
Tautan dibibir kami, lama-lama semakin dalam. Ini adalah pengalaman pertama kalinya dihidupku.
Terasa hangat, hangat sekali. Aku terus memejamkan mataku, untuk menikmati setiap detik menit berharga ini. Karna aku yakin, kejadian ini mungkin sangat langka dilakukan lagi. Atau... tidak akan pernah ada untuk kedua kalinya.
Aku tidak peduli, jika setelah ini dia marah atau sejenis nya. Aku tidak peduli, aku siap. Yang terpenting mulai dari hari ini, aku tidak akan goyah untuk mencair es dingin yang berada di lubuk jiwa dan hati suamiku ini.
Terasa cukup lama kami bertautan, nafas ku sedikit sesak. Mungkin kekurangan oksigen ? Entahlah. Aku pun berusaha melepaskan tautan tersebut, tapi yang membuat ku terkejut adalah.
Vian... Vian seperti tidak memberikan tautan diantara kami lepas. Aku ingin lepas tapi dia tiba² merangkul ku dengan kedua tangannya yang melingkar dipinggangku.
Aku terbelalak melihat matanya yang begitu sayu menatapi sepasang mataku ini. Aku sedikit memukul ringan dadanya sebab nafasku sudah benar² sesak.
"Hahh...hahh.." Cepat² menarik nafas untuk menstabilkan jantung ku yang sudah tidak karuan ini.
"Ka..kamu tidak apa² ? Maaf maaf" ucap Vian. Kenapa dia minta maaf. Wajahnya seperti bersalah.
Aku hanya tersenyum. "Aku tidak apa². Percayalah" Ucapku dengan senyum. Dan dia juga duduk kembali di kursi meja makan mini tersebut.
Entah ada apa dipikiranku ini, kenapa dia malam ini terlihat sangat tampan ?
Wajahnya yang berkulit putih tapi tidak begitu putih. Dia tampan dan manis! Kebanyakan orang hanya tampan tapi tidak manis. Suamiku ini komplit sekali ya ? Tampan, manis, tinggi, pintar.
"Tampan sekali kamu malam ini"
Aku sudah tidak ingin menyimpan kata² ini lagi. Malam ini tampan nya sudah keterlaluan.
Wajahnya tiba² memerah. Apalagi telinganya. Seperti kepiting rebus.
"Hahahaha lucu banget sih kamu iniiii"
Aku beranjak dari tempat berdiriku itu, dan mencubit pipinya. Aku tau dia syok. Tapi aku sok tidak tau saja. Supaya tidak ada suasana canggung diantara kami berdua.
"Ayo kita pulang" - Vian, dengan wajah datar kemerahan.
'Cih ni orang sok cuek lagi kan, kenapa sih. Didepan istri sendiri aja mau keliatan sok cool gitu'
Aku berjalan mendahului dia, sebelum aku ingin membuka pintu dapur itu. Aku iseng saja ingin melihat kearah nya lagi. Aku pun membalikan badan kearahnya.. dan.. Dia pincang!
Aku lupa! Astaga.
Ck! Istri seperti apa aku ini?!
Aku cepat² berlari kearahnya "Kamu gpp ? Sini lenganmu pegangan dipundakku" - Sheren
__ADS_1
"Kok bisa sih ? Kenapa bisa pincang begini ? Kamu ngapain ? Kita kedokter aja yuk ? Takut kaki kamu kenapa². Suami tampan ku gak boleh sakit!" - Sheren
Ada apa dengan ku ? Kenapa begitu banyak kata² ? Ketika sadar aku banyak mengoceh, aku pun diam. Dan membopong nya keluar dari dapur ini.
"Keruangan ku dulu" Ucap Vian sambil mengarahkan badannya menuju ruangan nya tersebut.
Memang dapur kantor tadi tidak begitu jauh dengan kantornya. Ya bebaslah, holkay mah.
"Mau ngapain?! Kaki mu sakit! Jangan kerja dulu!" Ucapku sambil menahannya. Tapi nihil, tenaganya lebih besar dariku. Walaupun dengan keadaan dia seperti ini.
Memang benar, tenaga pria itu 10x lebih besar. Dari pada kaum wanita.
"Sheren, kamu ini mungil. Nanti pundakmu bisa sakit. Kita mampir disini dulu ya" - Vian
Aku yang posisinya masih membopongnya terdiam saat ingin melangkah mendekati kursi kerja Vian.
Sumpah! Jantung... apa kabarmu ? Ini tidak baik, tidak baik untuk jantung dan hatiku. Kenapa.. kenapa ucapan itu sangat lembut didengarkan.
'Vian, aku meleleh'
"Kamu kenapa ?" Tanya Vian
"Ah tidak, ayo teruskan jalannya. Maaf ya hehehe" Jawabku dengan berusaha tidak grogi sama sekali.
'Tuhan.. ku mohon semoga wajahku ini tidak merona!'
"Wajahmu kenapa ? Kamu sakit ???" Tanya nya sambil berdiri dari tempat kursinya. Dan ingin berjalan kearahku.
Aku cepat² kearahnya takut dia jatuh lagi. Kakinya masih sakit. Aku tidak sengaja memegang lengannya secara refleks berkata "Aduh.. jangan kemana-mana bisa gak? Ini kakimu sakit" Ucapku.
Mata kami berdua tidak sengaja bertemu.
(+- 15 dtk)
aku tersadar karna telah menatapnya, aku tau ini lancang! Aku cepat² mengalihkan pandangannya.
Tapi..
GREP!
Dia memelukku. Aku terdiam..
'Apa yang harus kulakukan?'
__ADS_1
Aku bisa merasakan detak jantung sangking eratnya kami berpelukan. Hangat dari tubuh Vian tersampaikan kediriku yang lumayan dingin ini.
*cuppp*
Di ... dia mencium kening ku...
"Apa yang barusan ka..kamu lakukan ?" Tanyaku dengan tautan bibir Vian yang masih menempel di keningku. Aku sangat, sangat malu dan sangat gugup.
Dia pun melepaskan tautan, dan berkata
"Apakah salah ? Aku ini suamimu. Dan kamu istriku. Aku ingin menghangatkan mu. Wajahmu sedikit pucat"
'SHIT'
Aku hanya diam, mencerna kata² nya barusan. 'Istriku' sebuah satu kalimat dan kata yang sangat aku impikan selama ini. Apa yang terjadi ? Aku berharap, besok dia tidak berubah.
Tuhan, aku mohon. Berhentikan lah waktu ini.
Dia menuntunku duduk di depannya. Jadi posisiku duduk di pahanya. Tepat didepan dada bidangnya. Aku didekap olehnya. Wanginya harumnya sangat membuat ku candu.
Tanpa sadar air mata ku menetes begitu saja, entah dari kapan mereka bergenang dimata yang penuh kegugupan ini.
Dia melihatku mengusap air mata yang jatuh ini
"Kok nangis sih ? Aku buat kesalahan yaa??"
Vian dengan sigap, lebih mendekatkan jarak diantara kami. Dengan sedikit mengendongku lebih dekat darinya. Dia menenggelamkan wajahku didadanya. Aku hanya menurut.
"A...a..hiks hiks aku tidak berat ya ?" Aku takut kakinya tambah parah dikarenakan diriku.
Dia hanya menggeleng, dan menepuk pelan pundakku. Layaknya balita yang sedang menangis.
"Boleh kamu ulangi kata² *istriku* lagi ? Aku sangat suka mendengarkannya.. hiks.." Ucapku sambil menahan tangisan yang benar² ingin pecah ini.
"Istriku... istriku.. istriku... cup cup cup.. kalau kamu ingin menangis. Menangislah. Aku tau, selama ini aku bukanlah suami yang baik untukmu.." - Vian
Mendengarkan ucapan Vian barusan. Berhasil membuat tangisan ku pecah...
Aku menangis didekapan Vian, dia terus menepuk pelan pundakku. Dan mengelus pucuk kepalaku.
***
"Semesta yang akan menjadi saksi, bahwa kau adalah milikku. Maaf untuk selama ini aku tidak begitu peduli. Tapi yakinlah, bahwa memilikiku adalah anugrah terindah yang tuhan berikan padamu sayang" - Vian Johnbert
__ADS_1
[TBC]