He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Curiga)


__ADS_3

"Jangan takut, ada aku. Tenanglah. Aku bukan halusinasi yang seperti kau pikirkan"


.


.


Aku menegakkan kepalaku, melihat wajah yang sangat dekat dengan ku sekarang. Tidak begitu jelas, karna terhalang oleh sinar lampu dari luar gedung. Yang datang entah dari mana.


Aku yakin ini bukan Vian, karna aku hafal bau Vian seperti apa.


"Ja...jangan dekat dekat. Si...siapa kamu?!" Tanyaku mengeras


Aku segera melepaskan dekapannya dan segera berdiri. Menjauh darinya.


"Kau kenapa Sheren ? Ini aku Devanno" Jawabnnya santai


"Apakah itu kau?" Tanyaku


"Iyaa" jawabnnya


Aku terdiam sekitar lima menit, dan lelaki yang tetap tertutupi oleh silaunya tadi pun tidak bergerak. Tetap berdiri di posisi yang sama. Tetap jauh dariku.


*Ctass Ctass*


Semua lampu diperusahaan tiba² terbuka. Perusahaan yang tadinya terlihat menyeramkan menjadi sangat megah dan mewah. Aku menadahi wajah sambil melihat mengelilingi dengan mataku, terkagum terdiam.


Betapa mewahnya tempat ini. Aku menatap Devanno sambil memberikan wajah yang cemberut.


"DEVANNO! lain kali jangan ginilah. Kau tau, aku tidak begitu suka kegelapan." Ungkapku dengannya.


Dia tersenyum tipis "kau lapar ?" Tanyanya


Tau aja dih ni orang..


"Iya! Ayo traktir aku makan! Hukuman untukmu karna sudah menakutkanku!"


Aku berpikir, apakah aku salah tertawa terbahak bahak dengan laki² lain ? Sedangkan aku ini sudah berstatus menikah. Alias sudah menjadi istri orang. Tapi apakah masih pantas tertawa seperti tidak ada beban dengan laki² lain ?


Lagi pula, suamiku sendiri saja tidak peduli. Kenapa aku harus ambil pusing ? Huft calm down Sheren.


.


.

__ADS_1


.


Aku sudah sampai ditempat tongkrongan coffe cafe ala aesthetic banget. Aku iseng bertanya dimana Vian sekarang ya ?


"Hmm boleh aku bertanya ?" Tanyaku pelan²


"Apasih Sheren. Ya boleh dong! Mau nanya apa?" Jawabnnya dengan sumringah.


"Vi..vian kemana yah ? Kok dari pagi tadi gak keliatan ?" Tanyaku dengan sumringah lagi.


Tapi pertanyaan itu, tidak begitu menyenangkan diterima oleh Devanno. Entah kenapa aku melihat mimik wajah Devanno seperti kesal. Aku tetap menatap wajahnya berharap ada jawaban yang terlontar dibibirnya itu.


"Devanno ? Ada apa?"


Dia seperti bingung menjawab, kenapa ya. Sedikit mencurigakan.


"Hummm, kalau ti...tidak salah Vian mengatakan pada ku, kalau dia nemenin Iren. Dia rela membatalkan rapat demi Iren" jawabnnya sambil mengibas rambutnya dengan tangan dia sendiri.


'Ada apa dengan Devanno ? Rapat... aku hari ini tidak menemukan jadwal kalau Vian ada rapat. Aku kan sudah mengumpulkan jadwalnya hari ini. Sampai tanganku pegal bukan main lagi'


"Kamu kenapa terlihat gugup begitu Devan ?" Tanyaku.


Sumpah ya, kenapa Devanno tidak seperti biasanya ? Seperti ada yang disembunyikan.


Aku mengangguk angguk saja. Dan bersikap seolah olah seperti tidak curiga sama sekali.


*Tingg tinggg*


Aku melihat notifikasi dari handphone ku. Oh dari Vian


SUAMIKU ♡


Kamu dimana ? Baru saja ditinggal, sudah hilang kemana mana. Cepat kembali, aku sudah membawamu makanan. Tidak dimakan, awas saja kamu.


Aku melihat kekiri kekanan, apakah sosok Vian ini ada didekatku. Kenapa merinding sekali ketika membaca pesan teks ini. Terasa seperti dia benar2 berbicara secara dekat denganku.


Aku membaca nya lagi, dan mencerna kata² nya. Aku tipe orang kalau lagi loading lama, ya aku harus membaca nya berulang kali.


Coba deh dibaca lagi 'baru saja ditinggal' ? Maksudnya ? Emangnya dari tadi dia bersama ku ? Apasih Vian.


Terus kenapa dia membawaku makanan ? Bukankah dia sekarang ada bersama Iren ?


Apa ini! Aku bingung.

__ADS_1


Aku segera pergi kekasir cafe


"Mbak, pesanan atas nama Devanno bagian pasta spesial bisa dicancel ? Cancelnya satu porsi aja. Yang lainnya tetap normal, oke mbak?"


Aku melihat wajah kasir itu sedikit kesal denganku, aku hanya menyeringai tidak bersalah. Tidak enak sih mengcancel. Tapi harus. Aku ingin segera pulang ke kantor. Memakan makanan yang diberikan oleh suamiku sendiri. Hehe.


Berselang menunggu pesanan datang, tiba² aku baru sadar sudah lumayan lama Devanno tidak kembali. Kemana dia ?


Pesanan yang diminta juga sudah datang. Aku berniat untuk pergi ketoilet. Melihat takut ada apa² dengan Devanno.


Toilet tersebut ada dua ruang. Toilet wanita&pria. Aku hanya terjengah jengah dari luar ruangan toilet pria.


*tokk tokk tokk*


Sedikit mengetuk pintu yang sudah terbuka ditoilet pria itu.


"Devanno... apakah kau didalam ?"


Aku menunggu lagi lagi dan lagi. Sudah sekitar sepuluh menit aku mengabiskan waktu menunggu disini. Khawatir dengan yang disini dan juga khawatir dengan yang disana.


*dubbbrakkkk*


Bunyi dentuman seperti barang jatuh arah toilet pria. Aku terkejut, dan sangat berniat masuk. Akupun masuk, dan.


Aku mendapati Devanno yang terkulai lemas disana.


"Devanno!! Ada apa denganmu ?! Ya tuhan wajahmu pucat sekali!"


"Tungggu disini! Aku akan segera kembali" sambungku, tapi tiba² dia menahan lenganku.


"Sheren.." lirihnya


"Kenapa ?" Ucapku sambil pelan² melepaskan genggamannya, karna itu sangat membuat ku tidak nyaman.


"Rawat aku..."


Hah ? Apa yang dia bilang ?! Rawat aku ?


"Hey.. bangun.. hey.. ayo kita kerumah sakit!"


***


"Apapun situasinya, yang aku cintai hanya diirmu. walaupun orang lain berusaha menggoyahkannya" - Sheren Alka

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2