
"Lo hobby banget ya makan eskrim akhir-akhir ini. Atau ini udah jadi kebiasaan lo semenjak gue ngilang?" Harusnya hari ini genap 3 tahun kami pacaran. Kenapa gue bilang gini?
Ya karena memang begitu faktanya. Setelah jadian sama gue beberapa bulan kemudian Laras menghilang. Dan sampai dia balik kemaren, belum ada kata putus diantara kita berdua.
Sampai di hari itu. Hari dimana gue sama Laras memutuskan untuk berteman sebagai mantan.
Gue menyendok eskrim "Gue suka eskrim karena ternyata eskrim itu enak Ras, eskrim itu nenangin banget dah kalau lo lagi badmood."
"Jadi sekarang makanan favorit lo eskrim?" tanya Laras.
Gue mengangguk cepat. Gue menyukai eskrim. Yah sangat menyukainya.
"Suka rasa apa?" tanya nya lagi.
"Gue paling suka coklat. Gak tau deh apa yang buat gue suka sama rasa itu. Intinya gue jatuh cinta untuk pertama kalinya sama eskrim karna rasa coklat."
"Aneh tau gak!!"
"Aneh? Aneh kenapa nah? Gak ada yang salah sama eskrim?"
"Iya lo itu aneh. Lo suka eskrim karna Diandra kan? Bukan karna lo emang suka! Lo kangen Diandra kan Ga?"
Gue terdiam. "Lo apa-apa sih Ras? Gak usah ngarang cerita deh. Lo cemburu ya sama Diandra??"
Laras tertawa "Heh dodol! Harusnya gue yang nanya gitu ke lo. Lo gak cemburu lihat Diandra makin dekat sama kak Nagra dan semakin jauh sama lo??"
Gue mengalihkan pandangan gue. Banyak orang berlalu lalang di kedai ini. Gue jadi ingat pertama kali gue perang dingin lagi sama Nagra setelah Laras menghilang. Semenjak kejadian di rumah hantu itu hubungan gue sama Diandra kembali normal. Iya normal!
Layaknya seorang teman biasa. Diandra semakin jauh sama gue. Kami cuma bertegur sapa ala kadarnya aja. Kadang setiap ada pr gue coba minta jawaban sama dia. Jawaban dia selalu sama! 'Buku gue udah dipinjam sama Fabian.' entah itu atas dasar permintaan Diandra atau gimana. Selalu Fabian yang pake buku Diandra. Dan gue akhirnya pinjam buku Fany atau Vanya.
"Woy lo bengong terus sih? Udah semenjak kita putus lo sama Diandra gak ada kemajuan sama sekali. Yang ada dia justru makin jauh."
"Kenapa lo lebih dukung gue sama Diandra sih Ras? Kenapa lo gak dukung Nagra untuk sama Diandra? Dia Abang lo. Meskipun cuma tiri."
Laras menggeleng cepat "Gue tau sesuatu tentang Nagra yang lo gak pernah tau Ga. Tapi sorry banget gue sama Nagra gak bisa ceritain ini ke lo."
Gue mengangguk paham. Mungkin masalah keluarga.
"Kenapa lo gak coba lagi sih perjuangin dia? Kalau lo sayang lo perjuanginlah!!"
"Dia udah bahagia sama Nagra Ras, gue gak tega ngancurin kebahagiaan dia lagi."
"Heh dodol!!" Laras melemparkan tisu kearah gue. Untungnya gak masuk ke mangkok eskrim gue.
"Lo ingat gak sih? Di party 67 SMA Bangsa kemaren Diandra nyanyi lagu apa hah? Lo ingat gak hari dimana kita putus? Hari dimana Diandra nyanyi lagu yang akhirnya buat gue paham. Hari dimana lo juga sadar sama perasaan lo sendiri. Ah lo itu ya gak berubah! Kalau gak diomelin gak akan maju! Mau sampai kapan lo kayak gini hah? Sok kuat didepan kak Nagra. Kita udah kelas 3 Ga. Bentar lagi lo bakalan beneran jauh sama dia. Seenggaknya lo jujur sama perasaan lo ke dia. Seenggaknya dia tau kalau lo jatuh cinta sama dia. Lo jatuh cinta sama eskrim karna dia."
Bayangan tentang kejadian di hari itu kembali lagi ke ingatan gue...
📌
"Hai malam semuanya. Gue Diandra Wijaya. Teman-teman gue sering manggil gue Andra. Katanya kalau manggil Diandra kepanjangan. Jadi buat kalian yang belum kenal gue, bisa panggil Diandra aja. Please jangan Andra ya." ucap gadis itu dengan senyuman khasnya.
Malam ini gadis itu terlalu sempurna di mata gue yang rada burem ini. Harusnya dari dulu gue sadar kalau Diandra terlalu sempurna untuk dilepaskan. Meskipun hubungan gue gak sebaik dulu, dan masa SMA gue gak seriweh dulu lagi. Gue cukup bahagia sampai saat ini karna masih bisa lihat Diandra senyum meskipun bukan lagi karena gue.
"Gue mau nyanyiin sebuah lagu. Pengennya duet sih. Tapi pasti gak akan ada yang mau ya duet sama gue??"
"*Gue mau woy!!"
"Ah Diandra udah comel, cute, pinter nyanyi, pinter main gitar pula. Idaman banget dah ah!!"
"Kok dulu Dirga bisa ya ngelepasin cewek se hebat dia??"
"Gue jadi Dirga sih nyesel 7 turunan*."
Diandra memperbaiki posisi mic-nya "Tapi gak usah lah ya, gue pengen nyanyi sendiri untuk saat ini." lagi-lagi Diandra tersenyum.
Semenjak jauh dari gue, Diandra sering banget senyum. Dia jadi suka senyum sama setiap orang yang lewat atau dia lewati. Bahkan ada banyak cowok dari angkatan gue dan angkatan atas coba ngedeketin Diandra. Tapi waktu tau ada si macan galak Nagra mereka semua mundur perlahan. Termasuk gue.
"Gue udah di teriakin mas-mas MC. Kita mulai aja ya. Buat yang lagi jatuh cinta sama orang tapi cinta lo bertepuk sebelah tangan, lo pasti akan suka lagu ini.."
Diandra mulai memetik kan senar gitarnya perlahan..
"Pasti kalian akan langsung julid-in gue. Yang bilang 'wah pengalaman ya Ndra. Pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan ya Ndra..' jawabannya iya gais. Tapi percaya dibalik itu semua gue bersyukur bisa kenal dia bahkan pernah jadi bagian dari hidupnya meskipun cuma sebentar."
__ADS_1
"Armada awas nanti jatuh cinta.." semua orang bertepuk tangan. Termasuk gue.
Aku punya niat yang baik
Coba ku ungkapkan pada mu
Kejadian itu kembali lagi terputar dikepala gue. Pertama kali Diandra nembak gue. Untuk pertama kalinya gue di tembak sama cewek dihidup gue.
Berharap kamu kan menjadi
Rencana besar di hidup ku
"Aku mau Dirga jadi suami aku di masa depan nanti. Sampai kapanpun selamanya aku akan jadi Diandranya Dirga. Sampai waktu yang berhentiin hidup aku." Gue Mengingat kata-kata itu yang pernah gue baca di buku diary Diandra.
Tapi kau bilang "Pergi sana"
Kamu tak mau melihat diri ini selamanya
"Gue aja capek Ndra liat perjuangan lo! Lo gak capek apa? Mending lo berhenti kejar-kejar gue!!" Kata-kata yang menyakitkan itu kembali terbayang di kepala gue. Kata-kata yang kini ngebuat Diandra jauh dari gue. Jauh dari jangkauan gue.
Awas nanti jatuh cinta
Cinta kepada diri ku
Jangan jangan ku jodohmu
Kamu terlalu membenci
Membenci diriku ini
Awas nanti jatuh cinta padaku
Gue tersenyum miris mendengari lirik bagian ini. Gue udah jatuh Ndra! Gue jatuh cinta sama lo. Gue sendirian. Gue jatuh didalam lubang tanpa lo mau keluarin gue dari situ. Lo ngebiarin gue sendirian disini. Karna dulu gue pernah ngebiarin lo sendirian juga disini. Maafin gue Ndra..
**Aku punya niat yang baik
Telah ku ungkapkan padamu
Kau tetap bilang
Kamu tak mau melihat diri ini selamanya
Awas nanti jatuh cinta
Cinta ke pada diriku
Jangan jangan ku jodoh mu
Kamu terlalu membenci
Membenci diri ku ini
Awas nanti jatuh cinta padaku
Awas nanti jatuh cinta
Cinta ke pada diriku
Jangan jangan ku jodoh mu
Kamu terlalu membenci
Membenci diri ku ini
Awas nanti jatuh cinta padaku
(Awas jatuh cinta)
(Cinta kepada diriku)
Jangan jangan ku jodoh mu
Kamu terlalu membenci
__ADS_1
Membenci diri ku ini
Awas nanti jatuh cinta
Awas nanti jatuh cinta
Awas nanti jatuh cinta
Pada ku**
Gue pergi dari depan panggung. Gue berjalan lurus tanpa tau tujuan gue kemana. Ternyata tanpa gue sadar gue berjalan ke ruang musik. Tempat kejadian naas itu. Tempat gue menyakiti Diandra.
"Gue nyesel Ndra. Maafin gue. Maafin kalau gue baru menyadari semuanya. Gue baru sadar kalau ternyata lo yang gue mau. Bukan yang lain. Maafin gue Ndra.." gue terduduk lesu ditempat Diandra menangis dalam diam kala itu.
"Gue kangen lo Ndra. Gue kangen semua tentang lo. Gue kangen cerewetnya lo, bawelnya lo ke gue. Rayuan receh lo ke gue. Semua tentang lo gue kangen.."
"Gaaaa..." seseorang menepuk bahu gue. Gue terkejut ternyata ada Laras disini.
"Duduk situ yuk, ada yang mau gue omongin." Laras menuntun gue duduk di kursi taman depan ruang musik.
"Ras gue gak bermaksud--"
"Iya Ga, gue ngerti kok. Gue tau sejak awal perasaan lo bukan lagi buat gue. Gue tau semua itu Ga, gue cuma butuh waktu sedikit lagi untuk bisa ngebuat lo yakin sama perasaan lo sendiri." Laras menyentuh tangan gue lembut.
"Ga, lo bisa ungkapin semuanya ke Diandra sekarang. Menurut gue, kita lebih cocok temenan. Ya gak sih? Gue ngerasa lega aja gitu sekarang. Akhirnya lo sadar sama perasaan lo sendiri."
"Maaf.." cuma kata itu yang bisa keluar dari mulut gue.
"Heyy apaan sih. Gak usah minta maaf Ga, gue gak papa. Lo tau memang butuh waktu lama buat sadar sama perasaan kita sendiri. Gue boleh jujur sama lo?"
Gue menatap Laras heran. Ada yang dia tutupin lagi dari gue?
"Gue suka sama kakak kelas gue sendiri waktu di Singapure kemaren. Awalnya gue pikir itu bukan rasa suka. Cuma rasa kagum biasa. Tapi lama kelamaan gue sadar Ga, perasaan gue buat lo udah lama hilang."
"Jadi kita gimana?" tanya gue pelan.
"Gue rasa kita bisa jadi teman yang baik. Lo tetap bisa sharing ke gue tentang apapun itu. Jadi mantan rasa teman gitu. Gimana?" gue menatap Laras ragu. "Lo yakin lo gak papa?"
Laras mengangguk tersenyum "Gue gak papa. Gue baik-baik aja. Sangat-sangat baik.." gue tersenyum "Ada ya gitu habis putusan bukannya keadaan nya buruk ini malah baik-baik aja.." kami pun berpelukan bukan lagi sebagai pasang kekasih. Tapi sebagai teman biasa..
📌
"Jadi lo tetap mau stuck disini buat Diandra?" Laras membuyarkan lamunan gue tentang Diandra dan hari itu.
"Gue harus gimana Ras? Gue ngemis-ngemis gitu ke dia minta dia balik? Ras ucapan gue terlalu nyakitin dia kemaren. Gak mungkin dia mau balik ke gue lagi."
Laras mendengus kesal "Mana sih Dirga yang gue kenal dulu? Yang gak pernah berhenti sebelum apa yang dia mau itu tercapai? Ah lo tuh lemah banget!!!"
Gue mengusap rambut Laras "Gue coba ya! Doain gue. Gue gak tau apa gue bisa rebut Diandra dari Nagra. Nagra terlalu sempurna daripada gue."
"Mulai besok lo harus melakukan gencatan rayuan buat Diandra.." ucap Laras sambil tertawa.
"Anjey lah gencatan senjata kayak mau perang aja."
"Udah pokoknya lo coba dekatin Diandra ya. Gue jamin dia masih punya rasa sama lo."
Gue terdiam sebentar. Ulang tahun SMA Bangsa kan udah beberapa bulan yang lalu. Apa iya Diandra masih suka sama gue?
"Lo yakin? Lagu itu kan dia nyanyiin udah beberapa bulan yang lalu."
"Gue yakin 100% bahkan 1000% kalau Diandra masih nyimpan rasa sama lo."
Gue menyendokkan satu sendok terakhir eskrim milik gue. "Jadi lo mau kuliah dimana setelah ini?"
"Gue milih di sini aja sih. Pengen hidup disini aja. Lo sendiri? Lo yakin lo mau ke luar kota? Kenapa lo gak kuliah di sini aja? Sama teman-teman lo."
Gue memejamkan mata sebentar "Gue gak yakin sebenarnya. Tapi kalau Diandra justru semakin jauh, gue yakin gue harus pergi dari sini. Karna udah banyak luka yang gue buat sendiri di sini."
"Tapi hidup kan gak melulu soal Diandra Ga, ada banyak kenangan SMP sampe SMA lo disini. Bahkan ada tentang gue kan?"
"Ada beberapa hal yang bisa selalu lo kenang Ras dalam hidup. Tapi ada beberapa hal yang harus lo pendam dalam-dalam, dan perlahan menghapusnya dari ingatan. Gue cuma harus ngilangin perasaan gue ke dia. Gue harus jauh dari dia. Mungkin dengan itu gue bisa ngejalanin hidup normal tanpa rasa cinta ke dia setelah ketemu dia lagi nanti."
Laras mengangguk mencoba memahami atau dia mencoba menerima keputusan gue. Gue harus ngomong sama Diandra. Gue harus bisa ngungkapin semuanya ke Diandra.
__ADS_1
Sebelum semuanya tentang lo benar-benar jauh dari jangkauan gue.
📌