Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Dirga.12


__ADS_3

Gue memarkirkan mobil gue di halaman rumah Ridho. Berharap ada sesuatu yang setidaknya menghibur didalam.


"Ekh mas Dirga, nyari mas Ridho ya?"


Gue langsung masuk kerumah Ridho kebetulan ada Bi Lila diruang tamu dan langsung menyapa gue.


"Ridhonya ada bi?"


"Ada mas, ada mas Alex, Asen juga di atas. Langsung ke kamar mas Ridho aja ya mas."


"Makasih bi.."


Gue berjalan menyusuri tangga rumah Ridho, kurang lebih luasnya sama rumah gue. tapi yang buat gue nyaman disini, gak ada keributan dirumah Ridho. Mungkin karena keberadaan gue dan juga 3 cecungut itu aja yang buat rumah Ridho ramai.


Gue membuka pintu kamar Ridho. Sial aktivitas didalam kamar sungguh ngebuat gue risih sendiri. "Shiit!!!" Gue melempar asal tas gue. "Lo darimana aja sih? Kita tungguin juga!!"


Gue baring disamping Asen. "Bisa gak kalian itu pake celana kalian! Disini kan ada bi Lila juga. Kalau bi Lila masuk gimana? Gak malu?"


"Aelahh.. Tuan rumahnya aja santuy aja Ga, kenapa lo yang ribet sih?"


"Nah bener tuh kata Alex."


"Lo dari mana?"


"Dari sekolah lah ogeb!"


"Heh curut!!" Ridho melemparkan bantal kemuka gue. Brengsek nih orang. "Maksud gue tuh lo ngapain aja lama banget di sekolah? Bukannya Diandra udah pulang dari tadi?"


"Emang."


drrttt...


Gue mengambil hendphone gue di saku celana gue. Melongo melihat nomor siapa yang nelpon gue.


"Woy ada orang nelpon itu di angkat bukan malah lihatin doang."


"Bacod lo kutu bludok!!"


Gue menekan tombol dial..


"Hallo?" Gak ada suara selain suara angin dari seberang sana.


"Ini siapa sih? Gue matiin nih kalau gak penting!!"


"Dirga..."


Deg..


suara itu..

__ADS_1


suara yang selama ini gue rindukan..


Setelah itu yang gue dengar cuma suara cecungud yang terus manggil nama gue.


📌


"Lo kenapa sih?" tanya Asen saat gue baru aja menyandarkan tubuh gue di bantal.


Gue menatap sekeliling gue, saat ini gue lagi terbaring di kasur empuknya Ridho dengan dikelilingi makhluk-makhluk biadap.


"Gue haus."


Alex dengan gercepnya langsung memberikan gue segelas air putih dan langsung gue habiskan dalam sekali teguk.


"Gila nih orang. Habis pingsan tiba-tiba langsung kayak orang kesetanan gini minum nya."


"Woy lo kenapa?"


Gue masih mengingat-ingat kejadian tadi. Itu tadi beneran suara dia?


"Laras--"


"Dia balik lagi!"


"Maksud lo? Larasati cewek lo waktu itu?" tanya Asen.


"Lo tau darimana?"


"Gak mungkin lah dodol! Yang tau tentang Laras cuma kita. Gak ada orang lain yang tau soal hubungan gue sama Laras."


"Lo yakin?" tanya Ridho tiba-tiba.


"Bukannya Nagra tau soal dia?"


Deg...


Bgsd! Apa ini ulah Nagra? Tapi gak mungkin. Gue hapal pasti suara Laras gimana. Gak mungkin salah orang.


"Itu Laras. Gue jamin. Gue hapal suara dia."


"Tapi Ga, kenapa dia baru datang sekarang?" tanya Alex. Dasar bodoh! Kalau gue tau alasannya gue gak akan sekaget ini.


Gue segera mengambil tas gue. "Lo mau kemana cuy?"


"Gue harus pulang. Laras pasti dirumah gue nungguin gue balik." Gue segera berjalan keluar.


📌


Benar dugaan  gue, seseorang yang selama ini gue cari, gue rindukan kini ada dihadapan gue. Akhirnya setelah hampir 3 tahun gue bisa melihat senyum manis itu lagi.

__ADS_1


"Laras" Gue langsung memeluk erat orang itu. Bahkan gue berharap gak akan ada yang misahin gue sama dia lagi setelah ini.


"Dirga lepasin dong, gue gak bisa napas nih." Gue tertawa sumbang dan segera melepaskan pelukan gue. "Lo kemana aja selama ini? Gue kangen banget sama lo Ras. Jangan tinggalin gue lagi please!!"


"Dirga--" Laras mengelus pipi gue. Sentuhan yang sangat gue rindukan dari dia. "Gue gak akan pergi lagi. Gue akan terus sama lo mulai sekarang."


"Lo janji?" Gue memegang erat kedua tangan Laras. "Gue janji Ga.."


"Makasih Ras." Gue mengecup tangan Laras. Cukup sekali Ras gue kehilangan lo. Jangan lagi, jangan lagi gue kehilangan lo.


"Udah dong kangen-kangenannya Dirga, mami kan juga kangen sama Laras." suara mami berhasil menjauhkan tubuh Laras dari tubuh gue.


"Mami Novi, Laras kangen banget sama mami." Laras segera berjalan menghampiri mami kemudian memeluknya. Kalau mereka sudah berdua gitu, gue gak akan bisa bekutik.


"Iya sayang, mami juga kangen banget sama kamu."


Gue pergi meninggalkan mereka berdua. Karna gue tau, girl time itu terasa menyakitkan bagi kaum adam.


📌


"Jadi lo kemana aja selama ini?"


Laras menyeruput coklatnya kemudian kembali menatap gue. "Ada hal yang harus gue lakuin Ga dan gak bisa gue tinggalin. Maaf udah ninggalin Lo selama ini. Tanpa kabar."


"Laras--" gue menggenggam erat tangan nya.


"Kalau lo ada masalah lo bisa cerita ke gue. Apapun itu gue pasti bantu. Tapi please jangan tinggalin gue lagi. Gue gak bisa Ras."


"Iya Ga, gue gak akan ninggalin lo lagi. Mulai besok gue sekolah di sekolah lo."


"Lo serius?" gue tersenyum bahagia ketika Laras mengangguk mengiyakan pertanyaan gue. "Gue mau sekolah di tempat pacar gue sekolah. Biar gak ada satu cewek pun yang berani dekatin pacar gue."


Astaga...


Gue hampir lupa sama Diandra. Bukan hampir lupa lagi. Bahkan gue udah lupa sama Diandra. Gimana kalau Laras tau soal gue sama Diandra? Tapi kan gue gak ada apa-apa sama Diandra. Jadi Laras gak mungkin marah sama gue. Yang terpenting sekarang itu Laras bukan Diandra.


"Ga? Lo ngelamunin apaan?" lamunan gue buyar setelah mendengar suara Laras. "Gak papa Ras, gue masih gak nyangka aja kalau sekarang dihadapan gue ini beneran lo."


drrttt...


Gue melihat siapa yang menelepon, ganggu malam gue sama Laras aja.


"Siapa Ga? Kok cuma dilihatin?"


Diandra? Kenapa dia nelpon gue?


"Dirga? Kok gak diangkat?" Laras menatapku heran.


"Gak papa gak penting kok. Biarin aja ntar biar gue telpon balik aja." jawab gue.

__ADS_1


Sorry Ndra, kali ini lo bukan prioritas gue. Atau bahkan lo sebenarnya bukan prioritas gue?


📌


__ADS_2