
Gue terus memperhatikan gerak-gerik Diandra. Sepertinya kejadian kemaren sangat berpengaruh dengan pertemanan antara gue sama Diandra. Raisa duduk di tempat awal dia duduk, yaitu didepan gue, tepat dihadapan gue.
"Sa, Raisa.."panggil gue pelan.
Raisa menoleh kemudian tersenyum "Mimpi apa gue semalam--"
"Sssttt berisik anying! Gak usah lebay, Lo kenapa pindah didepan gue? Kenapa Diandra jadi duduk di tempat lo?" tanya gue to the point.
"Diandra yang minta tadi waktu gue barusan datang, gue mau nolak gak enak, mata dia sembab gitu, terus agak pucet jadinya gue iiyain aja." gue mengangguk mendengar jawaban Raisa.
Raisa menatap gue penuh selidik "Lo lagi marahan ya sama Diandra? Gak biasanya Diandra cuek sama lo gini? Kemaren kan dia yang maksa gue pindah tempat duduk, kenapa sekarang dia yang malah pergi?" gue terdiam. Marahan ya? Apa gue kemaren keterlaluan sama dia?
"Gak usah kepo lo!!" jawab gue. Raisa yang kesal dengan jawaban gue pun segera menghadap kedepan lagi.
"Sssttt. Pak bos?" bisik Alex. Gue menoleh kebelakang, karena ia memang duduk dibelakang gue "Apaan ***?"
"Itu si bocil kenapa pindah? Amnesia lagi sama lo?"
"Atau dia udah sadar kali kalau lo gak akan nengok ke dia?"
"Atau dia udah punya gebetan baru? Yah gue kena tikung lagi dong.."
Gue menggeleng mendengar pertanyaan rasa pernyataan mereka itu. Dasar autis ah.
"Dia disuruh berhenti berharap makanya dia jadi cuek gitu." gue tertegun mendengar jawaban Iqbal. Darimana dia tau? Nagra? Gak mungkin Nagra ngasih tau dia soal hal kayak gini. Gue udah bilang ke Nagra jangan kasih tau siapapun.
"Gak usah sok tau deh Bal, gue aja gak tau kenapa dia cuek gitu. Masa bodo lah, bagus sih mungkin dia sadar kalau gue itu gak peduli sama dia sama sekali." jawab gue cuek.
"Lah, gue kira lo beneran sayang sama dia, lo kan bilang waktu itu, waktu awal-awal dia dekat sama si Nagra."
"Gue cuma khilaf itu ah." jawab gue asal.
"Woy, woy apa-apaan nich? Aduh ekye kok gak di ajak julid sih? Julid apaan sih? Mau nimbrung dong.." Ridho tiba-tiba nyumpel di kursi gue. Aelah orang ini gak sadar ya badan gue sama dia kan sama-sama gede. Kalau kursinya kecil di duduki berdua mana enak.
"Lo ngapain sih nyumpel disini. Badan lo itu gede sama kayak gue gak usah nyumpel-nyumpel" gue mendorong tubuh Ridho yang beratnya nyaris kayak gue.
"Aduh pulpen winnie the pooh gue mana woy? Pada lihat kagak sih??" teriak suara cempreng dari arah depan. Itu Diandra.
"Woy kaleng rombeng bisa gak suara lo lo kecilin dikit??" teriak Asen sambil memegang telinganya.
"Heh lo diam deh ya. Itu pulpen kesayangan gue, kalau ilang bisa meninggal rasanya gue." Diandra melotot sambil berkacak pinggang menatap Asen. Sekilas tatapan kami bertemu, tapi ia segera mengalihkan tatapannya.
Tunggu. Ternyata benar kata Raisa, mata Diandra sembab, bahkan bengkaknya kelihatan banget. Sudah matanya sipit makin kelihatan sipit aja dia. Kenapa tadi waktu gue tabrakan sama dia gue gak lihat ya?
"Yan, lo gak lihat pulpen gue?" tanyanya sambil menatap Fabian curiga.
"Emang gue se narsis itu ya nyimpen pulpen alay lo?" jawab Fabian. Gue tersenyum mendengar jawaban Fabian.
"Duh dimana pulpen gue.." Diandra mencari-cari sampai ke kolong kursi dan meja.
__ADS_1
Sampai akhirnya dia berhenti tepat di meja gue. "Nah itu pulpen gue." serunya sambil menunjuk pulpen didekat kaki gue.
Gue melirik kebawah, benar ternyata ada pulpen Diandra disitu.
"Ndra, mata lo kenapa sembab gitu sih? Aneh jadinya."
"Padahal udah cantik gitu potongan rambut baru."
"Hah apa lo bilang? Lo baru nyadar Lex kalau gue cantik?" sewot Diandra.
"Mata gue baru kebuka aja kalau ternyata lo cantik banget kalau gak kecentilan kayak biasanya." jawab Alex dengan nada candaan. Tapi gue lihat Diandra merasa tersinggung.
Gue menyenggol bahu Alex keras. Alex sadar kalau dia salah ucap. "Em anu Ndra, sorry maksud gue--"
"Its oke Lex, santai aja." jawab Diandra sambil tersenyum. "Em.. Ga, gue mau ambil pulpen gue dibawah lo." ucapnya sambil berjongkok disamping gue.
Tapi gue justru nunduk untuk mengambil pulpen milik Diandra. Jadilah adegan tabrak kepala kayak di sinetron-sinetron. Sial sih. Nyesal gue ambilin pulpennya.
"Aduh.." Diandra mengelus-elus kepalanya.
"Ekh sorry, kena kepala lo ya?" tanya gue sambil berusaha menyentuh kepala Diandra.
"Ekh, gak papa kok." jawab Diandra sambil menepis tangan gue.
Ah shiit!! Bahkan lo gak mau gue nyentuh lo sedikitpun?
"Diandra kenapa sih?" tanya Asen.
"Kok sikapnya aneh banget? Gue lebih senang lihat sikap centilnya dia ke lo daripada cuek gini." sahut Alex.
Jangankan lo Lex, gue juga ngerasa gitu sekarang.
"Gue juga lebih senang dia centil sama dia ngomel-ngomel sama lo kayak waktu itu dibanding sekarang. Dingin bat astaga ngeri."
Bu Rini pun masuk menghentikan percakapan gue dan teman-teman gue.
📌
"Lo ngantin gak?" Alex dan cecungut nya berhenti di samping bangku gue.
"Duluan aja. Gue masih mau dikelas bentar."
Iqbal memberi kode pada mereka, entah apa maksud kodenya. Intinya mereka mengangguk kemudian pergi ninggalin gue.
Gue memperhatikan perempuan yang kini duduk jauh didepan gue. Sikapnya gelisah. Dan tumben dia sendirian.
Gue berjalan mendekatinya. "Lo gak papa Ndra?"
"Ekh? Gue gak papa." jawab dia, kemudian berjalan keluar meja.
__ADS_1
"Lo gak ngantin?" tanyanya. "Nih gue mau ngantin. Mau bareng?"
Diandra menggeleng "Gue mau nunggu kak Nagra dulu. Gue duluan ya."
Belum ada 5 langkah, Diandra jatuh. Untungnya gue masih dalam jangkauannya. Jadi gue bisa menopang tubuhnya supaya gak jatuh ke lantai. Kalau sampai ke lantai kan bisa riweh urusannya.
"Ndra???" gue mencoba menyadarkan Diandra. Matanya masih terbuka sedikit. Kemudian ia terpejam.
"Diandra.." gue segera menggendongnya dan membawanya ke UKS. Urusan Laras itu urusan nanti. Gue tau dia pasti akan salah paham. Yang terpenting sekarang keselamatan Diandra.
"Loh mas, mbak Diandra nya kenapa?"
"Mbak tolong cariin fresh care ya, dia gak suka minyak kayu putih soalnya."
Mbak Ana, si penjaga UKS dengan sigap mencarikan fresh care untuk Diandra.
"Mbaknya pucet gitu mas. Kayaknya sakit. Biar istirahat aja dulu. Mungkin dia kecapean. Saya buatin teh hangat aja ya?" gue mengangguk.
Gue menatap Diandra dan mengelus kepalanya.
Ndra..
Maaf gue banyak salah sama Lo.
Lo kayak gini pasti karna kejadian kemaren ya?
Maafin gue ya udah jahat banget sama Lo.
Dengan nekat gue mengecup keningnya.
Iya. Gue tau gue sudah salah besar!
Ini mungkin akan jadi yang pertama.
Dan yang terakhir tentunya.
"Em.. mas--" gue terkejut sekaligus malu melihat mbak Ana sudah berdiri di dekat tirai.
"Ini teh hangatnya." ucapnya sambil memberikan segelas teh hangat. Aku meletakkan gelas itu di meja.
"Mbak, kasur sebelah gak ada yang isi?"
Mbak Ana menggeleng. "Saya disitu aja ya. Kalau dia bangun tolong bangunin saya. Tapi tolong jangan bilang apapun soal saya ke dia." pinta gue kemudian gue berbaring di kasur sebelah.
Gue memejamkan mata.
Gue rasa ada yang salah sama hati gue..
📌
__ADS_1