Hhuiu7hh

Hhuiu7hh
Dirga.26


__ADS_3

Ntar malam ada pasar malam, Diandra lo mau gak pergi sama gue sama Dirga. Lo sama kak Nagra. Jadi berempat gitu loh..


Gue masih terngiang-ngiang ajakan Laras waktu dikantin tadi. Gue sama Diandra--


Ah bukan, bukan gue sama Diandra, tapi kita berempat mau kepasar malam? Terus gue harus ketemu Diandra terus? Harus ngadepin sikap cueknya dia? Astaga Ndra, ini kah yang lo rasain selama ini?


"Lo kenapa sih bengong aja?" tanya Iqbal. Gue cuma menggeleng kemudian kembali fokus ke pelajaran.


Tapi gak bisa. Pikiran gue tetap ke bayang-bayang nanti malam. Gue harus gimana sama dia?


"Lo mikirin apaan sih? Diandra?" tanya Iqbal mulai kesal "Kalau lo nyesal minta maaf lah. Lo tinggalin Laras balik ke Diandra. Kayak yang lo lakuin kemaren. Lo ninggalin Diandra demi balik ke Laras."


Gue melotot kesal mendengar ucapan Iqbal "Lo gila ya? Gak mungkin lah gue kayak gitu ke Diandra."


"Kenapa gak mungkin?" tanya Iqbal lagi. Gue mendengus kesal. Nih anak kapan sih sehari aja gak buat kesal gue. "Kalau lo mentingin gengsi, gue jamin lo akan kehilangan dia."


"Gue gak akan kehilangan siapa-siapa! Gue gak nyesal ngelakuin itu ke Diandra. Gue gak akan pernah ninggalin Laras cuma demi Diandra!!" jawab gue tegas. *sok tegas sebenarnya.


"Oke, kita lihat aja nanti." sahut Iqbal pelan.


"Baik anak-anak ibu sudah bagi kelompoknya. Kalian bisa lihat nama kalian dan teman sekelompok kalian di depan. Tugas terakhir dikumpul minggu depan. Baik kalau begitu pelajaran selesei. Terima kasih. Selamat Siang."


Gue terkejut melihat nama gue di kelompok 9. Satu kelompok 2 orang dan gue sama--


"Wah, ada yang bahagia tujuh turunan nih!!! Ndra, Akhirnya kan lo bahagia juga kan. Akhirnya tuh lo bisa sekelompok sama pangeran lo."


"Ciye Diandra akhirnya.."


"Ihiy.."


Gue cuma diam terus memandang Diandra dari belakang. Biasanya dia akan heboh. Biasanya ya. Tapi ini? Cuma bisa diam. Dia berdiri kemudian berjalan ke--


"Ga--" Diandra berhenti tepat disamping gue. Dia memainkan sepatunya. Mungkin dia gugup "Ini kan Pak Rezky gak masuk, gimana kalau kita kerjain sekarang aja, diperpus? Atau disini aja gak papa juga sih?"


Gue menatap Diandra sebentar "Kenapa gak dirumah lo aja? Atau dirumah gue gitu? Kan masih lama juga tenggat waktunya?"


"Lebih cepat lebih baik Ga.." jawab Diandra sambil tersenyum.


"Aduh, gue meleleh rasanya lihat bidadari senyum manis ke barisan belakang..."


"Deg-degan gak ya pak bos?"


"Mau dimana?" tanya gue tanpa memperdulikan ucapan cecungud **** ini.


"Disini aja." jawabnya sambil duduk di seberang gue.


Gue mengambil pulpen dan buku gue kemudian bangkit dari tempat duduk.


"Mau kemana?"


"Aelah pengennya berduaan doang nih anak.."

__ADS_1


"Ihiy dimana nich, bisa gak kita ikutan??"


"Bacot anjink!!" umpat gue kesal. Gue menarik tangan Diandra "Ekh mau kemana?" tanya Diandra heran.


"Ikut gue, jangan ngerjakan disini, banyak setan." Diandra melepas pegangan tangan gue.


"Kenapa dilepas?" Diandra menggeleng. "Gu-- gue mau disini aja."


"Lo takut pergi sama gue?"


"Ekh bukan gitu. Maksud gue, kenapa gak disini aja?"


"Lo tadi nawarin diperpuskan? Ya udah diperpus aja. Siapa tahu ada referensi bagus disitu."


Diandra menghembuskan napas pelan kemudian tersenyum "Ya udah yuk kesana aja."


Ia kemudian berjalan didepan gue.


Lo semakin jauh ya Ndra..


📌


"Gue nyari buku dulu ya.." Diandra menyusuri rak buku sejarah. Gue terus memperhatikan gerak-gerik Diandra. Sepertinya dia mendapatkan bukunya. Gue berjalan menghampirinya.


"Duh tinggi banget dah ah naruhnya! Kenapa raknya dibuat tinggi gini sih? Kan kasihan makhluk-makhluk comel sejenis gue yang tingginya cuma setengah rak doang.." gerutu Diandra. Gue tertawa mendengar ocehannya.


Gue mengambil buku yang ia inginkan. "Ekh--"


"Makasih Ga.." ucap Diandra langsung mengambil buku dari tangan gue.


Diandra kembali ke tempat duduk kita. Gue?


Gue masih terdiam di tempat. Gue ngerasa ada yang aneh sama diri gue. Kok kerja jantung gue tiba-tiba cepat banget. Apa gue mau mati?


*Gue menyentuh dada gue.


Anjey lah ini*!


"Ga??" Diandra menatap gue dari tempat duduknya. "Lo kenapa? Dada lo sakit?"


"Hah??" cuma kata itu yang keluar dari mulut gue. Gue segera kembali ketempat duduk gue.


"Lo rangkum kan ya, biar gue yang nulis." pintanya.


Gue mengangguk. Gue segera membaca buku itu. kemudian menggarisi kata-kata pentingnya pakai pensil.


"Nih.." gue memberikan buku itu ke Diandra "Yang gue garisin ya, lo ubah lah kata-katanya dikit." Diandra mengangguk kemudian mulai menulis.


"Ndra--" gue mencoba membuka percakapan.


"Kenapa?"  Diandra terus fokus pada tulisannya. Dia gak sedikitpun natap gue.

__ADS_1


"Gue mau minta maaf soal--" Diandra menghentikan kegiatan menulisnya "Gue baik-baik aja kok Ga, gue gak masalahin lagi soal kemaren. Gue ngerti. Lo pasti risih banget kan sama kehadiran gue. Jadi gue bisa ngerti kok. Gue akan coba memperbaiki sikap gue ke lo." Diandra tersenyum kemudian kembali melanjutkan kegiatan menulisnya. Gue?


Gue cuma bisa menatapnya terus menerus. Gue bingung harus jawab apa. Jadi gue lebih memilih diam.


📌


"Kita kesini aja yok. Seru nih kayaknya. Ya gak Ga?" Laras membawa gue, Diandra dan juga Nagra ke sebuah bangunan yang sedikit menyeramkan.


"Ras? Lo yakin mau masuk situ?" Diandra nampak menggenggam tangan Nagra disebelahnya.


"Kamu kalau genggam, genggam aja jangan di cakar-cakar gitu" cerocos Nagra.


Laras tertawa melihat saudara tirinya "Gak boleh gitu cuy, dia ngode minta Lo genggam kuat tangannya."


"Yakin gue Ndra.. yuk ah." Laras berjalan duluan diikuti gue.


"Aku takut kaakk.." gumam Diandra pelan. Semoga gak ada sesuatu yang buat asma Diandra kambuh.


Kami berjalan pelan menyusuri lorong-lorong gelap. Tiba-tiba ada yang menghentakkan tangan gue dan membuat genggaman tangan gue dan Laras terlepas.


Ah sial hantu brengsek!!


Gue segera mencari-cari tangan manusia di sekitar gue, meskipun gelap gue gak peduli.


Ah dapat! Gue raba tangannya, dia pake gelang.  Gue jamin dia bukan hantu jadi-jadian disini. Gue segera berlari dari situ. Gue mendengar teriakan Nagra untuk berlari dari situ.


"Aku takut banget kaakk.."


Deg...


Itu suara Diandra kan?


Jadi gue salah narik tangan?


Diandra menggenggam erat tangan gue. "Jangan buru-buru jalannya kak. Aduh aku capek." Gue segera berhenti. Gue takut kalau dia lari-lari asma dia kambuh.


Gue menatapnya. Entah dia juga menatap gue atau tidak. Gue harus mencoba sesuatu. Gue harus meyakinkan sesuatu itu.


Dengan segera gue menarik Diandra ke pelukan gue. "Biar kayak gini sebentar Ndra. Gue mau yakinin diri gue akan satu hal."


"Di..Dirga?"


"Sstt. Diam dan tenanglah.." pinta gue.


Sekarang gue yakin tentang hal itu.


Iya gue yakin.


Tapi gue gak tau apa gue bisa ambil Lo lagi dari Nagra Ndra?


📌

__ADS_1


__ADS_2