Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Diandra.29


__ADS_3

Aku mendengus kesal. Lagi-lagi jepitan kesayanganku hilang. Bisa-bisanya aku lupa dimana jepitan itu.


"Ndra ditungguin Nagra tuh di bawah buruan!!!!"


"Iya Yan!! Lagian udah gue bilangin gak usah jemput kenapa dia jemput gue sih!!"


"Buruan dah ah! Gak usah ngedumel gak jelas!!" sahut Fabian dari luar kamarku.


Aku merapikan penampilanku. Kali ini aku memakai bandana kuningku. Setelah ku poleskan sedikit lip tint. Aku tersenyum kecut. "Ah sial! Gak ada jepitan!!"


Aku segera mengambil tasku dan berjalan keluar kamar. "Lama amat sih lo liliput emang!!"


"Bawel!!"


Aku berjalan menuruni tangga diikuti Fabian di belakangku "Jadi lo gimana sama Raisa? Jadian udah? Atau mau bohongin gue lagi kayak soal Nadia??"


Fabian menghela napas pelan "Bisa gak lo pagi-pagi gini gak usah bahas Raisa ataupun Nadia? kemaren-kemaren lo bahas Nadia. 3 bulan ini lo bahas Raisa! Kesel sendiri gue jadinya!!" jawabnya kemudian berjalan mendahuluiku.


Lah? Dia marah?


"Fabian? Lo marah???" tanyaku.


Fabian tak menggubris. Hari ini tak ada sarapan dirumahku. Mamah dan papa keluar kota. Bang Joe sudah pergi sejak subuh tadi. Jadilah cuma tinggal kami berdua disini.


"Bian!! Lo marah ya sama gue??" tanyaku lagi sambil menarik ujung baju Fabian.


"Apaan sih Ndra!! Udah buruan sana berangkat udah ditunggu Nagra tuh!"


Aku masih terdiam di tempat. Fabian gak pernah marah sama aku. Aku bercanda soal apapun dia selalu menanggapinya dengan santai. Lalu kenapa dia sampai begini?


"Bian. Maaf deh!! Gak lagi gue bahas mereka ya..."


"Gue mau berangkat sekolah Ndra!!!"


"Biaaaaannnn...." aku terus merengek padanya.


"Ndra! Lepasin gue bisa gak? Gak usah kayak anak kecil deh! Alay banget!"


Aku merengut kesal "Yang kayak anak kecil itu lo! Gini doang lo ngambek sama gue! Ngambek gak jelas lagi!! Bikin gue kesel pagi-pagi!!"


Aku berjalan meninggalkan Fabian dan menghampiri kak Nagra. "Kamu kenapa muka ditekuk begitu hah??" aku mengambil helm dari tangan kak Nagra "Udah ah buruan ayok berangkat!! Aku lagi kesel!!"


"Cerita dulu sama aku!!"


"Kak!! Buruan deh, kakak juga kudu kekampus kan? Ntar kakak telat lagi gimana? Aku kan udah bilang gak usah jemput aku lagi. Kakak tuh harus kekampus. Kalau harus antar aku dulu ke sekolah jadinya bolak balik tau gak sih!!!"


"Duh gue jadi kena omelan juga!!" gumam kak Nagra yang masih bisa aku dengar.


"Buruan!!" teriakku lagi. Moodku jadi jelek gara-gara Fabian tadi.


Kak Nagra segera melajukan motornya. Gak sampai 20 menit kami sudah sampai didepan gerbang sekolah. "Makasih. Lain kali--"


"Aku tetep antar kamu selagi aku ada jam pagi. Oke! Kalau aku sempat aku juga jemput kamu. Pahamkan? Gak terima omelan!! Aku pamit!!"


"Kak Nagra iiihhh!!!!" kak Nagra sudah melajukan motornya sebelum sumpah serapahku keluar. Dasar kakak kelas gak tau diri.


Aku berjalan sendiri menyusuri koridor kelas. Hari ini aku sedang malas bertegur dengan siapapun. Semuanya karna si kutu kupret Fabian!


"Hai Ndra??" seseorang berusaha menyamakan langkahku. "Dirga? Hai ada apa?" ternyata dia Dirga.


"Sendirian aja? Biasa lo sama Fabian." aku menggeleng "Gak Ga, gue lagi bete sama tuh bocah. Kesel dah gue ah!!"


Hubunganku dengan Dirga sedikit membaik. Entah apa yang membuat dia jadi baik sama aku, sering menegurku. Bahkan kadang menawarkan aku untuk pulang bersamanya.


"Tumben lo berantem sama dia."


"Lo sendiri tumben gak sama Laras atau cecungut lo?" Dirga menggaruk tengkuknya "Ah kalau itu, gue emang udah jarang ngumpul sama Ridho sama yang lain. Kalau Laras dia lagi sibuk sama tugas-tugasnya jadi sering berangkat pagi."


"Oiya Ndra??" Dirga berhenti kemudian menatapku "Tumben lo gak pakai jepitan khas lo? Lo kalau pakai bandana begini jadi cantik."


"Jepitan gue ilang. Aelah sumpah gue lupa naruh dimana." Dirga tertawa "Lo itu kenapa selalu ceroboh sih. Semua aja barang lo ilang."


"Ada-ada aja lo tuh Ndra!!" Dirga mengacak-acak rambutku sebentar. Aku mematung. Astaga apa yang barusna aku rasain???

__ADS_1


"Ekh sorry ya, kelepasan jadi berantakan rambut lo." Dirga nampak gugup serba salah. "He... gak papa kok" jawabku sambil merapikan lagi rambutku.


Kami sampai didepan kelas. Ada beberapa anak kelas yang nampak merhatiin aku dan juga Dirga. Ada juga yang sudah tidak peduli. Pasalnya setelah kejadian ulang tahun SMA Bangsa kemaren, Dirga gencar banget negur aku, cari perhatian. Itu suatu hal yang awalnya gak mungkin jadi mungkin banget. Kadang bu Ira sudah menyisakanku 3 cup eskrim tanpa perlu aku membayarnya. Ternyata eskrim itu dibayar sama Dirga. Aku sendiri gak paham sama semua perubahan sikap Dirga. Tapi sungguh aku gak mau ambil pusing sama semuanya.


"Lagi Ndra??" tanya Vanya saat aku sampai ditempat dudukku. "Apa??"


"Ya apalagi sih Ndra kalau bukan soal Dirga??" sahut Fany. Aku mengangguk. Mereka semua sudah paham dengan semua yang terjadi. Bahkan mereka sudah berulang kali menjelaskan padaku tentang apa yang terjadi. Tapi tentu saja aku menepis semua pemikiran bodoh mereka.


"Lo tuh emang susah peka ya Ndra? Atau lo sebenarnya sudah sadar, tapi lo mau balas dendam? Lo mau dia ngerasain apa yang lo rasain selama ini??"


"Lo ngomong apa sih Van? Lo udah gila ya? Bisa-bisanya lo mikir kayak gitu!!" ungkapku.


"Kenapa sih semua orang buat gue kesel pagi ini!!" umpatku keras. Disaat yang bersamaan Fabian masuk kelas. Tidak ada percakapan seperti biasa antara aku dan juga Fabian.


"Lo marahan sama Fabian??" tanya Fany.


"Gak tau!" jawabku kesal.


"Ndra--" aku menoleh ke si empunya suara "Apaan Ga? Lo mau buat gue bete juga??"


Dirga menggeleng "Kagak Ndra. Gue mau pinjem buku pr dong. Gue belum ngerjain sosiologi. Jangan bilang buku lo ada di Fabian!!"


"Bawel!!" aku segera mengeluarkan buku sosiologiku kemudian memberikannya pada Dirga.


"Nih. Jawabannya lumayan panjang." ucapku. "Aelah Ndra, bisa gak lo tuh gak usah cemberut gitu!! Lo udah comel makin comel kalau gitu!!"


Aku menatap Dirga malas. Ada aja rayuan receh yang dulu aku keluarin untuk Dirga kini berbalik menyerangku. Aku menyentuh kening Dirga. Ah hangat sedikit. Pantesan rada **** hari ini.


"Kenapa lo nyentuh kening gue?"


"Pantes rada oon!!" gumamku.


"Apa lo bilang barusan??"


"Lo rada oon makanya pagi ini bisa aneh gitu!!"


Aku segera membalikkan tubuhku menghadap kedepan. Ku liat Fabian tidak ada ditempat. Kemana dia??


"Dia barusan keluar, katanya dia minta izinin."


"Dia sakit??" tanyaku lagi.


"Kayaknya enggak deh!!"


Aku terdiam. Pasti dia masih kesal makanya dia memilih membolos. Ternyata lo gak berubah ya Yan, masih aja kalau kesal lebih milih bolos.


📌


Aku terdiam menatap teman-teman sekitarku. Aku merasa hari ini hari kehancuranku. Bagaimana tidak? Aku lupa hari ini hari-hari aku akan mengalami pms. Dan benar saja. untung Vanya membawa 3 bungkus. Jadi aku bisa meminta satu. Tapi tetap saja. Ini hari kesialanku.


Aku masih terdiam menatap satu persatu murid keluar untuk istirahat. "Van--"


"Ndra, lo punya novel baru gak??" tanya Ridho tiba-tiba.


"Duh lo bisa diam gak sih?"


"Ndra, lo ngantin gak?" tanya Fany.


"Andra ada urusan bentar sama gue, jadi kalian duluan aja!!" sahut Ridho. "Ekh jangan--"


"Udah duluan sana ke kantin!! Atau mau gue cium nih!!" Fany dan juga Vanya segera pergi keluar kelas. Ah sial! Tinggal Dirga dan teman-temannya aja disini.


"Lo kenapa sih Dho? Lo ngerjain gue ya??"


"Lah lo yang kenapa? Kalau lo mau nyusul mereka kekantin ya nyusul aja kenapa lo jadi takut gitu??"


Aku terdiam. Aku mau aja berdiri mengikuti langkah Vanya dan Fany keluar kantin. Tapi aku takut kalau aku kebocoran. Aku cuma memakai satu dan itu gak cukup banget buatku di hari pertama begini.


"Lo kenapa sih Ndra??" tanya Dirga.


"Gue gak papa. Gue mau dikelas aja deh. Nih novel!!" jawabku. Kemudian aku menyerahkan novelku pada Ridho.


"Lo sakit? Gelisah gitu?" tanya Asen. "Duh kenapa pada kepo sih!! Udah deh sana kalian pada kekantin!!!"

__ADS_1


"Lah lo kenapa sih aneh banget!!" Sahut Alex. "Fak lah kalian semua!! Buru pada pergi.."


Mereka semua merengut kesal. Tapi kemudian pergi ninggalin gue. "Lo gak denger gue suruh keluar??" ucapku kesal pada Dirga.


"Lo kenapa??"


"Gue gak papa!!"


"Kenapa??"


"Gak papa!!"


"Ndra! Lo kenapa??"


"Gak papa Ga!!"


Dirga memejamkan matanya "Lo--"


"Aaaaahhhhh gue lagi pms!! Dan gue ngerasa kalau gue tembus Ga..." ucapku frustasi.


Dirga diam sebentar. "Tunggu deh. PMS apaan??"


"Duh Ga!!! Gue lagi dapet! Jangan bilang lo gak tau dapet apaan?? Gue lagi datang bulan!!! Gak tau juga? Gue lagi--"


"Iya-iya gue paham. Jadi sekarang gimana? Emang tembus??" tanyanya.


Aku mengangguk mengiyakan. "Ya udah pulang aja lo. Daripada makin banyak ntar banjir darah lagi kelas."


Aku menatapnya tajam. Bisa-bisanya keadaanku lagi begini, dia justru menjadikannya guyonan. "Iya-iya maaf. Gue anterin pulang ya???"


Aku terdiam. Mengiyakan tawaran Dirga sepertinya pilihan terbaik. Melihat situasi yang sangat-sangat tidak kondusif. Fabian yang membolos, Vanya dan Fany yang sudah pergi dari kelas. Cuma Dirga harapanku satu-satunya. "Tapi gimana gue jalannya? Ntar kelihatan orang-orang gimana??" aku berusaha menahan air mataku. Duh jangan nangis Ndra!!!


"Lo tutupin pakai tas lo aja!!" Aku mengiyakan ucapan Dirga, kemudian aku mencobanya dan berdiri. Aku memutar kepalaku, berusaha melihat bagian belakang tubuhku. Tertutupi sih tapi tetap aja kelihatan.


"Lagian lo kenapa bisa sampe tembus sebanyak ini sih??" aku terduduk lemas. Banyak banget ternyata. "Gue gak tau kalau gue kedapetan hari ini. Harusnya gue udah persiapan sih. Apalagi hari ini harinya pakai rok putih. Tapi gue gak inget gara-gara tadi kak Nagra jemput gue."


"Ya udah, lo jalan duluan gih, biar gue tutupin dari belakang." ucapnya. "Tapi gue takut Ga, gue malu..."


"Jaket gue, gue tinggal di warung mbok Iyem. Gak mungkin juga gue ambil dulu baru kesini lagi. Keburu lumer tuh."


"Dirga iiihhh!!!!!" Dirga tertawa "Iya-iya makanya ayook gue anter pulang. Gue tutupin. Gue jamin deh gak akan ada yang perhatiin rok lo!!"


Aku menatap Dirga sebentar. Dirga mengangguk. "Yukk..."


Akhirnya aku mengikuti langkah Dirga. Kami berdua berjalan pelan dengan aku didepan dan Dirga dibelakangku sambil memegang bahuku layaknya sedang bermain kereta api.


Aku terhenti di ujung tangga. Dibawah sana ada kawalan Dirga, ada Ridho disana. Pasti dia dendam tentang kejadian tadi sebelum istirahat.


"Udah gak papa. Yuk, lo bersikap biasa aja. Pasti gak ada yang curiga.." aku kembali melangkah pelan turun dari tangga kelas XII.


Aman..


Aku terus berjalan melewati sekumpulan kawalan Dirga dan juga anak kelas XII gabut lainnya.


"Ekh Andra lewat? Kenapa lo Ndra tegang gitu???"


Aku terdiam. Aku pasrah kalau sampai Ridho blak-blakan mempermalukanku. "Wah lo bocor ya? Atau lo ternyata ada darah keturunan jepang?? Kok rok lo merah gitu ditengahnya kayak bendera Jepang???" teriak Ridho disusul tawa anak kelas XII lainnya.


Habislah aku..


"Kepung gaiis!! Ada penjajah disekolah kitaaa!!"


"Motif rok lo keren banget Ndra!! Cantik warna merah di tengah."


"Anak Jepang kok sekolah disini!!"


"Wah lo lagi bocor ya?? Makanya di tutup biar gak bocor!!"


Dan berbagai kata-kata yang menyakitkan untuk didengar. Malu!! Sudah jelas!!!


Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Akhirnya aku menangis di tengah-tengah koridor itu.


📌

__ADS_1


__ADS_2