
"Iya Ga lo duluan aja gak papa. Gue bisa minta antar pak satpam nanti buat cari ruang kepala sekolah."
06.45 gue masih berdebat dengan Laras. Gue terus memaksa Laras supaya dia mau gue antar. Tapi sialnya dia lebih memilih pak satpam daripada gue.
"Udah buruan berangkat ntar lo telat. Gue kan anak baru telat gak papa."
Gue mencium kening Laras. Gue merindukan aromanya. Benar-benar buat gue kecanduan.
"Gue duluan kalau gitu. Kalau bisa lo masuk kelas gue aja ya." Laras tertawa seraya mengangguk.
Gue mengambil kunci motor gue, Hari ini gue lagi pengen bawa motor mungkin gue bisa goncengan sama Diandra.
Tunggu!!
Diandra??
Kenapa gue justru mikirin Diandra sih? Shiit!!
Gue segera melajukan motor gue berharap bayangan Diandra hilang dari pikiran gue.
📌
Gue terhenti melihat seseorang yang kini berada disamping Diandra. Siapa dia? Kok bukan Nagra. Siapa lagi yang kegatelan sama si Diandra sih?
"Woy lihat-lihat baee kerjaannya.."
"Heh bos samperin atuh kalau sayang.."
"Ingat pak bos, bu bos udah balik masak masih mau sama si bocil?"
Gue memasang earphone kemudian pergi meninggalkan mereka. Malas banget gue dengerin ocehan busuk mereka.
"Bgsd tuh orang kita ditinggalnya!!"
"Mereka kenapa lagi?" Iqbal tiba-tiba aja nyamperin gue. Diantara mereka bertiga orang yang jarang banget ngina-ngina gue, jarang banget ceng-cengin gue cuma si Iqbal. Memang Iqbal paling debest.
"Mereka gilakan memang?"
"Lo bete begini karena Diandra sama cowok lain?" tanya Iqbal.
"Lo gak usah sok tau." jawab gue sinis. "Lo gak usah pura-pura sok baik-baik aja cok!! Gue tau isi hati lo gimana!!"
"Gue cuma mau bilang--" Iqbal berhenti dihadapan gue. "Ikutin isi hati lo. Itu hati Ga yang dipakai jangan dibuat main-main. Apalagi hati perempuan ntar lo sendiri yang ribet."
Iqbal pergi kekelas duluan meninggalkan gue yang masih terdiam.
ikutin isi hati lo...
Gue aja gak tau apa yang ada di hati gue gimana gue mau ikutin?
Ah sial!!
Gue berjalan lesu ke arah kelas.
drtt..
__ADS_1
Gue mengambil hendphone dari saku, whatshaap dari Iqbal?
Iqbal
Namanya Fabian. Teman kecilnya Diandra. Murid baru disini. Punya pacar namanya Nadia.
Gue tersenyum membaca pesan Iqbal. Dia benar-benar bisa diandalkan.
Gue segera berjalan ke kelas dengan wajah bahagia.
📌
Gue menghampiri Iqbal kemudian membisikkan sesuatu di telinga Iqbal "Makasih banget Bal!"
"Pagi Gaga sayang.." Gue terkejut mendengar suara cempreng itu kembali menyapa gue. Baru sehari suara itu hilang rasanya sepi telinga gue.
"Lo udah sehat Ndra? Gue kira lo masih amnesia kayak kemaren?" Gue tersenyum mendengar omongan Asen, memang Andra kemaren seperti orang amnesia. Tiba-tiba bersikap kasar sama gue.
"Iya, lagian lo tiba-tiba aja ngediemin Dirga."
Gue kembali focus pada hendphone gue. Kenapa Laras belum menelepon gue? kenapa dia belum masuk kelas?
"Ga? Kamu marah sama aku? Kenapa chatku semalam cuma kamu read? Kenapa kamu jadi dingin lagi sih? Padahal kemaren kan gak dingin begini?" Gue menatap Diandra, lo gak tau kan Ndra banyak hal yang terjadi kemaren dan tadi pagi. Iya! Lo gak tau itu semua!!
"Lo tau bawel gak? Gue lagi gak mood ngomong makanya gue diam aja." Andra terdiam. Entah dia paham maksud gue atau justru marah sama omongan gue barusan. Tapi gue teringat chat whatshaap darinya semalam.
Gue menatap tampilan Diandra hari ini. Tentunya dari belakang. Tumben rambut pendeknya di kucir kuda. Gue menarik keras kuciran itu. Terdengar umpatan dari sang empunya rambut membuat gue tersenyum geli "Duh sakit anjey!!"
Diandra membalikkan tubuhnya menghadap gue sambil menggembungkan pipinya. Tuhan pengen banget gue cubit pipi chubbynya dia. "Lo udah maafin gue kan soal kejadian kemaren?"
Andra terdiam. Kemudian tersenyum "Udah Gaga sayang. Aku udah lupain itu kok. Aku yang salah harusnya aku gak banyak tanya." Emang! bagus deh kalau lo nyadar. Lo bawel banget pengen tau kenapa gue bisa sebaik itu ke lo.
"Kenapa lo nyuruh gue percaya sama lo? Padahal percaya sama makhluk ciptaan itukan musyrik?" Bukannya menjawab Diandra justru melongo mendengar pertanyaan gue. "Kamu kayaknya harus di ruqyah deh Ga!!"
Sialan!!
drrttt..
Laras :*
*Ga, Gue harus pergi ada sesuatu yang harus gue urus. Gue janji gue akan cepat balik. By the way gue tadi udah ketemu sama kepala sekolah lo. Gue masuk dikelas XI IPS2. Kayaknya kita gak sekelas ya? Soalnya tadi kata kepala sekolahnya ada murid baru juga di kelas lo dan slot disitu udah penuh. Gila ya kelas aja pakai slot segala.
.
.
Udah gak usah khawatir. Gue balik gue janji gak akan hilang kayak kemaren. Oke. I love you*.
Gue tersenyum tipis membaca pesan dari Laras. Gak papa deh gak sekelas yang penting gue bisa satu sekolah sama dia. Gue mengetikkan sebuah pesan untuknya..
Me : Iya Laras bawel. Lo hati-hati disana jangan lupa makan. Cepat balik gue tunggu! Love you too Ras!!
"Ga?? Kamu sakit? kok senyum-senyum sendiri?" Diandra mencoba memegang keningku. Astaga nih bocil bisa gak sih gak usah ganggu gue sama Laras.
"Apaan sih? Lo itu yang sakit!!" jawab gue sambil menepis tangan mungil miliknya. "Aelah Ga, gitu amat sama aku. betein ah kamu!!"
__ADS_1
Bodok! Gue gak peduli.
"Selamat pagi anak-anak." Bu Alma guru favorite gue masuk bersama--
Tunggu!!
Cowok itu kan??
"Ibu disini cuma mau memperkenalkan teman baru untuk kalian. Ayo nak perkenalkan dirimu!"
Cowok itu merapikan jaket denim miliknya. Apaan nih gaya dia sok-sok an kayak Dilan. "Hai gais. Kenalin gue Fabian Husein. Kalian bisa panggil gue Bian. Salam kenal. Terima kasih."
"Fabian lo keren bingiitzzz sumpah.." Terdengar suara bisikan maut dari makhluk depan gue.
Apa? Gue gak salah dengar?
Andra puji cowok lain didepan gue? Diandra Wijaya? Dasar cewek gak bisa lihat yang beningan dikit.
"Baik Fabian. Kamu bisa duduk di sebelah Rio. Baik anak-anak ibu harap kalian bisa berteman baik dengan Fabian. Kalau begitu ibu permisi dulu." Bu Alma segera pergi meninggalkan kelas gue. Tapi belum nyampai 2 menit beliau balik lagi.
"Ibu sampai lupa. Kalian buka buku sosiologi kalian halaman 145-148 disitu ada soal-soal kalian kerjakan di kertas kemudian taruh di meja bu Agus. Sampai jam pelajaran sosiologi habis ya."
"Gila lo! Baru masuk langsung gak ada guru! Sumpah lo pembawa berkah buat kelas gue Yan!!" suara bocil membuat gue terfokus pada dua insan yang sedang berbicara didepan gue.
Fabian duduk disebelah Rio sama aja seperti di seberang Diandra. Di seberang Diandra sama aja didepan gue. Jadi gue bisa dengerin percakapan mereka.
"Lebay!" sahut gue pelan. Memang dasarnya Andra itu lebay. Cuma ginian doang dibilang pembawa berkah.
"Ekh Gaga. Hehe.." Andra tersenyum menatap gue. "Fabian. Ini cowok yang sering gue ceritain ke lo. Dia pangeran Gaga gue."
"Alay lo!" jawab gue singkat kemudian bangkit dari tempat duduk gue. "Mau kemana Ga?"
Gue mengeluarkan pod gue kemudian menyesapnya dan menghembuskan didepan Diandra "Gaga asapnya!!!" omel Diandra.
Gue tertawa mendengar omelan Andra "Lo banyak tanya sih! Gue mau keluar bosan dikelas."
"Hah bosan?" Andra masih menutupi hidungnya dari bau pod gue. "Kita baru masuk berapa menit yang lalu Ga! Kamu udah mau keluar aja. Mending kamu dikelas aja kerjain tugas dari bu Agus!!" Andra menarik tangan gue dan membuat gue duduk di bangku gue lagi.
Andra bangkit dari tempat duduknya kemudian berdiri disamping gue. "Siniin tas mu!"
"Buat apa?" nih bocil kenapa sih minta-minta tas gue. "Siniin buruan!!" gue memberikan tas gue padanya. Kemudian dia mengeluarkan buku sosiologi gue dan juga buku tulis gue. "Duh kamu gak bawa pulpen Ga?" gue menggeleng menjawab pertanyaan Andra. Andra langsung mengambil kotak pensil kuning miliknya kemudian mengeluarkan satu pulpen miliknya.
"Nih aku pinjemin pulpen. Kita kerjain bareng tugasnya." Diandra memutar kursinya menghadap ke gue dan membuka buku sosiologi miliknya.
Gue menatap pulpen milik Diandra. Ada tulisan melingkar di pulpen itu Punya Diandra pacarnya Dirga. Gue tersenyum membacanya. Lo benar-benar gila Ndra.
"Gila pak bos bisa nurut sama si bocil men!!"
"Lanjutkan cil!! Kayaknya pak bos klepek-klepek nih sama si bocil!!"
Gue ingin marah mendengar ocehan busuk dari Asen dan juga Ridho tapi semua yang diucapkan mereka benar. Dengan polosnya gue menuruti permintaan Diandra untuk tetap duduk dikelas dan mengerjakan tugas bersamanya.
**Ah Ndra!!!
Gue gak tau**!!
__ADS_1
Gue gak bisa pastikan perasaan gue sendiri. Gue itu punya Laras. Harusnya gak begini. Kayaknya gue harus ngomong ke Nagra dan biarin Nagra yang menang.
📌