
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Ah pusing sekali.
UKS?
Apa yang tadi itu bukan mimpi? Apa tadi itu kenyataan ya?
"Mbaknya sudah sadar?" mbak Ana tersenyum sambil memberikan segelas teh yang em-- sudah gak hangat lagi.
Aku meminum sedikit teh itu "Makasih mbak."
Mbak Ana tersenyum "Kenapa mbak?"
"Mbak, siapa yang bawa saya kesini?" tanyaku pelan.
"Lo udah bangun?" suara itu mengejutkanku.
Dia?
Jadi yang tadi itu beneran? Aku pacaran ya sama Dirga?
"Saya permisi dulu ya mbak, mas.." mbak Ana pamit meninggalkan kami berdua.
Aku memegang keningku. Apa kita beneran udah pacaran? Apa dia beneran cium keningku?
"Lo kenapa sih? Ngelamun gitu? Sakit? Pulang deh! Gak usah nyusahin gue!!"
Loh??
"Bukannya aku pacar kamu ya?" ucapku pelan. Tapi nyatanya Dirga masih mendengar ucapanku.
"Lo lagi halu? Bisanya Lo mikir kita--"
"Diandra! Kamu gak papa? Apa yang sakit??" kehadiran kak Nagra mengejutkanku.
"Aku gak papa kak. Tadi cuma sedikit pusing. Mungkin efek ujan-ujanan." jawabku pelan.
"Kok Lo di--"
"Ekh kak.." aku menghentikan ucapan kak Nagra. Aku tau dia pasti heran kenapa Dirga ada disini juga "Anterin aku kekelas aja yuk. Atau kekantin. Gak betah di sini lama-lama."
"Oke deh. Ya udah sini aku bantu jalan." kak Nagra memapahku perlahan.
Andai aja kamu Ga yang giniin aku. Andai aja semua kejadian tadi nyata. Sungguh aku akan benar-benar ngejaga kamu. Aku gak akan ngelukai kamu.
"Duluan ya Ga. Lo di cari Laras tuh." seru kak Nagra.
__ADS_1
"Iya. Dia dikantin kan? Bentar lagi gue nyusul dia."
Laras? Namanya gak asing.
"Kita ke kantin aja deh kak." putusku setelah keluar dari UKS.
"Kamu yakin? Mending kamu di kelas aja deh biar aku beliin aja makannya!"
Aku menggeleng keras. Aku harus meyakinkan sesuatu itu.
Akhirnya kak Nagra pasrah mengikuti permintaanku.
📌
"Gak ada tempat kosong kak.." ucapku kecewa.
"Ekh tuh ada Laras sama Dirga. Situ aja yuk. Lagian Fany Fabian sama Vanya mana sih? Kan mereka gue suruh jagain boncel gue kenapa mereka ngilang coba.." cerocos kak Nagra.
Aku tertawa "Aelah mereka bukan pengawalku kali kak.."
Akhirnya aku mengikuti langkah kak Nagra untuk ke meja Laras dan juga Nagra.
**Tunggu..
Cewek ini kan**..
Tapi aku tetap mengikuti langkah kak Nagra dan duduk berhadapan dengan Dian dan juga cewek itu.
"Hai Ndra??" sapa cewek itu. Aku mengangguk tersenyum. Duh Ndra kamu kok pelupa gini sih. Dia siapa ya?
"Yah Lo lupa ya sama gue? Kita pernah ketemu di cafe. Didepan toilet." ucapnya sumringah. Ah iya dia Laras..
Serius Ras? Oke gue balik sekarang.
Percakapan itu seketika terngingang di telingaku. Jadi cewek ini yang waktu itu jadi alasan Dirga pergi ninggalin aku? Jadi cewek ini yang tadi disebut kak Nagra waktu di UKS?
Jadi dia Ga alasan kamu nyuruh aku berhenti?
Aku tersenyum "Gue ingat kok. Maaf ya tadi sempat lupa sih. Jadi Lo udah jadi murid baru disini? Masuk kelas apa?"
"Gue masuk kelas IPS 2 gak asyik kan? Padahal gue berharap bisa sekelas sama Lo gitu. Di kelas itu gak ada yang asyik anaknya." jawabnya sambil merengut.
"Bilang aja Lo mau sekelas sama gue kan???" goda Dirga. "Idih gak banget deh. Yang ada ntar Lo nyuruh gue ngerjain tugas Lo mulu.."
"Ekh iya Ga.." Laras menyendok kan baksonya ke mulutnya "Selama di SMA ini Lo udah rajin nugas sendiri? Atau masih dibantu sama orang?"
__ADS_1
Aku tersedak mendengar pertanyaan Laras. Memang bukan aku yang di tanyai. Tapi pertanyaan itu ada sangkut pautnya sama aku. Jangan sampai Dirga ngomong soal aku.
"Mana pernah dia Ras ngerjakan sendiri. Tugas dia di kerjain sama anak IPS 5 itu loh si Putri. Tuh yang duduk di sebelah sana yang dari tadi lihat sini dengan sinis matanya kek mau keluar aja." sahutku sambil menunjuk si Putri. Biarin deh aku bohong kali ini.
"Wah gila juga ya Lo. Anak kelas lain Lo suruh kerjain tugas Lo. Bisa-bisa gue kena nih."
Dirga mengacak rambut Laras "Gue gak akan nyuruh orang yang spesial di hidup gue ngelakuin hal yang membuat dia dipandang rendah banyak orang."
Deg...
Aku ternyata benar-benar halu ya. Gak mungkin banget gitu aku orang kayak aku yang setiap hari kamu suruh ngerjain tugasmu jadi orang yang spesial buat kamu. Orang yang kemaren kamu teriakin cewek murahan.
Aku miris mengingat kejadian itu. Harusnya kemaren aku tuh tau diri bukannya ngelunjak.
"Woy woy!!! Berasa double lunch nih ya. Kita-kita gak di ajak!!! Apa-apaan nih!!!" tiba-tiba segerombolan makhluk tak kasat mata datang menghampiri kami berempat.
"Tempat penuh..." sahut kak Nagra pelan.
"Aelah Gra gak boleh gitu bro." jawab Asen.
"Hai Ndra. Lo gak papa? Tadi gue denger lo pingsan?" Alex duduk disampingku.
"Gue udah baikan kok." aku berusaha tersenyum sebaik mungkin.
Aku menyingkirkan sawi di mangkok mie ayamku. Sungguh aku membenci sayuran itu.
"Siniin deh sawinya buat aku aja." kak Nagra menyendokkan sawiku ke mangkoknya.
"Kakak sih. Aku kan dah bilang aku maunya eskrim malah gak boleh." omelku.
"Lo gak suka sawi?" tanya Laras. Aku menggeleng. Bukan gak suka lagi. Tapi benci.
"Samaan ya Ga kayak lo. Lo juga gak suka kan? Keseringan gue yang makan."
Aku menatap Laras tak mengerti. Mungkin Asen dan yang lainnya juga gitu. Bahkan kak Nagra pun menatap Laras.
"Kenapa hey? Gue salah ngomong? Yah lucu aja gitu kok bisa samaan kan makanan kesukaannya. Oiya Ndra Lo juga suka makan--"
"Ras, gue abisin pentol lo kalau lo ngomong terus!!!" Potong Dirga.
"Ekh jangaaaaann behantaman kita ntar."
Aku kembali menyendokkan mie ayamku. Laras mau nanya apa? Kenapa Dirga memotong ucapan Laras?
Ada apa sih sebenarnya??
__ADS_1
📌