Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Dirga.10


__ADS_3

Bodoh! Lo bodoh banget Ga! Lagi Lo buat Diandra nangis. Bahkan sampai fatal kayak gini. Kalau dia benci sama Lo, Lo akan hancur!


"Ah brengsek!!" umpat gue pelan.


"Nih! nih kalau kata Diandra eskrim itu penghilang bad mood. Jadi gue beliin Lo ini." seru ridho sambil memberikan satu cup  eskrim.


Gue ingat. Cara paling ampuh ngebuat Andra gak marah lagi itu cuma eskrim.


"Dompet gue sama siapa?" tanya gue. Biasanya kalau sudah ngantin dompet gue itu berkelana dari kantong Ridho sampe kantong si Asen.


"Lah? Gak ada sama gue." jawab Asen.


"Lo gak ada ngasih kita dompet." sahut Iqbal.


"Ah brengsek! Pinjem duit buruan!!" pinta gue. Duh keburu tuh eskrim habis.


"Lah kita gak bawa dompet semua." jawab Axel.


"Hah? Serius? Kalian gak ada yang bawa dompet?" tanya gue sekali lagi.


Mereka semua menggeleng. "Ah shiit!!"


Gue segera pergi ninggalin mereka. "Lo mau kemana woy?" teriak Iqbal.


"Ambil dompet." teriak gue. Gue segera mengingat-ingat dimana dompet gue berada.


"Dompet dompet dompet.." gumam gue terus-terusan.


"Ah anjey! Di mobil." umpat gue. Gue segera berlari ke parkiran.


"Nah ini dompet gue." akhirnya gue menemukan dompet gue. Tapi tunggu. Inhaler? Gue gak pernah ngerasa pake inhaler selama ini. Atau jangan-jangan ini punya--"


Gue segera berlari menyadari sesuatu. Diandra kan punya asma. Kalau inhalernya dia ketinggalan di mobil gue, bisa bahaya buat dia.


"Lo lihat Diandra?" gue menanyai hampir satu persatu siswa yang ada di koridor kelas. Di kelas gak ada. Kantin gak ada. Astaga dia dimana.


Gue terus menelusuri koridor lantai 1. Mungkin dia di toilet. Yah, cuma tempat itu yang belum gue datangi.


Gue berjalan cepat ke arah toilet. Sampai sebuah ucapan mengejutkan gue. "Itu seriusan si Diandra kita tinggal begitu?"


"Gue justru berharap dia mati biar dia gak ganggu Nagra lagi." sahut perempuan satunya lagi. Gue yakin perempuan ini adalah Vina.


Gue terhenyak mendengar ucapan perempuan itu.


"Lo tadi bilang apa?" gue menghentikan langkah dua perempuan itu.


"Dirga!" seru Vina terkejut.


"Gak usah kaget gitu! Dimana Diandra sekarang?"


"Kita gak tau." jawab perempuan yang gue gak tau namanya.


"Gue gak budek! Jawab pertanyaan gue! Dimana Diandra sekarang!!" ucap gue penuh penekanan.


Wajah Vina dan temannya seketika langsung pucat. "Gu.. gudang.."

__ADS_1


"Lo ingat ucapan gue!" gue menunjuk wajah Vina.


"Lo ingat! Kalau sampai Diandra kenapa-kenapa, Lo Vin! Lo orang pertama yang akan gue cari! Lo ingat itu!!" ucap gue. Gue segera berlari ke gudang. Kebetulan gudang sekolah ini sebelahan sama toilet perempuan.


Semoga Lo baik-baik aja Ndra..


📌


"Diandraaaa.." gue terus menyebutkan namanya.


Pintu gudang terbuka. Astaga.


Gue segera berlari kearah gudang. Gue lihat Diandra sudah lemas tak berdaya.


"Diandra. Lo tenang jangan nangis. Ini gue." ucap gue pelan.


"Inhaler.." pinta Andra pelan. Gue segera memberikan inhaler milik Andra.


Napas Andra sudah berangsur membaik. "makasih."


Gue segera memapah Andra keluar dari gudang. Tapi baru dua langkah, Andra jatuh pingsan.


"Ndra.."


"Diandra..." seru seseorang dari depan pintu gudang..


"Vanya.." gumam gue. Ternyata itu Vanya dan Fany.


"Buka pintunya agak lebar. Andra pingsan kita harus bawa dia ke uks."


Vanya dan Fany menurut. Kita bertiga langsung bawa Andra ke UKS.


"Jangan Jun! Diandra gak suka bau minyak kayu putih." sahut Vanya.


Juna segera memberikan fresh care ke hidung Diandra.


"Kok Lo bisa di gudang juga Ga?" tanya Vanya.


Gue menghela napas pelan. "Gue tadi Nemu inhaler Andra di mobil gue. Waktu gue nyariin dia, gue gak sengaja denger Vina sama temannya ngomongin Diandra."


"Kak Vina? Yang suka sama kak Nagra itu?" tanya Vanya.


Gue baru ingat. Nagra! "Gue pergi duluan ya. Ini inhaler Andra. Gue ada urusan soalnya."


Gue segera pergi meninggalkan mereka termasuk Andra.


📌


Gue berjalan menyusuri koridor lantai 2. Tempat dimana anak kelas 3 berada.


XII-IPS1


Gue berhenti didepan papan kelas IPS1. "Nagra!!" teriak gue dari depan pintu.


Yang merasa namanya di panggil pun berdiri menatap gue heran. "Kenapa Lo nyariin gue?"

__ADS_1


Nagra berjalan pelan menghampiri gue "Kenapa? Gue ngelakuin kesalahan sama Lo?"


"Dengar Gra!!" gue menarik kerah baju Nagra dan menghempaskan tubuhnya di tembok kelasnya.


"Lo jauh-jauh dari Andra! Kalau Lo sayang Andra jauhin dia Gra! Bilangin juga ke Vina jangan sentuh Diandra lagi atau dia berurusan sama gue!!"


"Tunggu!! Maksud Lo apa? Vina sentuh Diandra?"


"Diandra pingsan karna Vina!" ucap gue pelan.


Gue segera melepas cengkraman tangan gue dari kerah baju Nagra. "Ingatin ke Vina! Sampai dia berani nyentuh Diandra sedikit aja gue habisin dia!!"


Gue segera berjalan meninggalkan Nagra didepan kelasnya...


📌


"Lo kenapa sih??" tanya Ridho.


Gue terkejut dengan kehadiran Ridho. Ternyata ada Axel, asen, juga Iqbal disini.


Gue menggeser tempat duduk gue. Iya sekarang gue lagi di kursi taman sekolah gue. "Ngapain kalian?"


"Aelah malah nanya balik!" sungut Asen.


"Kita nih nanya Lo kenapa sih? Tiba-tiba baik sama Andra terus sok care gitu." sahut Iqbal.


Lagi. Itu lagi pertanyaan mereka. Pengen banget gue nonjok muka mereka satu persatu. Kepo amat sih.


Gue menyesap pod gue. "Emang gue gak boleh baik sama dia? Gue gak boleh coba buka hati buat dia?"


"Lo serius?" Ridho nampak terkejut mendengar ucapan gue.


"Gak tau deh. Ikutin aja alur gue. Kalian gak usah deh sibuk mikirin yang aneh-aneh. Selagi Andra baik-baik aja sama gue berarti semuanya aman."


"Bentar deh." Iqbal memperbaiki posisi duduknya menghadap gue. "Tadi pagi aja Lo ngomongin dia cewek murahan kan? Baik dari mana?"


"Ahhhh shiit!!!" gue frustasi mendengar ucapan Iqbal. Rasa bersalah gue ke Andra semakin besar.


"Gue gak tau gimana caranya supaya dia maafin gue." ucap gue frustasi.


"Kenapa gak Lo ajak dia dinner gitu atau Lo kerumahnya aja." Axel memberi usul yang menurut gue....


"Dinner? Gue sama Andra? Ayolah cuy! Lo tau kan Andra itu gimana? Lebaynya dia gimana? Kalau dia gue ajak dinner bisa heboh 7 turunan itu orang. Gue jemput di rumah aja dia heboh banget. Kemaren? Gue ajak dia pulang banget. Aelah ribut banget dia!" jawab gue.


"Dia kan emang ratu alay!" sewot Asen.


"Andra udah sadar tuh. Samperin aja di kelas." sahut Ridho.


Gue segera berlari ke kelas.


Ndra...


Gue gak tau apa perasaan gue ke Lo.


Bahkan gue gak mau mikirin gimana perasaan gue ke Lo.

__ADS_1


Gue cuma mau bersikap baik ke Lo.


📌


__ADS_2