Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Dirga.34


__ADS_3

Gue terus mengganti-ganti channel tv "Nih acara tv kenapa jelek-jelek semua sih!!!"


"Selera lo aja yang buruk. Tuh ada drakor bagus!!" sahut Laras dari dapur.


"Ogah Ras!! Lo aja sana nonton dirumah lo!"


"Lo ngusir gue ya??" Laras berjalan ke arah gue dan duduk disamping gue.


"Lo nyetok eskrim?" gue mengangguk. Kulkas gue gak pernah sepi dari makanan satu itu semenjak beberapa bulan terakhir. Setiap gue kangen Diandra gue selalu menghabiskan lebih dari 5 bungkus eskrim.


"Woy! Kenapa lo ngelamun anjey!!"


Gue mengerjapkan mata beberapa kali. Astaga gue jadi ngelamunin Diandra lagi "Gue gak papa."


"Lo masih mikirin Diandra sama kak Nagra?" tanya Laras sambil menyendokkan eskrim ke mulutnya.


"Gue cuma pengen tau tentang perasaan Diandra ke gue aja Ras. Masih ada gak kesempatan buat gue? Kalau emang gak ada, keputusan gue udah bulat. Gue akan pergi dari kota ini sebelum pengumuman kelulusan."


Laras menghadapkan tubuhnya kearah gue "Lo yakin gak mau datang di hari itu? Lo gak mau lihat Diandra tampil lagi?"


"Buat apa? Yang ada makin sulit buat gue lupain dia!"


"Ga.. Mending lo ngomong ke Nagra. Lo minta satu hari aja buat ngebahagiain Diandra. Lo habisin waktu lo selama 24 jam bareng Diandra. Setelah itu lo yakinin diri lo sendiri, lo harus apa. Kalau lo mau lupain dia, silahkan!"


"Gue gak yakin Nagra bakalan izinin Ras, secara Nagra sayang banget sama Diandra."


"Percaya sama gue, Nagra bakalan izinin lo pergi sama Diandra! Tadi dia bilang dia mau nginap disini. Jadi lo bahas aja soal itu nanti malam."


"Oke.."


πŸ“Œ


"Cuy gue boleh masuk??" gue melirik ke arah pintu kamar. Oh sih Nagra. "Masuk aja Gra.."


Nagra duduk disamping gue. Gue terdiam memikirkan ucapan Laras tadi sore. Apa gue bahas aja ya sama si Nagra. Siapa tau dia izinin gue.


"Gra, gue mau minta izin sama lo."


"Gue juga mau ngomongin itu Ga sama lo. Laras udah cerita soal usulan dia. Gue rasa lo bisa coba itu. Siapa tau setelah itu dia bisa lupain lo. Dan lo bisa relain dia buat gue."


Gue memejamkan mata. Ada perih yang gue rasa waktu dengar ucapan Nagra barusan.


"Jadi lo izinin gue gak nih?" tanya gue pelan.


"Gue izinin. Tapi lo harus janji sama gue, Diandra gak boleh lecet sedikit pun. Jangan sampai dia kenapa-napa setelah jalan sama lo. Dia terlalu berharga dari apapun Ga."


Dia terlalu berharga dari apapun Ga.


Gue menghembuskan napas pelan. Kemudian mengangguk "Gue jamin dia bakal balik dengan keadaan yang lebih baik. Bahkan akan lebih baik."


"Ga, gimana keputusan lo soal kuliah?"


Lagi-lagi kuliah. Pertanyaan yang membuat gue terus mengingat Diandra.


"Kemungkinan besarnya gue masuk ke pilihan ke dua Gra. Gue masih belum yakin kalau mau kuliah disini."


"Gue cuma mau bilang Ga. Kalau lo pergi karena Diandra, gue saranin lo pikirin baik-baik. Belum tentu waktu lo disana nanti lo bisa segampang itu lupain Diandra. Bisa aja pas lo kuliah disini ternyata itu justru cara yang sangat gampang buat lupain dia."


"Lo kesini ga mungkin cuma mau bahas itu kaaaannnn. Lo mau ngapain kesini? Pakai acara nginap lagi?"


Nagra merangkul gue "PS an yok. Gue pusing sama tugas kuliaaaahhh."

__ADS_1


"Dih ogah ahh. Mending gue belajar buat ujian gue."


"Sekali doang elaaahh. Sampai gue menang" gue berpikir sebentar. "Elah Ga, kita udah lama gak main ps bareng. Lo kan selalu sama cecungut lo. Ayolah temenin gue maeeeeennnn pliiiisssss..." Gue berdiri. "Sampai pagi kuy gas!!" seru gue di balas anggukan oleh Nagra.


Nagra benar, gue sama dia udah gak pernah main ps bareng lagi semenjak masalah gue sama dia. Dan mungkin setelah ini gue gak akan bisa main bareng dia lagi kalau gue beneran kuliah diluar.


πŸ“Œ


"Kita mau kemana lagi sih Ga?"


Hari ini adalah hari yang paling gue tunggu-tunggu. Setelah perbincangan malam itu sama Nagra, gue memantapkan diri untuk ngomong sama Fabian dan juga bang Joe, supaya mereka izinin gue bawa Diandra pergi.


"Lo mau culik gue ya? Pulangin gue dong, kasihan bang Joe kalau gue ilang, gak ada yang ingetin dia buat berak dulu sebelum kuliah!!" gue tertawa mendengar ucapan ngawur Diandra.


"Gue rasa dia justru bersyukur kalau lo ilang Ndra!" Diandra mengerutkan keningnya sambil memanyunkan bibir mungilnya "Kagak mungkin ada yang bersyukur kalau gue ilang, yang ada banyak yang nangisin gue karna kehilangan gue."


Deg..


Lo bener Ndra, ada yang nangisin lo karna kehilangan lo. Dan gue termasuk didalamnya.


"Jadi, Ga lo mau culik gue kemana?" tanya nya sekali lagi.


"Lo maunya gue bawa kemana lagi?" Diandra nampak berpikir sejenak "Tadi lo udah beliin gue baju baru, lo mau bawa gue ke pelaminan yaaaaaa?"


Anjey lah!


"Emang lo mau gue bawa ke pelaminan?" Diandra terdiam. Sepertinya gue salah bicara. Duh lo dongo banget sih Ga! Jelas dia gak mau lah! Dia kan sekarang pacarnya Nagra.


"Ekh gue pakai in sabuk pengamannya ya. Lo tidur aja kalau mau tidur. Perjalanannya lumayan lama." gue mendekat ke tubuh Diandra. Dengan jarak yang sedekat ini gue bisa mencium aroma khas Diandra. Aroma strowberry yang selalu gue rindukan. Aroma yang dulu selalu menempel di baju gue karena tingkah Diandra. Gue segera memasang sabuk pengaman Diandra sebelum gue menjadi kecanduan Diandra.


"Oiya Ga--" Diandra memiringkan tubuhnya sehingga menghadap ke arah gue "Kenapa?" jawab gue sambil fokus dengan jalanan.


"Katanya beliau promnight kita itu bersamaan sama anniversary nikahannya yang ke berapa tahun gitu. Terus katanya lo jago main piano jadi beliau mau kita bawain lagunya Anang sama Ashanty judulnya--"


"Jangan bilang yang judulnya jodohku?" Diandra tertawa "Iya, pak Eko nyuruh kita nyanyiin lagu itu."


Gue menatap Diandra sekilas, kalau jawaban lo nanti memuaskan Ndra, gue mau nyanyi bareng lo bahkan nyanyi didepan lo tiap hari pun gue mau. "Jadi lo mau gak?"


"Gue pikir-pikir dulu ya.." Andra mengangguk "Hem okeey, tapi awas ya kalau lo php. Kalau iya bilang iya kalau gak mau bilang gak mau! Jangan iya padahal gak mau!"


"Iya bawel!!" gue mengacak rambut Diandra. Gue gak tau Ndra setelah ini gue masih ada kesempatan atau gak untuk ketawa bareng lo.


πŸ“Œ


"Ga? Kita dimana??" gue yang lagi duduk di atas mobil menoleh ke sumber suara. Ah ternyata Diandra udah bangun "Sini duduk.." gue menepuk bagian mobil sebelah gue.


"Ngapain?"


"Langit sorenya cantik Ndra kayak lo." gue terus menatap ke atas "Ndra, lo tau gak? Hal yang paling gue tunggu selama ini itu apa?"


Diandra menatap gue dan sialnya itu membuat kerja jantung gue melaju "Apa?"


"Gue nunggu dimana ada moment gue cuma berdua aja sama lo. Lo tau setelah hari itu gue selalu mikirin lo! Bukan karna rasa bersalah gue, tapi karena perasaan gue ke lo."


"Ga--"


"Ada banyak hal yang mau gue omongin Ndra, gue cuma mau lo dengarin penjelasan gue."


Gue menarik napas pelan "Gue jatuh cinta Ndra sama lo. Gue jatuh cinta sesaat setelah lo kena timpuk bola gue waktu kita masih jadi anak baru. Gue selama ini ada di tahap penyangkalan. Gue gak pernah percaya sama perasaan gue sendiri. Gue selalu buang pikiran itu jauh-jauh."


"Gue nyaman waktu lo sering gangguin gue, waktu lo nempelin gue terus. Waktu lo pamerin rambut kuning lo didepan gue, waktu lo bawain sarapan buat gue. Semua waktu yang gue jalanin sama lo gue nyaman. Gue bohong kalau lo itu pengganggu! Gue bohong kalau gue gak nyaman sama lo! Nyatanya setelah lo pergi gue baru sadar, gue kehilangan lo. Setelah Nagra hadir diantara lo sama gue, gue ngerasa lo jauh Ndra."

__ADS_1


"Gue mau minta maaf sama lo. Dan gue mau lo balik lagi sama gue. Bisa kan Ndra? Gue kangen lo Ndra, gue kecanduan semua tentang lo." gue menatap Diandra lama, berharap ada kata 'bisa' yang keluar dari mulut Diandra.


"Gue udah maafin lo Ga, kalau gue belum maafin lo, gue gak akan mungkin disini sekarang sama lo. Tapi buat balik lagi, ada beberapa hal yang mesti gue pikir ulang."


"Apa perasaan lo udah hilang buat gue?"


"Gue bohong Ga, kalau gue bilang gue udah gak sayang sama lo. Tapi gue minta maaf banget, gue gak bisa. Gue harus sembuhin hati gue dulu."


"Tapi Ndra, gue yang akan sembuhin luka lo."


"Enggak Ga, bukan lo atau orang lain yang bisa sembuhin luka gue, tapi diri gue sendiri. Gue yang bisa sembuhin luka itu sampai benar-benar sembuh."


"Ndra, kalau gue pergi dari kota ini apa lo akan ngerasa kehilangan gue?"


"Ga--" Diandra tertawa "Pertanyaan lo lucu Ga. Gue udah kehilangan lo jauh sebelum lo pergi dari kota ini kan? Udah dari beberapa bulan yang lalu gue kehilangan lo. Dan lo tau fakta itu!"


Telak!!!


Gue tersenyum miris "Maafin gue.."


Diandra tersenyum kemudian ia menarik tangan gue dan menggenggamnya "Ga, apapun pilihan lo, gue bakal dukung. Kemanapun lo pergi, gue percaya pasti ada hal baik dibelakangnya. Gue udah ikhlasin lo. Mau sama siapapun lo nanti, kasih tau ke dia. 'Pernah ada perempuan yang ngejar-ngejar lo mati-matian dan ternyata perempuan itu kurang beruntung dan akhirnya kehilangan lo.' Jadi gue mau dia jangan pernah nyia-nyiain lo. Dia harus buat lo bahagia, ketawa terus, kayak apa yang gue lakuin ke lo dulu, meskipun berujung gue di omelin sama lo." Diandra tertawa sumbang. "Makasih Ga, makasih udah kasih kesempatan gue buat natap lo sedekat ini, bisa jalan berdua sama lo kayak yang gue harapin dulu. Tapi gue mau lo buang perasaan lo. Jangan pernah simpan perasaan apapun ke gue."


Diandra mengelus pelan wajah gue. "Ga, gue gak akan nyuruh lo berhenti untuk cintai gue, gue cuma nyuruh lo untuk buang perasaan lo ke gue. Sama kayak gue yang perlahan ngehapus lo dari hidup gue."


"Tapi gue gak mau Ndra, yang gue mau cuma lo." gue menggenggam erat tangan Diandra. "Gue gak bisa Ga, gue harap setelah ini kita bisa berteman seperti biasa. Lo tanpa perasaan lo dan gue tanpa perasaan gue."


Gue cuma bisa terdiam mendengar keputusan Diandra. Mungkin gue emang gak akan pernah bisa miliki lo Ndra..


"Ga, coba lo lihat. Bintangnya cantik tapi jaraknya jauhan gitu..."


Gue menatap kearah yang ditunjuk Diandra "Kayak gue sama lo sekarangkan?"


Diandra melirik sebentar kearah gue, kemudian tersenyum "Ga, sekarang gue ada disamping lo. Selamanya akan seperti itu. Gue gak pernah jauh dari lo. Bedanya sama yang dulu, gue pakai perasaan waktu dekat sama lo dan sekarang murni berteman."


"Seenggaknya gue bisa tetap ada didekat lo itu udah lebih dari cukup Ndra." gue mencoba merangkul Diandra. Untungnya dia gak nolak.


Gue sayang Ndra sama lo. Jauh lebih besar daripada ke diri gue sendiri.


πŸ“Œ


"Makasih udah anterin gue dengan selamat." Diandra turun dari mobil dengan wajah tersenyum Apa cuma gue aja yang ngerasa kehilangan disini?


"Gue di bogem abang lo kalau bawa lo pulang dalam keadaan lecet-lecet.."


"Sekali lagi makasih ya Ga.."


"Harusnya gue yang bilang makasih. Lo udah mau ngabisin waktu lo sama gue."


"Ya udah, gue masuk dulu ya.."


"Ndra. Gue belum jawab tawaran lo tadi. Setelah gue pikir-pikir gue oke deh duet bareng lo."


Diandra tersenyum "Oke, setelah ujian kita latihan ya.."


"Ndra, satu lagi. Gue boleh minta satu permintaan sama lo?" Diandra diam menatap gue "Izinin gue meluk lo sekali aja."


Tanpa aba-aba Diandra memeluk gue erat. "Makasih ya Ga buat semuanya. Makasih udah izinin gue buat ngerasain dipeluk lo.." gue membalas pelukan Diandra, gue hirup dalam-dalam aroma khas Diandra. Gue yakin gue akan kangen banget sama aroma lo Ndra. Semua tentang lo udah jadi candu gue.


πŸ“Œ


jadi gengs, menurut kaleaaann endingnya gimana?

__ADS_1


__ADS_2