
"Ndra... buka pintunya dong..." aku masih terus mengurung diri dikamar setelah kejadian memalukan disekolah tadi.
"Ndraaa.... gue beliin lo eskrim deh. Tapi udah dong jangan ngambek lagi sama gue." aku masih sebal dengan Fabian. Kalau aja tadi Fabian gak bolos, pasti kejadian memalukan tadi gak akan terjadi. Meskipun ada Dirga yang membantuku, tetap saja yang kubutuhkan adalah Fabian.
"Mending sekarang lo ganti baju ikut gue deh, gue beliin apapun yang lo mau! Lo mau baju, tas, sepatu, eskrim, terserah lo! Gue janji beliin tapi please jangan ngambek lagi sama gue!!!"
Sebelum ucapan-ucapan maut Fabian selesei, aku sudah mengganti baju tidurku menjadi baju santai yang masih cocok untuk digunakan pergi ke mall.
"Ndra gue bakal beliin, gue serius nih! Gue bakal beliin--"
ceklek..
"Apapun yang gue mau ya???" ucapku dengan wajah sumringah. Meskipun mataku masih nampak bengkak sedikit.
"Diandra??" Fabian nampak terkejut melihat penampilanku. "Lo udah siap aja sih??"
"Ya dong! Gue dengar kata-kata maut lo langsung semangat!!"
"Dasar cewek!!!" gumam Fabian.
"Apa lo bilang???"
"Udah yuk, buruan sebelum gue berubah pikiran!!" Fabian melangkah meninggalkanku yang masih terus tersenyum bahagia.
π
"Sumpah Ndra! Kaki lo gak pegel apa ya keliling mall dari tadi? Lo udah belanja banyak gini, masih mau beli lagi?"
Aku tersenyum "Bentar ya Yan, jarang-jarang kali lo belanjain gue kayak gini, gue mau beli flat shoes yang dari kemaren gue incer."
"Udah gue yang bayarin, gue juga yang bawain!!" gerutu Fabian pelan. Aku hanya tersenyum geli mendengar ocehan Fabian.
Salah siapa lo nawarin sesuatu yang buat diri lo sendiri rugi. Gue lagi mode 'selalu benar' jadi lo gak akan bisa menang dari gue.
"Lo mau gue ngambek lagi ya???" ancamku "Yah Ndra, gak gitu juga ngancem nya!!!"
Aku berjalan menyusuri rak-rak sepatu cantik berwarna kuning.
"Mbak! Mau yang ini dong!!" ucapku secara bersamaan dengan--
"Laras.." -- "Diandra.."
"Lo mau beli sepatu ini?" aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Laras.
"Mbak, sepatu yang model ini masih ada lagi gak?" tanya Laras.
"Wah mbak, maaf stok sepatu itu tinggal satu.." jawab mbak-mbak penjaga sepatu.
"Kenapa Ras??" tanya suara yang sangat familiar di telingaku.
"Diandra.."
"Hai Ga.."
"Jadi gimana mbak? Siapa yang mau membeli sepatu ini?"
"Lo aja deh Ras.." ucapku pelan. Aku tau, Dirga pasti gak rela kalau ceweknya bete karena ia gak dapat sepatu yang ia mau.
"Bukannya lo udah ngincer sepatu itu dari kemaren ya Ndra??" sahut Fabian.
"Tapikan gue duluan yang ada di sini!!" sahut Laras tak terima.
__ADS_1
"Iya, lo aja yang ambil Ras, gue bisa beli di tempat lain kok. Yuk Yan!!" aku berpamitan dengan Laras. Sedangkan Fabian? Ia masih terdiam di tempat menatap Laras dengan tatapan tak suka.
"Ayookk Fabiaann!! Lo ngapain dah ah liatin Laras kayak gitu!!" aku segera menarik tangan Fabian untuk meninggalkan mereka berdua.
"Gue sama Fabian duluan ya!!!"
"Ndra!!" Fabian menghempaskan cekalan tanganku. "Kenapa Yan? Lo mau marah karena gue ngerelain sepatu itu buat Laras??"
"Lo tau kan ini tempat umum! Gue gak mau kalau harus berakhir dengan berdebat sama Dirga. Lo tau kan Laras itu pacar Dirga!!"
"Lo tuh--!!"
"Aaaahh!!!" Fabian menjambak rambutnya dengan keras.
"Yan--"
"Lo kenapa sih nyiksa diri lo sendiri cuma demi lihat Dirga bahagia? Lo yakin dia bahagia sama Laras? Kalau ternyata dia gak bahagia gimana? Kalau ternyata bahagianya dia itu lo gimana??"
Aku tertawa miris mendengar ucapan Fabian. Bahagianya Dirga itu gue?? "Lo halu! Sumpah! Udah ah, gue pengen makan lapar. Yuk! Lo pasti lapar kan??"
Aku segera berjalan kearah foodcity. Fabian mengikutiku dari belakang. "Harusnya itu gue yang kesal, kenapa jadi lo yang kesal?"
"Ndra--"
"Udah ya Yan, gak usah berdebat. Samain sama lo ya pesenan gue, gue mau ketoilet dulu."
Aku berjalan kearah toilet. Aku jadi ingat moment pertama kali aku ketemu Laras. Pertama kali aku ketemu dengan perempuan yang menjadi alasan kuat Dirga menolakku secara terang-terangan.
Keputusan lo udah bener Ndra! Lo gak usah dengar ucapan Fabian! Dirga jelas bahagia sama Laras, meskipun banyak keanehan dari sikap Dirga beberapa bulan terakhir ini.
Aku membasuh muka untuk kedua kalinya.
Aku membongkar tasku, mencari benda kotak yang biasanya selalu kubawa. "Duh anying lah gak bawa bedak!!!"
π
"Mah, Diandra gak usah sekolah ya hari ini. Diandra malu banget maaaahhhh..."
"Kamu harus sekolah sayang, kan bentar lagi ujian. Kalau nanti kamu gak sekolah, gak belajar. Nilai ujian kamu jelek. Katanya mau nyusul Nagra? Mau kuliah bareng Nagra??"
"Aaaaahhh mamah. Tau kelemahan aku!!" aku segera bangkit dari kasur dan melaksanakan rutinitasku setiap pagi.
Setengah jam bekutik, akhirnya aku selesei bersiap untuk berangkat sekolah. Aku sendiri bingung harus bersikap gimana saat nanti bertemu anak-anak disekolah. Terutama si Ridho. Nih anak minta kukasih pelajaran memang. Berani macam-macam sama cewek yang lagi pms.
"Ndraaaaa--"
"Iya bawel! Oteweee keluar kamar!!!"
Ceklek..
"Aelah keluar kamar aja pake otewe segala!!" Gerutu Fabian.
"Bawel!!"
Aku segera menghampiri bang Joe, mamah, dan juga papa di meja makan.
"Sarapan dulu Ndra!!" tawar mamah.
Aku menggeleng "Diandra gak napsu mah. Ntar Diandra beli roti aja deh di kantin."
"Tapi beneran ya beli roti. Jangan gak makan, ntar maag kamu kambuh lagi.."
__ADS_1
"Iya mahh.." aku segera berpamitan dengan mamah, papa dan juga bang Joe.
"Yan, suruh Diandra makan ya, jangan mau urusin kalau dia pingsan. Apalagi bocor kayak--"
"Abaaaang! Diandra ngambek nih gak mau sekolah!!!!"
"Joe!! Pagi-pagi jangan usilin Diandra begitu..."
"Mamah... Diandra maluuuuuu!!" ucapku dengan suara pelan.
"Udah gak usah malu, gak usah dengarin omongan Abang kamu!! Sudah sana berangkat!"
Aku segera berjalan mengikuti langkah Fabian yang udah lebih dulu keluar rumah.
"Yan aku malu.."
"Udah Ndra, gak papa. Gue jamin hari ini gak akan ada lagi yang Ngolokin Lo soal kejadian kemaren." ucap Fabian kemudian tersenyum.
"Asal Lo gak bocor lagi hari ini..."
"Fabiaaaaannnnn!!!!"
π
Mulai hari ini angkatanku sudah disibukkan dengan latihan ujian-ujian untuk kelulusan kami. Benar kata Fabian. Kejadian kemaren seperti tidak pernah terjadi. Tidak ada yang membahas itu lagi. Bahkan kejadian kemaren tidak seperti kejadian-kejadian buruk sebelumnya. Yang mereka saja masih terus menggunjingku.
"Ndra, lo jadi mau kuliah dimana?" Fany menatapku penuh tanda tanya.
"Yah dimana lagi sih Fan?? Jelas di kampusnya kak Nagra lah! Pacar tersayang..." sahut Vanya.
Vanya benar. Aku akan melanjutkan kuliahku di tempat yang sama dengan kak Nagra kuliah sekarang.
"Jadi hubungan lo sama kak Nagra gimana tuch??" tanya Fany pelan.
"Hubungan gue? Gue baik-baik aja sama kak Nagra. Cuma gue suka kesal aja kalau kak Nagra maksa buat anter gue ke sekolah pagi-pagi.."
"Yah bagus dong Ndra, berarti dia sayang beneran sama lo. Buktinya dia mau bolak-balik cuma demi anterin lo."
"Itu yang buat gue gak enak hati sama kak Nagra Fan, maksud gue, gue kan punya Fabian. Lagian dia tau hubungan gue sama Fabian gak ada apa-apa. Harusnya dia biarin gue berangkat sama Fabian."
Vanya tersenyum jail padaku. Sepertinya ada kata-kata ku yang salah. "Berarti lo udah jadian beneran sama kak Nagra????"
Kan benar dugaanku. Aku ada salah dalam pengucapan kata-kata nih.
"Gue gak ada apa-apa juga sama kak Nagra. Cumaaaa--"
"Cuma gue udah terima kak Nagra jadian sama gue?? Iya? Sama aja boong Ndra!" sahut Fany.
"Jadi jelasin sama kita berdua. Lo udah jadian kan sama kak Nagra??" seru Vanya penasaran sangat.
Aku tersenyum. Mengingat moment itu. Moment dimana kak Nagra menyatakan perasaannya padaku. "kak Nagra udah nembak gue--"
"Lo mau kemana Ga???" teriak Alex. Aku terkejut mendengar teriakannya.
"Duh Lex lo kenapa pagi-pagi udah teriak gini sih!!" omelku.
"Tuh si Dirga baru aja masuk udah keluar lagi!"
"Dirga???"
Ada apa dengan Dirga???
__ADS_1
π