
"Bibiiii..." teriak gue. Gue mendengar keributan di ruang makan pagi-pagi.
"Bibii buruan!!!" teriak gue sekali lagi.
"Iya mas iya.." bi Narsih berjalan cepat ke depan kamar gue.
"Ada apa mas kok ya pagi-pagi sudah teriak-teriak aja?" tanya bi Narsih.
"Itu siapa sih bi berisik banget? Ini kan masih jam setengah 6." jawab gue.
Gue terbangun mendengar suara-suara berisik dari lantai bawah.
"Anu mas, nyonya sama tuan lagi berantem di bawah. Saya gak berani lerai mas." jawab bi Narsih.
Astaga punya orang tua kenapa bikin gue sengsara banget sih.
"Mami sama papi berantem dari kapan bi?" tanya gue sambil mengucek-ngucek mata.
"Baru aja mas. Mereka baru pulang juga soalnya mas. Tadi tuan yang datang duluan. Terus gak lama nyonya datang sambil marah-marah." jelas bi Narsih.
Gue segera berlari ke lantai bawah.
"Mi, Pi! Stopp!! Mami sama papi tau gak sih ini tuh jam berapa? Bisa gak sekali aja gak usah berisik kayak gini! Kalian itu kalau pulang kerjaannya cuma berantem mending gak usah pulang!!"
Mereka berdua terdiam mendengar ucapan gue. Tiba-tiba...
Plakkk..
"Papi!!" teriak mami.
Gue merasakan perih di pipi gue. "Papi kenapa tampar Dirga? Ucapan Dirga salah? Benar kan Pi harusnya! Papi sama mami itu pulang cuma bikin keributan aja dirumah! Dirga, bi Narsih sama mang Udin udah tentram hidup bertiga!"
"Kamu--" papi terus menunjuk-nunjuk gue dengan tangannya.
"Papi udah. Dia itu Dirga anak papi!" teriak mami.
Gue mengelus pipi gue pelan. Perih brengsek! "Udah mi biar! Biar papi nampar Dirga sepuas papi."
"Dirga itu capek Pi kayak gini terus! Kalau memang papi bosen sama mami, ceraikan mami jangan nyakitin mami terus-menerus kayak gini." teriak gue penuh emosi.
"Kamu itu cuma anak kecil gak tau apa-apa! Jadi stop teriakin papi. Stop sok tau tentang masalah keluarga kita!"
"Ceraikan mami Pi! Gak ada gunanya papi di hidup Dirga ataupun mami kalau sikap papi kayak gini!"
__ADS_1
"Dirga sudah Dirga. Mami mohon." mami menangis di samping gue. Gue paling benci lihat perempuan nangis.
"Dengar Dirga! Sampai kapan pun papi gak akan menceraikan mami!!" teriak papi kemudian berjalan cepat keluar rumah.
"Mami gak papa?" tanya gue sambil terus memperhatikan tubuh mami.
"Mami gak papa." jawab mami pelan.
Mami melirik jam yang ada di tangan kirinya. "Sudah jam 6 sayang. Mending kamu siap-siap."
Gue mengangguk kemudian berjalan meninggalkan mami yang masih mengobrol dengan bi Narsih.
Ah iya! Gue hampir lupa. Hari ini gue harus jemput bocil ke sekolah! Sial!! Gara-gara si Nagra gue harus jemput dia!!
📌
"Dia berangkat bareng gue!" jawab gue sambil menarik tangan Andra.
Sesampainya gue dirumah Andra, gue kalah start sama Nagra. Ternyata dia sudah sampai dirumah Andra. Sialan.
"Lo jangan kasar gitu sama Andra!" pinta Nagra sambil menghempaskan pegangan gue dari tangan Andra. Brengsek nih cowok emang.
"Lo masuk duluan gih. Gue mau ngomong sebentar sama si ketua OSIS yang terhormat ini." seru gue sinis.
"Buruan!!" bentak gue gregetan. Nih bocil kenapa sih susah banget nurut.
"Lo ngapain dekatin Diandra?" tanya gue saat Andra sudah masuk ke mobil gue.
"Ada larangan tertulis untuk mendekati Andra?" tantang Nagra.
"Semua orang tau kalau Andra itu milik gue." bentak gue.
"Tapi semua orang juga tau kalau Lo ga pernah terima Diandra!!" sahut Nagra.
"Gini aja deh. Ternyata setelah gue pikir-pikir Lo sekarang suka juga sama Diandra ya? Kalau gitu kenapa kita gak bersaing aja? Pelan-pelan tapi pasti. Yang bisa buat Diandra jatuh cinta jelas itu yang menang!"
"Andra udah jatuh cinta duluan sama gue!" jawab gue enteng.
"Tapi itu dulu. Kita lihat aja siapa yang bisa jadikan dia pacar."
"Oke siapa takut!"
"Satu lagi keuntungan kalau Lo bisa pertahanin cintanya Diandra." ucap Nagra pelan tapi penuh penekanan dengan senyum yang menjijikkan menurut gue.
__ADS_1
📌
Gue sampai di sekolah 10 menit sebelum bel berbunyi..
"Gaga, aku mau nanya." ucap Andra pelan.
Gue berdeham mengiyakan ucapan Andra.
"Kamu kenapa tiba-tiba berubah baik ke aku?"
Deg..
"Udah telat. Lo mau keluar atau mau gue kunciin disini?" tanya gue dingin.
"I..iiya aku keluar kalau gitu. Makasih udah jemput." jawabnya sambil tersenyum *manis.
"Bentar.." ucap gue sambil menarik tangannya yang hendak keluar dari mobil gue.
"Pulang bareng gue." seru gue pelan dan langsung keluar dari mobil.
Semua mata tertuju sama makhluk yang baru keluar dari kursi penumpang mobil gue.
Gue akui hari ini penampilan Andra beda. Mungkin kesan cute di muka dia semakin bertambah.
"Pak bos? Gue lagi mimpi kah ini? Lo berangkat bareng bocil?" tanya Ridho. Nih anak emang mulutnya.
"Ga, aku duluan ya udah ditunggu teman temanku." ucap Andra.
"Aelah si Eneng mau kemana?" goda Asen.
"Ekh curut! Gak usah goda-goda gue! Gue udah punya yayang Gaga!" teriak Andra.
Astaga makin besar kepala ternyata nih bocah.
Gue perhatikan Andra berlari menghampiri kedua sahabatnya sambil berlari-lari kecil kayak anak kecil yang senang di beliin permen.
"Lo? Sumpah Lo utang cerita sama kita bro! Kemaren Lo nyamperin Nagra sama si Andra gitu aja! Terus sekarang Lo berangkat bareng dia! Jadi Lo udah jadian?" cerocos Iqbal.
"Kebetulan aja tadi berangkatnya barengan." jawab gue sambil berjalan menyusuri koridor kelas.
"Bangkek nih anak di tungguin malah ninggalin!" umpat Axel.
Gue hanya tertawa mendengar umpatan demi umpatan mereka.
__ADS_1
📌