
Vian (Point of View)
"Bukan IREN! TAPI KAMU!"
Ya bukan Iren. Tapi Sheren, perempuan yang membuat ku ingin membunuh siapapun kalau ada yang menyakitinya.
Tapi aku saja selalu menyakiti dirinya. Aku tidak bermaksud untuk tidak membela. Tunggu, tunggu penjelasanku.
FLASHBACK ON
Jujur, pada saat Iren datang tiba-tiba. Entah kenapa aku syok. Begini, jujur aku belum tau Iren udah keluar dari rumah sakit. Siapa yang keluarin dia dari rumah sakit ?
Biasanya juga kalau ada apa-apa Iren ngabarin ke aku.
Jujur, aku tak sadar kenapa diriku diam mematung pada saat aku tau Iren udah keluar dari rumah sakit.
Ada rasa bahagia ketika mengetahui dia baik baik saja. Tapi... ada rasa sakit yang sangat perih ketika melihatnya.
Aku mendengarkan semua yang mereka bicarakan, apalagi Iren yang merendahkan istriku.
Aku diam, bukan berarti aku tak kesal dan aku tak marah. Aku ingin memutuskan sesuatu. Yang mungkin, ketika aku memutuskan ini. Aku tidak menyesal di kemudian hari.
Aku ingin lebih memastikan apakah diriku ini serius kepada Sheren atau tidak. Karna aku bersama Sheren hanya merasakan nyaman dan aman. Untuk merasakan cinta mungkin belum.
Tapi aku sangat ingin melindungi wanita lemah namun tegar itu. Bukan karna aku dan dia ada sebuah ikatan pernikahan. Tidak, bukan karna itu.
Aku ingin melindunginya ya memang karna hatiku ingin dan mau. Apakah aku mulai mencintainya ?
Aku juga lupa bagaimana rasanya jatuh cinta lagi. Aku takut, ketika aku membuka hatiku. Sheren menyampakkan ku. Layaknya Iren yang pergi begitu saja tanpa kepastian meninggalkan ku.
Dan setelah aku memiliki kehidupan baru, Iren kembali. Perasaan ku dan Iren sudah hambar. Tapi entah kenapa masih ingin peduli dengannya.
Dua insan yang sangat membingungkan diriku.
Aku membuat keputusan, bahwa aku ingin membuka hati untuk Sheren. Aku akan menjadi suami terbaik untuk Sheren.
'Sheren.. semoga kau tak mengecewakanku'
.
.
Sadar atau tidak, tiba-tiba saja aku melihat didepan mataku hanya Iren saja. Sheren kemana ?
"Kemana Sheren ?" Tanya ku dengan nada yang datar.
Aku malas sekali melihat Iren. Aku juga tidak tau, kenapa bisa begitu.
"Dia kan kekasihmu tuan, dan terlebih lagi. Kata nyonya Iren, sekretarismu tadi adalah wanita malamm. Hahaha." Ucap salah satu karyawan.
Berani sekali mereka bilang Sheren seperti itu!
Aku menggepalkan tangan, menggeram. Ingin kubunuh saja mereka semua yang banyak bicara omong kosong ini!
"Nyonya ? Hahaha."
"Iya tuan! Nyonya! Nyonya Iren menyuruh kami memanggilnya dengan sebutan itu. Karna nyonya Iren adalah kekasih tuan. Kami dengan senang hati memanggilnya hehe." Jelas salah satu karyawan yang sok asik.
__ADS_1
"Saya tidak senang hati, siapapun yang memanggilnya nyonya. Tidak ada alasan apapun untuk bertahan bekerja disini. Mengerti!?"
"Oh ya satu lagi... Kekasih ? Dia kekasihku ? Jangan mimpi! Bangun dari tidur kalian dan kau Iren, bangun!"
Terdengar kasar ? Ya aku sengaja. Aku tak mau melibatkan Iren ke Sheren lagi. Aku sudah memutuskan saat nya aku memberitahu mereka, bahwa Sheren adalah istriku. Jadi Sheren tidak diinjak injak mereka lagi.
"Sheren milikku. Siapapun yang menganggu orangku, siap untuk menanggung resikonya."
Mereka tampak tercengang, aku berjalan menuju pintu keluar ruang tersebut. Tapi aku berhenti, karna ada hal yang lupa untuk disampaikan kepada Iren.
Aku memundurkan langkahku, dan mensejajarkan diriku dan Iren. Mendekati telinga Iren,
"Hey.. terimakasih sudah menyampakkan saya."
"Ma-maksud mu?" Tanya Iren.
"Jangan sok bodoh. Kau paham maksudku apa," ujar ku kepada Iren.
Aku cepat cepat keluar dari ruangan tersebut. Mengedarkan pandanganku diseluruh Restoran. Hasilnya Nihil! Sheren tidak ada.
Apakah dia pulang ke apartemen ?
*Drtttt* *Drtttt* (Bunyi getaran ponsel Vian)
Aku melihat ponselku, ada telpon dari K2.
"Ada apa?"
"Tuan muda, saya ingin menyampaikan sesuatu denganmu."
"Tentang Devanno tuan."
"Oh tentang dia ? Aku kesana sekarang."
*tuuttt tuuuttt*
Aku pergi ketempat khusus K2 bekerja menghandle semuanya. K2 adalah orang yang sangat kupercayai melebihi apapun. K2 orang yang setia dari perusahaan ku masih kecil.
Dia adalah pahlawan. Aku sangat menyukainya. Bukan menyukai dari hati, aku menyukainya karna kinerja.
Aku masih normal, aku bukan seorang Gay. Oke ?
Identitas K2 tak pernah terungkap. Terlebih lagi K2 adalah nama samaran.
.
.
"Jadi... Devanno nyatain cintanya hari ini ke Sheren ?" Tanyaku kepada K2.
"Iya tuan."
"K2! Kalau dibandingin. Aku sama Devanno tampanan mana ?!"
"Hah?"
Bohong kalau aku gak ngerasa tersaingi. Devanno juga ganteng. Tapi.. arghh Devanno! Maunya apa si!
__ADS_1
"Ayo jawab. Jangan hah hah hah aja."
"Tampanan tuan." Jawaban K2 sangat tepat.
"Oouhh tentu saja diriku lebih tampan. Ohya satu lagi, kalau pesonanya ??"
Aku tau K2 adalah orang yang tak pernah kuajak senda gurau. Jadi wajahnya sekarang sangat kebingungan.
"Jawab aja," sambungku.
"Pesonanya lebih ke tuan, tapi kalau masalah sifat. Lebih lembutan Devanno. Karna Devanno orangnya tidak cuek. Dan bisa dibilang ramah. Berbanding terbalik dengan Tuan Vian. Maaf sekali lagi." Jelas K2 kepadaku.
"Ngjleb banget pernyataan kamu K2. Terlalu jujur juga tidak baik hahaha." Ucapku ingin mencairkan suasana.
"Maafkan kelancangan saya tuan." Jawabnya dengan menunduk.
"Hey, tenanglah. Aku bercanda. Malam ini, aku ingin Sheren menjadi milikku sepenuhnya."
FLASHBACK OFF
"Tolong jangan salah paham dulu," ujarku sambil melepaskan pelukan dipinggang Sheren. Sheren segera meminumkan airputihnya.
Dan ingin beranjak pergi dari hadapanku.
"Kamu mau kemana ? Aku belum selesai bicara." Tanyaku kepada Sheren.
"Emang ada hal penting apalagi ? Tidak ada hal yang perlu dibicarakan. Aku ingin istirahat. Selamat malam," ujar Sheren tegas, dan menjauh dari ku.
Aku tau, disorot matanya ada kekecewaan.
Sheren sudah tidak ada didepan mata, segera aku berlari kearah kamarnya. Belum sempat dia memegang gagang pintu,
*Grep*
Aku menguncinya dengan lengan ku.
Dia berada di depan mataku, wajah kami begitu dekat. Aku mengengam tanganya, dan mengangkat kkeatas menempelkannya didinding.
"Le-lepaskan aku!" Ucapnya sambil mengalihkan pandangannya dari ku.
"Apakah kau kecewa ?" Tanyaku kepadanya.
"Jangan terlalu kepedean."
"Kalau begitu, malam ini aku ingin memilikimu. Bisa ?" Tanyaku begitu antusias.
"Maksudmu apa?! Aku.. belum siaa.."
*cuppp*
Tak perlu tanda setuju, aku segera mengecup bibirnya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan Vian!!!!!!"
"Jadilah milikku malam ini, dan seterusnya Sheren."
[TBC]
__ADS_1