
"Kenapa lo bisa ada disitu tadi kak?" tanyaku setelah aku dapat menguasai diri dan juga hati aku tentunya.
Kak Nagra menerima dua gelas teh hangat dari mbak Tika "Mangga mas, mbak diminum dulu." aku tersenyum mengiyakan ucapan mbak Tika dan kembali menatap kak Nagra.
"Kak, lo belum jawab pertanyaan gue!!" sungutku tak terima. Kejadian didepan ruang musik tadi bagiku terlalu cepat. Semuanya serba tiba-tiba. Tiba-tiba Dirga ngomong begitu. Tiba-tiba kak Nagra datang dan memelukku mencoba menenangkanku.
Kak Nagra nampak bergeming sejenak "Tadi.. ada yang kasih tau gue kalau lo lagi nangis didepan ruang musik. Kebetulan gue lagi dekat situ ya udah gue samperin aja." Aku menatapnya tajam mencari celah kebohongan di matanya.
Ciiih! Benarkan dugaanku.
"Kakak bohongkan kalau kakak lagi didekat situ? Yang kakak jujur cuma ada yang ngasih tau kalau gue didepan ruang musik tapi dia pasti gak bilang kalau gue nangis."
"Ndra--"
"Kak--" aku memotong ucapan kak Nagra
"Kenapa Tuhan ciptain cinta padahal kita gak bisa pilih kita mau jatuh cinta sama siapa?"
Aku menerawang lurus kedepan. Sekarang kita berdua lagi di warung dekat danau favoriteku. Entah kenapa aku mengajak kak Nagra kesini. Padahal aku sudah berpikir aku akan mengajak orang yang paling spesial dihidup aku untuk kesini. Orang itu Dirga. Harusnya.
"Salahkah kak kalau gue jatuh cinta sama Dirga? Kalau gue bisa milih juga gue gak mau suka sama cowok jutek kayak dia. Gue lebih milih jatuh cinta sama orang yang jauh lebih pengertian sama gue daripada dia."
Lagi-lagi aku menangis karena Dirga. Perih rasanya mengingat semua kejadian tadi.
"Punya lo." kak Nagra memberikan jepitan rambut dan juga pulpen yang tadi Dirga lempar ke aku. Aku menatap kedua barang itu nanar. Jepitan rambut itu jepitan kesayanganku, tapi sekarang justru jadi barang yang paling aku benci.
"Jangan dibuang!!" seru kak Nagra saat ia melihat aku sudah bersiap untuk membuang jepitan itu. "Jepitan itu lebih berharga dari Dirga Ndra. Lo tau fakta itu. Jangan karna lo lagi patah hati barang yang ngebuat dia benci sama lo justru lo buang."
Kak Nagra merebut jepitan itu kemudian melepas kertas yang melekat pada jepitan itu "Ini yang dilepas Ndra. Lo gak usah kasih nama pun orang-orang tau kalau ini punya lo. Atau lo kasih nama tapi cukup nama lo aja."
Aku terdiam dan menerima jepitan itu kembali. Gak buruk juga ternyata. Aku bisa menghapus semua tentang Dirga mulai hari ini. Iya semuanya tanpa tersisa sedikitpun.
Dia udah minta lo berenti Ndra, jadi percuma kalau lo tetap maksa merjuangin dia. Itu namanya lo buang-buang waktu berharga lo cuma buat orang gak guna kayak dia.
"Kakak gak balik ke sekolah?" tanyaku perlahan. Kak Nagra menggeleng "Gue tau lo butuh teman sekarang. Jadi gue sebisa mungkin akan ada di samping lo sebagai teman disaat lo butuh Ndra."
Aku menghembuskan napas pelan "Lo balik ya kak, makasih tadi udah anter gue kesini. Gue bisa pulang sendiri nanti. Gue masih pengen disini sendiri."
"Ndra, tapi kan lo gak bawa hape semua orang pasti sekarang nyariin lo."
"Kak please, biarin gue disini sendirian. Tolong ngertiin gue. Gue minta lo sampaikan ke Fabian, gue baik-baik aja dia gak usah khawatir. Bilang juga kak ke dia jangan cari gue, gue janji gue pulang kerumah tapi dia harus beliin gue coklat." pintaku dengan berusaha menampilkan senyum semanis mungkin.
"Tapi Ndra--" aku menggenggam tangan kak Nagra "Please kak kali ini aja. Jangan bilang ke Fabian kalau gue disini." akhirnya kak Nagra mengalah dan mengiyakan permintaanku.
"Gue balik ke sekolah ya, lo beneran gak papa Ndra?" Aku mengangguk meyakinkan kak Nagra. Selepas itu ia langsung melajukan motornya ke arah kami datang tadi.
Sekarang tinggal aku sendirian disini. Aku bahkan gak tau harus apa sekarang. Aku berjalan menyusuri danau ini.
Bang, Diandra harus apa sekarang? Harus ya Diandra lepasin Dirga? Tapi gimana kalau Diandra gak bisa?
Aku terduduk di bawah pohon rindang. Terdiam kembali mengingat awal aku menyukai Dirga. Kalau dia sudah punya pacar kenapa baru sekarang dia bilang sama aku?
Aku menangis sendirian di bawah pohon yang dulunya aku berharap di atas sini akan ada rumah pohon milikku dan juga Dirga.
__ADS_1
Iya itu Harapan!
Ah bukan!
**Kata Dirga..
Itu Halu**!
Iya itu Halu!
Aku halu!!!
π
Aku memasuki pekarangan rumah sekitar pukul 5 sore dengan keadaan basah kuyup. Miris.
"Diandra!!" teriak suara yang selalu ku rindukan. Bang Joe segera berlari menghampiriku. Aku tersungkur sebelum bang Joe sampai di tempatku.
Lo gak boleh nangis Diandra! Gak ada air mata lagi untuk Dirga.
"Diandra.." bang Joe memelukku erat. "Lo boleh nangis sekencang-kencangnya dipelukan gue dek."
Tanpa komado dua kali air mata itu mengalir lagi dan lagi.
Aku gagal menahannya.
"Bang, sakit.." tangisku. Bang Joe semakin erat memelukku, ku dengar ada suara isakan juga dari bang Joe. Maafkan aku bang yaang justru ngebuat abang nangis kayak gini.
Bang Joe melonggarkan pelukannya "Jangan nangis lagi, lo udah jelek makin jelek. Sekarang lo ganti baju dulu. Baju lo basah gini ntar lo sakit." Aku mengangguk kemudian mengikuti langkah bang Joe yang membawaku ke kamar. Untungnya mamah sama papa belum pulang seengaknya mereka gak tau kalau aku berantakan gini.
Bang Joe mengiyakan permintaanku dan kembali memelukku erat. Pelukan bang Joe benar-benar menenangkan buatku. Setidaknya untuk sekarang aku merasa lega.
π
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Ah ternyata aku ketiduran dipelukan bang Joe.
"Abang.." ucapku pelan.
"Sayang kamu sudah bangun? Diandra mau mamah suapin bubur?" aku menatap sekelilingku, semua orang ada disini. Ada mamah, papa, bang Joe dan juga Fabian disini.
"Apa yang sakit nak?" aku menggeleng menjawab pertanyaan papa. "Diandra gak papa pa."
"Diandra mau apa? Mau eskrim? Mamah ambilin ya nak di kulkas. Diandra mau berapa? Biar mamah ambilin." ucap mamah pelan. Aku tau mamah menahan tangisnya. Suaranya pelan seperti gemetar.
"Mah, Diandra gak papa kok. Diandra lagi gak pengen eskrim." jawabku pelan berusaha menahan air mata.
Ndra!! Kenapa lo jadi cewek cengeng banget sih??
Baru diginiin udah nangis! Lemah ****!!!
"Kalau Diandra mau apa-apa panggil mamah sama papa ya." pinta papa. Aku mengangguk. Sekarang tinggal aku, bang Joe dan juga Fabian di kamarku.
"Gue udah beliin coklat sesuai permintaan lo yang lo bilang ke Nagra." Fabian memberikan 3 bungkus coklat. Aku tersenyum. Mungkin bisa memperbaiki sedikit moodku. Padahal tadi aku hanya menyuruh kak Nagra asal agar Fabian tidak khawatir itu aja.
__ADS_1
"Lo istirahat gih. Besok gak usah masuk. Badan lo hangat gitu." ucap Fabian.
Aku menggeleng cepat "Kalau gue gak masuk, gue kelihatan lemah banget dimata Dirga, gue gak mau!"
"Ndra--" aku memotong cepat ucapan bang Joe "Bang Diandra gak papa. Diandra janji Diandra baik-baik aja. Ada Fabian dan juga kak Nagra, ada Fany dan juga Vanya."
Bang Joe menghembuskan napasnya pelan "Ceritain ke abang semuanya!!" aku menggeleng keras "Diandra gak mau ingat itu semua bang. Udah cukup tadi aja Diandra ngerasa rapuhnya. Diandra cerita semuanya sama aja Diandra ngebuka perban yang baru Diandra pasang."
Ah iya aku baru ingat satu hal. "Yan, tas gue mana?" Fabian dengan sigap mengambilkan tasku yang ternyata sudah ada di atas meja.
Duh mata.
Aku membuka tasku dan mengeluarkan semua isinya. Kemudian membuka kotak pensilku "Bang, Yan, tolong ya lepasin kertas yang nempel di semua barang Diandra. Nanti mau Diandra ganti. Hehe kertasnya udah jelek kayaknya."
Aku berjalan ke kotak aksesorisku. Ku keluarkan isinya. Ternyata benar semua barangku ada namanya. Ah Tuhan kenapa aku **** banget sih.
Bang Joe memperhatikan pulpen yang pernah dipinjam Dia sebelumnya, kemudian melepaskan kertas yang melekat pada pulpen itu. Nampaknya dia mulai paham situasinya.
π
Aku menatap penampilanku didepan cermin kamarku. Aku berpikir sejenak, pakai apa ya supaya mataku tak kelihatan sembab. Pasalnya mataku sudah seperti garis hitam lurus. Sudah sipit, sembab pula.
"Ndra.." Fabian mengetuk pintu kamarku. Aku tersenyum.
Lo bisa bersikap senormal mungkin Ndra dan seolah-olah tak terjadi apa-apa kemaren antara lo sama Dia. Lo pasti bisa.
Aku membuka pintu kamarku. Fabian menatapku sekilas. Aku merubah penampilanku mulai hari ini. Aku memotong rambutku sebahu dan membuat poni pendek di atas dahiku tentunya dengan jepitan winnie the pooh terpasang di kanan kepalaku.
"Joe!!!" teriak Fabian. Aku terkejut mendengar teriakannya. Kenapa lagi nih orang?
"Berisik any--" bang Joe juga terdiam menatapku. Emangnya aneh ya penampilanku ini?
"Kenapa sih? Penampilan gue aneh??" tanyaku pelan. Suaraku ternyata masih terdengar serak.
"Cantik anjey!! Bisa gak sih Joe gue aja yang jadi pacar adek lo??" sahut Fabian dan mendapatkan jitakan keras dariku. "Halu!!"
"Kalau dari awal lo gini gak mungkin Dir--"
"Ehem.." aku memutuskan ucapan bang Joe, aku tau dia mau berbicara apa.
"Ekh, ya udah yuk sarapan di tunggu mamah sama papa." sahut bang Joe kemudian.
"Gue pengen sarapan di kantin aja Ndra.." bisik Fabian. Aku mengangguk paham.
"Mah, pa, bang, Fabian sama Diandra berangkat duluan ya, ada tugas yang lupa kita kerjain. Hehe mau nyari jawaban dulu." Aku dan Fabian segera berpamitan.
"Yuk.." Fabian memberikan helm padaku. Aku segera memakainya dan naik ke motor Fabian.
15 menit kemudian kita udah sampai di sekolah. Aku memberikan helmku pada Fabian. Fabian nampak gelisah menatapku. Aku tersenyum "Yan, kenapa lo yang gelisah sih? Alay deh. Yuk ah masuk kelas. Gak usah lebay, gue gak papa kok. Gue cuma butuh ini" aku menunjuk dada bidang Fabian "Setiap waktu tentunya. Karna sewaktu-waktu perban itu bisa terbuka dan lukanya kembali basah."
Fabian tersenyum dan mengacak-acak rambutku "Tentu. Kapanpun lo butuh gue janji gue akan siap sedia.
π
__ADS_1
Anying lah part ini gabud banget.
Maap Yee.