
Gue masih terdiam melihat se-cup eskrim dimeja dengan segelas teh hangat dan juga sebungkus roti. Iya itu semua dari Diandra.
Gue masih ingat dengan jelas kejadian dikantin tadi. Perhatian Nagra ke Diandra juga senyum Nagra yang begitu tulus. Selama gue kenal Nagra gue gak pernah lihat Nagra sebahagia tadi.
Kayaknya keputusan gue benar. Gue harus lepasin Diandra. Toh gue punya Laras dihidup gue.
"Kalau dikasih eskrim itu dimakan, bukan malah dilihatin aja. Gak akan ngaruh Ga.."
"Iqbal??" gue bangkit sambil menyandar di tembok. "Lo ngapain?"
"Harusnya gue yang tanya sama lo, kenapa lo disini?" Iqbal menarik kursi dan duduk dihadapan gue.
"Ngantuk." jawab gue pelan. Iqbal tertawa mendengar jawaban gue. Sial!! "Gak usah boong anjink! Lo pergi karna Diandra sama Nagra kan?"
"Gue udah pernah bilang ke lo Ga, jangan mainin hati perempuan. Lo udah punya Laras kenapa lo masih bersikap kayak gini ke Diandra? Lo tau kan perasaan Diandra ke lo itu gimana? Kalau dia tau semua tentang lo sama Laras dia bakalan hancur sehancur-hancurnya Ga!! Dan lagi, dia bakalan benci banget sama lo jauh lebih benci daripada kemaren."
Gue cuma bisa terdiam mendengar ucapan Iqbal. Gue gak mau lepasin Diandra tapi gue juga gak mau ditinggal lagi sama Laras. "Lo bodoh kalau lo berpikir begitu. Hati lo cuma satu jadi cuma satu orang yang bisa milikin itu. Lo tau gue salut banget sama Andra. Mau gimanapun sikap cuek lo, lo lihat dia bisa tetap perhatian sama lo bisa sebaik ini sama lo. Kalau gue boleh ngasih saran jangan lepasin Diandra Ga, dia terlalu berharga untuk dilepas."
"Mending sekarang lo balik ke kelas. Bantuin Diandra tuh ngerjain tugas. Tadi matematika kita dapat tugas per orang beda-beda. Dia sudah kewalahan ngerjain tugasnya ditambah lagi tugas lo." Iqbal pergi meninggalkan gue yang masih termangu mendengar omongan panjang lebarnya. Tapi belum 2 menit dia keluar dia masuk lagi.
"Ekh ini eskrim buat gue aja ya udah leleh gini!!" seru Iqbal kemudian berlari keluar. Ah sial eskrim gue!!
๐
"Dirga? Kamu kok udah balik? Kan sudah ku bilang istirahat aja.." suara cempreng itu menyapa ketika gue baru aja duduk di bangku gue.
Kalau gue boleh ngasih saran jangan lepasin Diandra Ga, dia terlalu berharga untuk dilepas.
Ah bgsd!!! Lo bgsd banget Ndra!! Kenapa lo bisa buat gue kayak gini?? Kenapa juga lo harus dekat sama Nagra buat gue uring-uringan kan jadinya!!
"Ga--"
"Ah diam anjey!!"
"Siniin buku gue!!" pinta gue pada Diandra yang masih terus menatap gue tak mengerti dengan sikap gue. "Siniin Ndra! Lo budek atau gimana sih? Siniin buku gue!!"
Diandra menyerahkan buku gue dengan wajah... Datar mungkin. I dont care Ndra!! Gue udah punya Laras. Mau sekuat apapun lo berusaha hati gue tetap Laras! Iya gue sangat yakin akan hal itu.
__ADS_1
"Itu tugasnya belum selesei Ga. Aku belum--"
"Gue bisa selesein sendiri! Dengar kan?" gue segera pergi keluar kelas membawa serta tas gue. Ini pilihan gue. Dan gue udah yakin seyakin-yakinnya kalau ini yang terbaik. Tinggal tunggu Laras balik dan sekolah disini. Maka gue akan umumin kesemua orang kalau Laras itu pacar gue.
"Dirga! Aku ada salah ya? Kamu ngomong dong biar aku ngerti." rengek Diandra berusaha nahan gue. Ah nih bocil masih aja ngejar-ngejar gue. Padahal gue udah ngebentak dia supaya dia ngebenci gue lagi.
"Gue yang salah Ndra! Gue yang salah kenapa Tuhan ngehadirin gue disini! Kenapa Tuhan biarin lo jatuh cinta sama gue dan ngebuat masa SMA gue berantakan kayak gini!!"
"Ga apa salah kalau aku sayang sama kamu? Apa salah kalau perasaanku ke kamu itu besar?"
Ah shiit!! Pakai acara nangis segala lagi. Gue segera pergi ninggalin Diandra. Gue harus segera nyamperin Nagra dan selesein semuanya.
๐
"Gue mau batalin taruhan kita. Lo boleh ambil Diandra. Asalkan jangan paksa dia. Biarin hatinya yang pilih tetap bertahan sama gue atau dia justru mau berjuang bareng lo!" gue menyesap pod gue. Ah kenapa berat rasanya.
"Kenapa lo tiba-tiba nyerah hah?" Nagra menatap gue sinis. "Bukannya lo yang ngelarang gue buat dekatin Andra dan memulai taruhan ini?"
"Lo gak usah banyak tanya, lo harusnya berterima kasih sama gue karna gue ngebiarin lo ngedeketin Diandra!"
"Laras balik? Karna dia lo lepasin Diandra?" ucapan Nagra benar-benar menohok gue banget. Darimana dia tau soal Laras balik. Atau jangan- jangan--
"Oh ayolah Ga!! Jadi Laras belum pernah cerita selama ini sama lo?"
Apa? Apa yang Laras tutupin dari gue?
"Maksud lo apa?"
"Ga.." Nagra menyesap rokoknya sebentar. Menikmati setiap rasa yang keluar. "Lo ingat gak Laras pernah cerita ke kita kalau dia beruntung punya saudara kayak gue? Gue tanya sama lo, menurut lo maksud dia apa?"
Gue terdiam berusaha mengingat kejadian itu, kejadian dimana Laras ngomong ke gue soal Nagra, dia membangga-banggakan Nagra. Dan itu nyaris ngebuat gue cemburu.
"Menurut gue? Ya menurut gue dia udah anggap lo itu kayak sodara dia sendiri. Kita bertiga udah kenal dari kecil kan Gra? Jelas dia anggap lo kayak sodara sendiri." Nagra tertawa mendengar jawaban gue. Gue salah?
"Dasar lo bodoh!!" Nagra kembali menyesap rokoknya dan membuat asapnya mengepul di tempat gue dan dia berada. "Lo tau gak kenapa gue selama ini diam aja lo musuhin? Gue cuma mau lo tau faktanya Ga. Gue mau lo tau gue sama Laras itu saudaraan. Kita saudara tiri Ga! Kenapa gue gak pernah cerita? Karna gue mau biar Laras yang jelasin semuanya. Kenapa dia lebih dekat sama gue, kenapa dia mau gue peluk saat dia rapuh, kenapa setiap berantem sama lo dia selalu lari ke gue! Itu semua karna dia memang benar-benar anggap gue saudaranya Ga. Dia mau ngadu sama siapa lagi kalau bukan ke gue kalau lagi berantem sama lo hah?"
"Tapi kenapa Laras gak pernah cerita ini ke gue?"
__ADS_1
"Udah Ga! Dia udah terlalu sering ngomong sama lo. Coba lo ingat-ingat lagi semuanya. Tapi ya udah lah. Itu masalah lo sama Laras. Sekalipun gue saudara tirinya gue tetap gak ada hak buat ikut campur masalah kalian. Gue anggap clear kan masalah kita berdua. Gue akan tetap perjuangin Diandra. Soal Vina, lo tenang aja gue gue gak akan ngebiarin dia nyentuh Diandra sedikit pun. Ah iya. Lo tau kan Putri gimana ke lo? Putri sama Vina sama busuknya Ga, gue harap lo bisa jagain Laras sama kayak gue jagain dia dari siapapun yang mau nyakitin dia!" Nagra pergi meninggalkan gue. Gue masih syok sama fakta yang baru gue tau sekarang.
drttt...
Laras:*
"Hallo Ga?" suara di seberang telepon membuat gue berusaha menahan amarah gue. Enggak Ga! Lo gak boleh marah sama Laras. Lo salah langkah sedikit aja bisa ngebuat Laras jauh dari lo.
"Hai Ras? Lo kemana sih? Kenapa lo dadakan gini? Lo udah makan?" terdengar suara tawa diseberang telepon sana.
"Dirga Dirga, hey bodoh! Gue bukan anak kecil Ga yang harus lo khawatirin kayak gitu. Makan? Lo tau sendiri kan gue suka banget makan. Jadi itu bukan suatu hal yang harus lo khawatirin banget."
"Ras, lo kapan balik?" tanya gue akhirnya. Semua ini gak bisa di bicarain di telepon, gue harus ngomong sama dia langsung.
"Sekangen itu lo sama gue hah? Dasar ya lo bucin banget dah ah!!"
"Lusa gue balik Ga, lo tenang aja. Lo masih suka ngopi kan? Entar gue ajak deh ke cafe milik saudara gue. Gue jamin lo bisa langsung akrab sama dia." gue terdiam. Jelas gue langsung akrab. Orang itu sahabat gue sendiri si Nagra.
"Ga? Kok lo diam?"
"Ekh iya Ras. Iya gue masih suka ngopi kok tenang aja. Traktir ya tapi."
"Lo gak ada guru kok malah asik telponan sama gue? Atau lo bolos lagi? Sumpah ya kalau gue tau lo--"
"Gue gak ada guru Laras sayang.." terpaksa gue bohong. Kalau dia tau gue bolos ocehan dia bisa panjang x lebar x tinggi kayak ocehan nyokap.
"Oiya Ga, anak baru dikelas lo udah masuk? Tau gak gue selisih berapa menit doang sama dia. Mungkin kalau gue lebih cepat gue yang akan masuk kelas lo. Anak barunya cewek atau cowok?" Gue duduk di kursi tempat duduk Nagra tadi. Menyesap pod sebentar kemudian mengembuskannya.
"Kenapa lo sekepo itu sih? Anak baru kelas gue cowok namanya Fabian teman kecilnya Diandra."
"Oh Diandra yang naksir berat sama lo itu ya?" gue terhenyak mendengar ucapan Laras. Pasti Nagra yang cerita soal ini ke dia.
"Lo tau dari mana?"
"Em.. Anu Ga, duh gue kebelet pipis nih. Gue matiin ya, ntar kalau udah dirumah kita telponan lagi. Oke! Semangat sekolahnya sayangku!!"
Telpon berakhir.
__ADS_1
๐