
"Gra, gue duluan gak papa ya.."
"Hem..."
"Ya udah kalau gitu. Ntar pulang sekolah bareng gue pokoknya. See you Gra.." gadis itu melambaikan tangannya kemudian menghilang dari balik pintu kelas gue.
"Gila lo, kencang juga sama Vina.." gue memejamkan mata, malas mendengar ocehan busuk dari Rey dan juga Faisal.
"Gue lebih milih adek kelas yang cupu bin aneh daripada harus didekatin terus sama si Vina." sahut gue.
"Gue punya tuh teman aneh." sambung Faisal. Gue meliriknya tajam, kali ini siapa lagi yang dijadikan bahan bullyan si Ical.
"Cal, lo gak ada kapok-kapoknya ya bully cewek terus!"
"Gak gitu Rey, kali ini ceweknya beda bro. Dia gak cupu, dia cuma aneh aja. Maniak eskrim banget orangnya. Kayaknya temennya cewek lo deh Rey!"
"Ohh si Diandra??" Rey mengubah posisinya menjadi menghadap ke gue dan juga Faisal.
"Teman dekatnya si Vanya tuh. Gila tuh cewek, demen banget sama eskrim. Fanatik abis sih!!!"
"Tunggu deh!!" gue berpikir sebentar, sepertinya gue tau cewek mana yang mereka maksud. "Diandra itu cewek yang pendek, manis, rambutnya gak panjang gak pendek juga?"
"Nah iya, kalau gak salah kemaren dia lo suruh maju pas mau upacara." sahut Faisal. Ah iya gue ingat. Jadi cewek itu maniak eskrim. Dia cewek yang sekali gue liat aja memang bisa ngebuat siapapun tertarik sama dia.
"Dia pernah kok Gra, beberapa kali kena razia lo. Rambutnya dia sering di cat warna ngejreng. Entah kuning, abu-abu muda.." jelas Rey lagi. Gue semakin yakin sosok yang gue pikirkan sama kayak yang mereka sebutkan tadi.
"Mending lo sama dia, gue jamin lo nyaman."
"Gue setuju sama si Faisal. Vanya sering cerita ke gue soal Diandra, belum lagi soal tingkah anehnya. Gue beberapa kali pernah ngobrol langsung gitu sama dia. Dia itu konyol, aneh gitu, cuma anehnya gak seaneh si Olive. Lo tau Olive kan teman kelasnya Vanya? Dia sih parah banget anehnya. Si Diandra itu kalau udah cerita eskrim, kayak dia cerita tentang orang yang paling dia cintai, bahagia banget dah ah."
"Jadi gue harus mulai dari mana nih buat dekatin dia.." gue, Faisal dan juga Rey tersenyum bersama.
๐
Gue membayar semua eskrim yang tersisa di lapak bu Ira sehingga hal itu bisa membuat cewek pendek yang sekarang gue tau namanya adalah Diandra semakin kesal. Gue terus memperhatikan wajah kesal Diandra dari meja terujung di kantin.
"Mending lo makan eskrim lo, gigi gue ngilu dodol kalau harus makan sebanyak ini.."
Gue tersenyum, seperti mendapat ide cemerlang. Gue segera mengambil sebungkus eskrim kemudian berjalan ke arah yang terus dilihat Diandra dari tadi.
Oh ternyata lapangan futsal. Ada siapa di sini yang menjadi daya tarik Diandra?
__ADS_1
Gue terus menatap Diandra sambil menikmati eskrim gue. Hingga tiba-tiba suara yang memekakkan telinga membuat eskrim yang baru gue nikmatin beberapa menit terlepas dari tangan gue..
"KAK NAGRAAA!!!!" sumpah gue kaget sekaget-kagetnya. Gue menatap nanar eskrim yang barusan terlepas dari pegangan tangan gue.
Gadis itu berlari ke arah gue dengan muka yang sebal, kesal, bercampur menjadi satu dan menjadi muka yang gemesiinn.
"Jadi kak Nagra yang ambil jatah eskrimku?" gadis itu sampai didepan gue. Benar-benar pendek ternyata. Bahkan kepalanya hanya sebatas bahu gue. Gemesin banget.
Gue terdiam, kira-kira kata-kata apa yang membuat si boncel satu ini semakin sebal.
"Lo mau ambil? Tuh ambil lagi! Eskrimnya jatuh juga gara-gara suara cempreng Lo!"
"Itu kan harusnya punya gue kak!!" yaps!! Benar kan! Sesuai dugaan gue. Dia memanyunkan bibirnya. Sungguh menggemaskan.
"Bu Ira kan jualan nih ya, jadi hak siapa aja dong mau beli dagangan dia! Kenapa Lo yang sewot coba?"
Gadis ini semakin sebal mendengar ucapan gue "Lagian gue juga gak jadi makan gara-gara suara 8 oktaf lo!"
"Kok gue--"
"Lagian lo itu udah pendek, chubby gini masih aja doyan eskrim! Makin lebar tuh pipi, gendut hiii kapok!!"
"Karna gue juga gagal makan eskrim. Lo harus tanggung jawab! Ntar pulangan sekolah gue mau makan eskrim, temanin gue makan eskrim! Gue tau kedai eskrim enak dekat sini!"
Diandra menyipitkan matanya menatap gue curiga. Pasti dia mikir yang enggak-enggak tentang gue..
Gue menarik napas pelan "Takut gue culik? Lama amat sih mikirnya? Keburu gue berubah--"
"Oke kak!! Gue tunggu di parkiran nanti!!" sahut Diandra sebelum gue menyelesaikan ucapan gue.
Yes!!! Berhasil kan!!!
"Lo yang traktir ya, gara-gara lo gue gak jadi makan eskrim!!" teriak gue sambil berjalan meninggalkan Diandra. Gue masih terdengar sayup-sayup Diandra mengomel mendengar ucapan gue.
Rencana pertama gue berhasil.
Oke tenang Gra! Ini baru awal! Lo harus bisa dapatin Diandra!
๐
Gue terus melirik jam di tangan gue, berharap bel pulang cepat berbunyi "Iya-iya tau yang mau jalan sama doi baru jadi gelisah beneeerrr.."
__ADS_1
Gue cuma memasang muka cengengesan.
"Lo gak pulang bareng Vanya?" tanya gue ke Rey. Rey melirik gue sebal. Lah pertanyaan gue salah?
"Kayaknya gara-gara lo ngajak Diandra pulang bareng, Vanya jadi harus nemenin Fany pulang naik angkot. Soalnya Fany jadi pulang sendiri kalau gak ada Diandra." gue cuma mengangguk.
"Kasihan yang pulangnya jomlo!" sahut Faisal.
"Kayak lo gak jomlo aja njenk!"
"Aelah, gue kan dasarnya emang jomlo, gak kayak lo! Pacaran rasa jomlo!"
Mereka berdua justru asik berdebat tentang jomlo, hingga suara bel pulang terdengar nyaring.
"Ya sudah kalau gitu, saya akhiri pertemuan kali ini. Selamat siang!"
Gue segera membereskan semua peralatan yang masih di atas meja gue "Anjirlah, gercep amat pakkk!!"
"Semangat nih gue." seru gue sambil terus memasukkan buku-buku gue.
"Kalau ada Vina gimana?" tanya Rey. Oiya lupa, tadi pagi kan si Vina ngajak gue pulang bareng.
"Lo tolong handel ya Cal! Pulang sekolah lo boleh mampir kerumah gue main ps sepuasnya!"
"Beres!!" sahut Faisal. "Gue duluan gaiis!!" gue segera berlari ke arah parkiran.
Diandra. Cewek yang benar-benar aneh menurut gue.
Gue berhenti tak jauh dari tempat 3 siswi sedang berbincang "Awas lo Ndra! Lo utang cerita sama kita pokoknya!!" Vanya segera pergi meninggalkan Diandra.
Gue mengatur napas gue pelan, kemudian memberanikan diri untuk menegur Diandra..
"Udah nggibahnya?" Diandra terkejut melihat gue sudah berdiri tepat disampingnya.
"Siapa yang gibah coba? kakak jangan sok tau!" gue mengedikkan bahu gak memperdulikan ucapan Diandra, gue segera berjalan ke arah tempat motor gue terparkir.
5 menit gue tinggal, gue terkejut bukan main melihat siapa yang kini sedang berbicara sama Diandra..
Diandra kenal sama dia???
๐
__ADS_1