
Gue mengerang Frustasi. **** banget gue tadi. Kenapa gue ngebiarin Diandra melepaskan tasnya. Kenapa dia gak bawa inhalernya. Kalau dia kenapa-napa gimana?
Shiit!!!
Gue benar-benar khawatir sama dia. Semoga Nagra bisa nenangin dia.
drrrtt...
Nagra naga is calling...
"Heh bgsd!!!!" teriak suara dari seberang telepon.
"Gak usah teriak bisa kan??" sungut gue gregetan. Nagra sialan!
"Lo dimana anjink!!"
"Kantin!"
Tuuuttt...
Lah kok malah mati.
"Siapa?" tanya Laras. Iya Laras udah jadi murid baru disini. Dan sekarang gue lagi makan berdua sama dia.
"Sodara lo! Rese kan? Habis maki-maki gue terus dimatiin telponnya." Laras tertawa mendengar ucapan gue.
"Tuh orangnya muncul." Laras menunjuk pintu kantin dengan dagunya. "Heh lo apain--" gue segera menendang kaki Nagra. Jangan sampai dia ngebahas Diandra disini.
"Lo kenapa sih datang-datang marah?" Laras menatap Nagra heran.
Gue menatap Nagra tajam. Sampai dia ngomong semuanya ke Laras gue bunuh dia. "Ekh? Anu itu nah tadi gue main pubg waktu gue mati gue minta tolong Dirga ekh sama dia malah di biarin gue mati. Kan abang kezeeel dek..!!" Gue mendengus kesal. Aelah jijik banget sih nih anak.
"Oh iya, Gue udah pernah ketemu Diandra loh Ga, cantik, manis gitu orangnya. Tapi mana ya? Kok gue gak ada lihat dari tadi?" Gue nyaris tersedak karna ucapan Laras. Dia pernah ketemu Diandra?
Nagra menyeruput es jeruk punya gue "Lo ketemu dimana?"
"Waktu di cafe kemaren, gue gak sengaja nabrak cewek, ekh ternyata cewek yang gue tabrak itu Diandra." jawab Laras.
"Dia sekelas sama lo kan? Dia gak masuk? Padahal gue udah bilang sama dia kalau hari ini gue akan jadi murid baru jadi gue mau dia yang jadi teman pertama gue."
"Sakit mungkin." jawab gue pendek.
Laras menatap gue heran "Masa sih sakit? Semalam gue ketemu dia heppy-heppy aja."
"Ceritain ke gue dong soal dia Ga, Nagra gak mau ceritain soal Diandra." haah? Apa-apaan nih?
"Plis.. dia kelihatannya baik. Jadi gue pengen jadi temannya dia."
"Dia itu, suka banget sama eskrim. Setiap hari gak pernah satu hari pun dia gak beli eskrimnya bu Ira, terus jepitan rambutnya itu winnie the pooh. case hapenya juga winnie the pooh kadang ganti sama yang gambarnya eskrim. Dia punya hoodie gambarnya winnie the pooh kuning jreng gitu. Dia paling suka warna kuning. Kalau makan yang berbau telur, kuning telurnya gak akan dimakan. Padahal dia suka warna kuning, aneh ya? Katanya kuning telur itu lengket dia gak suka jadinya. Terus--" ucapan gue terhenti ketika sadar, Nagra dan Laras sedang menatapku.
"Em.. Ras--"
"Kok berhenti? Santai aja kali. Lanjutin dong, gue pengen tau banyak soal dia."Laras tersenyum menatap gue.
"Ga!!!" teriak seseorang membuat seluruh penghuni kantin menatap gue dan-- Fany dan Vanya! Sial!!
"Diandra mana? Lo apain dia? Kenapa dia gak masuk kelas sih? Lo tau gak inhaler dia itu ditas, hendphone juga. Kalau dia kenapa-napa gimana??" cerocos Fany.
__ADS_1
Mampus deh gue!
"Gue gak tau!" jawab gue singkat.
"Kenapa sih nyari Diandra sama gue? Emang gue emaknya hah?" teriak gue kesel.
"Lo bilang apa barusan hah?" Fabian datang dari pintu kantin. "Anjink!" Fabian memukul gue dan membuat gue tersungkur ke belakang "Lo tau gak? Orang terakhir yang sama dia itu lo! Lo tau gak? Kenapa dia nurut banget sama lo? Lo itu bodoh atau gimana sih? Dia itu sayang banget sama lo dari kelas X. Tapi apa? Gini balasan lo buat dia?"
"Bian udah!!" teriak Laras. "Cukup Bian! Kalau lo marah-marah kayak gini gak akan selesein masalah!
Fabian terkejut menatap Laras. Mereka saling kenal? "Laras?"
"Gue gak tau masalah lo apa sama Dirga, tapi kalau lo mukulin dia, semuanya gak akan beres. Yang ada kalian berdua malah dipanggil sama kepala sekolah!"
"Gra bawa Dirga ke uks ya, ntar gue nyusul. Bian ikut gue!!" Laras segera menarik Bian. Apa-apaan ini? Yang pacarnya kan gue kenapa dia justru narik Bian?
"Udah buruan!!"Nagra segera menarik dan membawa gue ke uks.
"Padahal gue udah bilang ke Fabian kalau Diandra baik-baik aja." gue terkejut, Kenapa harus laporan sama Fabian?
"Lo ngomong soal gue sama Diandra?" Nagra menggeleng "Enggak cuy! Diandra tadi titip pesan ke gue, dia nyuruh Fabian gak usah khawatir, dia akan tetap pulang dengan selamat kok."
"Tapi dia baik-baik aja kan?" tanya gue pelan. Nagra tertawa "Lo itu gimana sih? Lo yang udah nyakitin dia, dan lo bisa lihat dengan jelas gimana rapuhnya dia terus lo masih nanya dia baik-baik aja? Bodoh anying! Kalau gue jadi Fabian gue bakal kalap banget sahabat gue lo mainin kayak gini."
"Jadi bisa jelasin kan ke gue gimana ceritanya?" Laras tiba-tiba aja muncul dan mengambil kotak p3k.
"Em, gue balik kelas deh ya, gue tadi udah bolos, gak enak kalau bolos lagi." Nagra segera berlari meninggalkan gue. Sial tuh orang gak tanggung jawab.
"Ga??" gue terdiam gak berani menatap mata Laras. "Dirga..." sungut Laras sambil menekan luka gue "Sakit Ras."
"Gue nyuruh dia berhenti suka sama gue, gue nyuruh dia berhenti ngerecokin gue, gue suruh dia berhenti isengin gue."
"Dan lo ngerasa teganggu sama semua tentang Diandra?" gue terdiam. Apa iya gue ngerasa terganggu sama Diandra?
"Ras--"
"Ga, lo gak bisa nyuruh orang berhenti buat suka sama lo, buat cinta sama lo. Dia pun gak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa. Kalau dia bisa milih gue jamin dia gak akan mau berhubungan sama lo bahkan kenal sama lo aja dia gak mau. Dia ngisengin lo, dia ngerecokin lo semua itu ia lakuin semata-mata narik perhatian lo. Dia cuma butuh perhatian lo Ga!"
"Tapi kan gue punya lo Ras, gue gak mau ngasih harapan palsu ke dia."
"Ga, dengar gue." Laras menggenggam tangan gue "Lo gak punya hak buat nyuruh dia berhenti menyukai lo. Kalau nanti disaat dia berhenti lo justru baru mulai gimana? Jangan lakuin hal yang nantinya akan lo sesali."
"Gue gak akan nyesal Ras, gue punya lo." Laras memeluk gue erat. Gue gak tau apa yang gue pikirin. Pikiran gue sekarang tertuju sama ucapan-ucapan Laras.
Gue melonggarkan pelukan Laras "Maaf, maaf gue udah boong soal Diandra waktu lo nanya. Tapi gue yakin dia kuat kok. Dia itu cewek tegar Ras, dia cewek kuat. Dia cewek hebat yang betah suka sama gue selama 2 tahun tanpa gue peduliin sedikitpun."
Laras tersenyum "Iya gue percaya kok."
📌
Gue memarkirkan motor tepat di sebelah motor Fabian. Darimana gue tau itu motornya? Dari helm winnie the pooh yang terpasang di motor itu. Hari ini Laras memilih bareng Nagra, katanya sekalian biar gue gak usah bolak-balik jemput dia.
Gue berjalan pelan ke arah kelas. Tanpa sengaja gue ditabrak seorang perempuan berambut sebahu. "Aduh kalau jalan pakai mata dong"
Deg..
Suara itu kan?
__ADS_1
"Diandra??" gumam gue pelan. Si empunya nama pun menatap gue sambil tersenyum.
Tunggu..
Dia senyum?
"Ekh Dirga? Sorry ya gak sengaja tadi gue." ucapnya sambil membersihkan rok seragamnya yang kotor.
"Ekh kamu gak papa?" Nagra, suara itu mengejutkan gue.
"Kakak sih kejar-kejar aku, jadi jatuh kan aku nya" Nagra tertawa mendengar cerocosan Diandra.
"Kamu gak papa kan tapi?" tanya Nagra.
Apa-apaan nih udah pakai aku-kamu..
"Maaf ya Ga, kalau lo mau marah, marahin kak Nagra aja dia yang udah buat gue lari-lari terus gak sengaja nabrak lo." ucapnya.
"Yuk balik." ajak Nagra sambil--
MENGGANDENG TANGAN DIANDRA?
Gue pengen banget melepaskan tangan Nagra dari tangan Diandra. Tapi gue siapa disini?
"Duluan ya Ga, oh iya, beberapa buku tugas yang waktu itu lo kasih ke gue udah gue selesein tugasnya. Ada di laci lo semua bukunya." Diandra dan Nagra berjalan meninggalkan gue.
Gue menghembuskan napas pelan, kemudian mengikuti langkah mereka dari belakang. Gue perhatiin Diandra bahagia banget waktu sama Nagra. Apa dia gak ngerasa kehilangan gue ya? Kalau dia emang bahagia sama Nagra kenapa kemaren harus sama gue dulu sih?
"Udah sampai kelas. Aku balik ya ke kelas. Oh iya, istirahat nanti duluan aja sama Fabian, ntar aku nyusul. Aku rapat OSIS bentar soalnya." Nagra mengacak-acak rambut Diandra pelan.
"Kak Nagra iih rambut aku.." rengek Diandra.
Gue perhatiin penampilan Diandra hari ini beda banget. rambutnya dia yang lumayan panjang dia potong sebahu dan dia warnai dengan warna-- kuning tipis-tipis.
"Makanya warnanya jangan aneh-aneh. Besok ada razia, jadi aku saranin hilangin warnanya. Atau kamu aku yang hukum."
"Iya-iya kakak ketua osis."
"Udah ah aku balik." Nagra membalikkan tubuhnya dan menatap gue. "Ekh curut lo disitu?"
"hem." Nagra tertawa "Gue titip si boncel kesayangan gue ya. Jangan lo sakitin lagi. Kalau nangis susah tau dieminnya."
"Kak Nagra iihhh gak usah ngomong aneh-aneh!!!" omel Diandra. Nagra segera berlari dari depan kelas gue.
Sekarang tinggal gue sama Diandra aja didepan kelas. "Ga.."
Gue terkejut dan menunggu Diandra melanjutkan ucapannya.
Bilang sama gue kalau lo masih sayang gue Ndra??
"Jangan dengarin kata kak Nagra ya." ucapnya pelan kemudian masuk ke kelas.
**Lo mikir apa sih Ga?
Lo yang udah buang dia. Kenapa lo malah ngarepin dia**??
📌
__ADS_1