Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Diandra.11


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, mencoba menyesuaikan dengan cahaya sekitar. "Gue dimana?"


"Andra? Akhirnya Lo sadar juga ya." Vanya, perempuan yang ada di sebelahku tersenyum melihat aku tersadar.


"Ndra, lo mau teh hangat?" tawar Fany. Yah, kedua sahabatku ternyata sedang mengkhawatirkan aku.


Aku mengangguk menjawab tawaran Fany. Leherku tercekat. Ah sial! Aku mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum aku pingsan.


Dirga!!


"Gaga mana?" tanyaku sambil berusaha untuk bangkit. Fany dan Vanya dengan sigap membantuku.


"Lo mau kemana?" tanya Vanya.


"Gue mau cari Gaga." jawabku cepat. aku segera berjalan pelan keluar uks. aku harap aku bisa ketemu Gaga.


"Andra!!" teriak seseorang yang suaranya sangat-sangat familiar buatku.


itu suara Dirga!!


"Lo udah baikan?" tanya Dirga sambil menyentuh keningku. Dikiranya aku demam kali ya?


Akupun menepis tangannya dari keningku. "Ada apa lo bersikap sebaik ini Ga sama gue?"


Dirga nampak terkejut dengan pertanyaan yang barusan aku lontarkan. "Ndra? Lo masih marah sama gue? Sorry soal tadi pagi."


"Gue mau ucapin makasih karna lo udah tolongin gue tadi." ucapku kemudian pergi meninggalkan Dirga.


Aku berpikir semua kejadian hari ini karna sikapnya dia ke aku. Untung cuma kak Vina yang ngebully aku. Putri si mak lampir gak ikut-ikutan. Mungkin dia cukup tau diri, kalau aku lebih segalanya daripada dia.


Tapi, keputusanku sudah bulat. Sepertinya aku harus menjauhi Dirga. Terlepas sikap dia mulai mencair padaku.


πŸ“Œ


"Assalamualaikum maah.. Yuhuuuu Diandra udah plang nich." Aku membuka pintu. Tumben rumah berasa sepi. Biasanya ada suara cempreng nyokap.


"Berisik lo curut!!" Teriak bang Joe dari ruang tv.


Aku berlari menghampiri bang Joe "Abang kok gak kuli--"


Aku terkejut melihat sesosok manusia tampan, tinggi, cute, apalah itu. "OMEGAADDDD!!!!"


Aku berjalan mengelilingi sosok itu. Ini aku mimpi atau gimana sih??

__ADS_1


"Woy? Lo kenapa sih? Muka gue makin ganteng ya" ucap sesosok itu. Anjey! berarti ini gak mimpi dong. Sosok itu bisa bicara.


"Bang? Kok hantunya bisa bicara sih?" Bang Joe cuma melongo mendengar ucapanku.


"Anjey lo!!" sungutnya lagi.


"AHHHHHH FABIAAAAANNNNN!!!" aku segera memeluk sesosok tadi. Sungguh aku merindukan sesosok ini.


"Aduh Ndra.. Gue gak bisa napas nihh!!" Aku nyengir kuda kemudian mengendus bau khas dari sesosok Fabian.


"Lo gak kangen gue Yan?" tanyaku sambil melepas pelukanku.


"Siapa sih didunia ini yang gak kangen sama sesosok tuyul kayak lo??" ucap Fabian sambil menarik hidungku.


"Kalau sama Bian aja baik bener. Lah giliran sama gue ngegas mulu. sebenarnya lo itu adek gue atau kembarannya Bian sih?" gerutu bang Joe.


Aku menjulurkan lidahku "Bodokkk!!!"


"Mamaaahhh. Lihat Andra gangguin Joe terus!!" teriak bang Joe. nih abang, aku heran deh. siapa yang sebenarnya perempuan. kenapa dia jadi abang pengaduan banget sih.


Aku melirik bang Joe kesal. "Bacod lo bang! Pengaduan banget!!"


Aku mengalihkan perhatianku ke Bian. "Oleh-oleh buat gue gak ada?"


"Gak!!" jawab bang Joe.


"Bian.." ucapku sambil memamerkan jurus andalan saat merayu bang Joe dan juga Ayah. Biasanya ini berhasil untuk merayu Fabian.


"Ada dikamar lo kok. Gak usah dengarin abang lo." ucap Bian.


"udah-udah gak usah ribut gitu. Andra, ganti baju sana terus makan siang." seru mamah dari dapur. Aku tersenyum kemudian berjalan ke kamar.


πŸ“Œ


"Lo mau kemana? tanya Bian saat melihatku keluar dari kamar.


"Kerjalah. Oiya bang Joe mana?" tanyaku sambil memperbaiki bajuku.


"Masih mandi sih tadi." jawab Bian.


"Lo sampai kapan disini?"


"Gue menetap disini? Gak masalah kan kalau gue tinggal dirumah lo?"

__ADS_1


Aku menatap lurus kedepan. Sekarang aku dan juga Bian sedang berada di loteng sambil menunggu bang Joe.


"Lo serius? Terus lo sekolah dimana?"


"Gue pengen sekolah disekolah lo! Biar gue tau yang mana sih cowok yang lo idam-idamkan itu? Gue penasaran banget."


Aku terdiam mendengar ucapan Bian. Kenapa rasanya masih nyes gitu kalau ngebahas soal Dirga.


"Ndra? Lo ngelamun? Kenapa? Ada masalah?" tanya Bian.


"Ndra? Lo udah siap?" bang Joe menghampiri aku dan juga Bian. Akhirnya selesai juga nih makhluk mandi.


"Lo mandi atau semedi sih bang? lama amat?"


"Ah udah ah! Buruan! Cafe bentar lagi buka. Mau lo di omelin lagi?" sungut bang Joe.


"Ekh iya deh. Bian gue sama bang Joe pergi dulu ya. Besok lo harus berangkat sama gue."


Aku segera menyusul bang Joe untuk masuk ke mobil. Daripada aku harus bayar ongkos untuk ke cafe malas banget.


πŸ“Œ


"Lo kenapa sih? Sepulang sekolah tadi diem aja. Bahkan diajak ngomong sama Bian aja lo sering banget ngelamun. Bukannya lo berangkat di jemput pangeran lo? Harusnya heppy dong." tanya bang Joe.


Bang, andai aja kamu tau gimana sikap Dirga tadi waktu disekolah. Abang pasti gak akan ngomong gitu soal dia.


"Lo berantem sama Dirga?" tanya bang Joe lagi.


"Bang, kalau abang jadi Andra, cowok yang lo suka ngomong kasar ke lo, apa yang lo lakuin selanjutnya? Ngebenci orang itu atau lo tetap jatuh cinta sama dia?"


Bang Joe menatapku sebentar kemudian kembali fokus menyetir. "Dirga ngomong apa soal lo?"


"Bang, jawab aja. Andra kan lagi nanya ke abang." Bang Joe tersenyum kemudian mengelus kepalaku. "Ndra, kalau lo beneran jatuh cinta sama dia, mau sejelek apapun sikap dia ke lo, lo gak akan bisa ngebenci dia. Karna hati lo udah diciptakan untuk mencintai dia."


"Abang tau, Diandra kecewa banget sama Dirga tadi waktu disekolah. Tapi disaat yang bersamaan, Dirga berhasil nolongin Andra. Bahkan kalau gak ada Dirga mungkin Andra gak akan disini sekarang."


"Dek.." Bang Joe langsung menginjak rem mendadak.


"Lo kenapa? Lo diapain emangnya?" cerocos bang Joe.


"Gue gak papa bang. Intinya Dirga udah ngebuat gue benci sekaligus sayang dalam waktu yang bersamaan. Gue harus gimana bang?"


"Dek. tadi kan udah abang bilang. Lo gak akan bisa ngebenci Dirga, karna kenyataannya lo itu cinta sama dia." jawab bang Joe.

__ADS_1


"Udah ah, kita udah telat nih." bang Joe segera melajukan kembali mobilnya.


πŸ“Œ


__ADS_2