Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Dirga.20


__ADS_3

Gue menatap dua barang di meja belajar gue, barang itu membuat gue marah sekaligus kasihan sama Diandra. Semua barang miliknya selalu ditulisi nama gue. Sepenting itukah gue buat dia?


Tapi kenapa gue gak bisa balas perasaan dia ke gue sih?


drrrtt...


Gue melirik hape gue. Iqbal? Kenapa dia?


Iqbal


Lo dimana? Gue otewe rumah lo, mau wipian cuy, wipi rumah gue mati.


Me : kamar. Bawa makanan kalau kerumah. Bawa eskrim.


Iqbal


Y


Gue terus memikirkan keputusan gue besok. Menurut gue ini udah benar. Gue harus buat Diandra jauhin gue. Kasihan dia kalau harus ngejar-ngejar gue terus padahal gue udah punya Laras.


drrttt..


Iqbal


Depan


Sumpah ya nih anak benar-benar kayak gak pernah kerumah gue aja lebay banget.


Me : Masuk bgsd! kayak kerumah mertua aja lo lapor-laporan.


Dua menit kemudian Iqbal datang dengan membawa sebuah kresek. Semoga itu eskrim.


"Sejak kapan lo doyan eskrim?" tanya Iqbal. Gue gak berniat menjawab pertanyaan Iqbal. Gue lebih suka berkutat dengan eskrim gue.


"Gue nanya curut!!!" Iqbal melemparkan sebungkus Lays yang mau dia buka. Sial nih anak!!


"Apaan sih Bal!!" gue menyendokkan eskrim kemulut gue. Ternyata benar kata Diandra eskrim itu enak.


"Ini jepitan punya Diandrakan? Dia nyariin sampai bongkar-bongkar isi tas gue tau lah!" sungut Iqbal sambil mengambil jepitan Diandra.


"Gue nemu dikantin waktu beli minuman."


"Kenapa gak lo balikin?" tanya Iqbal sambil menikmati kripik milliknya.


"Besok mau gue balikin, gue tadi lupa." Gue memperhatikan tas Iqbal sedikit menggembung. Pasti anak ini kabur dari rumah.


"Lo nginap sini?" tanya gue hati-hati.


"Gak ada masalah kan kalau gue nginap sini?" tanya nya balik.


"Bal--"

__ADS_1


"Gue lagi gak mau bahas itu Ga, biarin kita bahas yang lain. Mungkin tentang lo sama Diandra?" sahutnya penuh penekanan. Sekarang gue yang malah malas bahas itu.


"Kenapa sih lo hobby banget bahas Diandra? Lo suka sama dia?" tanya gue gemes sama nih orang.


"Gue cuma suka perjuangan dia. Kalau dia mau minta tolong gue buat dapatin lo gue akan dengan senang hati ngebantu dia Ga, Perjuangan dia benar-benar patut diacungi jempol."


Gue jadi penasaran. Gak mungkin Andra nolak bantuan Iqbal "Emang lo udah coba tawarin?"


"Udah." jawab Iqbal kemudian menatap gue tajam "Tapi dia nolak! Lo tau dia bilang apa ke gue? Dia bilang, dia yakin suatu saat lo bakal ngebalas semua perasaan dia tanpa bantuan apapun. Dia cuma berharap sama waktu dan takdir aja."


Gue terdiam. Salah gak sih kalau gue matahin perjuangannya?


Ah enggak! Justru kalau gue ngebiarin dia terus-terusan gini, itu yang salah.


"Gue gak punya rasa apa-apa sama dia Bal, kalau dia terus perjuangin gue, kasihan dianya berharap terus. Gue pengen ngebiarin Nagra ngejar dia. Gue pengen dia lupain gue aja Bal. Sumpah kasihan dia."


Iqbal membaringkan tubuhnya di kasur gue "Lo yakin gak ada rasa? Atau lo nya aja yang gak nyadar?"


Enggak! Gue gak pernah ada rasa sedikitpun sama Diandra. Gak ada pokoknya! Hati gue cuma buat Laras. Laras pokoknya!!


"Kalau lo tetep kekeuh mau bepikiran gitu dan lo mau nyuruh Diandra berhenti. Silahkan. Tapi jangan nyesal kalau akhirnya nanti dia beneran berpaling dari lo."


Iqbal menarik selimut kemudian terpejam. Sial berasa dirumah sendiri dia mah kalau gitu.


"Gue mau tidur duluan. Lo pikirin baik-baik! Jangan sampai salah langkah!" ucapnya kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi gue.


๐Ÿ“Œ


"Laras gak bareng lo Ga?" tanya Iqbal saat lihat gue bawa motor. Iqbal tau Laras paling gak suka naik motor.


"Enggak, dia bilang dia ada perlu pagi ini. Mungkin bareng Nagra." iya, gue udah ceritain semua soal Laras sama Nagra ke Iqbal. Baru Iqbal aja yang tau, karena memang baru dia yang nemui gue setelah penjelasan yang panjang lebar itu.


Gue melajukan motor diikuti Iqbal dibelakang. Kalau gue pikir-pikir diantara semua teman-teman gue yang paling dewasa pikirannya cuma Iqbal, dia selalu berpikir kedepannya gimana. Kayak tadi malam dia ceramahin gue soal Diandra. Dia mikir kedepannya kalau ternyata gue akan jatuh cinta sama Diandra dan minta dia balik ke gue?


Gue Dirgantara Davidson memohon gitu sama Diandra Wijaya?


Ngemis-ngemis sayang dari dia? Gak mungkin. Gue juga gak yakin dia bisa move on dari gue. Gue orang pertama yang dia sukai di SMA Bangsa ini. Gak mungkin segampang itu ngelupain gue.


Gue mengurangi kecepatan motor gue dan memarkirkan di tempat biasa gue parkir motor.


"Gaga.." suara yang sangat familiar di telinga gue. Pas banget nih "Ngapain lo?"


Diandra berjalan mendekati gue "Ga ke kelas bareng yok.."


Gue menarik lengan Diandra "Gue ada perlu sama lo, masih 10 menit lagi masukan, ikut gue bentar ya" ucap gue dengan semanis mungkin.


"Lo mau kemana?" Fabian menghentikan langkah gue dan juga Diandra. Sedekat itu ternyata hubungan kalian?


"Ada urusan sama calon masa depan Yan. Gue titip tas ya.." Andra langsung melemparkan tasnya pada Fabian dan disambut tepat sasaran.


Gue membawa Diandra ke koridor yang cukup sepi. Supaya gue bisa leluasa ngomong. Tepat didepan ruang alat musik gue rasa cukup sepi.

__ADS_1


Gue mengeluarkan pulpen dan jepitan rambut Diandra dari dalam tas gue "Gue cuma mau balikin pulpen sama jepitan lo! Satu lagi Ndra, buang semua nama gue di semua barang lo. Lo gak malu hah? Lo gak malu gue udah nolak lo berkali-kali tapi lo masih aja ngarepin gue. Lo gak malu ngasih nama semua barang lo itu 'Diandra pacar Dirga' lo gak malu hah? Lo tau gak? Lo itu ratu halu!!"


Diandra terdiam dia terus menatap gue. "Ga--"


"Gue aja capek Ndra liat perjuangan lo! Lo gak capek apa? Mending lo berhenti kejar-kejar gue!!"


Gue terdiam menunggu reaksi Diandra. Oke ini sedikit kejam udah kepalang basah! "Gue pernah baca di artikel kalau cewek disuruh berhenti sama orang yang dia sayang. Dia akan dengerin itu. Lo sayangkan sama gue? Jadi gue minta lo berhenti kejar-kejar gue! Gue udah punya pacar! Lo ingat itu jauhin gue!!" Gue melemparkan jepitan rambut itu dan juga pulpen milik Diandra yang pernah dia pinjamkan ke gue waktu itu.


Gue berjalan meninggalkan dia sendirian tanpa menengok ke arahnya. Gue takut kalau gue nengok gue justru ikutan rapuh lihat dia rapuh. Gue segra membuka room chat gue sama Nagra dan mengiriminya pesan.


Me : Diandra lagi didepan ruang musik! Buruan samperin atau gue akan tarik kata-kata gue yang ngebiarin lo ngejar Diandra?


Nagra naga


Bgsd! Lo apain hah?


Me : Bacot anjey! Lakasih!!!


Nagra naga


otewe


Gue bersembunyi dibalik belokan masih memperhatikan Diandra. Berharap Nagra cepat datang dan menenangkan Diandra. Diandra benar-benar kuat. Bahkan gue lihat dia gak nangis sesenggukan. Dia masih cukup tenang tubuhnya belum bergetar karna tangisan.


Beberapa menit kemudian gue lihat Nagra menghampirinya dan memeluknya barulah tubuh Diandra bergetar karena tangisannya mungkin.


Selamat tinggal Ndra. Semoga lo bisa dapatin yang jauh lebih menghargai lo dibanding gue.


๐Ÿ“Œ


Gue kembali ke kelas tanpa Diandra tentunya.


"Diandra mana?" suara itu langsung mengejutkan gue ketika gue baru aja masuk kelas.


"Apaan sih.." jawab gue jutek tak memperdulikan Fabian yang terus menatap gue tajam.


"Gue nanya! Dimana Diandra? Lo tadi bareng dia kan?"


"Tadi dia bilang mau ke toilet." jawab gue pelan. Jelas gue bohong. Gak mungkin gue bilang gue habis buat dia nangis.


"Awas aja lo kalau boong!!" ancam Fabian. Dia gelisah menunggu Diandra balik. Mungkin Diandra bakal pergi bareng Nagra atau apalah gue gak peduli.


Fabian terus menelepon Diandra, gue lihat dia khawatir banget sama Diandra. Lo bodoh Ndra! Lo punya Fabian, lo punya Nagra tapi masih aja ngejar gue. Dasar bodoh!


"Fan, lo sama Vanya samperin deh ke toilet, gue takut dia kenapa-napa. Tas nya sama gue. Inhalernya di tas, hapenya juga ternyata di tas." Fany mengiyakan permintaan Fabian. Segera dia dan Vanya pergi menyusul Diandra.


Inhaler, hape semua di tas? Astaga lo ceroboh banget sih Ndra. Maafin gue Ndra.


"Lo ingat kata-kata gue--" Fabian menatap gue sinis "Kalau Diandra kenapa-napa orang pertama yang gue cari itu Lo! Gue dan bang Joe akan buat perhitungan sama lo! Lo ingat itu!!"


๐Ÿ“Œ

__ADS_1


__ADS_2