
"Pagi sayangku.." sapa seseorang yang terus menemaniku selama 3 bulan belakangan.
"Hm.. aku lagi gak mood Ga.." jawabku sambil meletakkan tasku dilaci. "Aelah kenapa sih? Kamu bete sama aku? Tadi aku jemput gak mau. Terus sekarang di sapa gitu."
Aku menatap laki-laki yang kini duduk dihadapanku sambil tersenyum "Makasih.."
Aku tertawa melihat ekspresinya saat aku mengucapkan terima kasih "Kenapa melongo gitu?" tanyaku sambil mengelus pipi lembutnya.
"Kamu gak papa? Tadi bete terus sekarang senyum sendiri. Aku jadi takut cil kamu kesurupan!" jawabnya. Aku semakin tertawa mendengar perkataannya "Tuh kan ketawamu mirip kuntilanak."
Aku merengut kesal. Bisa-bisanya aku di bilang mirip kuntilanak. "Ekh iya maaf deh. Gak maksud bilang begitu. Aduh." Dirga menggaruk-garuk kepalanya asal.
"Kamu tau gak?" Aku menatapnya sambil terus tersenyum. Dia menggeleng sambil menunggu kelanjutan ucapanku. Aku mengelus pipinya. "Aku gak pernah nyangka semuanya bakal kayak gini tau. Aku gak nyangka aja kamu bisa suka sama aku terus kita pacaran kayak gini. Aku gak lagi halu kan?"
Dirga tersenyum kemudian dia melakukan hal diluar dugaanku.
Cup..
"Dirga ihhh!!!!" Aku menyentuh keningku kemudian kembali menatapnya "Sekarang masih mikir kalau ini halu?"
"Kan gak gitu juga kalau mau buat aku percaya!!" sungutku sambil mencubit lengannya keras. Untung aksi nekat Dirga gak dilihat anak-anak lain. Kalau iya bisa jadi bahan julid kita berdua.
"Gak papa, itung-itung coba-coba Ndra, biar biasa gitu loh kalau kita udah nikah nanti." jawab Dirga tanpa rasa bersalah.
"Gaga ih ya Tuhan mulutnya!! Coba di filter. Kita tuh masih kelas XI kali. Udah nikah-nikah aja."
"Gak papa kali Ndra, mengkhayal setinggi mungkin. Agar tercapai."
Aku terdiam. Tiba-tiba aku merasa takut akan suatu hal yang buruk antara aku sama dia "Ndra kok diam?"
__ADS_1
"Kalau ada sesuatu yang buat kita gak bisa bareng-bareng terus gimana Ga?" tanyaku pelan. Aku tau dia sensitif banget kalau bahas ini. Dia paling gak suka ada sesuatu yang membuat ia kehilangan hal yang berharga miliknya.
Tunggu!!
Memang aku ini hal berharga miliknya?
"Ndra, kok tanya gitu? Kamu gak mau sama-sama aku terus? Kamu masih benci ya sama aku karna waktu itu aku nyuruh kamu mundur? Jangan berpikir kayak gitu please. Aku tau aku salah soal itu. Maaf ya please." aku menggeleng mendengar ucapannya. Bukan itu yang kumaksud.
Aku menggenggam erat tangannya "Ga, kita masih kelas 2 SMA. Masih panjang kan jalan kita. Aku takut aja kalau nanti kita gak bisa sama-sama lagi."
"Hey, hey hey--" Dirga tersenyum sambil mengelus pelan rambutku "Yang kita bisa lakuin cuma berdoa kan? Yang terpenting sekarang, untuk saat ini yang ada cuma kamu sama aku yang udah jadi kita. Gak ada orang lain selain kita didalamnya. Paham kan?"
"Untuk apa yang terjadi didepan aku juga gak bisa jamin. Itu ketentuan Tuhan buat kita-kita. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin buat kamu terus ngerasa nyaman didekat aku. Jadi kalau kamu mau ninggalin aku kamu akan mikir dua kali, Bisa gak ya aku dapatin yang kayak ayang Gaga.." ucapnya sambil tertawa dan mengacak rambutku.
"Gaga, please stop acak-acak rambutku." Aku kesal sekaligus senang dengan tingkah Gaga, akhirnya setelah penantian panjangku, aku bisa menikmati quality time sama dia.
"Habis aku potong lagi tau rambutku. Habis aku kesel, kemaren lusa tuh si abang Nagra tersayang negur aku, dia bilang kalau aku gak ngehitamin rambutku, aku bakal dipetal." Dirga tertawa kencang saat mendengar alasanku. Dasar pacar kurang ajar.
"Oh ya? Kamu sih ngecat rambut warna kuning. Padahalkan waktu itu udah dibilang Nagra jangan warna yang mencolok kalau mau warnai rambut. Kamu masih aja warnai rambut pake warna kuning. Jreng lagi." Bukannya belain aku malah ngetawain aku.
"Itu bukan kuning Ga, itu oren."
"Manada oren begitu. Itu kuning!!" Dirga menghembuskan napasnya pelan. "Iya dah itu oren. Terus-terus kenapa kamu milih potong rambutmu?"
Aku memanyunkan bibirku kesal "Ih kamu nih! Aku malas beli warna hitam, lagian kan gak boleh juga. Aku tuh baru warnai hari Sabtu, ekh Seninnya kena tegur, ya gak bisa auto ilang warnanya. Jadi ya udah dengan sangat terpaksa rambutku aku potong aja. Aneh ya rambutku pendek?"
Dirga menggeleng keras "Enggak, bukannya jelek sih. Yang ada kamu makin manis. Itu malah buat aku takut." Aku menatap Dirga heran. Takut? "Takut kenapa?"
"Ya kalau kamu makin manis, terlihat comel, udah boncel, comel, manis kan ribet ntar kalau banyak yang naksir kamu. Kalah saing akunya."
__ADS_1
"Heh curut! Kalau yang naksir aku emang banyak dari dulu. Secara kan Diandra pacarnya Dirga ini cewek fenomenal gitu, yang comel, cute dan manis lah pokoknya. Tapi kan aku sukanya sama kamu doang." Dirga tertawa.
"Iya-iya cil, iyaaa. Aku percaya kok."
"Woy, pak bos pagi-pagi udah pacaran aja. Bosan gua sumpah aelah!!!"
"Padahal gue udah berangkat telat, biar gak lihat adegan dewasa di kelas. Ekh masih aja ada."
"Gue udah sengaja bangun kesiangan, naik angkot biar telat gitu. Ekh masih aja lihat bucin."
"Woy dedemit!! Kalian iri? Makanya jangan jomlo, cari cewek sana, jangan ngegame aja kerjaannya." sahut Dirga.
Aku tertawa melihat mereka. Sudah 3 bulan semenjak aku pacaran dengan Dirga aku semakin dekat dengan Teman-teman Dirga. Fabian pun udah masuk bagian mereka. Seperti mimpi saja rasanya. Terlalu mustahil untuk terjadi.
Aku yang pacaran sama Dirga, Keakraban Fabian dengan teman-teman Dirga. Pasalnya Fabian sangat tidak suka dengan teman-teman Dirga. Semua itu karena mereka adalah temannya Dirga. Hal sesimpel itu ternyata bisa menjadi alasan untuk kita tidak menyukai seseorang ya?
Aku merasakan sakit yang sangat pada kepalaku. "Ga, kepalaku sakit.."
Dirga nampak menatapku gelisah. "Ndra kamu kenapa? Hey??"
Aku semakin lemas. Apa benar semua ini hanya mimpi? Tapi kenapa semuanya terasa nyata? Kenapa ciuman di kening itu terasa nyata untukku?
Tuhan kalau ini benar mimpi tolong jangan buat aku bangun. Aku cukup bahagia dengan semua ini.
Tapi ternyata Tuhan punya rencana yang lain...
📌
Yuk koment 💬
__ADS_1