He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
Jahat


__ADS_3

SHEREN BACK POV (Point Of View)


Argh.. apa lagi ini, Vian berterima kasih kepadaku! Wah ini aku harus senang atau gimana ya tuhan. Takutnya ketika aku bahagia dengan perlakuannya, ehh nanti pasti berubah tiba-tiba.


"tak apa, aku istrimu. Kamu bukan nyusahin aku, tapi memang kewajiban ku menjaga kamu vian" Jawab ku kepada Vian. Aku berusaha melontarkan senyum ku dengannya. Berharap mendapat respon yang baik-baik saja.


Tapi itu salah. Entah kenapa ketika aku tersenyum padanya. Dia langsung berubah ekspresi. Apakah dia marah aku tersenyum? Aku salah lagi? Aku bingung sama sikap Vian.


Aku malas menanggapi sikap Vian. Aku cepat-cepat ke dapur untuk menyiapkan hidangan makanan tadi yang lumayan ditinggal lama oleh ku.


Btw, ini paha ku lumayan kerasa sih pegel nya. Tapi gpp deh itung-itung berbakti sama suami ? Hahaha. Ketika aku sampai ke dapur, aku segera memanaskan makanan yang mulai dingin ini.


Setelah siap dipanaskan. Aku menyusunkan lagi dengan rapi seperti gelas,piring, dll. Dan ketika itu, aku melirik ke arah ruang keluarga dan aku mendapati Vian yang lagi kearah meja makan.


"Vian, aku baru saja mau manggil kamu untuk makan bersama. Ayo kita makan." Ucapku sambil tersenyum kepada Vian, untuk mencairkan wajah yang sudah mulai sedingin batu es itu. Tapi nihil, Vian tetap bermuka dingin tanpa ekspresi dengan ku. Apa lagi yang salah ??? Ya tuhan. Aku bingung. Kepala ku sedikit pusing sekarang.


Vian duduk, aku menyiapkan hidangan untuk makan kami. Dia sekarang sudah makan, tapi aku belum. Aku tidak selera, kepala ku pusing. Pelan-pelan menyakiti kepalaku.


"Kamu kenapa sih vian ? Melihatku segitunya? Ya udah, aku pindah ke tempat lain aja makannya. Biar kamunya lebih nyaman." Ucap ku.


Aku sudah cukup muak sekarang, tadi dia hampir saja berlaku manis denganku. Dan sekarang ? Buruk lagi. Aku beranjak ingin pindah dari tempat duduk dimeja makan, aku ingin kekamar saja. Kepala ku juga sedikit mulai pusing.


"Kamu mau kemana ? Makan disini. Jangan kemana mana." Ucapnya menahanku.


"Kamu kenapa sih vian ?! Aku muak. Tadi barusan kamu bersikap manis dengan ku. Dan sekarang kenapa kamu melihatku seperti itu sih ?? Gak suka sama aku? Salah aku apa sih? Hikss.. tega kamu!" Ujarku dengan nada emosi.


Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa seberani ini. Vian adalah suamiku, tapi kenapa aku begitu berani meninggikan suara dengannya.

__ADS_1


Tak disangka tiba-tiba si Vian berdiri. Dan meninggalkan meja makan dengan bersisa nasi di piring nya. Aku memunguti piring-piring dimeja makan dan langsung mencucinya.


Sekitar kurang lebih 15 menit, aku sudah beres membersihkan dapur. Dan aku udah gak liat lagi si Vian. Mungkin ke kantor. Ya udah terserah dia.


"Kenapa aku seberani itu sama Vian tadi ? Aku jadi merasa bersalah.."


"Eh btw tadi si Vian kenapa ya bisa mimpi gitu ?" Aku berdialog dengan diri sendiri, berharap menemukan jawabannya. Tapi alhasil jawaban itu masih dalam misteri. Kenapa hidupku begitu rumit begini ya tuhan...


"Ayo jangan patah semangat SHEREN ALKA! kamu kuat Sheren! Fighting!" Ucapku untuk menyemangati diri sendiri.


Aku juga gak lama lagi kerja di perusahaan Vian, jadi sekretaris nya. Aku gak boleh dong cepet emosian begitu. Ayo sheren! Belajar bersabar tahan emosimu sayang. Hehe.


(10 menit kemudian)


SHIT!


Aku mau beli baju buat ngantor nanti. Aku belum ada baju seformal itu. Aduh kok bisa sih sampai lupa begitu Sheren! Pelupa banget kamu! Padahal masih muda! Aku mengumpati diriku sendiri. Yang selalu ceroboh.


(18.30 WIB)


Tak sadar waktu sudah menghampiri malam.


Yeay! Udah sampai di mall nya. Aku melihat lihat baju baju yang sangat mewah dan cantik. 


"Gilaa sih, cantik banget!" Ujar ku terkagum.


Aku banyak uang, mau beli semuanya? Bisaaaaaaaa banget. Vian beri aku kebebasan. Tapi tunggu dulu...

__ADS_1


Aku gak mau kayak gitu, aku harus menabung dan berhemat. Kita gak tau kan apa yang terjadi di perusahaan Vian. Gak melulu perusahaan itu stabil terus, sooo aku harus belajar jangan boros. Beli yang perlu-perlu aja. Yang tidak perlu banget jangan dibeli. Apa lagi belanja untuk kesenangan sementara. JANGAN DEH YA!


Aku berkeliling kesana kemari, dan syukurlah aku sudah menemukan dua setelan sepasang baju kantor ku. Ya lumayan lah hehehe. Bagiku sih cantik. Formal gitu, heuhh gak sabar deh buat makenya!


*DRTTTTT DRTTTT*


Ada yang nelpon aku, siapa ya ? Oh si Vian.


"KAMU DIMANA ?!" Tanya Vian dari suara seberang sana.


Sangking kuatnya suara vian, aku sampai menjauhi ponsel dari telinga. Aduh Vian marah nih kayaknya. 


"Hmm a-aku di mall Vian." Ucapku sedikit terbata.


"MALL MANA ?! NGAPAIN KAMU KEMALL? JALAN-JALAN SAMA LAKI-LAKI LAIN?!! HAH?!!"


"......."


Aku hanya diam mendengar ujaran Vian yang sangat menusuk hatiku. Sakit sekali rasanya dibilang suami sendiri aku ke mall jalan-jalan sama laki-laki lain. Aku tidak seburuk itu.


"Aku.. a..akuu tidak seberengsek itu VIAN!"


Aku langsung mematikan ponsel dari panggilan Vian, setelah mengucapkan kata-kata itu. Sebelum mematikan ponsel itu, aku mendengar kan suara Vian yang terus meneriaki namaku. Aku tidak peduli. Aku sedih. Vian jahat sudah berkata seperti itu. Entah kenapa air mataku menetes testes perlahan lahan.


Aku tak sanggup jika begini terus...


Tuhann.. kapan kami bisa bersatu ? Kapan kami bisa sepemikiran ? Kapan tuhan ? Kapann ?

__ADS_1


[TBC]


__ADS_2