Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Diandra.1


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang palingku tunggu selama beberapa minggu ini. Liburan yang bagi semua siswa adalah hal yang menyenangkan justru hal yang buruk buatku. Pasalnya libur semester justru menghambat aku buat bertemu pangeran kesayanganku.


Namanya Gaga, ah bukan! Namanya itu Dirgantara Davidson. Gaga adalah panggilan kesayanganku sejak aku satu sekolah sama dia. Oke! Selamat bertemu kembali pangeran Gaga-nya aku!!!


"Gaga!!!"


laki-laki dengan rambut pendek berponi itu pun geleng-geleng kepala mendengar suaraku. Teman-temannya juga tertawa mendengar teriakanku.


"Pagi Gaga ku sayang..!!" sapaku sambil menempatkan diriku yang posisinya ada didepan meja Gaga. Gaga hanya mendengus mendengar ucapanku. Mungkin baginya ini adalah nasib yang ia terima selama ia bersekolah disini. Ah ralat! Bukan selama ia bersekolah disini, tetapi selama aku masih ada di dunia ini aku akan terus ada disampingnya kemanapun ia melangkah karena aku adalah pasangan yang setia.


"Aelah Ndra, disini gak cuma ada Dirga kali, ada gue, Iqbal, Asen, Ridho juga. Ya kali yang di sapa cuma Dirga" omel Alex.


Aku memutar tubuhku menghadap kedepan. "Ih bodok amat gue mah! Mau ada elu atau anak buah lo yang lain masa depan gue cuma Gaga kok. Ya kan Ga?" Aku kembali memutar tubuhku menghadap Gaga dan berharap ada jawaban dari dia.


Dirga memutar bola matanya jengah. "Amat aja gak bodok Ndra, dia tau dia gak dipeduliin jadi dia pergi dan tau diri gak kayak lo!" Dirga bangkit dari tempat duduknya kemudian keluar kelas.


Aku tersenyum mendengar jawaban Dirga, sudah hampir 100 kali aku mendengar kalimat itu dari mulut manisnya. Duh Ga aku boleh cium bibir lo gak sih? Biar omongan lo itu manis dikit ke aku.


"mau kemana Ga?" tanya Ridho.


"Lapangan ogeb! Bentar lagi upacara dimulai! Gue malas di hukum!" jawab Dirga kemudian ngeloyor pergi meninggalkan teman-temannya.


"Ndra! lo kemana aja sih? Upacara itu 5 menit lagi dimulai! Lo mau di hukum lagi?" teriak Vanya dari depan kelas. *Sumpah dah suaranya dia kenceng banget sakit telingaku.


Alex, Iqbal, Asen dan juga Ridho segera bangkit dan menyusul Dirga untuk upacara. Begitu juga aku, aku segera memakai dasiku dan merapikan seragamku. "Sabar-sabar ya lo ngadepin si Dirga. Gue juga udah tegur dia berkali-kali buat ngehargai lo, tapi emang dasarnya sikapnya dia yang barbar." ucap Ridho seraya menepuk bahuku.


Belum sempat aku menjawab ucapan Ridho, bel tanda upacara dimulai pun berdering kencang dan membuat aku, Vanya dan juga Feny terburu-buru menuju lapangan.

__ADS_1


"Gara-gara lo sih dasar curut! Liatkan kita jadi dapat barisan di belakang!" Omel Vanya saat kita sampai di lapangan.


"Tunggu aja, paling bentar lagi kita disuruh maju paling depan!" jawabku santai. Karena dari SD pun mau gue datang terlambat gue pasti dapat barisan paling depan.


"Dasar dodol! Lo itu boncel! Jelaslah lo pasti disuruh kedepan! Lah gue sama Vanya kan tinggi! Mana si Ray kan tugas upacara gue jadi gak bisa lihat dia kan gegara lo!!" sungut Feny


"Katanya lo tinggi harusnya kalau tinggi dari belakang si Ray tetep kelihatan dong!!" jawabku kemudian maju kedepan karena kak Nagra si ketua OSIS sudah memintaku untuk mengisi barisan.


๐Ÿ“Œ


Hari pertama setelah liburan yang biasanya akan jadi hari tanpa KBM justru menjadi hari tugas. "Eh sumpah yak itu pak Haryo tega bener, baru hari pertama masuk udah nugas aja!!"


"Elu Ndra kayak baru kenal pak Haryo kemaren sore aja." sahut Vanya.


Mataku berkeliling kantin mencari si pangeran berponiku. Hingga aku menemukan sosok yang sedang menendang bola ke gawang. Aku tersenyum, kembali mengingat kejadian yang membuatku menjadi seperti ini. Yah, menjadi Andranya Dirga.


๐Ÿ“Œ


"Ndra, jangan pake itu ih kalau mau kipas-kipas, sini sama gue, gue pake kipas portable," Vanya teman baru gue menawarkan kipas anginnya.


"Ngantin aja yuk, nge-esteh biar seger gitu!" seru Feny dari meja guru. Ya kini Feny sedang ngadem di meja guru. Kata dia duduk di meja guru itu adem.


"Boleh tuh! Kuy ngantin." aku, Vanya dan juga Feny pun bergegas menuju kantin.


Saat menuju kantin, aku heran melihat lapangan futsal menjadi ramai dengan siswa kelas 10. Tidak seperti biasanya siswa baru berkumpul dilapangan futsal.


"Gais-suu. Itu ada apa kok ramai banget di situ?" gue berhenti diantara kerumunan manusia-manusia heboh.

__ADS_1


"anak kelas 10 di ajak tanding gitu sama kelas 11." jawab Feny.


"mampir bentar yuk, mau liat cowok-cowok kelas kita tanding." pintaku pada Vanya dan juga Feny.


"Anjey nih anak, bilang tadi mau nge-esteh??" Feny mengomel karena aku menarik lengannya untuk berhenti bersamaku dan juga Vanya.


"Bentar aja Fen, yah yah Feny kan baik.."


Feny menggerutu namun tetap menuruti permintaanku. "Eh itu siapa sih kok rambutnya kayak oppa gue ya beponi gitu?" gimana aku gak heran gitu kan ya, ada cowok mirip banget sama Lee Jong Suk.


"Oh itu.." Vanya menggantungkan ucapannya. Kesel banget dah ah..


"Van siapa namanya?" tanyaku berharap jawaban.


"Namanya Dirgantara. Orang-orang manggil dia Dirga." Jawab Vanya. Aku tersenyum mendengar jawaban Vanya.


"oh Gaga.." gumamku tetapi masih dapat didengar oleh Vanya dan juga Feny.


"Namanya itu Dirga boncel! Bukan Gaga!!" sungut Vanya jengkel.


Aku tertawa mendengar ucapan Vanya. "Gue mau manggil dia Gaga aja. Biar beda dari yang lain."


bukk...


Disaat yang bersamaan sesuatu membentur kepalaku dan membuat pandanganku seketika blur dan gelap.


๐Ÿ“Œ

__ADS_1


__ADS_2