
Setelah aku pikir-pikir, ternyata benar kata bang Joe, aku gak biasa ngebenci Dirga. Gimanapun dia spesial banget buat aku. Harusnya aku bersyukur karna sekarang Dirga sudah baik sama aku. Bahkan sudah peduli sama aku. Bukannya justru nanya terus-menerus kenapa dia sebaik ini sama aku.
Iya, aku harus minta maaf sama dia sebelum dia kembali seperti dulu lagi.
Aku segera mencari nama Gaga di kontak WhatsApp ku kemudian menekan icon telepon.
Please angkat Ga, maafin aku. Maaf kalau aku terkesan egois.
Tuuuuutttt....
Nomor yang anda tuju tidak menjawab..
Cobalah beberapa saat lagi..
Kok telpon ku gak diangkat sih. Atau dia sudah tidur? Aku melirik arloji di tangan kananku. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Harusnya untuk orang seperti Gaga jam 9 malam itu bukan waktu untuk tidur.
Lebih baik aku mengiriminya pesan. Mungkin dia sibuk.
Gaga? Udah tidur? Ada yang mau aku omongin sama kamu.
Send..
5 menit aku menunggu balasan Dirga. Sepertinya dia sibuk, bahkan masih belum ada notif dibaca pada pesanku.
Aku cuma mau bilang maaf Ga kalau aku terlalu banyak tanya kenapa kamu bisa sebaik ini sama aku. Harusnya aku bersyukur akhirnya kamu bisa lihat keberadaanku. Maaf ya Ga.
.
.
Aku akan balik jadi Diandra nya Gaga kayak sebelumnya. Aku akan selalu negur kamu dikelas. Aku akan bantu semua tugas-tugasmu. Aku akan terus kasih semangat setiap kamu main futsal. Percaya sama aku Ga, cuma aku orang yang paling ngerti semua tentang kamu.
.
.
.
Nite Gaga sayang. Mimpiin aku ya. Love you. With love Diandra :*
Send...
Aku tersenyum membaca semua pesan yang sudah aku kirim buat Gaga. Pasti dia senang akhirnya aku kembali lagi seperti dulu. Kembali menjadi Diandranya Dirga yang paling cantik, comel dan fenomenal.
π
"Wih lo udah siap aja.." aku terkejut melihat penampilan Fabian. Benar-benar tampan. Tapi tetap Gaga yang paling tampan. Untungnya Fabian sudah ku anggap seperti saudara sendiri jadi gak mungkin aku suka sama dia ataupun sebaliknya.
"Biasa aja keleus lihatin guenya. Ntar Lo naksir bisa ribet gue."
__ADS_1
"Idih. Najis banget." Bian tertawa mendengar ucapanku. Dia masih saja suka menggodaku. Padahal udah ku peringatkan jangan lagi godain aku. Bisa-bisa aku jambak-jambakan lagi sama Nadia, pacar nya si Bian.
"Lo tumben bang udah rapi jam segini?" kataku sambil mengambil eskrim di kulkas.
"Gue mau ketemu dospem biasa ngurus skripsi gue."
"Dek, eskrim di kulkas itu jatahnya satu orang satu. Kenapa lo ambil dua sih?" sungut bang Joe. Aelah nih makhluk masih aja perhitungan sama adek sendiri.
"Gue maunya dua gimana? Lagian masih banyak juga kok stocknya."
"Lo masih aja ya suka eskrim?" sahut Fabian.
"Dia makin menggila Yan sama eskrim. Sehari bisa habis 5 cup eskrim. Untung mamah baik gak perhitungan sama dia." Cerocos bang Joe.
"Eskrim itu hidup gue bang."
"Pagi sayang.." sapa papa yang baru bergabung di meja makan. "Pagi juga paa." jawabku sambil mencium pipi papa. Iya itu sudah jadi rutinitas kami dari kecil. Cium pipi bagi yang baru bergabung di meja makan, kata mamah sih untuk sapaan di pagi hari bagi anggota keluarga.
"Gimana Fabian? Kamu suka kamarnya? Kalau kurang nyaman kamu bisa sekamar sama Joe." kata papa.
"Nyaman kok om. Bian suka kamarnya. Sama kayak kamar Andra."
"Lo suka sama kamar gue atau guenya.." kataku.
"Suka sama kamarnya. Ya kali gue suka sama tuyul kayak lo yang hobby nya makan eskrim."
"Papa juga sama aja suka makan eskrim!!" ucapku dan bang Joe bersamaan. Kali ini bang Joe sepakat sama aku. Dia gak terima kalau papa berbicara seperti itu pada Bian. Seolah-olah dia tidak menyukai makanan manis satu itu.
Aku melirik arlojiku. Ternyata sebentar lagi aku nyaris telat. Dari semalam belum ada notif dari Gaga. Yang ada hanya notif dari kak Nagra. Ah apa aku udah telat Ga untuk mendapat perhatian lagi dari kamu?
"Bian, yuk berangkat. Udah mau telat nih."
Bian mengangguk.
"Mah, pa, Diandra berangkat dulu ya."
"Hati-hati sayang."
π
"Bian. Ntar jangan dekat-dekat sama aku ya. Takut Gaga cemburu." Kataku sambil melepas helm kemudian memberikannya pada Fabian.
Fabian menerima helmku. "Iya bawel. Tenang aja. Gue justru mau ngebantu supaya lo bisa makin dekat sama pangeran Lo itu."
"Udah buruan sana ke kelas. Gue bisa minta antar satpam buat ke ruang kepala sekolah."
Aku jadi sedikit merasa tidak enak pada Fabian. "Gue anter aja deh ya. Kan lo punya gue. Jadi biar gue anterin aja."
"Gak usah Ndra. Gak papa gue. Santuy mah."
__ADS_1
"Diandra? Gue kira Lo masih dirumah." tegur seseorang yang tak lain adalah kak Nagra.
"Ekh kak Nagra. Gue baru aja nyampe. Oiya kenalin ini Fabian. Fabian ini kak Nagra, ketua OSIS kita." Aku mengenalkan Fabian pada kak Nagra.
"Bian."
"Nagra.."
"Murid baru? Kayaknya gue belum pernah lihat lo!"
"Iya, gue pindahan." jawab Bian singkat.
Mendengar jawaban Fabian aku segera mendapat anugrah terindah dari Tuhan. "Kak Nagra, gue bisa minta tolong gak? Lo kan ketua OSIS. Gimana kalau Lo anterin Fabian ke ruang kepala sekolah. Soalnya gue gak bisa, em... Gue ada tugas yang belum selesei."
"Oh bisa. Biar gue antar aja." jawab kak Nagra dengan senyuman.
Kalau yang senyum sekarang itu Gaga mungkin gue udah pingsan.
"Makasih ya kak, kalau gitu Fabian gue duluan. Kalau perlu apa-apa telepon gue aja." kataku.
"Bawel. Lo kira gue anak kecil apa." sungut Fabian.
"Daah Fabian. Kak Nagra titip Fabian ya takut dia ucul." teriakku kemudian berlari menjauhi mereka berdua. Aku tau pasti kalau aku masih disitu Fabian akan menjitak kepalaku.
π
Aku tersenyum melihat seseorang yang kini duduk di belakang bangkuku. "Pagi Gaga sayang..."
"Lo udah sehat Ndra? Gue kira Lo masih amnesia kayak kemaren."
"Iya, lagian lo tiba-tiba aja ngediemin Dirga."
Cerocos Asen dan juga Alex. Tapi kenapa Gaga-cu gak nunjukin respon apa-apa ke aku?
"Ga? Kamu marah sama aku? Kenapa chatku semalam cuma kamu read? Kenapa kamu jadi dingin lagi sih? Padahal kemaren kamu gak dingin begini?" tanyaku panjang lebar.
"Lo tau bawel gak? Gue lagi gak mood ngomong makanya gue diem aja." jawab Gaga.
Aku terdiam, aku membalikkan tubuhku menghadap ke depan. Baru aku mau melanjutkan bacaan novelku, kuciran rambutku terasa di tarik keras dari belakang. "Duh sakit *****!!"
"Lo udah maafin gue kan soal kejadian kemaren?" tanya Gaga. Nih orang udah narik-narik rambutku keras-keras terus masang muka biasa lagi. Pengen ku tonjok rasanya. Untung aku cinta.
Aku tersenyum "Udah Gaga sayang. Aku udah lupain itu kok. Aku yang salah. Harusnya aku gak banyak tanya."
"Oke bagus."
"Oiya Ndra--" aku menunggu lanjutan ucapan Gaga. "Kenapa Lo nyuruh gue percaya sama Lo? Padahal percaya sama makhluk ciptaan itu kan musyrik." Aku cuma bisa melongo mendengar pertanyaan Gaga. Ternyata Gaga itu dodol banget kalau urusan begini..
π
__ADS_1