He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Momongan)


__ADS_3

AUTHOR POINT OF VIEW (POV)


"Makan dikit lagi ya, sesendok aja… oke ?" Kata Sheren sedikit memaksa kepada suaminya.


"Aku gak selera Sheren…" balas Vian sambil memicit kepala nya pelan. 


Sheren hanya menghela nafas, dan berpikir bagaimana caranya supaya Vian ingin makan ? Dia benar-benar tidak berstamina. Vian tubuhnya lemah sekali. Tapi kalau masalah menggoda, tidak ada lemahnya.


"Kenapa gak selera ? Kalau godain aku, selera ya kamu. Sampai didepan dokter pribadi kamu aja, aku digodain. Dasar gak tau malu!" Kesal Sheren kepada suaminya.


Flashback ON


"Gimana dok keadaan suami saya ?" Tanya Sheren kepada dokter pribadi Vian.


"Syukurlah tuan Vian sudah membaik nyonya" Jelas Ardi sambil menundukkan kepalanya tanda hormat kepada Sheren. 


"Kan aku sudah bilang, kalau bisa jangan panggil aku nyonya. Panggil nama aja gpp kok dok. Dan gak perlu kamu sampe nunduk gitu. Biasa aja oke ?" Ucap Sheren sambil tersenyum manis mengarahkan ke dokter pribadi Vian. 


"Ehem…" deheman Vian membuat Ardi salah tingkah. Bukannya apa, Ardi takut jika nanti tuannya ada kesalah pahaman. 


"Kenapa kamu?" Tanya Sheren secara langsung.


"Senyummu manis banget ya. Ingat, senyum itu cuman boleh dilontarkan ke aku doang. Apalagi pas kita nanti lagi main.." jelas Vian.


"Main?" 


"Iya kita main, main diranjang sayang.."


"Kita? Gak tuh." Balas Sheren dengan muka yang sedikit memerah karena malu. 


"Kamu ini ya, didepan orang lain malu-malu padahal mah.. mmmm" balas Vian lagi dengan wajah nakalnya. 


"Mmm apanya?!!" Kesal Sheren


"Agresif hahahahaha" balas Vian


"Agresif palamu!" 


*plaakkkk* 


Iya, Sheren menggeplak kepala Vian menggunakan bantal. 


"Argh.. sa..sakit…" 


"Hah? Eh kamu kenapa Vian? Kamu gpp kan??" Jelas sekali Sheren khawatir. 


"Aku gpp kok, tapi kalau kamu mau main..hehe" balas Vian tiba-tiba dengan ekspresi sumringah.

__ADS_1


"VIANNN!! UDAH DONG GODA-GODA AKUNYA!"


Dokter Ardi sejak dari tadi sudah meninggalkan kamar Vian. Sebab dia tau, mereka lagi berada dipuncak puncaknya orang jatuh cinta. Dokter Ardi sangat paham dengan situasi tersebut.


Flashback Off


"Hahaha, kamu ini ya. Kenapa sih imut banget." Balas Vian dengan tertawa lepas. 


"Imut ? Yakin ? Gak imutan pacar kamu itu ya ?" 


Sengaja emang Sheren membawakan Iren dalam suasana ini. Dia ingin lihat, gimana reaksi suaminya. Kalau dia marah, berarti dia masih sayang sama Iren.


Mendengarkan lontaran kata-kata itu, membuat Vian sedikit menghelakan nafas. Dia benar benar tidak tahu, apakah Sheren ini lagi ingin membahas cewek sialan itu atau memang dia ingin menggoda nya juga ?


"Maksudmu apa ?" Singkat Vian kepada Sheren.


Entah kenapa, Sheren ketika mendengarkan reaksi suaminya seperti itu. Dia sedikit merasakan kecewa, karna dari pertanyaan saja sudah terlihat dingin. Apakah Vian kesal dengan ucapan nya tadi ?


"Eng-enggak.." jawab Sheren.


Ya Sheren gugup. Gugup seketika. 


Vian melihat Sheren yang menjawab seperti orang terbata-bata. Segera manangkupkan tangannya kewajah Sheren.


"Kenapa kamu gugup ? Aku ngelakuin kesalahan ya ?" Tanya Vian menangkup dagu Sheren. Tak lupa mengelus pipi Sheren lembut. Vian menatap Sheren, tapi Sheren tidak membalas tatapannya. 


"Aku kan cuman nanya, kenapa langsung serius gitu mukanya ??" Tanya Vian kepada Sheren.


"Kamu itu wajahnya langsung serius. Ishhh.." 


"Hahaha, yakin? Gak tuh, biasa aja aku mah" ujar Vian sambil mengelus pucuk rambut Sheren.


*drtttt drtttt* (bunyi dering ponsel)


"Hp siapa?" Tanya Vian bingung 


"Hp kamu Vian, ck.. kok makin gak fokus aja ih kamu"


"Gimana mau fokus, soalnya didepan aku ini ada bidadari yang mengalihkan duniaku.." ujar Vian


"Gak ngaruh, hati aku gak luluh juga.. wleee" 


"Iya deh iyaa.. bentar dulu, aku mau angkat panggilan dari bunda nih.."


Sheren yang mendengarkan itu mengangguk. 


"Hallo bun ?"

__ADS_1


"Vian kamu gpp nak?!"


"Ah? I..iyaa gpp kok bun. Kenapa ya?"


"Kata dokter pribadimu, sakit kamu kambuh lagi ya ?!"


"Iya bun. Maafin Vian ya.."


Melihat betapa lembutnya Vian membalas ucapan obrolan dari bunda nya sendiri. Membuat hati Sheren tersentuh. Orang sedingin secuek Vian bisa juga bicara dengan begitu hangat dan lembutnya. Atau apakah selama ini Sheren tidak menyadarinya? 


Tak sadar melihat Vian yang terus mengobrol Via telepon dengan bundanya alias mertua Sheren itu. Membuat Sheren tersenyum, karna Vian masih bisa senyum sehangat itu. Padahal dia sedang sakit. 


"Vian, i love you.. i love you so much. I need you in my world. Seberapa berusahanya aku buat gak cinta sama kamu. Tapi itu nihil. Aku tetap mencintai kamu. Tapi untuk sekarang aku mau lihat, aku bakalan pura-pura seperti gak lulug sama kamu. Aku mau lihat, kali ini apakah kamu bersungguh-sungguh apa tidak…"


"Hey.. jangan ngelamun.." 


Kata-kata itu membuyarkan lamunan Sheren. 


"Eh enggak kok…" jawab Sheren.


"Lagi ngelamunin apa sih ? Senyum-senyum gitu lagi. Kenapa ? Baru sadar ya aku ganteng ? Yaa pasti lahhh. Manis juga nih hahaha" 


"Jangann ngarep! Kamu biasa aja buat aku.." gengsi Sheren. 


"Ahaha yakin ?" 


"Udah ah, aku mau kedapur.." 


"Kedapur mulu, keaku nya kapan?" 


"Kapan kapan aja ya. Siapa suruh nelantarin aku selama ini!" Ketus Sheren dengan kesal. 


Sheren segara beranjak dari ranjang Vian. 


"Sherenn Alka.." panggil Vian 


"Apaa lagi ??" 


"Aku sayang kamu.." ujar Vian sambil tersenyum manis. 


"Hmmm terus ?" 


"Bunda sama papa mau kesini.. keapartemen.." jelas Vian lagi. 


"Ya udah bagus. Nanti aku mau turun bentar, mau belanja, mau masak." Jelas Sheren. 


"Sheren.. mereka nagihin, kapan kita punya momongan....."

__ADS_1


[TBC]


Lanjut gak? 😂✌


__ADS_2