Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Diandra.27


__ADS_3

Aku masih memikirkan ucapan Dirga di rumah hantu tadi. Dia habis kejedot pintu kali ya bisa ngomong gitu. Herman aku. Ekh maksud aku heran.


"Woy anjey!!" bang Joe datang sambil melempariku bantal miliknya. "Duh apaan sih bang!!!"


"Lo tuh dipanggil dari tadi gak denger mikirin apaan sih?" aku menggeser dudukku dan memberikan tempat untuk bang Joe. "Lo ngapain bawa bantal ke sini?"


bang Joe tersenyum. Wah aku curiga nih dia sok senyum manis gini ke aku pasti ada maunya. "Dah deh bang to the point gak usah kelamaan! Lo mau apa dari gue?"


"Gue mau tidur sini yaaa.." aku melongo mendengar perkataan bang Joe, gak biasanya dia mau tidur bareng aku. "Lo kesambet setan apa bang mau tidur bareng gue?"


"Kagak! Bukan tidur bareng lo dodol! Gue cuma mau tidur sini. Gue tidur di sofa kok tenang aja."


"Lo kenapa sih emangnya? Kenapa gak tidur dikamar lo?" tanyaku heran.


"Lo tau gak sih hari ini ada pasar malam kan??"


"Hem, terus?"


"Gue kesana, ekh diajak Tasya masuk ke rumah hantu guekan horror sendiri jadinya kalau sendirian dikamar."


Deg..


Jadi tadi bang Joe ke rumah hantu juga?


"Lo kenapa sih jadi ngelamun juga?"


"Fabian mana? Kenapa lo gak tidur bareng dia?"


"Gue lagi pengen sama lo, aelah kenapa sih lo habis pulang sama Nagra jadi rese gini?"


"Mikirin Nagra atau Di--"


Bang Joe terdiam tak jadi melanjutkan ucapannya. "Iya bang, gue lagi mikirin Dirga" jawabku pelan.


Bang Joe menatapku tajam "Bilang dek sama abang, lo diapain sama lagi sama Dirga hah? Lo dibuat nangis lagi sama dia? Dia ngebentak lo lagi? Dia--"


"Dia meluk gue bang!!" bang Joe menatapku heran "Coba ulangi ucapan lo tadi? Kayaknya gue salah dengar deh?"

__ADS_1


Aku mengambil boneka winnie the pooh kesayanganku kemudian memeluknya "Lo gak salah dengar bang. Gue serius bang, dia meluk gue. Tadi gue juga kerumah hantu sama kak Nagra, Laras, sama Dirga juga. Pas didalam sana kita gak sengaja kepencar. Terus ada yang narik gue, gue pikir kak Nagra ternyata Dirga. Mungkin dia juga kaget. Terus gak lama dia meluk gue sambil bilang--" aku terdiam sebentar. Memikirkan apa maksud dari kata-kata Dirga.


"Bilang apa dia?" bang Joe menunggu kelanjutan ucapanku. "Dia bilang... kalau dia mau ngeyakinin sesuatu."


"Terus lo jawab apa??"


"Gue cuma bisa diam bang, bingung gue kudu gimana. Gue berusaha ngatur detak jantung gue biar dia gak dengar. Malu gue rasanya kalau dia tau gue deg-degan di peluk dia."


"Terus??" bang Joe memposisikan tubuhnya menghadapku. Aelah nih abang satu kepo bingitzz.. "Terus apa lagi anjey? Udah adegannya sampe situ doang!!"


tiba-tiba bang Joe menoyor kepalaku. Bangkek lah!! "Maksud gue, perasaan lo gimana? Masih ngarep? Gue saranin jangan deh. Gue dengar dari Fabian, dia ngumumin kalau dia punya cewek waktu lo down kemaren. Dia ngebuang lo setelah dia punya cewek? Sialan banget??"


"Kagak bang!! Lo salah paham."


"Cewek itu namanya Laras, dia masa lalu Dirga. Cewek itu menghilang selama hampir 3 tahun dan Laras baru balik disaat Dirga udah mulai baik ke gue. Jadi emang udah sepantasnya kalau Dirga pasti akan balik lagi ke Laras kan?"


Bang Joe menghembuskan napasnya pelan. Aku perhatikan guratan diwajahnya nampak kelihatan malam ini. Sepertinya dia banyak pikiran. Maafkan adekmu yang bgsd ini ya bang, bukannya ngurangin bebanmu, aku justru nambah beban pikiran.


"Ndra, gue gak bisa maksa lo buat lupain Dirga. Karna gue tau ngelupain itu butuh waktu yang panjaaaaang banget. Gak bisa sebentar. Tapi gue saranin jangan buka pintu hati lagi ya buat dia, gue takut kalau dia cuma jadiin lo pelampiasan doang. Mungkin dia ada masalah sama Laras tapi berusaha kelihatan kalau mereka baik-baik aja padahal kenyataannya enggak." aku nampak berpikir sejenak. Apa mungkin Dirga gitu ya sama aku?


"Emang abang yakin Dirga sejahat itu sama gue? Masak iya dia gak ada rasa sedikitpun ke gue bang?"


"Gue ngantuk. Gue tidur duluan ya." bang Joe memposisikan tubuhnya untuk tidur di sofa. Ah aku jadi gak tega. "Bang, lo tidur gih di atas bareng gue."


"Hah? Lo kan gak pernah mau tidur bareng gue selama SMA ini?"


"Udah buruan! Bacod amat yak disuruh tidur sini aja gak mau! Keburu gue berubah pikiran!!" bang Joe dengan semangat pindah di kasurku "Bagi tempat ya! Awas aja lo tidur kayak kebo kesana kemari. Gue tendang lo dari kamar gue!!" aku bangkit berdiri berjalan ke arah kamar mandi. "Lo mau kemana curut?"


"Pipis!" jawabku singkat.


Setelah menyelesaikan urusanku. Aku kembali duduk dipinggir kasur. Ku lihat sebuah kardus dibawah meja belajarku. Segera ku membukanya. Ah iya ternyata ini kardus Dirga. Aku segera membawanya ke gudang. Aku pikir ucapan bang Joe lagi-lagi benar tentang Dirga. Sepertinya aku hanya pelampiasan saja. Atau dia hanya merasa bersalah karena sudah membuatku down kemaren.


Oke, aku janji Ga sama diri aku sendiri. Mulai hari ini dan seterusnya gak ada lagi Diandranya-Dirga lagi. Yang ada hanya Diandra, Dirga. Dua orang dengan perasaan yang gak pernah sama. Bahkan kita gak pernah berjalan searah ya Ga?


📌


Hari ini aku kembali ke tempat dudukku. Iya didepan Dirga. Aku rasa menjauhinya bukan ide yang bagus. Jadi aku harus bersikap biasa ke dia. Jangan cuek ataupun jangan kecentilan didepan dia.

__ADS_1


"Ndra lo yakin balik duduk disini lagi?" tanya Fabian saat aku baru meletakkan tasku di laci.


"Kenapa? Lo mau duduk didekat Raisa terus?" Fabian mendengus kesal. "Lo lama-lama kayak Leon ya, Raisa mulu. Gue kan gak ada apa-apa sama Raisa."


Aku menatap Fabian. Aku baru sadar selama ini aku bahkan gak pernah ketemu sama Nadia. Pernah sekali waktu awal dia pedekate. Sekarang semenjak mereka pacaran aku gak pernah sekalipun lihat Nadia. Bahkan Fabian quality time sama Nadia pun gak pernah. "Yan, gue mau nanya deh sama lo. Tapi lo kudu jujur ya!"


"Apaan sih? Gak usah bahas Raisa ya pagi-pagi." sungutnya. Aku tertawa melihat wajah kesalnya. Sungguh dia Fabian-ku tersayang.


"Hubungan lo sama Nadia gimana sih?" tanyaku pelan. Ku lihat wajah Fabian yang semula kesal jadi tegang ketika aku menanyakan soal Nadia ke dia. "Yan, lo putusan sama dia? Cerita dong ke gue."


"Hubungan gue baik-baik aja kok sama dia. Sangat baik-baik aja. Ntar kapan-kapan gue ajak dia main kerumah lo!" ucapnya.


"Lo LDR gini sama dia gak takut dia selingkuh? Lagian lo kenapa milih menetap disini? Padahal pacar lo di Bandungkan?"


"Aduh lo kepo banget sih!!" Ucapnya sambil mengacak rambutku. "Astaga Fabian rambut aku jangan di acak gini dong!!!"


"Ekh rambut lo--" Fabian menarik-narik pelan rambutku "Lo ganti warna lagi? Kapan?"


"Tadi malam lah. Kemaren kan kak Nagra ngancem gue. Dia bilang kalau hari ini ada razia jadi gue ganti warna aja biar rambut gue gak kena razia."


"Makanya warnai rambut itu jangan warna kuning dodol!!!" aku merengut kesal "Tapi kan gak semua gue warnai kuning. Cuma bagian bawah doang itu pun tipis-tipis."


"Tapi Joe gak malu ya punya adek kayak lo, udah pendek, suka kuning, suka makan eskrim, suka winnie the pooh makanya badan lo kayak winnie the pooh, gendut pendek hidup lagi!!" ucapnya sambil tertawa keras..


"Ya ampun Fabian suara lo itu sampe luar tahuuu!! Bisa gak pagi-pagi gak usah ngerusuh!!!" omel Raisa didepan pintu kelas. Aduh ada perang ketiga nih di kelas.


"Apa sih lo nenek lampir diam deh! Gak usah ikut campur!!" sahut Fabian.


"Lo itu dasar tiang listrik!!"


"Lo kependekan bukan gue yang ketinggian! Sama aja kayak Diandra! Pendek hidup lagi!!" aku segera menoyor kepala Fabian. Enak aja aku disama-samain sama Raisa. Jelas masih ramping aku tubuhnya.


"Mulut lo pengen gue jahit??" umpatku kesal.


Tiba-tiba tatapanku terhenti pada sesosok manusia didepan pintu kelas. Dia menatapku dengan pandangan yang sulitku artikan. Aku menarik napas pelan.


Ingat niat lo semalam Ndra! Lo harus lupain dia! Jangan pernah nyimpan rasa lagi untuknya!!!

__ADS_1


📌


__ADS_2