He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Panggilan)


__ADS_3

"Vian aku harus kembali kekantor, aku harus nyiapin jadwal kamu. Dan sekitar 1 jam lagi jadwalnya sudah harus diantar" Ucapku sambil memohon kepada Vian.


Aku sekarang sudah berada didalam mobil Vian, aku tidak tahu entah dibawa kemana sekarang. Vian dari tadi cuman diam, dia cuman menjawab dengan anggukan. Tapi tidak dia turuti. Karna aku tahu yang sedang dituju sekarang bukan jalan kekantor.


"Iren yang memberimu berkas jadwal itu ?" Tanya Vian tanpa menoleh kearahku, sebab dia fokus kedepan menyetir mobil.


"I..i..iya, Kenapa ??"


"Sudah, lupakan. Jadwal nya bisa kamu kerjakan malam nanti diapartemen kita. Jangan begitu terbeban. Ingat suamimu ini CEO nya. Kamu istri CEO. Dan harus ingat juga, statusmu lebih tinggi dari siapapun disana. Jadi tenang"


Yang di ucapkan Vian sangat membuat ku terdiam. Mencoba mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan Vian. Apakah Vian gila atau gimana ? Apakah ini benar Vian ?


Aku mendengar responnya itu, seketika tersenyum tipis. Memikirkan apakah selamanya statusku ini adalah istri CEO ?


"Apakah status itu akan selama lamanya dihidupku ? Aku ragu haha" Kataku memaksa kan diri untuk tertawa.


Dia tiba-tiba membanting stir ketepi jalan. Yang membuat diriku terkejut berat.


*ckiiittttt*


"Kenapa Vian?! Kenapa tiba-tiba membanting stir?!! Bahaya tauu!!!" Ucapku panik setengah mati


"Aku akan buktikan padamu, maaf sudah membuat mu ragu ragu dan ragu. Aku minta maaf. Aku tau aku plin plan. Maka dari itu tolong bimbing aku, tolong bimbing aku. Apa saja yang harus ku ubah" Ucap Vian menoleh kearahku, aku melihat diseberang sana ada sepasang mata yang sangat serius menatapku.


Ya itu adalah mata Vian, aku membenarkan posisi duduk ku yang sedikit miring karna reaksi dari bantingan stir barusan. Aku menghadap kearah Vian, dan Vian juga menatap ku lekat-lekat.


"Kamu kenapa hum ?" Tanya ku sambil menangkup wajahnya dengan kedua tanganku.


Aku mengusap pipinya dengan jemariku, halus, putih, dan tampan.


Aku melihat matanya, matanya menatapku begitu nanar. Seperti ada yang mau keluar dimatanya. Jangan bilang dia mau menangis ? Oh my god. Mana Vian yang tampan, emosional ? Kenapa dia seperti bayi disini. Ah lucu nya.


Aku membalas tatapannya dengan tatapan sayu ku, sambil mengelus pipi lembut nya itu.


Posisi kami sekarang saling berhadapan, aku menyamping ke kanan dan dia menyampingkan kekiri. Kami saling berhadapan.

__ADS_1


Sekitar satu menit berlalu kami saling menatap, dia tiba-tiba memelukku.


*huggg*


"Ehh, hahaha kamu kenapa Vian ? Banyak masalah kantor ya ?" Tanyaku, aku tidak mau memikirkan lebih. Takut aku yang sakit nantinya.


"Sheren.. aku minta maaf. Aku belum menjadi suami yang baik untuk mu. Hiks..hiks.."


'Eh ? Vian menangis ?'


Aku membalas peluk nya. Tangan ku melingkar dipinggangnya, dan tangan kekarnya juga melingkar di pinggang ku.


Aku menepuk pelan punggung belakangnya, agar dia sedikit lebih lega.


"Sudah Vian, mau berapa kali kamu ngucapin minta maaf hum ? Kamu tidak salah sayang. Kamu sudah menjadi suami yang baik untuk ku. Tenang lah" Jelaskan sambil melepaskan pelukan ku dari nya. Kami berdua saling tatap lagi.


Dan aku tersenyum tipis melihat wajah tampan yang arogan, cuek ini dibasahi oleh air mata.


Aku mengusap air matanya menggunakan jemari jempol ku. "Sudah lah jangan menangis. Ah mana Vian suamiku yang ganteng dan arogan ? Haha. Sudah lah. Lucunya" Ucapku sambil mencubit gemas pipi Vian.


"K..k..kenapa menatapku seperti itu ?" Tanya ku


*Cuppp*


Aku merasakan ada sesuatu yang lembab menyentuh bibirku, dan tidak lupa berperisa kopi. Aku yakin, ini adalah bibir Vian.


Setiap lumatan semakin dalam. Ada apa dengan nya hari ini ? Kenapa tiba-tiba ?


Aku menepuk pelan dada bidang Vian, karna nafasku yang kian menipis dan sesak atas kelakuan Vian yang menciumku secara tiba-tiba.


Dia melepaskan tautan itu, dan aku segera sedikit menjauh dari nya. Jantung ku benar-benar tidak stabil. Seperti ingin loncat dari tempatnya.


Aku menutupkan wajah ku menggunakan kedua telapak tanganku. Aku malu, karna itu adalah pertama kali aku merasakan ciuman dengan adanya lumatan begitu dalam.


"Kamu tidak apa-apa ? Maaf kalau tadi aku kasar. Aku tahu itu pasti pengalaman pertamamu" Ucapnya sambil membenarkan posisi menyetir. Dan melanjutkan jalan mobil yang dia berhentikan tadi.

__ADS_1


'Duh! Kok bilang gitu sih. Malu, pikiran ku jadi nya yang enggak enggak. Vian aaaaa'


Dan setelah itu hening, tidak ada diantara kami yang membuka pembicaraan. Aku tidak begitu tertarik membuka obrolan, sebab aku masih malu. Ah Vian suka banget bikin aku blushing gini. Ck!


*** (Beberapa saat kemudian)


"Eh kita kok ke restoran ini lagi ?" Tanya ku kebingungan dari dalam mobil, karna melihat Vian memarkirkan mobilnya di tempat yang sama ketika direstoran tadi.


"Ngapain kesini ? Bentar lagi udah mau malam. Sekarang aja udah jam 17.30 WIB Vian" Tanya ku bingung.


"Aku mau ngurusin pekerja di restoran ini, gara-gara dia tanganmu luka. Diperban lagi. Ck" jawabnya menjelaskan.


*dduukkk*


Bunyi hempasan Vian saat menutup pintu mobil. Aku pun segera keluar, takut terjadi apa-apa dengan Vian nanti.


'Jangan bilang dia mau marahi pekerja cewek tadi ? Aduh Vian'


Aku pun segera berlari, untuk menghampirinya. Belum lagi sempat memanggil namanya, dia sudah keburu masuk.


Semua yang ada didalam menunduk hormat kearahnya. Ketika sudah masuk kerestoran, pas sekali pelanggan lagi tidak ada. Atau memang sudah diatur oleh Vian ?


"Kalian tahu kan posisi kalian disini sebagai apa ?!" Tanya Vian dengan nada meninggi namun masih ada kesan dinginnya.


Aku mengedarkan pandangan kesemua penjuru arah, mereka semua menunduk dan gemetaran ? Sebegitu takut kah ?


Aku mendekati kearah Vian, dan memegang lengannya.


"Hei, udah lah. Aku baik-baik aja kok. Udah udah. Liat mereka pada takut tuh" Ucapku sambil sedikit menarik lengan Vian kearah pintu.


"Aku adalah boss nya Sheren. Aku harus menegurnya, kalau perlu aku pecat. Aku gak mau kesan restoran ini buruk gara-gara pelayanan cewe gak becus itu. Dan udah ngebuat tangan istri pemilik restoran ini terluka. Udah gpp sayang. Aku cuman sedikit memberinya teguran doang" Jelas Vian.


'Apakah sekarang kami saling memanggil sayang ? Ah malunya'


[TBC]

__ADS_1


__ADS_2