He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Boss besar)


__ADS_3

"Apa yang kamu lihat Sheren ? Kenapa terlihat serius sekali?"


Aku tersontak kaget dan menoleh kesumber suara. Dia adalah Devanno! Tapi senyuman yang dia lontarkan sedikit membuat ku bingung mengartikan. Seperti ada yang aneh dengan Devanno.


"Eh enggak ada kok hehe" Jawabku dengan sedikit gugup.


"Kok gelagapan gitu ? Kenapa hih. Biasanya juga enjoy aja hahaha" Tungkasnya yang membuat ku sedikit tawa malu.


"Kamu udah sembuh ? Kok cepet bgt? Bukannya semalam kamu di IGD ya ?" Tanya ku


"Banyak banget tu pertanyaan. Mau kujawab yang mana dulu? Haha" Ucap Devanno sambil mendekati wajah nya ke arah wajahku.


"Kenapa si dekat² hahaha" Balas ku dengan nada yang tak nyaman.


"Haha maaf. Maaf kalau aku buat kamu gak nyaman" Devanno bilang gitu.


'Ini sebenarnya kenapa sih ? Kok gak jelas banget si Devanno?'


Dia langsung pergi, pergi dari hadapan ku dan menuju keruangannya.


Beneran dah, ini anak kenapa lagi.


Aku pun bergegas menyelesaikan Jadwal yang dia kasih ke aku, tapi tak lupa aku foto TTD yang aku curigai tadi. Untuk jaga-jaga aja.


Sekitar satu jam aku mengerjakan jadwal Devanno tersebut, akhirnya selesai juga!


Aku terlalu fokus sama berkas Devanno, sampai-sampai jadwal berkas suami ku sendiri belum ku handle. Huhuhu Mama tolong aku.


'Tapi, btw Vian kemana sih. Dari tadi kok gak keliatan ??'


Aku celingak celinguk melihat keruangan Vian dan Vian tidak ada. Terlebih lagi posisi bekal ku tidak sama sekali berubah. Huhu masa sih Vian gak pulang ke kantor lagi ? Nanti makanan nya basi gimana ? Sedih sih, tapi ya sudah lah. Nanti aku mau nelpon dia.


Tak lama setelah aku berbincang sendiri, aku pun kembali ketujuan awal tadi untuk mengunjungi ruangan Devanno.


Sekarang aku sudah ada didepan pintu ruangan Devanno. Ruangan Devanno tidak transparan kaca. Ruangannya seperti ruangan pada umumnya.


Tapi sangat minimalis dan rapi. Aku suka haha. Tapi tunggu dulu... aku mendengarkan suara gelakan tawa dari dalam ruangan Devanno. Tak sadar bulu kuduk ku merinding. Sebenarnya ada apa dengan Devanno ?


*tokk tokk*


Memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Huft, ayo Sheren. Beranikan dirimu!


Tiba-tiba suara itu makin keras, siapa sih yang gak panik ? Aku pun bergegas membukakan pintu. Dan mendapati Devanno yang duduk santai dikursi nya, ya terlihat normal. Seperti CEO perusahaan yang sangat handal dan cerdas.


Terlihat dari wajahnya dia begitu serius menatap lurus kedepan. Dia bukan menatapku, tapi dia benar-benar menatap hanya kedepan saja. Lurus kedepan.


Hawa diruangan ini tiba-tiba dingin dan sedikit mencengkam. Apa cuman perasaanku saja. Tapi aku yakin ini bukan perasaanku tapi ada yang beda sama Devanno. Devanno ada apa dengan kamu ?


Aku melangkah lebih dekat darinya, dan tepat di depan meja Devanno. Aku meletakkan berkas yang dia berikan padaku.


"Maaf Tuan Devanno, saya telah menganggu waktu anda. Itu adalah berkas yang saya sudah kerjakan. Semoga hari-hari Tuan Devanno bahagia. Saya mohon undur diri" Ucapku dengan sangat sopan santun sambil membungkukkan tubuh sedikit tanda hormat kepada atasan.


Aku pun melangkahi kaki untuk kembali ketempat kerjaku. Ketika baru saja ingin memegang gagang pintu "Sheren, kau sumber bahagia ku"


Aku membeku, aku terdiam. Oke aku yakin, aku salah dengar! Aku mulai menekan gagang pintu untuk keluar dari ruangan yang makin lama makin aneh hawanya.


"Apakah kau tidak mendengarku barusan ?"

__ADS_1


Aku menolehkan badan ku dan menatap dia tajam. Walaupun nyatanya aku sangat jelas mendengarkan kata-kata barusan. Tapi aku hanya ingin memastikan, apakah pendengaranku ini baik-baik saja atau tidak.


"Sheren, kau sumber bahagia ku" Ucap Devanno


Lagi lagi dan lagi, kata-kata yang sangat sama seperti awal yang aku dengar. Aku melihat wajahnya penuh dengan keseriusan. Dan sedikit memasang wajah memelas. Aku segera mendekati nya lagi, tepat didepan mejanya. Aku menghadap dan menatapnya.


Situasi ini aku tidak bisa menganggap dia adalah bos besar diperusahaan. Tapi untuk situasi sekarang aku menganggapnya, dia adalah teman ku. Hanya teman tidak pernah lebih.


"Apa yang baru saja kamu katakan Devanno??!" Ujarku bertanya tapi sedikit membentak. Aku kaget! Apa yang dia bilang tadi ?! Aku ini adalah istri sahabatnya sendiri. Itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Kenapa bisa seperti ini ?!


"Kenapa ? Apa aku salah ? Aku menaruh hati padamu Sheren. Apakah aku tidak punya kesempatan dihatimu ?" Ucapnya lagi lagi dengan wajah memelas.


Devanno gila! Dia gila! Apa yang dia katakan ?!


*plaakk*


Satu tamparan yang aku berikan kepada Devanno. Maaf mungkin aku jahat dan egois. Dia adalah orang yang selalu ada didekatku dan menguatkan ku selama Vian tidak ada. Tapi aku tidak suka dan tidak nyaman ketika Devanno ada rasa dengan ku.


Kami hanya bisa sebagai teman. Itu saja, kami tidak bisa lebih!


Satu tamparan yang mendarat dipipinya membuat air mataku juga jatuh bersamaan ketika dia meringis karna tamparanku. Dia menatapku kaget, dan aku merasakan ada aura marah di wajah Devanno. Tapi tiba-tiba wajah hangatnya kembali lagi. Wajah mata sendu itu melihat ku lagi.


"Kenapa kamu menangis Sheren ? Jangan menangis. Aku yang ditampar kamu. Kenapa kamu yang menangis hm ?" - Devanno


Lihat lah! Suaranya dan ucapannya begitu lemah dan lembut. Kenapa dia tidak marah ? Kan aku baru saja menamparnya.


"Aku tidak akan bisa membalas perasaanmu sampai kapan pun Devanno. Dihatiku sudah aku ukir nama Vian Johnbert dengan begitu indah. Maafkan aku. Maafkan aku. Terimakasih selama ini kamu sudah selalu ada buatku dan selalu menguatkanku" Ucapku sedikit getar dan menahan hisak tangis.


Dia mendekatiku, dan mengusap air mataku. Perlakuan Devanno, membuat ku bingung. Aku takut, aku takut hati ku tidak bertahan lama mengukir nama Vian setelah aku tahu Devanno yang hangat begini menyimpan rasa denganku.


"De..devann.. tolong lepaskan" Ucapku memaksa keluar dari dekapannya.


"Biarkan begini sekitar dua menit ya. Aku takut, aku tidak bisa memelukmu lagi" Ucapnya sambil mengelus kepalaku.


Aku hanya diam, membiarkan dia memelukku. Tapi aku tidak membalasnya. Sebab aku tidak ingin menghianati Vian. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, bahwa dihati ini hanya nama Vian Johnbert yang harus diukir secara permanen.


'Vian apa yang harus ku lakukan ?'


.


.


.


*kltaakk kltaakk*


Bunyi sendok yang aku mainan kemangkok, sambil mengaduk Sop Ayam yang ada dihadapanku ini.


"Sheren... ada apa dengan mu ? Kenapa kamu Mainin makanan begini sih? Gak mau makan, aku aja nih yang makan punyamu" Ucap Anna


Iya, sekarang aku sedang ada di restoran. Makan siang bersama teman baruku, Anna. Setelah kejadian tadi. Aku sangat kepikiran, aku tidak tau hal yang mana yang membuat ku kepikiran begitu berat sampai saat ini.


"Hufftt... annnaa makan nih. Aku gak selera" Ucapku sambil menyandarkan diri di kursi yang aku duduki ini.


Anna dengan lekas mengambil sop ayam ku, dan begitu semangat dia memakannya.


Aku mengarahkan pandangan lurus, pikiran kosong. Sangat khawatir, bingung dengan situasi ini.

__ADS_1


'Apa yang harus kulakukan?'


Lagi lagi pertanyaan itu terlontar dikepalaku, seperti memori yang terus mengulang-ngulang sebelum mengetahui jawabannya.


"Apakah aku harus memberitahu ke Vian ya ?"


Anna yang tengah fokus makan langsung mendongak kearah ku bingung, aku membalas tatapannya dengan bingung juga.


"Ke...kenapa ?" Tanya ku dengan gugup


"Tadi aku dengar kamu nyebut nama CEO kantor kita. Kamu kenal dekat dengannya ?" Tanya Anna dengan rasa penasaran yang memuncak. Anna segera meletakkan mangkok sop diatas meja. Dan mendekat kearah ku.


"Eh.. jawab dong. Kamu ada hubungan gelap kah dengan CEO ? Wahh" Tanya Anna lagi.


"Apa sih Anna. Gak jelas banget kamu. Mana ada aku nyebutin nama CEO kita. Kamu salah denger kali" Timpal ku berusaha supaya tidak ketahuan.


"Gak kok, enggak. Telingan aku gak tuli. Masih baik² aja. Kamu tadi tiba nyebut nama VIAN. Nah makanya aku penasaran. Nyebutnya gak pake tuan lagi" Jelas Anna sambil melanjutkan makannya.


'Lah tadi aku ngomongnya kuat ya ? Kok bisa kedengeran ?'


"Anna, aku ke kasir duluan ya. Mau bayar ini makanan" Ucapku sambil berdiri menuju ke kasir.


"Sheren.. ngapain kamu bayar ? Aku aja yang bayar, kan aku yang makan semua" Balas Anna menahanku.


"Ck gpp Anna, ini mau sekalian aku beli MoccaLatte. Haus hehe" Jawab ku sambil menerima anggukan dari Anna.


Aku menuju ke kasir dan mulai membayar makanan, memesan Moccalatte yang aku inginkan. Sambil menunggu pesanan ku datang, sambil berdiri didepan kasir. Aku melihat sekeliling begitu banyak orang memakai jas, seperti ada rapat penting.


Aku memang baru pertama kali kesini, karna katanya si Anna ini restoran langganannya. Dia suka datang kesini ya karna banyak cowo ganteng. Apakah yang dimaksud Anna ini ? Iya sih pada ganteng hahaha.


Aku sedikit menutup mulutku karna menahan tawa. Pesanan ku sudah siap, tapi karna penasaran. Aku ingin bertanya kepada mbak kasir ini, iseng aja sih.


"Mbak mbak.. mau nanya boleh ?" Tanyaku


"Iya.. ada yang bisa saya bantu kak ?" Jawab mbak kasir


"Mmm direstoran ini kok banyak sekali yah orang penting begini ? Pake jas seperti ada rapat kantor ? Dan.. dan tempat duduk disebelah sana juga seperti disusun terkhusus khas rapat kantor" Tanya panjang lebar


"Oh mereka ya.. mereka itu memang datang dari berbagai negara kak. Mereka pada nunggu ketua rapat datang, alias pemilik restoran ini. Sebentar lagi bos akan datang kak. Ganteng banget loh" Jawabnya seketika, dengan wajah yang gembira.


Aku seketika mendengar keributan diluar sana, seperti ada yang datang. Siapa sih orangnya ? Kok kayak ditunggu tunggu gitu kehadiran si bos ? Aku meminumkan Moccalatte dicup yang aku pegang saat ini dengan santai.


Ketika aku ingin melangkah


"Hey.. heyy bos bos bos sudah datang!! Gila ganteng banget. Fix bukan manusia! Kok ganteng banget si!!!"


Aku kaget dengan perkataan mereka, karna penasaran. Aku pun berusaha melihat hal yang sama.


Ta.. tapi..


Yang aku lihat adalah ..


VIAN.


Hah?! VIAN ?!!


[TBC]

__ADS_1


__ADS_2