
Selama perjalanan yang ada cuma keributan di motor. Aku baru tau ternyata kak Nagra itu mulutnya sama kayak aku, berisik banget. Tapi ya tetep masih kalem aku sih daripada kak Nagra.
"Ternyata kakak itu berisik ya."
Kak Nagra membuka kaca helmnya "Ekh boncel gue itu gak berisik. Lo yang berisik dari tadi nyerocos aja soal eskrim."
"Ini kan gara-gara kakak. Pokoknya ya gue gak mau traktir kakak. Kan kakak yang ajak pergi jadi kakak yang harus bayarin gue juga." cerocosku. Nih orang udah ambil jatah eskrimku terus nyuruh aku traktir dia lagi. Apaan coba kan gak lucu tuh ya.
"Lo kan udah jatuhin eskrim gue."
"Tapi kan itu jatah eskrim gue kak!!" sungutku. Ih sumpah nih kakak kelas gak mau kalah.
Kak Nagra membuka helm full face nya "Lo mau di atas motor aja? Gak mau makan eskrim?"
Aku melirik sekitar, ah iya udah nyampe ternyata. Aku turun dari motor kak Nagra. Udah naiknya susah turunnya juga susah. Ini motor tinggi banget dah ah.
Aku masih mencoba membuka helm. Ya Tuhan susah banget dah ah.
Kak Nagra membantu aku membuka helm "Lo itu bisanya apa sih? Buka helm gini aja gak bisa. Naik motor susah turun dari motor susah. Makanya Lo itu minum susu biar tinggi. Tumbuh itu--"
"Iya kak tau, tumbuh itu keatas bukan kesamping. Bener kan?" omelku.
Mataku menjelajahi gedung yang ada di hadapanku. Sederhana tapi arsitektur nya aku suka. Banyak eskrim-eskrimnya gitu loh.
"Lo mau liatin gedung ini atau mau makan eskrim sih?" omel kak Nagra sambil merhatiin gue.
"Hehe iya-iya yuk masuk." aku menarik tangan kak Nagra. Yeyy makan eskrim.
"Kamu mau eskrim apa?" wih kak Nagra nawarin aku nih. Jangan-jangan mau di bayarin lagi.
__ADS_1
"Kakak mau bayarin?" tanyaku sumringah.
"Buruan, lama amat sih curut satu ini." sungut kak Nagra.
"Duh kak gue gak bisa liat menunya. Turunin sini nah." pintaku. Pesan eskrimnya itu di kasir gitu jadi sekalian bayar. Iya kayak McD, KFC, jCo gitu loh gais. Karena aku pendek dan meja itunya itu tinggi banget. Aku gak bisa liat menunya.
"Dasar boncel. Samain sama gue aja ya."
"Iya deh kak. Gue cari tempat duduk aja ya kak. Di pojokan aja yuk enak." ucapku. Aku segera mencari tempat dimana aku bisa melihat orang-orang hilir mudik dijalanan.
Kapan ya aku bisa kayak orang-orang gitu, jalan berdua bergandengan tangan, ketawa bareng, bahkan bisa jadi alasan Gaga senyum. Sampai kapan ya Ga aku bisa bertahan buat kamu? Kamu kapan luluhnya sih sama aku?
"Ekh boncel, Lo mikirin apaan sih?" Kak Nagra duduk di hadapanku. Kalau aku perhatiin kak Nagra itu baik, dia itu pendiam setahu aku. Tapi gak tau kenapa dia bawel banget sama aku hari ini.
"Kak Nagra kepo banget sih sama gue. Awas naksir gue. Tapi kalau kak Nagra naksir gue, tenang kak langsung gue tolak kok. Karena hati gue cuma buat Gaga seorang."
Aku mengikuti kegiatan kak Nagra. Sungguh nikmat banget ini eskrim ya Tuhan. "Bukan suka lagi kak, gue cinta banget sama dia. Cinta secinta-cintanya deh pokoknya sama dia. Dia itu pangeran gue pokoknya kak."
Kak Nagra manggut-manggut mengerti "Terus kenapa Lo bisa suka banget sama dia?"
Aku menatap kak Nagra tajam, heran "Kenapa kepo banget gitu? Gak penting kali kak."
Aku memperbaiki posisi dudukku. "Gantian deh gue yang tanya kak, sejak kapan kakak suka eskrim?"
"Sejak gue kecil mungkin." jawab kak Nagra sambil menyuapkan sesendok eskrim miliknya.
"Lo sendiri?" tanyanya
"Gue? Keluarga gue semua suka eskrim, mama, papa, bang Joe semuanya suka eskrim dan nurun deh ke gue." aku menjawab sambil terus memandang kak Nagra.
__ADS_1
Kak Nagra tertawa, "terus kalau ada eskrim nih di kulkas tinggal 1, itu jatah siapa jadinya?"
Aku tertawa mengingat kejadian beberapa hari lalu "Itu kak siapa cepat dia dapat! Sumpah ya kak keluarga gue kalau udah nyangkut tentang hal yang namanya eskrim itu udah gak inget deh mana keluarga mana lawan."
Kak Nagra memperbaiki posisi duduknya "Oh ya? Jadi rebutan gitu?" aku mengangguk mendengar pertanyaan kak Nagra "Iya kak, pernah waktu itu gue makan eskrim, malam itu masih ada dua eskrimnya, gue ambil satu deh kan tinggal satu tuh. Rencananya mau gue abisin tapi waktu itu gue lagi gak pengen makan eskrim banyak-banyak."
Aku menggeser mangkok eskrimku yang sudah tandas "Ekh paginya rumah gue udah berisik banget, mama sama papa itu bukan tipe orang tua yang suka ribut karna pekerjaan kalau dirumah. Mereka ribut pasti karna satu hal."
"Eskrim" kak Nagra dan aku menyebutkan satu kata itu bersamaan.
Aku tertawa "Bener banget kak astaga. Aduh orang tua gue itu emang aneh banget. Cuma karena eskrim mereka berantem kayak gitu. Mama sampai gak mau nyiapin sarapan buat papa kalau papa yang abisin eskrimnya. Kalau mama yang abisin eskrimnya, papa gantian marah dan mama gak akan mau nyiapin makan malam buat papa. Aduh ribet ya kak? Pokoknya gitu deh."
Kak Nagra tertawa "Kasihan amat bokap Lo"
"Kalau bang Joe suka eskrim dari kecil juga?" tanya kak Nagra.
"Bang Joe? Dulu dia gak pernah suka eskrim. Dia pernah cerita ke gue kalau dia benci eskrim! Kenapa? Ya karena itu hal yang buat mama sama papa berantem. Meskipun berantemnya cuma ala-ala aja sih tapi tetap aja. Dia gak suka sama yang namanya eskrim waktu itu."
Aku menerawang lurus kedepan. Mengingat dengan jelas penyebab kak Joe jadi suka banget sama yang namanya eskrim "Tapi waktu ulang tahun gue yang ke-8 gue, mama dan papa ngisengin bang Joe. Gue bilang kalau gue sakit, terus gue minta permintaan terakhir sama bang Joe. Gue mau bang Joe makan eskrim bareng gue, papa dan mama di kedai tempat biasa kita makan eskrim sekeluarga. Awalnya bang Joe nolak, tapi karena gue adik satu-satunya dia akhirnya ngalah. Dan untuk pertama kalinya lidah dia itu nyentuh eskrim dan yah dia jatuh cinta sama eskrim pada sentuhan pertama."
"Pantasan Lo selalu bersikap ceria." gumam kak Nagra pelan. Tapi aku masih dengar dengan jelas ucapan kak Nagra.
"Kenapa kak?"
Kak Nagra tersenyum "Ya udah pulang yok. Udah sore ntar gue dimarahin sama bang Joe lagi kalau Lo pulang kemalaman."
Aku mengangguk kemudian mengikuti langkah kak Nagra.
📌
__ADS_1