aku sangat tidak mengerti ada apa dengan dirimu!"
"Jangan membentak ku! Apakah kau tau, betapa sakit hati ku ketika Iren bilang ke semua karyawan direstoran bahwa kau adalah kekasihnya. Kalian menjalin kasih! Dan satu lagi! Ketika pada saat itu, kenapa kau hanya diam! Kenapa ?! Kau anggap aku ini apa hah ?! Hanya mainnan saja ? Aku capek Vian, aku capek..." jawab Sheren langsung tiba tiba terduduk diranjangnya. Menatap kosong kearah lantai.
Bagaikan petir tersambar ditubuhku saat ini. Aku tak menyangka bahwa Sheren seperti ini, aku bisa merasakan betapa sakitnya hati Sheren. Aku tak sanggup, aku tak sanggup.
Lagi lagi aku melukai hatinya. Aku tak pantas menjadi suaminya.
"Maafkan aku," ujarku.
Sheren tiba-tiba langsung melihat kearah ku.
"Aku minta maaf, aku minta maaf belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Aku tau aku cowok brengsek. Dan kamu adalah wanita baik yang sudah tuhan anugerahi buat ku. Tapi aku sia sia kan. Bagaimana caranya agar kamu percaya, bahwa aku benar benar serius pada mu Sheren ?"
Aku mengucapkan itu sambil menundukkan kepala, aku sangat takut. Entah kenapa semenjak aku memutuskan bahwa aku memilih serius kepada Sheren, ada rasa dimana hatiku sangat khawatir dan takut bila Sheren meninggalkan ku.
"Aku mau kau buktikan. Jangan main hanya dengan kata-kata saja. Tapi lakukan lah dengan perbuatanmu. Buktikan, aku akan percaya jika kau serius. Jujur, untuk sekarang aku lagi malas untuk berurusan denganmu. Dan sekarang aku mohon keluar dari kamar ini. Aku lelah. Aku ingin istirahat." Ucap Sheren sambil memposisikan tubuhnya untuk tidur.
Aku pun segera melangkahi kaki dengan lemah, keluar dari kamar Sheren dengan perasaan yang sulit diartikan. Dan apa yang aku inginkan malam ini telah gagal.
B-bukan gagal! Tapi aku yang bodoh, aku yang terlalu ceroboh. Bisa-bisa nya ingin melakukan itu tanpa izin dari Sheren.
'Sheren aku khawatir kalau kamu segera dimiliki orang lain.'
Aku mungkin belum mencintainya, tapi ada rasa takut untuk kehilangannya. Apakah ini semata karena keegoisan ku sendiri ?
__ADS_1
Malam ini aku sangat gusar, baru pertama kalinya aku merasa stress memikirkan Sheren. Bukan hanya Sheren tapi juga Devanno.
Berani sekali dia mengungkapkan rasa cintanya kepada Sheren.
'Sheren milik ku! Sheren hanya milikku!'
Aku pergi ke toilet, untuk membersihkan diri. Aku juga masih bingung sama perasaan ku sendiri.
Aku membukakan setelan air hangat pada bathroom. Aku merasa, percuma aku memiliki segalanya. Kaya, banyak harta, bisa memiliki semuanya, tampan.
Tapi tidak berhasil menjadi suami yang baik.
Aku bodoh, ada apa dengan ku sebenarnya ?!
Aku merendam kan tubuhku di bathroom. Badan ku sangat tidak enak sekali, rasanya lemah lemas. Seperti ingin mati saja.
Tak sadar entah kenapa, aku merasakan bahwa aku ada dibawah air...
FLASHBACK ON
"Bisakah kau menerima cintaku Iren ? Aku sungguh mencintaimu..."
"Kau siapa ? Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih." - Iren
"Percaya lah, a-aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Aku mohon.. aku sangat mencintaimu.." - Vian
"Kau ini kenapa VIAN ?! Awas! Aku ingin pergi."
Dan pada saat itu, Iren ingin menyebrangi jalan. Tapi hal yang tak terduga terjadi.
"AWASSSSSS IREN!!!!!!!!"
*BRAAAKK*
"Kenapa kau menyelamatkan ku!!"
"Karna aku mencintaimu Iren."
"Bodoh ! Kau bodoh! Aku tak bisa!"
Iren pun segera menjauh dari Vian.
"Iren! Jangan tinggalkan aku! I...iren..."
FLASHBACK OFF
.
.
.
Author (POINT OF VIEW)
*plaakk plokkk pllaakk byaarr*
"Hah.. hah..hah.. hah...." Vian ter engah engah.
"Kenapa ingatan itu muncul lagi! Ingatan itu sudah lama tidak ada. Kenapa kenapa!!!" Ucap Vian sambil meringkukkan tubuhnya dibathroom itu.
Wajah Vian terlihat sangat pucat sekali.
Tak sadar, ada air yang keluar dari mata Vian. Vian menangis.
__ADS_1
"Ini lah a...alasannya aku tidak mau membukakan hati ku. Aku sangat trauma. Dimana aku mencoba menyelamatkan cintaku. Tapi cintaku malah pergi begitu saja tanpa peduli. Dan ketika aku mulai membukakan hati untuk seseorang, ingatan itu muncul kembali. Banyak hal yang ingin kutanyakan kepada Iren. Kenapa dia meninggalkan ku begitu saja waktu itu." Gumam Vian melirih sambil menangis.
Kepalanya dibuat pusing, badan lemas, lemah. Wajah pucat. Tak menyangka, bahwa ingatan itu kembali.
Mungkin dilihat seperti remeh, tapi bagi Vian CEO muda tampan ini. Ingatan itu sangat menakutkan. Mengapa tidak, karna itu adalah kecelakan pertama kali dan terparah yang pernah Vian alami.
Vian mengalami operasi besar besaran pada kepala dan matanya. Itulah alasan Vian tidak begitu bisa melihat orang atau objek pada malam hari. Bukan tidak bisa, tapi blur. Dan jika dipaksakan nyeri dikepalanya akan kambuh.
Tidak ada satupun yang tau bahwa Vian mengalami ingatan itu. Termasuk Devanno. Yang Devanno tau hanya, Vian ditolak Iren dan Iren meninggalkannya keluar negeri. Padahal tak sepenuhnya begitu.
"Ke..kepalaku pusing..." ujar Vian sambil berusaha bangkit dari bathroom. Usaha demi usaha, Vian berhasil keluar dari toiletnya. Dan segera mengarahkan pandangan ke jam dinding yang ada di kamarnya.
"Masih pukul 02.30 WIB. Tapi k-kenapa tubuhku dingin sekali. Kepalaku pusing.. akhh."
Vian berusaha berjalan sambil memegang tembok sebagai pondasinya berjalan. Sesekali juga berhenti dan menyandarkan kepalanya didinding. Karna kepalanya yang pusing makin menjadi.
"Pandanganku buram, ada apa ini. O-obatku mana ?" Ucap Vian sambil merogohi laci kecil yang tak jauh dari ranjangnya.
Dia mengedarkan pandangan nya, mencari dimana obatnya berada. Siapa yang tau, bahwa CEO MUDA ini sangat bergantungan pada satu obat. Semacam obat penenang.
Sudah lama dia tidak minum obat ini semenjak dia menikahi Sheren. Tak mempunyai alasan khusus, hanya saja memang selama menikahi Sheren. Hal ini tam pernah terjadi lagi.
Dan Vian menyimpan obat itu, tapi entah dimana.
"Dimana aku menyimpan obat itu ? Akkh kepalaku..."
*tesss*
Vian memandang kakinya yang terdapat satu tetesan darah. Darah segar. Dia meraba wajahnya, dan tepat pada hidungnya.
Vian mimisan.
"Hah ? Mimisan ? Kenapa ? Ada apa ? Aku tidak pernah mimisan sebelumnya. Ini adalah pertama kali didalam hidupku." Ucap Vian sedikit panik. Dan segera bangkit dari duduknya, dia segera pelan pelan mencari obat penenang itu.
"Dimana o..o.obat itu...."
*Prankkkkkk* (Bunyi gucci vas jatuh)
*ceklekk.. ceklllekkk.. cekleekkk*
"VIAN! VIAN?!! ADA APA ?!! BUKA PINTUNYA CEPAT!!!!"
Sekitar lima menit berlalu.
*ceklek* pintu pun terbuka.
"hah??!! Vi-vian!!!!!!!"
Sheren bukan main shock nya. Bagaimana tidak, tangan Vian, wajah Vian, bahkan lantai dilumuri darah. Dan gucchi vas pas sekali jatuh didepan Vian.
"Vi..viann!!!!!"
Sheren segera mendekati Vian. Sheren segera mengangkat perlahan kepala Vian dipangkuannyan. Bohong jika Sheren tidak menangis.
"Vian kenapa badanmu dingin begini!!!!"
Masih tampak sorot mata Vian terbuka, walaupun terbuka dengan mata sayu. Vian hanya memberikan senyuman tipis. Dan..
"J...j...jangan me-menangis....."
"Ada apa ini!! Ya tuhan. Ada apa ini ?!!!"
[TBC]
__ADS_1