
Gue menyusuri koridor kelas 11. Lagi, gue jadi sorotan siswi disini. Buat gue itu hal yang biasa. Secara gue ganteng, otak kalau kata bu Alma guru kesayangan gue, lumayan lah buat cowok nakal kayak gue. Jadi ketika lo cowok nakal, ganteng, pinter jadi idaman itu pasti udah biasakan? Tapi dihidup gue ada yang gak biasa. Lo tau kenapa? Semuanya karena si bocil.
Cewek yang waktu itu kena timpuk bola gue.
Cewek yang waktu itu mungkin amnesia karena bola gue, gimana enggak?
Semenjak kejadian itu dia terus-terusan manggil gue Gaga. Kata dia 'pangeran Gaga gue' ***** geli banget gue dengernya. Dan sialnya di kelas 11 ini sepertinya gue harus sekelas sama dia.
"Gaga!!" suara 8 oktaf itu terdengar dari pintu kelasku. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala menerima nasib sial ini. Tuhan kenapa gue harus sekelas sama si bocil.
"Pagi Gagaku Sayang!" si bocil, Andra langsung menempatkan dirinya didepan meja gue. Raisa si pemilik bangku pun mengomel karena tasnya dipindahkan begitu saja sama si bocil.
"Yang boleh duduk didepannya Gaga cuma gue!" ucapnya sambil mendelikkan matanya. Gue tertawa. Pasalnya mata Andra itu sipit apalagi saat ia tertawa, yang kelihatan di wajahnya cuma garis tipis dibawah alisnya yang tebal.
"Aelah Ndra, disini gak cuma ada Dirga kali, ada gue, Iqbal, Asen, Ridho juga. Ya kali yang disapa cuma Dirga." Alex yang duduk disamping gue merasa tak terima kalau cuma gue yang di tegur Andra.
Andra yang awalnya menghadap ke gue langsung muter badan kedepan. Lo emang sahabat gue Lex bisa selamatin gue dari tatapan mautnya si bocil.
__ADS_1
"Ih bodok amat gue mah!! Mau ada elu atau anak buah lo yang lain masa depan gue cuma Gaga kok. Ya kan Ga?" Andra kembali memutar tubuhnya menghadap gue.
Gue menatapnya dengan tatapan jengah "Amat aja gak bodok Ndra, dia tau dia gak dipeduliin jadi dia pergi dan tau diri gak kayak lo!!" setelah ngucapin itu gue bangkit dan keluar dari kelas.
Gue tau kata-kata gue tadi sedikit menyakitkan. Tapi gue tau kok, Andra itu cewek kuat jadi gue yakin dia akan tetep ngejar-ngejar gue sekalipun gue omongin dia dengan kata-kata yang sebenarnya kasar banget menurut gue. Gue sebenarnya kasihan dan gak tega setiap kali gue sinisin dia, tapi gue gak bisa ngebiarin dia tetep suka sama gue terus-terusan karena gue gak bisa balas perasaannya dia sampai kapanpun itu.
Diandra Wijaya. dia itu cewek manis yang pernah gue kenal, matanya sipit, tingginya mungkin gak sampe sebahu gue. Tapi itu yang ngebuat dia jadi terlihat lebih imut dari cewek-cewek di sekolah gue. Nyatanya gue tetep gak bisa suka sama dia.
"Mau kemana Ga?" Ridho berteriak memanggilku.
"Lapangan ogeb! Bentar lagi upacara dimulai! Gue malas di hukum!" gue pun langsung pergi kelapangan tanpa mau menunggu teman-teman gue. Gue dekat-dekat sama Andra lama-lama bisa gila.
📌
Upacara adalah suatu hal yang sebenarnya paling gue hindari. Berdiri dibawah terik matahari dengan mendengarkan hal-hal yang menyakiti telinga kita sendiri. Seperti kali ini, setelah panas-panasan sialnya pak Haryo justru memberikan kelas gue tugas tambahan dan menghambat gue dan teman-teman gue untuk ngefutsal.
"Gak jadi futsal niih? Padahal gue dah gatel banget pengen nendang bola." sungut Iqbal.
__ADS_1
"Kuy!!" gue bangkit hendak keluar kelas.
"Kemana anjey?" Asen menatapku antusias.
"Futsal, pasti udah ditunggu sama buhannya Alan. Ayok dah ah!!"
"Gaga mau kemana?" pertanyaan itu menghentikan langkah gue, tumben amat nih bocil satu nanya gue lembut gitu, maka biasanya pake suara 8 oktafnya.
"Futsal" jawab gue singkat. "Gaga" Andra menarik lengan gue yang langsung gue tepis gitu aja.
"Gak usah pegang-pegang gue!"
"Aku cuma mau nawarin bantu ngerjain tugas kamu kok. Sini bukumu, biar aku aja yang kerjain." gue langsung melirik Andra kemudian mengambil buku tulis gue di meja dan melemparkannya ke meja Andra.
"Gak usah di tulisin yang aneh-aneh! Kerjain aja tugas gue!!" seru gue kemudian pergi dari hadapan Andra.
"Siap sayang!!" jawab Andra dan langsung ngebuat gue geleng-geleng kepala. Kenapa ada cewek kayak dia yang harus hadir di hidup gue.
__ADS_1
📌